Mata Florence membola mendengar permintaan Hugo. Dia masih diam di pangkuan Hugo dengan bingung. Bagiamana bisa Hugo meminta itu kepadanya padahal tak ada hal yang memicu Hugo bereaksi lebih dari yang Florence bayangkan.
"Ban-bantu? Seperti kemarin tuan? Apa tuan tak salah bicara?" tanya Florence takut.
"Cepat sebelum aku benar benar menyerangmu dan membuatmu menyesal seumur hidup!"
Glek....
Florence menelan saliva nya kasar.
Perlahan dia turun dari pangkuan Hugo. Berdiri di depan Hugo dengan bingung.
"Setelah ini aku akan mengantarmu melihat wanita itu di hukum."
Suara bariton Hugo kembali terdengar, perlahan Florence membuka kancing seragam baby sitternya. Dan lagi lagi Hugo melihat Florence dengan wajah datarnya. Florence mendekat ke arah Hugo dengan takut. Dia duduk kembali di sisi Hugo dengan napas yang memburu. Hugo sebenarnya tak ingin melakukan ini kepada Florence. Tapi kepala nya serasa meledak sejak kemarin. Bayangan milik Florence sudah terekam jelas di kepalanya yang membuat senjata miliknya selalu turn on di setiap waktu. Dan itu benar benar menyiksanya. Dan anehnya dia tak kepikiran menyewa wanita malam lagi atau menghubungi Sofia yang biasa dia bayar untuk memuaskan nya.
Hugo mendekat ke arah benda yang sudah terbuka itu. Dia meneguk ludahnya kasar melihat dua buah benda yang menggiurkan itu.
Dengan gerakan pasti Hugo melahap benda itu yang membuat Florence kembali memekik tertahan. Hugo dan Julian berbeda. Cara Hugo adalah cara orang dewasa yang benar benar menikmati. Tangan Hugo sendiri sudah bermain di atas senjata miliknya dengan cepat. Dan tangan satunya bermain di salah satu benda bulat itu. Kali ini Florence mulai terbawa suasana. Kepalanya menengadah ke atas sembari tangannya meremas kuat kepala Hugo.
Suara yang tak pernah dia sangka akan keluar pun lolos dari bibir mungilnya. Hugo yang mendengar itu pun tersenyum samar di sela permainannya.
Hampir setengah jam berlalu, dan Hugo menggeram tertahan sembari terus menerkam dia buah benda kenyal milik Florence yang terbuka bebas di depannya.
Entah kenapa Florence sendiri memekik tertahan karena tanpa sadar satu tangannya juga bermain pada miliknya sendiri.
Hugo bangkit dari posisinya dan matanya sempat membola saat melihat bagian bawah Florence terkoyak karena ulah tangan Florence sendiri
"Florence kamu?"
Kata kata Hugo tertahan melihat wajah Florence yang memerah.
Dia tak menyangka jika kali ini Florence bahkan melakukan hal yang sama.
"Kenapa tak bilang kalau kamu juga menginginkannya?"
Blush...
Wajah Florence semakin memerah, tapi dia tak berani menjawab. Perlahan Hugo merapikan baju Florence. Dan dia sendiri berjalan ke arah kamar mandi yang ada di ruang kerjanya.
"Bersihkan dirimu, setelah ini kita pergi ke tempat dimana Mila aku tahan."
Florence mengangguk pelan, dia berusaha mengontrol tubuhnya yang terasa lemas.
#
Florence pergi ke kamarnya dan membersihkan dirinya. Hugo langsung mengajak Florence pergi ke markasnya melihat Mila yang sedang di tahan disana.
Florence mengkerut takut saat masuk ke dalam Markas milik Hugo.
"Tuan, bangunan apa ini. Kenapa seram sekali?" cicit Florence lirih.
"Markas!"
Florence berjalan di belakang Hugo dengan raut wajah yang takut. Dia belum terbiasa dengan markas yang gelap seperti itu. Tapi dari anak tangga yang mengarah pada lantai bawah sudah terdengar suara teriakan Mila.
Tubuh Florence meremang, bukan teriakan kesakitan tapi teriakan yang sama seperti dirinya tadi. Bedanya teriakan Mila seperti teriakan yang menjijikan di telinga Florence.
Hugo dan Florence sampai di lantai bawah. Di depannya terlihat Mila sedang di garap oleh beberapa anak buah Hugo dengan brutal.
Mata Florence membelalak dan reflek dia langsung berbalik ke belakang. Tak ayal tubuhnya menabrak tubuh Hugo yang sedang berdiri di belakangnya pas.
"Tu-tuan....!" cicit Florence pelan.
Florence mendongak melihat Hugo, pasalnya Hugo sudah menutup kedua telinga Florence dengan kedua tangannya.
"Segera selesaikan dan berikan dia obat penawar!" perintah Hugo pada semua anak buahnya.
"Baik tuan!"
Semua permainan anak buah Hugo selesai. Mila juga sudah di paksa meminum obat penawar yang memang selalu di sediakan oleh anggota Hugo.
Perlahan kesadaran Mila kembali, dia meringis merasakan semua badannya nyeri dan ngilu.
"Aku dimana?" gumam Mila lirih.
"Bagaimana rasanya menikmati permainan mu sendiri?"
Mila yang sejak tadi bingung menoleh ke sumber suara yang sangat dia kenali. Matanya melotot melihat Hugo sedang memeluk Florence di depannya. Bedanya jika dia sedang di tahan sedangkan Florence bebas bersama Hugo.
"Tuan muda, apa maksudnya ini semua?"
Hugo berdecih sinis, dia melihat dengan pandangan muak nya.
"Kamu masih bertanya maksud dari semua ini? Bukannya tadi kamu udah kasih obat perangsang ke dalam minumanku? Apa kamu belaga lupa hah?"
Wajah Mila pucat pasi, dia ketahuan dan saat ini jelas nyawanya dalam bahaya.
Dia lalu melirik ke arah Florence yang ada di dekat Hugo.
"Ini semua rencananya. Aku ingin menggagalkan rencana nya yang ingin menjebak tuan muda. Florence ingin merayu tuan muda!"
Florence berbalik dan melihat ke arah Mila dengan tatapan yang tak biasa.
"Buat apa aku menjebak tuan muda? Dan kapan aku berusaha merayunya? Bukannya semua orang sudah tahu jika selama ini kamu yang berusaha mendekati tuan muda dengan segala cara. Bahkan kamu juga menyuruh orang untuk menculik ku hanya karena kamu iri kepadaku!!!" teriak Florence keras.
Tubuh Florence bergetar menahan marah, dia bahkan yang biasanya kalem langsung meneriaki Mila sampai membuat Mila terdiam. Di tambah semua perbuatannya sudah ketahuan oleh Florence.
"Buat apa aku menculik mu? Apa aku kurang kerjaan!"
Mila masih terus berceloteh tanpa tahu jika nasibnya tak lama lagi berada di dunia ini.
"Mila, kamu benar benar sudah gelap mata hanya karena kamu cemburu sama aku. Dan lagi, aku tak pernah bikin masalah dengan mu, tapi kenapa kamu begitu jahat sama aku!" ucap Florence lirih.
Mila tertawa terbahak melihat wajah sedih Florence. Bagi Mila semua yang di katakan Florence hanya pura pura. Mila sudah menganggap Florence sebagai batu halangan untuknya.
"Kamu sudah mengambil semua perhatian nyonya Mariam, kamu juga sudah menggoda tuan muda dengan tubuhmu. Dengan dalih sebagai ibu s**u tuan Muda Julian. Kamu merebut mereka semua dariku. Padahal sebelum kamu datang, aku yang sudah lebih dahulu menyukai tuan muda Hugo. Tapi dia tak pernah peduli dengan ku. Dan saat kamu datang dia malah terus memperhatikan mu. Kamu yang jahat Florence. Bukan aku yang jahat!!" teriak Mila marah.
Florence tertegun di tempatnya. Semua yang di tuduhkan Mila serasa tak masuk akal bagi Florence.
"Tuan muda, aku yang mencintaimu. Tapi kenapa wanita jalang ini yang lebih kamu pilih. Aku sudah berusaha mendekatimu. Tapi kamu selalu mengabaikan ku. Dan sekarang kamu selalu perhatian dengan wanita sialan ini. Apa kekuranganku? Aku juga tak kalah cantik dengan dia. Aku juga selalu menawarkan diriku untuk di pakai tuan muda. Tapi kenapa tuan selalu menolakku!"
Hugo menaikkan sebelah alisnya.
Hugo tak pernah dekat dengan Florence seperti yang di katakan oleh Mila. Kecuali akhir akhir ini karena ada kejadian yang tak bisa dia katakan.
"Florence tak pernah menggodaku seperti mu. Dan aku tak pernah perhatian kepadanya. Apa yang kamu lakukan ini karena memang sifatmu yang terlalu serakah!" sahut Hugo tenang.
Tapi setiap kata katanya dia tak ingin berhadapan lagi dengan Mila.
"Tidak, semua ini aku lakukan karena aku mencintaimu Hugo!"
Mila mulai berani memanggil Hugo dengan namanya.
"Bukan cinta tapi obsesi!"
"Ini bukan urusanmu jalang!!!"
"Jadi diam saja. Hugo milikku dan hanya akan jadi milikku!!" teriak Mila sembari tertawa.
"Aku akan beritahu kamu apa arti menggoda yang sebenarnya."
Sret.....
Florence dengan berani menarik wajah Hugo dan mencium bibir Hugo dengan cepat. Mata Hugo membola melihat keberanian Florence. Sedangkan Mila semakin meraung marah di dalam ruangan itu. Dia memukul kaca pembatas itu dengan keras.
Florence yang sadar dengan apa yang dia lakukan ingin melepas ciumannya dengan Hugo. Tapi Hugo langsung menahan tengkuknya dan semakin memperdalam ciuman mereka. Semua anak buah Hugo langsung menundukkan kepalanya tak ingin melihat tuan mudanya berciuman di depan mereka.
"Habisi dia!"
Perintah Hugo setelah melepas ciumannya dengan Florence. Sedangkan Florence sudah masuk ke dalam pelukan Hugo kembali dengan napas tersengal setelah ciuman panjang mereka.
to be continued