Bab 6

1030 Words
Florence berusaha untuk tetap tenang, tapi jelas matanya melihat ke arah Mila dengan tajam. Sedangkan Hugo sudah melenggang masuk ke dalam rumah tanpa peduli dengan keberadaan Mila. "Maaf Mila, aku ingin masuk ke dalam. Aku sudah lama meninggalkan tuan muda Julian. Sudah waktunya meminum susunya." Mila bergerak menyingkir dengan perasaan tak karuan. Apalagi melihat Florence baik baik saja tanpa ada yang terluka. Mila semakin ketakutan, sedangkan Hugo memilih langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia memanggil beberapa pengawal yang ada di rumah itu untuk menjaga Florence dan Julian. "Jaga Julian dan pengasuhnya, jangan sampai ada yang ingin mencelakainya!" perintah Hugo mutlak. Para petugas keamanan sekaligus anak buah Hugo pun mengangguk. Mereka segera pergi dari sana dan segera mengkoordinir teman temannya yang lain. Mila menjadi sasaran utama mereka. Semua anak buah Hugo sudah mengetahui kasus yang menimpa Florence jadi mereka segera bersiap siaga mengawasi Mila. Florence sendiri sudah ada di kamar Julian. Ternyata disana sudah ada Mariam yang menemani Julian tidur. "Oma..." panggil Florence pelan. Mariam yang mendengar itu menoleh dan matanya membulat melihat keberadaan Florence disana. Seketika dia berjalan cepat memeluk Florence yang sudah di anggap sebagai anaknya sendiri. "Akhirnya kamu pulang juga, akh khawatir banget kamu kenapa napa." Florence membalas pelukan Mariam hangat. Dia bahagia, beruntung bertemu dengan Mariam dan bekerja kepada Mariam. "Aku baik baik saja Oma, beruntung tuan Hugo segera menolongku. Aku berhutang budi kepadanya." ucap Florence lirih. Mariam memindai wajah Florence yang memang masih terlihat pucat. Dia bersyukur jika Florence bisa di selamatkan dan di bawa pulang dalam keadaan baik baik saja. Mariam mengajak Florence duduk di sofa yang ada disana. Meminta Florence menceritakan semuanya sampai dia bisa pulang dengan Hugo. Florence pun menceritakan semua tapi skip tentang sesuatu yang akan menjadi rahasia untuknya dan Hugo. # Sedangkan di tempat lain, Mila sedang mondar mandir di kamarnya dengan perasaan tak tenang. Dia terus menggigit kukunya karena saking paniknya. "Gimana kalau sampai aku ketahuan?" Mila terus ketakutan selama di kamar itu. Dia terus menghubungi Hadi yang sejak tadi tak ada kabar sama sekali. "Sial, dia kemana? Kenapa tak bisa di hubungi sama sekali?" Mila ingin sekali mengamuk, tapi dia menahanya karena takut yang lainnya curiga. Mila sekali lagi mencoba menghubungi Hadi tapi tetap tak tersambung. Akhirnya dia menyerah, dia berusaha untuk tenang agar Florence tak curiga kepadanya. Mila keluar kamar perlahan dan berniat kembali mengerjakan sisa pekerjaannya. Dan semua itu terlihat jelas oleh Hugo yang sedang mengawasi gerak gerik Mila sejak tadi. "Bagaimana caranya bikin dia ketahuan tanpa aku harus terlibat langsung?" gumam Hugo mencari cara. Hugo berpikir keras mencari cara menjebak Mila. Dia sendiri ingin menghukum Mila dengan tangannya sendiri tapi itu jelas akan membuat yang lain curiga dan akan semakin membuat Florence di benci yang lain. Dengan alasan Florence terlalu di bedakan. Akhirnya Hugo menemukan sebuah cara yang masuk akal. Tapi dia harus melibatkan Florence dalam hal ini. Dia menyuruh pengawalnya untuk membawa Florence ke ruangannya. Dan entah suatu kebetulan atau bagaimana Mila lagi lagi melihat Florence yang masuk ke dalam ruang kerja Hugo saat ini. "Sialan, si Florence.... dia lagi lagi bisa dekat dengan tuan Hugo. Bahkan dia bisa masuk ke dalam ruang kerjanya!" geram Mila kesal. Dia terus mengintip ruang kerja Hugo. Dan dia semakin kesal saat melihat hanya pengawal yang mengantar Florence saja yang keluar. "Berarti wanita sialan itu masih ada di dalam dan berduaan dengan tuan Hugo!" pekik Mila tertahan. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan marah dan segera pergi dari sana karena takut ketahuan oleh yang lain. * Sementara itu, di ruang kerja Hugo terlihat keheningan menyelimuti keduanya. Hugo yang awalnya ingin segera membahas rencananya soal menjebak Mila malah pikirannya melanglang buana ke hal yang dia lakukan bersama Florence tadi. Sial, kenapa malah memikirkan hal yang tak seharusnya aku pikiran? Hugo mengumpat dalam hati sembari menahan otaknya yang mulai berpikir yang tak seharusnya. Sedangkan Florence sendiri masih sangat kikuk jika harus kembali berduaan dengan Hugo di satu ruangan. "Tuan Hugo memanggilku kemari, apa ada sesuatu yang ingin di bahas?" tanya Florence takut. Sejak hampir lima belas menit berlalu saling diam, akhirnya Florence memberanikan diri bertanya pada Hugo. Hugo berdehem kecil dan menyuruh Florence duduk di sebelahnya, lalu Florence pun menurut saja. "Aku ingin membicarakan perihal Mila. Sejak kepulanganmu kesini, dia terus menerus mengawasi pergerakanmu. Jelas sekali dia tak terima jika kamu masih baik baik saja." Hugo menjeda perkataannya dan melihat reaksi Florence yang ternyata langsung meremas ujung seragam baby sitternya. "Aku ingin kamu membantuku menjebaknya. Karena jika aku langsung turun tangan membantumu akan ada Mila Mila yang lain yang iri dengan mu. Karena mereka akan merasa aku membelamu setelah mama terlalu sayang kepadamu." Hugo mengatakan itu secara blak blakan tanpa ada yang di tutupi. Karena dia ingin Florence yang terlihat polos berubah berubah secara perlahan. "Florence, jika dia masuk ke dalam jebakan kita, aku pastikan dia akan langsung akh hukum. Tapi kamu harus mau melakukan apa yang aku suruh." Florence yang sejak tadi menundukkan kepalanya mencoba memberanikan diri melihat ke arah Hugo. Deg.... Lagi lagi tatapan mereka berdua bertemu. Hugo yang selalu tak pernah peduli dengan seorang perempuan kali ini malah terus melihat mata Florence yang menurut Hugo sangat indah. Florence yang sadar dengan kelancangannya segera menundukkan kembali pandangannya. "Apa yang harus aku lakukan tuan muda?" tanya Florence lirih. Hugo segera menjelaskan semua rencana yang sudah dia susun dengan baik. Dan Florence yang mendengarnya sedikit terkejut. "Tuan, apa itu tak terlalu kejam?" tanya Florence khawatir. Hugo menaikkan sebelah alisnya bingung, dia merasa Florence benar benar polos dan malah selalu menganggap orang lain baik. Sret..... Hugo menarik tangan Florence dan memindahkan tubuh mungil Florence ke atas pangkuannya. "Tuannn....." pekik Florence tertahan. Kedua tangan Florence berada di kedua pundak Hugo menahan tubuhnya agar tak terlalu dekat dengan Hugo. "Apa kamu lupa jika laki laki itu ingin mencelakakan mu atas perintah Mila? Dan sekarang kamu malah berbelas kasihan pada musuhmu?" Hugo berusaha mengintimidasi Florence dengan kata katanya. Florence yang mengingat bagaimana Hadi ingin melecehkan nya pun tanpa sadar mencengkeram kedua pundak Hugo. Matanya berubah tajam, dan senyum samar langsung terbit di wajah tampan Hugo. "Aku bukan orang jahat tuan, tapi Mila sudah melakukan kejahatan. Jika bukan kepadaku bisa saja pada perempuan lain. Jadi aku akan mengikuti rencana tuan untuk menghukum Mila!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD