Florence kembali mendesis, terlihat jelas asi itu semakin merembes keluar. Baju Florence yang depan mulai basah.
"Terus apa yang harus aku lakukan?" tanya Hugo dengan wajah polosnya.
Wajah Florence pun terlihat bingung karena biasanya dia akan langsung memberikannya pada Julian atau memompanya ke dalam botol. Tapi di sana tak ada alat itu ataupun Julian.
"Florence, kenapa malah diam saja? Apa aku bisa membantumu? Tapi dengan apa?" tanya Hugo bingung.
Florence meneguk ludahnya kasar. Bingung dan malu bagaimana caranya bilang pada Hugo tentang apa yang ada di otaknya. Tapi itu sudah sangat sakit untuk Florence dan harus segera di keluarkan.
"Tolong bantu aku buat keluarkan ASI-nya." Cicit Florence lirih.
"Apa??"
Mata Hugo berkedip cepat, apa dia tak salah dengar.
"Apa kamu yakin?" tanya Hugo ragu.
Florence puh mengangguk pelan. Tapi Hugo bingung bagaimana menjawabnya.
Di satu sisi semenjak kejadian kemarin dia penasaran bagaimana rasanya jadi Julian tapi di sisi lain ada rasa takut yang dia sendiri tak tahu apa itu.
Hugo berjalan kaki ke arah sofa yang ada di sana.
"Duduk disini."
Hugo menepuk pelan pahanya agar Florence mau duduk di atas pangkuannya.
Florence masih diam di tempatnya berdiri sambil meremas bajunya sendiri. Hati dan pikirannya bertolak belakang.
Tapi ternyata kakinya melangkah dengan pelan ke arah Hugo.
Hugo sendiri terus memerhatikan Florence dengan mata elangnya. Tak berkedip sedikit pun. Florence duduk perlahan di atas pangkuan Hugo.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Suara Hugo sudah berubah menjadi serak. Dia mati matian menahan semua hasratnya. Sudah hampir dua hari ini dia tak terpikir menyentuh wanita karena yang ada di otaknya hanya Florence dan apa yang di lihatnya tempo hari di kamar Julian.
Florence perlahan dengan tangan sedikit gemetar membuka satu persatu kancing bajunya dan akhirnya terbuka 'lah separo.
Hugo meneguk ludahnya kasar melihat dua benda yang menggugah selera untuknya.
"Apa kamu yakin?" tanya Hugo sekali lagi.
Florence mengangguk yakin karena dua benda itu sudah semakin terasa nyerinya.
Perlahan tangan Hugo menyentuh benda
itu, membuka kancing depan dari penutup terakhir benda itu. Terlihat sekali Asi itu terus keluar dari sana. Perlahan Hugo mendekatkan wajahnya ke depan benda itu sedangkan Florence sudah menggigit bibir bawahnya untuk mencoba tetap tenang.
Sekali gerak Hugo berhasil melakukannya. Dia melakukan seperti yang Julian lakukan dan tanpa sadar tangan Florence meraih kepala Hugo.
Hugo yang baru merasakan lagi Asi itu sempat tersedak tapi dia menikmati nya.
Florence bergerak gelisah saat Hugo malah bermain di sana dengan kedua tangannya.
"Tu-tuan......"
Napas Florence tersengal karena ternyata seandainya berbeda saat dia memberikan Asi itu pada Julian.
Hugo sendiri sudah bisa menahan semua gelora panas di badannya. Dia terus bergerak lincah di atas benda itu dan membuat kepala Florence sampai mendongak ke atas.
Shh ....
"Tuan...pelan pelan....itu sakitt...." rintih Florence.
Hugo bergantian kiri dan kanan karena ternyata Asi Florence sangat banyak dan tak habis habis.
Hampir setengah jam Hugo tak mau melepaskannya sampai Florence sendiri merasa lemas. Dia juga merasa jika Asinya sudah habis tapi Hugo tak mau melepaskannya dan malah bermain disana.
"Tuan....sudah... Asinya sudah habis..." rintih Florence lagi.
Hugo perlahan melepaskannya dan melihat ke arah wajah Florence yang memerah. Dan Florence segera menutup benda itu dengan cepat.
"Pantas Julian sangat menyukainya," ucap Hugo frontal.
Florence menunduk dan ingin berdiri dari pangkuan Hugo tapi tangan Hugo menahan pinggang Florence.
"Tuan lepaskan aku."
Mata Hugo terus menatap Florence dengan intens.
"Diam Flo, apa kamu tak merasakan di bawah sana sudah berontak dan ingin di puaskan?"
Mata Florence membola, dan dia mulai merasakan sebuah benda keras di bawah sana. Dia membeku tak berani bergerak.
"Tapi, tapi aku nggak mungkin bisa....."
"Maka dari itu diamlah sebentar dan jangan bergerak!" perintah Hugo dengan suara serak.
Kepala Hugo sudah hampir meledak menahan semua itu.
Florence menurut dan diam dengan menahan bajunya yang belum dia kancing kan.
"Florence, bantu aku."
"Ban-bantu apa tuan?"
"Jangan pura pura polos Flo, kamu sudah pernah melihatku bukan?"
Florence meneguk ludahnya kasar dan dia mengingat apa yang terjadi kemarin. Tak sengaja dia melihat semuanya bahkan benda itu berdiri tegak disana.
"Aku harus bagaimana?" tanya Florence ragu.
Hugo menyuruh Florence turun dan menyuruh dia duduk di sebelahnya. Florence menurut tapi dia bingung dengan apa yang akan di lakukan Hugo kepadanya.
"Kamu diam dan biar aku yang bermain."
"Apa maksud tuan?"
Belum sempat Florence mendapat jawaban Hugo kembali membuka tangan Florence dan melahap benda itu lagi sampai Florence memekik keras. Tapi tubuhnya seolah tersengat listrik karena rasanya semakin berbeda. Sedangkan tangan Hugo sendiri sudah bermain di benda pusakanya sendiri.
Hampir setengah jam berlalu dan akhirnya Hugo menggeram tertahan di sana.
"Tetap tutup mata kamu Flo!"
Florence menurut dan Hugo segera membersihkan miliknya sendiri dan entah kenapa rasanya malah berbeda dengan dia bermain dengan wanita wanita bayarannya.
"Buka mata kamu, aku akan mandi lagi. Setelah ini kita makan. Lalu pulang."
Setelahnya Hugo pergi ke kamar mandi yang ada di ruang kerja itu sementara Florence menunduk malu. Karena dia juga merasakan hal yang meledak di bawah sana.
Astaga, aku benar benar gila... apa yang tadi aku lakukan.
Florence segera berlari kembali ke kamar dan segera masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya sendiri dan berganti pakaian. Karena memang Hugo menyiapkan beberapa pakaian untuknya.
Tak lama mereka berdua selesai makan dalam diam. Dengan pikiran masing masing.
"Apa yang ingin kamu lakukan pada Mila?"
Florence yang sejak tadi diam pun tak tahu harus seperti apa.
"Aku bahkan tak tahu dia kenapa membenci ku sampai seperti itu."
Hugo diam melihat ke arah Florence.
Dia benar benar polos, apa dia tak sadar dengan kedekatannya dengan ku dan mama yang membuat wanita sialan itu iri kepadanya. Batin Hugo.
"Kalau begitu biar aku saja yang menghukum nya. Karena itu terjadi di rumahku."
Florence menatap bingung pada Hugo, tapi tak urung juga dia mengangguk.
Florence tak pernah berurusan dengan orang yang membencinya sampai seperti itu. Karena selama ini dia lebih sering menghindari orang yang tak suka kepadanya.
Dalam otaknya bagaimana dia bisa mendapatkan uang dan juga bisa hidup tenang.
Tak lama mereka selesai makan dan pulang ke rumah Mariam. Sampai rumah memang sudah sore beranjak malam. Dan kebetulan Mila lah yang membuka pintu itu. Mila yang awalnya tersenyum cerah berubah menjadi takut saat melihat Florence pulang bersama Hugo.
"Kamu, kenapa bisa pulang bareng tuan Hugo?"
to be continued