Sofia terus berteriak karena terus di seret oleh beberapa anak buah Hugo. Sofia di bawa tanpa di beri kesempatan untuk mengenakan kembali pakaiannya.
"Hugo aku akan membalas mu!" gumam Sofia lirih.
Saat dia ingin di masukan ke dalam mobil Gerald melemparkan selimut kepada Sofia.
"Pakai itu dan berhentilah berteriak. Aku menyuruh mu datang bukan untuk membuat Hugo semakin marah. Tapi ternyata kamu tak bisa menempatkan diri. Kamu malah menghina orang yang seharusnya tak kamu hina!" ucap Gerald.
Sofia menatap Gerald nyalang, dia tak percaya jika Gerald juga akan mengatakan itu sama seperti Hugo.
"Apa Hugo sudah menurunkan standartnya sampai dia lebih suka dengan pengasuh itu dari pada aku?" geram Sofia.
Gerald tersenyum sinis, dia mencengkeram dagu Sofia dengan kasar.
"Nyatanya, hanya dia yang bisa membuat Hugo marah seperti sekarang. Hanya dia wanita yang membuat Hugo kehilangan moodnya padamu!" jawab Gerald dingin.
Mata Sofia membelalak, dia semakin benci dengan Florence. Mata Sofia penuh dengan dendam dan itu membuat Gerald semakin tak menyukainya.
Gerald menghempaskan wajah Sofia keras.
"Jaga batasanmu Sofia, karena kamu tak ada hubungan apa apa dengan Hugo. Ingat kamu di bayar, bukan Hugo yang mau melakukannya lebih dulu!"
Jleb....
Semua kata kata Gerald benar, dia kalah. Sofia menunduk dan kembali diam, meremas kuat selimut yang menutupi tubuhnya. Sudah lama dia mengejar Hugo, merelakan tubuhnya menjadi sasaran hasrat Hugo tapi tak pernah Hugo peduli dengan nya. Setelah membuat Hugo puas, dia menerima bayaran dari Hugo dan diminta pergi dari sana. Bahkan saat dia berusaha mendekati Mariam, dia selalu di usir. Mariam tak suka kepadanya. Sedangkan Florence meskipun dia seorang pengasuh tapi dia mendapatkan kasih sayang dari Mariam.
"Bawa dia pergi jauh dari sini ke tempat pengasingan. Dan untuk kamu Sofia, jangan pernah muncul lagi di depan Hugo atau mengganggu Florence. Kamu tahu bukan jika Hugo bukan orang yang punya belas kasihan?"
Sofia terdiam tak menjawab tapi perlahan dia menganggukkan kepalanya. Dia tak ingin mengambil resiko sampai Hugo menghabisi nyawanya. Mengingat tadi dia hampir saja tewas di tangan Hugo.
Gerald menyelesaikan semua pekerjaannya dan setelah ini dia akan menjalani hukuman nya. Seratus hukuman cambuk untuk nya karena kesalahannya.
"Apes banget hari ini!"
Gerald pergi dari club itu menuju markas untuk mendapatkan hukumannya.
Sedangkan Hugo sudah sampai ke kediamannya kembali. Terlihat sepi karena sudah hampir pagi. Dia berdiam diri di depan rumah mewahnya sendiri.
Sebelum dia beranjak masuk ke dalam, dia memikirkan semua perkataan Florence tentang sebuah hubungan. Tapi dia tak bisa mengerti tentang semua yang dia rasakan. Semenjak melihat kakaknya di tinggal oleh istrinya dan membuat Kakaknya meninggal, Hugo benar benar menjadi laki laki berengsek yang selalu bermain dengan banyak wanita.
Semua kekuasaan dan keberhasilan yang di raihnya semua dia dapat setelah kakaknya tiada dan meninggalkan Julian seorang diri. Beruntung dia punya mama yang luar biasa.
Hugo masuk ke dalam rumah dengan suasana hati yang tak tentu.
Saat dia mulai menaiki tangga, entah kebetulan atau apa dia kembali berpapasan dengan Florence yang ingin turun ke bawah. Di tangannya ada botol air minum.
Bruk.....
Florence yang sejak tadi menunduk menabrak d**a bidang Hugo dan membuatnya hampir terjatuh.
Hugo reflek menahan tubuh Florence dan tatapan keduanya saling beradu. Tapi Florence segera kembali berdiri dengan perasaan yang canggung.
"Maaf tuan, aku tidak sengaja!" ucap Florence.
Setelah mengatakan itu, Florence segera pergi dari sana meninggalkan Hugo yang hanya terdiam di tempatnya. Belum sempat Hugo menjawab, bayangan Florence sudah tak ada lagi disana.
Hugo mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Florence sendiri menenangkan hatinya sambil bersandar pada dinding dapur.
"Kenapa harus bertemu saat seperti ini? Dan tadi, apa tuan Hugo habis minum banyak? Kenapa bau alkoholnya menyengat sekali?" gumam Florence.
Florence menggelengkan kepalanya, dia berusaha mengenyahkan pikiran soal Hugo dari otaknya.
Florence bergegas mengisi botol minumnya dan kembali ke kamarnya. Tapi saat ingin kembali ke kamarnya dia meringis merasakan Asinya sangat penuh.
"Ahh, aku lupa harus jika tuan muda Julian tak ada disini."
Florence terpaksa kembali ke luar ke kamar Julian. Dia memeriksa stok Asi milik Julian yang masih banyak.
"Apa Oma lupa bawanya sampai masih sebanyak ini?" gumam Florence pelan.
Dia berdiam diri di depan tempat penyimpanan Asi milik Julian.
Saat dia berbalik dia kembali di kejutkan dengan keberadaan Hugo yang sudah ada di belakangnya.
"Astaga....!"
Florence mengusap dadanya pelan karena terkejut.
"Kamu sedang apa disini, bukannya Julian belum kembali?" tanya Hugo dengan suara beratnya.
Florence menggeleng, dan menahan nyeri di dadanya.
"Aku sedang memeriksa stok Asi milik tuan muda Julian. Dan ternyata masih banyak," jawab Florence lirih.
Pandangan Hugo terarah ke bagian depan gaun tidur Florence yang mulai basah.
"Asimu penuh?" tanya Hugo langsung.
Florence mengangguk, tapi kemudian dia menggeleng. Dia mundur ke belakang, dia tak ingin Hugo salah paham atau berpikir yang lain.
"Kenapa tak kamu keluarkan pakai alat yang biasanya dan untuk tambah stok Asi Julian?"
Florence meremas kedua tangannya. Harusnya itu yang dia lakukan sejak tadi.
Tapi karena kedatangan Hugo semua pikirannya buyar seketika.
"Aku akan mengeluarkannya, permisi tuan."
Florence ingin pergi dari sana tapi tangan Hugo kembali mencekalnya.
"Tak perlu pergi, biar aku yang bantu."
Mata Florence terbelalak, dia membeku di tempatnya. Dadanya berdegup kencang saat Hugo menarik lengannya dan di bawanya duduk di ranjang Julian.
"Aku pernah melihat mu tak sengaja waktu mengeluarkan asi itu dengan alat yang ada. Tapi kamu mengeluarkannya sambil menangis. Dan tak lama malah "Itu mu" berdarah."
Glek....
Florence meneguk ludahnya kasar, karena Hugo tahu semua itu.
"Aku tak akan ambil kesempatan. Aku hanya akan membantumu, besok aku akan bilang pada mama untuk membelikan alat yang lebih bagus dan mahal agar kamu tak kesakitan. Ini juga untuk Julian. Aku nggak mau dia sampai meminum darah dari sana yang tak sengaja bercampur dengan Asi itu."
Florence terdiam, apa yang di katakan Hugo benar. Hugo sudah duduk di depannya menunggu Florence. Tapi Florence masih berdiam di depannya tak bergerak sama sekali.
"Kalau kamu nggak mau juga nggak apa apa, aku akan kembali ke kamar ku dan tidur."
Hugo sudah berjalan keluar dari kamar Julian, tapi ujung piyama Hugo ditarik pelan oleh Florence. Hugo hanya diam, dia menunggu apa yang akan di katakan oleh Florence.
"Apa aku tak merepotkan tuan?" tanya Florence lirih.
Entah kenapa malah pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. Hugo berbalik ke arah Florence dan melihat Florence menggigit bibir bawahnya. Tangan Hugo terulur ke bibir Florence. Dia mengusap bibir itu pelan.
"Jangan di gigit Flo, nanti berdarah."
Florence mengangkat kepalanya dan melihat tatapan Hugo yang teduh tak seperti biasanya.
"Aku tak akan melakukan apapun kepadamu, aku hanya akan membantu mu mengeluarkan isi itu."
Florence diam, tapi dia menurut ke arah Hugo yang kembali mengajaknya duduk di ranjang Julian.
Hugo menyuruh Florence duduk di atas pangkuannya. Dan dengan gerakan pelan Hugo melepaskan tali gaun tidur Florence tapi matanya terus terpaku pada wajah Florence saat ini.
Wajah Florence sudah memerah dan perlahan Hugo mendekatkan wajahnya ke arah dua benda kenyal yang ada di depannya. Dua benda kenyal yang Asinya sudah menetes pelan.
"Ahh ...."
Suara pelan Florence terdengar saat Hugo sudah melahap benda kenyal itu. Menelan Asi Florence dan meneguknya cepet. Tangan Hugo tak tinggal diam, tangan itu ikut andil agar Asi itu segera keluar dengan cepat.
"Tuan....." panggil Florence lirih.
Hugo menikmati apa yang dia lakukan dan dia sadar hanya dengan menyentuh Florence senjata di bawahnya mulai bereaksi dan berdenyut. Berbeda sekali saat berdekatan dengan Sofia yang tak beraksi sama sekali.
"Ahhh, tuan jangan di gigit." rengek Florence.
Hugo melajukan dengan pelan, dia bahkan melirik ke atas melihat wajah Florence yang sedang memejamkan matanya. Tanpa sadar Florence sudah bergerak gelisah dengan pelan dia atas pangkuan Hugo.
"Tuan.... ahh ..."
Tubuh Florence bergetar hebat saat Hugo sengaja mempermainkan benda kecil yang mencuat itu.
Tapi tak lama rambut Hugo di cengkeram Florence dan di tekannya lebih dalam.
Hugo menurut dan dia membiarkan Florence mendapatkan pelepasannya hanya dengan permainannya.
to be continued