Bab 7

1040 Words
Mendengar jawaban dari Florence, Hugo tersenyum puas. Tatapan mereka mulai beradu dan itu membuat detak jantung mereka mulak berbunyi lebih keras. Tatapan mata Hugo terus terpaku pada mata Florence. Semua bayangan tentang Florence terus berputar di benaknya. Florence sendiri sudah terhipnotis dengan sorot mata Hugo yang tajam. Tangan Hugo tiba tiba terangkat dan mengusap pelan pipi Florence yang terlihat chuby. Florence sendiri mendadak gugup saat ini apalagi posisi mereka yang benar benar membuat Florence tak bisa bergerak. Hugo meraih dagu Florence, perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Florence. Sesaat setelah bibir mereka hampir bersentuhan terdengar suara ketukan di pintu ruangan itu. Tok tok.... Florence berjingkat kaget dan merapikan baju seragamnya. Hugo sendiri sudah berdehem kecil untuk menetralkan dirinya sendiri. "Pergilah, dan nanti malam semua rencana itu akan berjalan. Aku akan memberitahu mama soal ini. Jadi kamu tak perlu khawatir soal Julian." Florence mengangguk cepat, sedetik kemudian dia keluar dari ruang kerja Hugo untuk mencari Mariam dan Julian. Mila sejak tadi menunggu keluarnya Florence. Dia sudah geram karena Florence terlalu lama berada di ruang kerja Hugo. Sret .... Mila menarik keras lengan Florence dan mendorong tubuh Florence sampai membentur dinding yang ada di belakangnya. "Aw....." Florence memekik pelan dan kembali meringis karena lagi lagi lukanya yang masih lebam kembali terluka. "Heh, cewek murahan. Ngapain kamu di ruangan tuan Hugo sangat lama? Kamu mau menggodanya?" bentak Mila keras. Mata Florence terbuka lebar dan menatap marah ke arah Mila. "Apa maksudmu? Dan lagi kenapa kamu tahu aku berada di ruangan tuan Hugo? Apa kamu mengawasi ku?" Mila gelagapan karena Florence berbalik menyerangnya dengan pertanyaan beruntun. Mila berdecih sinis, dia harus bisa menguasai dirinya agar dia bisa menyingkirkan Florence dari rumah itu. "Buat apa aku mengawasi mu. Aku melihatmu keluar dari ruangan tuan Hugo. Jadi sudah di pastikan jika kamu mencoba menggodanya. Awas aja kalau kamu ketahuan menggodanya, aku akan mengadukan mu pada nyonya Mariam!!" ancam Mila. Setelah itu Mila pergi dari sana meninggalkan Florence yang terdiam. Dia tak jadi masuk ke kamar Julian melainkan masuk ke kamarnya sendiri. Menutup pintunya dengan cepat. Tak lama terdengar isakan tangis dari mulut Florence. Dia masih tak menyangka jika ada yang tak suka kepadanya sampai seperti itu. Florence terus menangis tapi beberapa saat kemudian dia ingat dengan apa yang di katakan Hugo. Dia tak boleh lemah jika ingin terus mendapatkan hal hal yang dia mau. Dia tak boleh membiarkan Mila terus menindasnya padahal itu bukan kesalahannya. "Mila jangan salahkan aku kalau aku berbuat kejam padamu karena kamu yang memulainya." Florence mengusap air matanya dan memutuskan untuk menghadapi Mila dengan berani. #Disisi lain, Hugo menemui mamanya untuk membicarakan semua rencananya. "Ma, mama ngerti kan kenapa mama dan Julian harus pergi sebentar?" Mariam mengangguk mengerti, dia juga menyayangkan jika ada pelayannya yang malah seperti itu. "Baiklah, lakukan semuanya dengan baik. Jangan sampai kamu atau Florence terluka. Jika kamu ingin menghukumnya, bawa saja dia ke markasmu jangan bikin dia di rumah ini. Apa kamu ngerti Hugo?" pesan Mariam pada putranya. Hugo mengangguk, dia sangat mengerti apa yang di pesan oleh mamanya. Tak lama dia menyuruh asistennya membawa sang mama pergi dari sana. Begitu juga dengan Julian. Semua sudah di siapkan Hugo dengan rapi. Mila dan pelayan yang lain tak tahu menahu tentang kepergian Marima dan Julian malam ini. Setelah memastikan mamanya pergi bersama Julian dengan stok Asi yang full barulah Hugo menjalankan rencananya. Dia memberi aba aba pada Florence untuk membawakan minuman ke ruang kerjanya. Posisi saat ini Florence sedang bersama para pelayan yang lain untuk makan malam. "Florence bawakan aku minuman hangat dan juga beberapa camilan ke ruang kerjaku!" Florence ingin berdiri tapi kemudian Mila lebih dahulu menyela. "Biar saya saja tuan, kebetulan Florence belum selesai makan. Iya kan Florence?" Mata Mila menajam melihat ke arah Florence dan Florence pun mengangguk sebagai jawaban. Tentu saja Mila senang dengan jawaban Florence. Mila bahkan berpikir jika Florence takut kepadanya. Hugo hanya menatap datar ke arah para pelayan itu. "Terserah, siapa yang mau antar!" jawab Hugo dingin. Setelah itu, Hugo pergi dari sana meninggalkan para pelayan yang masih makan malam. Mila sudah berdiri sejak tadi untuk menyiapkan minuman yang di pesan oleh Hugo. Dengan liciknya dia mencampur minuman itu dengan obat yang sudah dia siapkan sejak lama. "Malam ini, kamu akan jadi milikku tuan Hugo!" gumam Mila lirih. Hugo yang melihat semua aksi Mila pun tersenyum sinis. Dia membiarkan saja apa yang di lakukan Mila saat ini. Setelahnya Mila membawa minuman itu ke ruangan Hugo dengan pakaian yang di buka bagian atasnya. Tentu saja semua orang tahu kelakuan Hugo dengan para wanita bayarannya. Termasuk Mila yang dengan berani ingin menggoda Hugo. Tok tok... Mila masuk membawa sebuah nampak berisi minuman itu. "Taruh disana!" Mila mengangguk, tapi dengan gerakan sensual dia membungkukkan badannya di depan Hugo sembari memperlihatkan buah dadanya ke depan wajah Hugo. Ingin rasanya Hugo muntah saat itu, dan benar benar ingin muntah. Dalam benaknya sekelebat muncul bayangan milik Florence. "Silahkan di minum tuan, mumpung masih hangat!" Hugo menurut dan ingin meminumnya. Tapi kemudian dia bangkit, dia meraih pinggang Mila yang membuat mata Mila membelalak karena terkejut. Tapi kemudian senyum lebar terbit di wajah Mila. "Temani aku minum," ucap Hugo datar. Mila yang tak sadar masuk ke dalam pesona Hugo mengangguk dan membuka mulutnya sendiri. Hugo dengan mudah memberikan minuman yang sudah di beri obat itu pada Mila. Sedangkan Mila langsung meneguknya sampai habis karena dia sudah terbuai dengan wajah tampan Hugo. Hugo menyeringai melihat wajah Mila yang mulai gelisah. "Bagaimana rasanya minum obatmu sendiri jalang?" Mata Mila membola, dan dia sadar jika Hugo sudah tahu tentang apa yang dia lakukan. "Ti-tidak tuan, aku tidak memberikannya!" ucap Mila terbata. Obat itu sudah bereaksi, tubuh Mila mulak bergerak gelisah dan ingin meraih tubuh Hugo. Tapi dengan dorongan yang keras dari Hugo membuat Mila terjengkang ke lantai. Tak lama dari itu, anak buah Hugo masuk ke dalam ruangan. "Bawa dia pergi ke markas dan minta Florence datang kemari!" Salah satu pengawal Hugo segera menjalankan perintahnya. Para pelayan yang sejak tadi bersama Florence sudah kembali ke kamarnya masing masing yang ada di paviliun belakang. Kecuali Florence yang memang berada di rumah utama. "Ada apa tuan memamggilku kemari?" tanya Florence takut. Sret ... Lagi lagi Hugo menarik lengan Florence sehingga Florena terjatuh di pangkuan Hugo. "Tuaaan....." pekik Florence keras. "Bantu aku seperti kemarin!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD