Zein dan Hana semakin lengket saja, keduanya bahkan sangat sering menghabiskan waktu bersama, entah sekedar ngopi bersama atau pun berakhir pekan.
Sementara Sandra sendiri semakin sibuk dengan kegiatannya, ia hampir tak pernah lagi memikirkan keperluan suami dan anaknya. Seperti hari ini perempuan itu kembali berangkat meeting ke luar kota, kembali meninggalkan suami dan anak sambungnya.
Dan Hana-lah yang akhir-akhir ini memenuhi semua keperluan Zein, baik itu makanan maupun menyiapkan pakaian kerja ayah sambunya itu kalau sandra sedang tak berada di rumah.
Pagi ini gadis cantik itu masuk ke kamar orang tuanya dan memilihkan stelan kerja yang akan dikenakan daddy-nya tersebut, ia pun masih mengenakan piama tidurnya.
"Pagi Han" ucap Zein, ia baru keluar kamar mandi dengan handuk yang masih melilit dipinggangnya sembari menggosok rambut basahnya dengan sebuah handuk kecil.
"Pagi dad" sahut Hana tanpa menatap Zein, ia masih berdiri memilihkan kemeja yang akan daddynya tersebut kenakan.
"Kamu gak kuliah, kok belum mandi" tanya Zein sembari duduk ditepi ranjangnya.
"Kuliah siang dad" sahut Hana.
"Oh begitu" angguk Zein.
"Dad ini... ini pakaian daddy" ucap Hana sembari memutar tubuhnya menghadap Zein.
Seketika Hana gugup melihat penampilan daddy sambungnya itu pagi ini. Zein di usianya yang hampir empat puluh tahun masih terlihat gagah dan teramat seksi dengan perut six pack yang dimilikinya.
"Hana tinggal ya dad" ucap Hana.
"Iya terima kasih sayang" ucap Zein seraya mengacak puncak kepala Hana.
Hana berlalu dari kamar mami dan daddy-nya, begitu menutup pintu kamar tersebut ia memengang dadanya yang berdegup terasa kencang.
"Ya Tuhan apa ini, kenapa gue segugup ini" ucap batin Hana.
Sementara di kamarnya Zein pun merasakan hal yang sama.
"Gila... gak mungkinkan kalau aku jatuh cinta pada Hana, ya Tuhan... sadar Zein dia anak kamu, anak yang kamu rawat sejak kecil" gumam Zein.
---
Jam kantor usai Zein bergegas membereskan pekerjaannya dan segera menjemput Hana di kampusnya, ia dan Hana sudah membuat janji untuk menghabiskan waktu bersama sore ini.
Mobil Zein melaju membelah jalanan ibu kota yang lumayan padat di sore ini. Pria itu tersenyum melihat Hana yang duduk seorang diri menunggunya.
"Hana" panggil Zein sembari membuka kaca mobilnya dan gadis itu pun bergegas masuk ke mobil.
"Lama banget sih dad" Hana menggerutu kesal dengan wajahnya yang ditekuk.
"Maaf... tadi lumayan macet makanya lama" ucap Zein menjelaskan perihal keterlambatannya.
"Lain kali lebih awal keluar kantornya dad, biar gak lama Hana nunggunya" ucap Hana.
"Mana bisa begitu sayang" ucap Zein.
"Daddy kan bosnya, bisa dong keluar lebih awal" ucap Hana lagi.
"Ya gak bisa dong Han, masa daddy memberikan contoh yang gak baik buat karyawan, yang ada nanti mereka gak disiplin" ucap Zein menjelaskan.
"Hhh iya juga sih" ucap Hana membuat Zein tersenyum.
"Tadi berangkat naik apa, diantar mamang apa bagaimana" tanya Zein.
"Di jemput temen" ucap Hana.
"Teman?" ucap Zein, ia memicingkan matanya menatap Hana.
"Cowok apa cewek" ucap Zein curiga.
"Kalau cewek kenapa dan kalau cowok kenapa memangnya" ucap Hana.
"Ya... ya gapapa, gak baik aja jalan sama cowok Han" ucap Zein gugup.
"Ih apaan sih dad, biasanya juga gapapa kalau Hana jalan sama temen cowok" ucap Hana.
"Jadi tadi yang jemput cowok, siapa Han" tanya Zein dengan nada tak suka.
"Enggak dad bukan cowok, Rahma yang jemput. Kenalkan sahabat Hana yang namanya Rahma" sambung Hana lagi.
"Oh... kirain beneran cowok" ucap Zein.
"Apaan sih dad, sok perhatian deh" ucap Hana.
"Emang gak boleh perhatian sama anak sendiri" ucap Zein.
"Ya boleh sih" ucap Hana tersenyum.
Keduanya menghabiskan sore dengan duduk santai di sebuah cafe, mereka menikmati minuman beserta camilan kecil yang lumayan sedikit mengenyangkan untuk Hana.
"Dad mami kapan sih waktu santainya, kerja mulu" ucap Hana yang duduk di sofa yang sama dengan Zein, ia menggelendot manja dan memeluk lengan Zein hal biasa yang memang sering ia lakukan.
"Tanya aja sendiri sama mami kamu" ucap Zein sembari menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Huhh bilang aja daddy juga gak tau" ucap Hana kesal.
"Emang daddy gak tau" ucap Zein akhirnya.
"Kenapa memangnya" tanya Zein.
"Kangen aja dad, udah lama gak qualiy time bareng mami" ucap Hana.
"Mami kamu sekarang jadi orang super sibuk, lebih sibuk dari presiden sepertinya" ucap Zein, terlihat sekali nada kesal dari suaranya.
"Iya sih daddy bener, mami sibuk banget" ucap Hana.
"Ya sudah habiskan tuh cemilanmu" ucap Zein.
"Gak ah, sudah kenyang banget" ucap Hana.
"Malam ini mau ikut daddy gak" tanya Zein.
"Ke mana" tanya Hana.
"Fitnes, ikut yuk temenin daddy" ucap Zein.
"Malas ah dad, fitnes di rumah aja kenapa sih, itu alat olahraga di rumah di anggurin mulu" ucap Hana.
"Tapi temenin daddy ya Han, malas kalau di ruang olah raga sendirian" ucap Zein.
"Kenapa, takut ya" ledek Hana.
"Enggak... ayolah pulang" ucap Zein, ia meraih jemari Hana dan menggenggamnya menuju pintu keluar, Hana pun hanya diam merasakan genggaman erat tangan daddynya.
---
Hana menyusul Zein menuju ruang olah raga, di sana Zein tengah berlari di alat olah raganya, tubuhnya pun sudah bermandikan keringat.
"Kok baru nyusul sih" ucap Zein begitu melihat Hana masuk ruang olah raga.
"Beresin ngerjain tugas sebentar dad" ucap Hana.
"Oh ya nih Hana bawakan minum" ucap Hana, ia meletakkan botol dekat alat olah raga yang saat ini tengah dipakai Zein.
"Terima kasih sayang" ucap Zein.
"Kamu gak mau ikut olah raga juga" tanya Zein.
"Lagi gak mood" ucap Hana.
"Harus dibiasakan Han, biar sehat" ucap Zein.
"Iya nantilah kalau rajin" ucap Hana, ia mengambil handuk kecil dan memberikan pada Zein untuk mengelap keringatnya yang berjatuhan.
"Minggu depan kita lari bareng ya ke taman" ucap Zein.
"Gak ah dad malas" ucap Hana.
"Eits daddy gak terima penolakan, harus mau, biar sehat Han" ucap Zein.
"Iya-iya terserah daddy lah" ucap Hana akhirnya.
"Ayo dad udahan, udah mandi keringat tuh" ucap Hana sembari menunjuk tubuh Zein yang basah.
Zein hanya mengenakan boksernya untuk berolah raga malam ini tanpa mengenakan baju kaos.
"Sini... cium bau gak" canda Zein sembari berjalan ke arah Hana.
"Ih gak mau daddy, bau" tolak Hana sambil berlarian.
Keduanya saling bercanda kejar-mengejar di ruang olah raga itu hingga Zein berhasil meraih putri sambunya tersebut.
"Nah dapat" ucap Zein ketika berhasil memeluk Hana.
"Daddy bau" teriak Zein.
"Harum kali" ucap Zein tertawa tanpa melepaskan pelukannya pada Hana.
"Lepas daddy" teriak Hana, Hana terus berteriak hingga kelelahan.
Keduanya pun tertawa akibat candaannya, Zein mendekap erat tubuh putri sambungnya itu, keduanya duduk di lantai beristirahat usai bercanda. Hana mendongak bermaksud menatap Zein bersamaan dengan itu Zein pun juga menunduk, dan tanpa sengaja bibir keduanya saling bersentuhan.
Kaget itu yang dirasakan keduanya, mereka terdiam kaku dan entah siapa yang memulai keduanya larut dalam sebuah ciuman, ciuman yang harusnya tak boleh mereka lakukan.
♥♥♥