Episode 11

4092 Words
Bara dan Adel sampai di bioskop salah satu mall. Mereka sedang mengantri untuk membeli tiket. “Lho kalian?” seru Adel membuat dua orang yang berada tak jauh darinya menoleh. “Kak Adel, kak Bara,” seru salah satu dari mereka yang merupakan Desi dan Raka. “Kalian kemari juga?” tanya Raka yang di angguki Adel. “Nonton apa kalian?” tanya Bara. Desi menjawab pertanyaan Bara dengan sangat semangat. “Wah kita akan nonton film yang sama,” ucap Adel. “Ya sudah kalian tunggu saja dan pesan makanan, aku akan pesankan empat tiket untuk kita,” ucap Raka. Bara, Desi dan Adel berjalan menuju kasir food dan memesan popcorn ukuran jumbo dan minumannya. Adel sedikit mengernyit saat Desi bersikap sedikit manja pada Bara, entah itu hanya perasaannya saja atau memang Desi terlihat mencari perhatian dari Bara. Adel berusaha mengenyahkan pikiran negative nya dan berusaha berpikir positif. Mereka berempat sudah duduk di kursi studio sesuai urutan nomor, kebetulan Desi dan Bara duduk berdampingan. Dan mereka akan menonton film horor. Film di mulai, dan mereka semua tampak fokus ke layar besar di depan mereka seraya menikmati popcorn yang mereka pesan. Semakin lama cerita dalam film semakin menegangkan dan menakutkan. Desi berkali-kali salah berpegangan, ia selalu memegang dan mencengkram lengan Bara. Membuat Bara sedikit bingung dan menoleh ke arahnya. Sadar Bara melihat kearahnya, Desipun ikut menoleh hingga tatapan mereka berdua beradu satu sama lainnya. Cukup lama mereka berdua saling bertatapan satu sama lainnya sampai Desi tersenyum kecil dan melepaskan cengkraman tangannya dan kembali menatap ke layar depan. Ꙭ “Kak Adel...” “Iya,” jawab Adel yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas di kamarnya. ”Kak, aku ada perlu dengan kak Bara mengenai anggota senat di kampus. Gak apa-apa kalau pagi ini aku bareng kak Bara berangkatnya?” tanya Desi membuat Adel menghentikan gerakannya dan menatap Desi dengan kernyitan di dahinya. “Kan bisa di bahas di kampus,” seru Adel. “Gak bisa Kak, ini tuh urgent!” seru Desi. “Terus aku ke kampus bareng siapa?” tanya Adel. “Bareng Raka saja, dia akan datang untuk menjemputku kok,” seru Desi. “Tapi kamu sudah bilang ke Raka? Aku harus hubungi Bara dulu,” seru Adel. “Raka sudah ada di depan, Kakak tidak perlu menghubungi kak Bara, nanti aku yang jelasin ke kak Bara,” ucap Desi. Adel masih terlihat kebingungan dan ragu. “Ayolah Kak, plis. Sekali ini saja,” ucap Desi penuh permohonan. Adel hanya mampu menghela nafasnya dan menyetujuinya. Iapun berjalan keluar dari kamarnya. Terlihat di depan rumahnya Raka sudah duduk manis di atas motor sport miliknya, Adel pun berjalan mendekatinya. “Desi mana?” tanya Raka saat Adel sudah berdiri di hadapannya. “Katanya dia ada keperluan dengan Bara, ia akan ke kampus dengan Bara nanti,” jawab Adel. “Apa? Kok dia gak kasih tau aku dulu,” seru Raka terlihat kesal. “Entahlah, sudahlah ayo berangkat. Sekarang jamnya Bu Faridah kan, kita tidak boleh telat,” seru Adel. Raka menyerahkan helm ke Adel dan membiarkan Adel menaiki motornya. Setelahnya ia menekan gas motornya dan meninggalkan halaman kediaman Adel. Saat keluar gerbang, motor Raka berpapasan dengan Bara yang menggunakan mobil sportnya. Bara menggunakan mobil lamborghini sehingga hanya mampu memuat dua orang saja. Bara menghentikan mobilnya dan terlihat bingung melihat Adel berangkat bersama Raka. Bara sampai menuruni mobilnya dan melihat ke arah mereka yang semakin menjauh. Desi yang melihat Bara di depan gerbang rumahnya, segera menghampiri Bara. “Hai Kak Bara,” sapa Desi dengan senyuman manisnya. “Itu kenapa Adel berangkat bersama Raka?” tanya Bara langsung bertanya tanpa menjawab sapaan Desi. “Desi yang minta, Kak. Desi ada perlu sama Kakak,” seru Desi dengan polosnya. “Kan bisa nanti di kampus, aku tuh kurang suka dengan kedekatan mereka. Raka dan Adel itu selalu membuatku cemburu,” seru Bara terlihat kesal. “Gak apa-apa dong Kak, toh mereka kan sahabatan, malah udah sahabatan dari sejak kecil. Tidak perlu cemburu sama mereka,” seru Desi. Bara hanya terdiam membisu dan masih terlihat kesal. “Ayo Kak berangkat,” seru Desi dan masuk ke dalam mobil Bara begitu saja. Bara pun hanya mampu menghela nafasnya dan menaiki mobilnya. Ꙭ Bara melihat Adel sedang membaca buku di taman fakultasnya, ia pun berjalan mendekati Adel. “Hai sayang,” sapa Bara yang duduk di samping Adel. “Hai juga,” jawab Adel dengan senyumannya. “Kenapa tadi kamu berangkat bareng Raka? Kan aku jemput kamu,” seru Bara. “Memangnya Desi gak jelasin ke kamu? Bukannya kalian ada perlu.” Seru Adel. “Iya dia jelasin, tapi aku ke sana kan untuk jemput kamu. Lagipula urusanku dengan Desi bisa di bicarakan di kampus,” ucap Bara. “Mungkin Desi gak bisa ngebahasnya di kampus.” “Sebenarnya aku kurang suka dengan kedekatan kamu dan Raka,” ucap Bara membuat Adel menghentikan aktivitas bacanya dan menoleh ke arah Bara. “Kenapa?” tanya Adel. “Aku selalu merasa cemburu dengan kedekatan kalian berdua,” ucap Bara. “Raka kan sahabatku, Bar. Bagaimana bisa kamu cemburu dengannya?” ucap Adel. “Tapi aku gak suka, bisa kan kamu menjaga jarak dengannya demi aku?” seru Bara membuat Adel termangu. “Tapi...” “Sayang, demi kelancaran hubungan kita,” seru Bara. Adel menghela nafasnya. “Baiklah aku akan coba,” ucapnya. “Terima kasih sayang,” ucap Bara terlihat bahagia. Ꙭ “Kenapa tadi lu nolak ajakan si Raka buat balik bareng? Kan cowok lu sibuk di senat,” seru Rinrin saat berada di sebuah kedai kopi bersama Milla dan Adel. “Gue udah janji sama Bara,” seru Adel. “Janji apaan?” tanya Milla. “Bara minta gue buat menjaga jarak sama Raka. Katanya dia merasa cemburu dengan kedekatan kami.” “Lho kok gitu? Kan kalian itu sahabat,” ucap Milla. “Ya gue juga sudah jelaskan begitu, tetapi tetap saja.” Adel hanya bisa mengedikkan bahunya dan meneguk kopi miliknya. “Ck, dia larang lu sedangkan dia bisa seenaknya deketin cewek lain, termasuk sepupu lu sendiri,” seru Rinrin dengan nada tidak suka. “Maksud lu?” tanya Adel. “Jangan tutup mata, gue juga tau lu merasakannya. Dan gue ngeliat sendiri kedekatan mereka waktu di perkemahan kemarin. Sampai anak-anak lain menggosipkan si Desi. Menurut mereka, Desi tuh termasuk wanita ular, masa cowok kakak sepupunya sendiri dia embat,” jelas Rinrin. “Lu percaya gitu dengan ucapan mereka? Orang-orang kan begitu selalu menilai dari luar tanpa tau kebenarannya bagaimana. Lagi pula gue percaya dengan Desi juga Bara," seru Adel. “Tapi menurut gue omongan si Rinrin ada benernya juga sih, soalnya akhir-akhir ini gue sering lihat si Desi datang ke fakultas Bara dan mereka ngobrol berdua di lorong kampus," ucap Milla. “Benar tuh, lagian sekarang kan senat gak sedang ngadain kegiatan atau acara apapun, masa sih membicarakan masalah senat sampai harus segitunya,” seru Rinrin. Ucapan Milla dan Rinrin membuat Adel termenung sendiri dan mengingat kejadian sebelum-sebelumnya. Apa benar dengan kecurigaannya waktu itu? “Saran gue sih, mending lu selidiki sendiri hubungan kedekatan mereka sebelum terlambat, nanti kan lu sendiri yang akan terluka. Ya, untuk memastikan saja, gue berharap pemikiran gue dan Rinrin salah.” Adel hanya diam dan tak menjawab ucapan Milla. “Tapi kalau boleh jujur yah, gue merasa lu lebih cocok bersama dengan Raka daripada Bara. Apalagi lu sering mendapatkan rasa kecewa dari Bara, berbeda dengan Raka. Walau sebagai sahabat, tetapi Raka lebih care sama lu di banding cowok lu sendiri,” ujar Rinrin. “Apalagi tadi saat lu nolak ajakannya, dia terlihat kecewa. Mungkin saja dia berpikir kalau dia ada salah sama lu,” ucap Milla. Memang benar adanya, karena sejak tadi Raka mengiriminya pesan menanyakan dia berbuat salah apa sampai Adel menolak ajakannya. Dan Adel sendiri pun menjadi merasa bersalah pada Raka. “Kalian ini ngomong apa sih, gue dan Raka itu hanya bersahabat dan gak kepikiran untuk menjadi sepasang kekasih,” kekeh Adel merasa lucu membayangkan berhubungan lebih dari seorang sahabat dengan Raka. “Ck, malah ketawa. Tetapi benar kan selama bersama Raka, lu gak pernah merasa sedih ataupun nangis. Lu selalu tertawa di sampingnya,” ucap Milla. “Ck, apa itu bisa menjadi jaminan untuk kami berpacaran? Ngaco ah kalian. Lagipula gue gak ada pemikiran untuk berpacaran dengannya,” kekeh Adel. “Gue sayang dia sebagai sahabat, Kakak, Sodara, pokoknya dia tuh gak akan tergantikan.” “Kalau Tuhan menakdirkan kalian berdua berjodoh, bagaimana coba?” tanya Rinrin. “Ck, pemikiran lu kejauhan Rin. Gue gak bisa menjawabnya,” seru Adel. “Ya kan siapa yang tau, rezeki, jodoh dan mati itu rahasia Allah. Dan gak ada yang tau akan bagaimana,” seru Rinrin. “Udah ah bahas yang lain saja, kenapa jadi sibuk bahas si Raka. Kasian nanti dia bersin bersin karena kita gosipin,” kekeh Adel. Ꙭ Spoiler Kelas sedang berlangsung dimana Damar sedang mengajar. Semua sahabatnya saling melirik ke arah Adel yang tampak melamun dengan memainkan pulpen di tangannya. Raka pun tak berpaling dari Adel, iya merasa sangat khawatir dengan kondisi Adel saat ini. Raka juga memang di sakiti juga di khianati oleh Desi, nyatanya mereka sudah melakukan hubungan gelap itu dari sejak sama-sama menjadi anggota senat dan itu cukup lama. Tetapi rasa sakit di hati Raka hanya sebuah kebencian dan merasa jijik terutama pada Bara. Ingin sekali ia menghabisi Bara saat ini juga karena telah berani menyakiti sahabatnya, tetapi Adel melarangnya dan memintanya untuk mengabaikan semua itu. Ternyata bukan hanya mereka yang menyadari Adel melamun dan pikirannya tidak sedang berada di sini. Tetapi juga Damar, yang selalu saja mencuri pandang pada Adel saat ia tengah menerangkan sesuatu di depan. Damar tak berniat menegur Adel, ia malah terlihat simpati melihat Adel. Ia memilih mengabaikannya dan memberinya waktu untuk menenangkan diri. Ꙭ Adel baru saja keluar dari toilet setelah memuntahkan isi perutnya. Saat ini makan apapun rasanya tidak cocok dengan ususnya. “Adel,” panggilan itu membuatnya menoleh. Adel mengernyit melihat keberadaan Bara. Tanpa menjawab, Adel beranjak pergi tetapi Bara lebih dulu menahan lengannya. “Tunggu sebentar, bisakah kita bicara,” ucap Bara. “Lepaskan tanganku!” “Baiklah,” ucap Bara akhirnya melepaskan pegangannya pada Adel yang bahkan seakan enggan melihat wajahnya. “Bisakah kita berbicara,” ucap Bara. “Di taman dekat mesjid,” ucap Adel yang di angguki Bara. Adel berjalan terlebih dahulu meninggalkan Bara yang mengikutinya dari belakang. Mereka sampai di taman dekat mesjid yang terlihat sepi karena ini sudah lewat waktu dzuhur, jadi mesjid tidak penuh orang dan hanya ada satu dua orang yang baru melakukan solat dzuhur. “Katakan,” ucap Adel melipat tangannya di d**a tanpa repot-repot berbalik badan menghadap ke arah Bara. Bara berjalan ke samping Adel dan menjaga jaraknya, dan berhenti tepat di samping Adel. Ia merasa malu sekaligus merasa sangat bersalah. “Aku...” Bara melirik ke arah Adel yang memasang wajah datarnya. “Aku tau kesalahanku ini, aku sungguh minta maaf. Aku sungguh tidak berniat untuk mengkhianatimu dan menyakitimu,” ucap Bara. “Kamu sudah melakukannya, mengkhianatiku juga menyakitiku begitu dalam. Apalagi kau dan Desi...” Adel tak mampu lagi melajutkan kata-katanya. Mengingat itu rasanya sesak di d**a. “Aku ingin kau menikahi Desi dan mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu,” ucap Adel masih memasang wajah datarnya. “Aku... aku akan melakukannya,” seru Bara terlihat menahan air matanya. Ia pun merasa sangat sakit, ia tergoda, itulah alasannya. Kenyataannya hanya Adel lah yang selalu ada di dalam hatinya. “A...apa kamu memaafkanku? Setidaknya aku akan sedikit lega kalau kamu bisa memaafkanku,” ucap Bara. “Aku menerima perselingkuhan kalian, tetapi untuk memaafkan, aku belum tau. Aku sungguh sangat kecewa pada kalian, terutama kamu. Pria yang selama dua tahun ini selalu aku banggakan, dan aku percaya setulus hati ini. Aku mencintaimu, tetapi kamu menyia-nyiakannya.” Tanpa sadar air mata Bara jatuh membasahi pipinya, ia menundukkan kepalanya. Penyesalan ini terasa begitu sangat menyiksa hatinya. Ia merasa hatinya seakan di hancurkan dan di remas oleh kebodohannya sendiri. “Sejujurnya aku masih sangat mencintaimu, tetapi saat itu aku tergoda oleh Desi. Aku kesal dan cemburu melihatmu yang selalu bersama Raka,” ucap Bara. “Kamu mengenalku selama dua tahun dan kamu juga tau, Raka adalah sahabatku. Kedekatan kami tidak ada sesuatu yang spesial selain dari sahabat, tetapi sekarang kamu menjadikan itu sebagai alasanmu untuk berselingkuh,” seru Adel merasa sangat kesal. “Aku tau, aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan. Dan sungguh aku sangat menyesal, Del.” Bara mengucapkan dengan penuh penyesalan dan terdengar bergetar suaranya. “Kalau sudah tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, aku pergi dulu,” ucap Adel beranjak pergi dan Bara hanya diam di posisinya tanpa bergerak. Baru dua langkah, Adel kembali menghentikan langkahnya dan tetap tak ingin repot-repot menoleh atau berbalik ke arah Bara. “Yang tidak habis pikir kenapa harus dengan Desi, kenapa harus adik sepupuku?” tanya Adel. “Maaf,” gumam Bara. “Setidaknya kalau kamu berselingkuh dengan wanita lain yang tidak memiliki hubungan denganku, itu tidak akan terasa semenyakitkan ini. Mungkin aku juga bisa memaafkanmu. Tetapi sekarang, aku tidak tau apa aku mampu memaafkanmu atau tidak. Dan...” Adel memejamkan matanya seakan meredakkan sesak dan sakit yang mendera dirinya. “Dan aku tidak yakin apa aku bisa menerimamu sebagai adik iparku atau tidak.” Sakit.... Sudah jelas itulah yang di rasakan oleh Adelia. Rasa sakit yang lebih menyakitkan daripada saat mengetahui penyakit yang menderanya. Sakit yang lebih menyakitkan daripada saat penyakitnya kambuh. Adel melanjutkan langkahnya meninggalkan Bara sendiri yang menangis dalam diam dengan penuh rasa penyesalan dan rasa bersalah. Penyesalan yang seakan mencekiknya, dan rasa cintanya pada Adel. Bara merasa sangatlah bodoh, dia ketakutan kehilangan Adel karena melihat kedekatannya dengan Raka, dan sekarang karena emosionalnya sendiri, membuat Adel meninggalkannya. Dan ia benar-benar kehilangan Adel, dan tak akan bisa memilikinya lagi. --- “Raka...” “Del, lu darimana saja, gue...” Ucapan Raka terhenti saat Adel begitu saja memeluknya dan menangis terisak. Raka mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia mengusap punggung Adel untuk memberinya kekuatan. “Kenapa ujian ini seakan tak hentinya menimpa gue,” isak Adel. “Lu harus kuat, Del. Gue yakin lu wanita yang kuat, lu bisa hadapi ini semua. Gue akan selalu bersama lu, lu gak sendirian,” ucap Raka membelai kepala Adel. Damar berdiri dari kejauhan dan memperhatikan Adel dan Raka yang saling berpelukan. Ꙭ “Adel...” Panggilan itu membuat Adel menghentikan langkahnya yang sedang berjalan di lorong kampus, dan menoleh ke sumber suara. “Pak Damar,” seru Adel berdiri menunggu Damar yang kini berjalan mendekatinya. “Kamu sibuk?” tanya Damar. Adel menggelengkan kepalanya. “Tidak Pak, ada apa?” tanya Adel. “Bisa ikut ke ruanganku,” ucap Damar. Adel mengernyit bingung, apa dia melakukan kesalahan. “Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, hanya saja ada yang ingin aku bicarakan,” seru Damar seakan paham dengan apa yang di pikirkan Adel. “Baiklah.” Mereka berjalan bersama menuju ruangan Damar. “Silahkan duduk,” seru Damar mempersilahkan Adel duduk, kemudian ia pun duduk di kursi kebesarannya. Adel sudah duduk di hadapan Damar dan menunggu apa yang hendak di bicarakan oleh dosennya itu. “Adel, apa ini milikmu,” seru Damar menyimpan botol obat berisi pil di dalamnya di atas meja. Adel mematung di tempatnya menatap botol itu. “Emm, Bapak dapat obat ini darimana?” tanya Adel. “Saat itu kamu menjatuhkannya,” seru Damar. “Oh begitu, pantas saja aku cari dimanapun tidak ketemu,” kekeh Adel mengambil botol itu dan memasukkannya ke dalam tas tanpa menyadari tatapan Damar kearahnya. "Terima“kasih yah Pak.” “Obat apa itu Del?” tanya Damar mengabaikan ucapan terima kasih dari Adel. “Itu, itu hanya vitamin saja Pak,” seru Adel berucap cepat. “Bukankah itu obat pereda sakit untuk penyakit kanker otak.” Deg Adel mematung di tempatnya mendengar ucapan Damar itu. “Tebakanku benar yah,” ucap Damar. “Bapak tau,” gumam Adel. “Sejak kapan?” tanya Damar. “Saya tidak tau, saya baru mengetahuinya,” ucap Adel. “Kenapa Bapak tau mengenai obat ini?” “Karena obat itu sudah tidak asing lagi bagiku,” ucap Damar. “Emm maksud Pak Damar?” “Aku memiliki seorang Kakak yang mengidap penyakit kanker otak. Dia harus berjuang selama dua tahun melawan kankernya itu,” seru Damar termenung seakan mengingat kenangan masalalunya. “Kemudian?” tanya Adel. “Dia sudah bahagia sekarang,” ucap Damar terlihat berkaca-kaca. “Apa penyakitnya sudah sembuh?” tanya Adel. Damar tersenyum lirih. “Andai itu terjadi,” gumamnya. “Kakakku meninggal setahun yang lalu.” Deg Raut wajah Adel berubah menjadi tegang dan ketakutan. “Nyatanya tidak ada peluang untuk sembuh dari penyakit kanker,” gumam Adel berkaca-kaca. “Jangan menyerah Del, percayalah akan keajaiban Tuhan,” seru Damar. Adel memalingkan wajahnya menghapus air mata yang dengan lancangnya jatuh membasahi pipinya. “Saya permisi dulu Pak, terima kasih.” Tanpa menunggu jawaban dari Damar, Adel langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan Damar. Adel berjalan dengan pandangan kosong menyusuri lorong kampus. Ucapan Damar terus terngiang di telinganya. Entah sampai kapan ia akan bertahan melawan penyakit ganas ini. Hujan turun dengan derasnya dan Adel tidak memperdulikan itu. Ia terus berjalan melawan hujan dan membiarkan tubuhnya di guyur hujan. Ia berjalan terus meninggalkan area kampus. Langkah Adel terhenti, ia menengadahkan kepalanya dan air menghujani wajahnya. Ia menangis di balik tetesan air hujan. Adel merasa sendiri menanggung semua beban ini, terdiam dan tenggelam dalam kesendirian. Menerima semua takdirnya ini sangatlah sulit, tetapi mau tak mau ia harus menerimanya. Andai saja waktu bisa di putar kembali, mungkin Adel memanfaatkan waktunya dengan sebaik mungkin sebelum ajalnya datang menjemput. 2 tahun... Kakaknya Damar mampu bertahan selama 2 tahun. Apa Adel mampu sekuat itu? Bagaimana dengan orang-orang yang ia sayangi dan akan dia tinggalkan. Papa... Raka... Para sahabatnya... Ꙭ Adel membuka matanya dan kepalanya terasa begitu pening. Ia tidak tau dirinya sedang ada dimana. “Nak,” Mendengar suara itu mata Adel terbuka lebar dan menoleh ke sampingnya. “Papa!” Adel hendak bangun tetapi kepalanya terasa begitu berat. “Istirahatkan saja,” ucap Fram terdengar lemah menahan Adel untuk bangun. Adel baru menyadari kalau dirinya sedang berada di dalam ruangan rumah sakit. Fram menangkap tatapan Adel yang menatap sekeliling dengan kebingungan. “Kemarin ada seseorang yang membawamu ke rumah sakit dan menghubungi Papa,” ucap Fram. “Kemarin?” tanya Adel mengernyitkan dahinya membuat Fram mengangguk. “Iya, kamu sudah pingsan dari kemarin,” ucap Fram membuat Adel terdiam. “Kenapa?” tanya Fram membuat Adel menatapnya dengan perasaan bersalah. “Kenapa harus menyembunyikan kenyataan ini dari Papa?” “Aku...” Fram terlihat berkaca-kaca dan tanpa sadar air matanya luruh membasahi pipinya. “Pantas saja akhir-akhir ini kamu terus memaksa Papa untuk menikah lagi. Jadi inikah alasannya?” tanya Fram dengan air mata yang luruh membasahi pipinya. “Papa...” Adel tak mampu menahan air matanya lagi dan ikut menangis. “Kamu tau, Papa pikir cukup Mamamu yang menderita dan berjuang hidup karena penyakit ini. Kenapa harus kamu juga,” ucap Fram mengingat perjuangan istrinya dahulu. Bahkan istrinya begitu tegar, menahan rasa sakit selama bertahun-tahun dan tetap mengurus Adel yang masih bayi juga dirinya. Sampai akhir dia tetap berusaha tegar tanpa menangis sama sekali. Dia hanya menitipkan Adel pada Fram, dan ia akan selalu mengawasi kami dari sana. Perjuangannya selama ini sudah selesai, untuk selanjutnya Fram yang bertugas menjaga dan merawat Adel. Fram sangat ingat pesan terakhir dari mendiang istrinya. ‘Jadilah sahabat untuk putri kecil kita.’ Tetapi kenapa sekarang harus begini? Haruskah terulang kembali, dan Fram harus kembali di tinggalkan wanita tercintanya untuk kedua kalinya. “Kenapa... hikzzz...” tak kuasa lagi Fram menahan isakannya. Ia menundukkan kepalanya dan hanya bisa menangis. Ia merasa sangat gagal menjadi seorang Papa. Ia tidak bisa menjaga putrinya sendiri, sampai ia harus terkena penyakit ganas mematikan ini dan dia juga harus merasakan pahitnya di khianati oleh sepupunya sendiri. “Papa, jangan menangis. Adel mohon Pa,” isak Adel membelai pipi Fram hingga ia mengangkat kepalanya. “Maafkan Papamu yang sudah sangat gagal ini, Papa terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai kamu tidak bisa Papa perhatikan,” ucap Fram. “Papa bicara apa, Papa sudah menjadi Papa terbaik buat Adel. Bahkan sejak Adel berusia 5 tahun, setelah Mama meninggal, Papa mampu menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Adel. Dan sekarang bukan hanya merangkap sebagai Ayah dan Ibu tetapi juga sebagai sahabat untuk Adel. Papa adalah Papa terbaik di dunia ini,” isak Adel. “Jangan menyalahkan diri Papa, Insa Allah Adel kuat,” tambahnya. Fram menarik Adel ke dalam pelukannya dengan masih menangis dan mengecup kepala putrinya itu. Ꙭ Hari ini adalah hari pernikahan Desi dan Bara yang di selenggarakan tertutup di rumahnya. Acaranya di gelar pukul 8 malam. Sore itu para sahabatnya menemani Adel dan menghiburnya. Mereka berkumpul di dalam kamarAdel, dan seperti biasa Jeta dan Rinrin yang selalu mampu membuat yang lain tertawa. Raka bersyukur karena Adel terlihat lebih kuat dan tegar. Sebenarnya Fram menyarankan Adel dan sahabatnya untuk pergi berlibur ke pantai atau puncak supaya tak menghadiri acara pernikahan ini. Tetapi Adel menolak dan ia tetap kukuh ingin menyaksikan pernikahan mereka berdua. Adel ingin meyakinkan dirinya kalau sekarang Bara sudah bukan lagi miliknya. Dan Adel ingin melupakan Bara. Pukul 8 tepat, keluarga Bara telah datang, tak banyak yang hadir hanya kedua orangtua Bara dan Kakaknya yang hadir. Seorang penghulu juga telah datang kesana. Adel mendatangi kamar Desi, Desi tampak cantik dengan balutan kebaya putih. Di sana juga ada Rani yang menangis terharu karena tidak menyangka puteri nya kini akan menikah. “Kak Adel...” seru Desi dengan wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah. Adel tersenyum ke arahnya. “Sebentar lagi kamu akan menikah, dan menempuh hidup yang baru. Selamat yah Des,” ucap Adel tersenyum. “Kakak, sungguh maafkan aku,” ucap Desi memeluk Adel diiringi tangisannya. “Sudahlah jangan menangis, aku baik-baik saja,” ucap Adel melepaskan pelukannya. “Tidak ada yang salah di sini, Bara adalah jodohmu yang telah Allah tuliskan. Sekarang berhentilah menangis, aku sudah ikhlas.” Adel tetap tersenyum walau air mata sudah menggantung di pelupuk matanya. “Terima kasih Kak, Kak Adel memang seorang malaikat,” ucap Desi tersenyum lebar. “Kalian berdua adalah puteri kesayanganku, tetaplah akur seperti ini,” ucap Rani memeluk mereka berdua. Tak lama asisten rumah tangga datang dan memberitahukan bahwa pihak pria telah datang dan Desi juga Rani di minta untuk turun. “Kak Adel...” “Aku tidak turun,” ucap Adel Desi dan Rani memahaminya. Mereka berduapun berajak pergi keluar dari kamar. Adel memejamkan matanya seraya menarik nafasnya dalam-dalam. Ia harus kuat dan tegar, ia harus bisa ikhlas seperti yang ia ucapkan. Setelah sedikit tenang, Adel berjalan menuju kamarnya dan berpapasan dengan Raka yang seakan menunggu dirinya. Adel menghentikan langkahnya dan menatap Raka yang juga berdiri lima langkah di hadapannya. “Sah!” Seruan itu terdengar dan tubuh Adel sedikit oleng, untung saja ia segera berpegangan pada dinding di sisinya. “Lu baik-baik saja?” tanya Raka yang kini sudah berada di dekatnya. “Ya Ka, gue... gue baik,” seru Adel menatap mata Raka. Tanpa kata Raka menarik Adel ke dalam pelukannya. Ia paham Adel sangatlah terluka, ia berusaha menenangkan sahabatnya itu. “Semuanya telah berakhir...” --- Malam semakin larut, semua orang telah terlelap dalam tidurnya. Bahkan para sahabatnya juga sudah tidur di kamarnya sedangkan Jeta dan Dendi telah pulang kecuali Raka yang memilih menginap di kamar tamu dan tidak perduli dengan sang pengantin baru. Ia hanya memikirkan dan fokus pada Adel. Adel berdiri di taman belakang rumah dengan menggunakan cardigan juga syal yang melilit di lehernya. “Semuanya telah berakhir...” gumamnya melemparkan setiap lembar foto dirinya dan Bara juga foto Bara ke dalam tong sampah yang di dalamnya telah di nyalakan api untuk membakar semuanya. Kepingan kenangan demi kenangan dirinya bersama Bara terlintas di kepalanya. Air mata mengalir di pipinya, Adel bersumpah bahwa itu air mata terakhir untuk menangisi seorang Bara. Tanpa Adel sadari, Raka memperhatikan Adel di pintu penghubung ruang keluarga dengan taman belakang. Ia ingin memberi ruang untuk Adel. Tadi Adel mengatakan bahwa setelah malam ini ia tidak akan memikirkan dan menangisi Bara lagi. Ia sudah ikhlas, maka dari itu untuk saat ini Raka tak akan mengganggu nya. Dan bukan hanya Raka, Bara juga melihat Adel di balkon atas tepat di kamar Desi. Bara menatap ke arah Adel dengan matanya yang memerah menahan air mata. ‘Maafkan aku, Del. Sungguh aku tidak berniat menyakitimu seperti ini.’ Batin Bara. Ingin rasanya ia turun dan memeluk Adel, dan mengatakan bahwa semua ini hanya mimpi dan ia sangat mencintai Adel. Tetapi apa daya, kebodohannya telah menghancurkan segalanya dan yang tersisa hanyalah penyesalan. Ꙭ
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD