Tubuh Florence menegang mendengar perintah Hugo untuk menghabisi Mila. Setelahnya Hugo membawa Florence naik kembali ke atas meninggalkan Mila yang berteriak keras di bawah sana.
Pikiran Florence terbang entah kemana melihat sendiri kekejaman Hugo tadi.
Blam.....
Florence berjingkat dan seketika kesadarannya kembali. Belum sempat Florence mencerna semuanya, matanya membulat sempurna saat Hugo kembali menciumnya dengan beringas. Florence meremas ujung pakaiannya karena dia tak menyangka jika Hugo akan menyerangnya seperti ini.
Hugo menghentikan ciumannya karena di rasa Florence tak membalas ciumannya.
"Kenapa diam? Kamu tak membalas ciumanku?" tanya Hugo dengan nada serak.
Florence masih diam di tempatnya, dia menunduk tak berani melihat ke arah Hugo.
"Tuan, maaf... tapi rasanya tak pantas jika aku begini dengan tuan. Aku hanya seorang pengasuh dan tuan adalah majikanku. Dan kita juga tak punya hubungan apa apa tuan. Aku juga takut jika nona Sofia akan salah paham."
Florence mengatakan semua itu dengan lirih. Kedua tangannya meremas ujung bajunya tak berani mengangkat kepalanya.
Hugo tertegun mendengar semua perkataan Florence, dia mengusap wajahnya kasar. Perlahan Hugo menjauh dari Florence, berkali kali dia mengambil napas panjang. Dia lupa dengan itu semua, dan hampir saja dia melakukan hal yang tak pernah ada dalam pikirannya. Bercinta dengan Florence, itu yang ada di dalam pikiran Hugo saat ini.
Florence merasakan sesuatu yang tak biasa di hatinya. Ada rasa yang dia tak mengerti apa itu artinya. Tapi semua kata kata Mila teringat jelas dalam otaknya.
Tidak, aku bukan penggoda. Aku tak pernah menggoda tuan Hugo. Semua ini hanya kebetulan. Dan Florence, ingatlah statusmu. Kamu hanya orang biasa, sedangkan tuan Hugo orang yang sangat berpengaruh.
Hugo masih diam di tempatnya. Dia meredam smua hasrat yang sudah sejak tadi naik.
"Kamu akan di antar pulang sama oleh anak buahku!"
Florence mendongak melihat Hugo, dia tahu dari nada bicara Hugo saat ini Hugo tengah marah kepadanya.
Florence pamit dan dia keluar dari kamar Hugo yang ada di markas. Saat dia keluar dari markas itu, sebuah mobil sudah menunggunya di depan.
"Silahkan nona, aku akan mengantarmu pulang."
Florence mengangguk, tapi sebelum dia benar benar masuk ke dalam mobil Florence sempat melihat kembali ke markas. Dan di atas sana, Hugo tengah melihatnya dari jendela kamarnya.
Florence melihat nya sekilas dan memutuskan segera masuk ke dalam mobil itu.
Mobil yang di tugaskan Hugo langsung melaju meninggalkan markas.
Hugo menelfon Gerald agar mengantarnya ke club malam.
Saat dia di tolak Florence entah otaknya mencerna hal lain. Jika perempuan lain akan dengan senang hati membuka kakinya di depan Hugo, tapi ternyata Florence tidak. Dan semua yang di katakan Florence benar. Mereka tak ada hubungan apa apa jadi Hugo juga tak bisa menahan Florence terus menurutinya. Urusan membantu Florence juga sudah selesai jadi setelah ini tak akan ada lagi sangkut pautnya dia dengan Florence.
#
Florence sudah sampai di kediaman Hugo. Dia berlari menuju kamarnya, menguncinya cepat. Saat dia berbalik tanpa dia cegah air matanya turun dengan sendirinya.
Tubuh Florence luruh ke lantai, dia terisak disana.
Setelah beberapa bulan dia kerja di kediaman Hugo baru kali ini dia merasa tak nyaman dan juga yang lainnya.
"Florence, sadarlah. Jangan sampai jatuh hati pada tuan Hugo. Kamu tak pantas bersamanya Flo!"
Florence terus mengingatkan dirinya agar tak sampai terbawa suasana. Apalagi dia tahu jika Hugo adalah seorang Casanova.
Florence tergugu di balik pintu selama beberapa menit, tapi setelahnya dia kembali berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Tenang Flo, kalau kamu stres Asimu tak akan keluar lagi. Kasihan tuan muda Julian nanti."
Florence menguatkan hatinya dan besok dia harus bersikap biasa saja ketika bertemu dengan Hugo.
#
Di tempat lain, Hugo sedang berada di sebuah club malam elit. Dia berada di ruangan VVIP bersama Gerald. Sudah berapa gelas yang Hugo minum dan Gerald membiarkannya saja.
Ceklek.....
Dari arah pintu masuk Sofia datang mengenakan pakaian sexy nya. Hugo menatapnya datar karena dia tak merasa memanggil Sofia datang kesana.
Sofia yang baru saja datang langsung menempel pada Hugo dan mencoba menggoda Hugo. Dia harus membalas kejadian tempo hari saat permainan mereka belum selesai. Dan alhasil Sofia harus mencari pelampiasan kepada orang lain.
"Kenapa minum sebanyak ini? Apa kamu ada masalah?" pancing Sofia.
Hugo masih membiarkan saja apa yang di katakan oleh Sofia. Dia tak berminat sama sekali kali ini. Sejak masuknya Sofia ke ruangan itu, Gerald lebih memilih pergi dari sana dan menyuruh anak buahnya untuk berjaga di depan.
Sofia mulai memancing Hugo dengan menarik tangan Hugo dan menaruhnya di bagian depan miliknya. Suara Sofia bahkan di buat mendesah desah agar Hugo terpancing. Tapi pada kenyataannya Hugo tak bereaksi sama sekali. Sofia yak menyerah, tangannya sudah bergerilya ke bawah dan mengusap senjata milik Hugo. Tapi gerakan Sofia sempat terhenti karena senjata milik Hugo tetap anteng tak menunjukkan apa apa.
"Hugo, apa kamu tak ingin bermain dengan ku?" tanya Sofia dengan wajah memelas.
"Buka semua bajumu dan menari lah di depanku!"
Sofia tersenyum lebar, dia melakukan apa yang Hugo minta.
Dengah gerakan sensual dan menggoda Sofia melepas semua yang dia kenakan dan mulak menggerakkan badannya. Sementara Hugo sedang menikmati minumannya tanpa peduli dengan Sofia.
Anehnya saat kesadaran Hugo mulai terganggu dengan efek minumannya. Dalam pandangan Hugo ada Florence yang sedang berdiri di depannya.
"Florence....." panggil Hugo tanpa sadar.
Sofia yang mendengar jelas Hugo memanggil nama perempuan lain pun langsung berhenti. Harga dirinya terluka karena dia sudah telanjang tapi Hugo menyebut nama perempuan lain.
"Hugo, kenapa kamu malah menyebut nama perempuan lain hah?" teriak Sofia tanpa sadar.
Mata Hugo menajam saat kesadarannya kembali. Dia menatap datar ke arah Sofia yang berani membentaknya.
"Aku disini dan kamu malah membayangkan perempuan lain? Dan tunggu, sepertinya aku mengenal nama itu!"
Sofia berusaha mengingat siapa perempuan yang baru saja di panggil Hugo tadi. Beberapa detik kemudian mata Sofia membelalak saat mengingat siapa Florence.
"Hugo, dia baby sitter Julian kan? Iya kan? Apa dia sudah menggodamu sampai kamu tak tertarik padaku lagi? Apa dia sudah jadi jalang mu yang baru?"
Hugo bangkit dengan cepat, dan mencengkeram leher Sofia erat.
"Jaga mulut kotormu itu. Berani sekali kamu berkata kasar di depanku? Dan jangan sekali kali menyebut Florence jalang. Dia wanita baik baik, bukan jalang sepertimu!!"
Setelah mengatakan itu, Hugo dengan keras melempar tubuh Sofia yang langsung terjatuh di atas meja kaca.
Pyar.....
Suara pecahan meja kaca itu membuat Gerald masuk ke dalam dengan cepat.
"Hugo ada apa?" tanya Gerald bingung.
Bagaimana tidak, Gerald melihat Sofia yang merintih kesakitan dengan keadaan telanjang. Dan juga wajah Hugo yang memerah karena marah.
"Buang dia, jangan biarkan dia berkeliaran lagi di sekitarku. Dan Ger, siapa yang menyuruhnya datang kesini, hukum cambuk seratus kali!"
Glek....
Gerald meneguk ludahnya kasar, wajahnya sudah pucat pasi karena dia yang sudah memanggil Sofia datang kesana.
Mati aku!"
Setelah mengatakan itu Hugo pergi dari sana tanpa menoleh ke belakang lagi. Sofia sudah berteriak keras karena tak terima dengan apa yang di lakukan oleh Hugo kepadanya.
"Hugo, kamu tak bisa memperlakukan aku seperti ini!!"
to be continued