Part 4

1004 Words
Setelah ciuman panjang beberapa hari yang lalu hubungan Zein dan Hana mulai merenggang, keduanya merasa canggung tak nyaman satu sama lain. Saat berada di rumah Hana selalu menghindari pertemuan dengan ayah sambungnya. Namun pagi ini ia tak bisa lagi menghindar saat Zein memasuki kamarnya. "Ya Tuhan daddy..." ucap Hana kaget begitu Zein memasuki kamarnya. "Daddy mau bicara" ucap Zein, ia menutup pintu dan menghampiri Hana. Zein duduk ditepi ranjang tepatnya disamping putri sambungnya tersebut. "Ma... mau bicara apa dad" ucap Hana gugup. "Akhir-akhir ini kamu menghindari daddy, apa ini karena kejadian kemaren" ucap Zein. "Daddy tau kamu merasa gak nyaman" sambung Zein. "Dad, Hana..." ucap Hana gugup. "Daddy tau seharusnya kita gak melakukan itu kemaren, daddy minta maaf. Mari kita lupakan itu dan bisakah hubungan kita kembali seperti biasanya, daddy benar-benar merindukan kemanjaanmu" ucap Zein. "Daddy" Hana pun memeluk erat daddynya yang juga dibalas dengan pelukan hangat. "Ya sudah ayo siap-siap katanya mau joging bareng" ucap Zein. "Malas daddy" ucap Hana. "Gak ada kata malas, ayo bangun dan ganti bajumu daddy tunggu di bawah" ucap Zein yang kemudian segera keluar dari kamar Hana. Hana pun dengan cepat mengganti bajunya dengan pakaian olahraga pas badan. Keduanya memasuki mobil dan menuju taman di mana di sana setiap minggunya banyak orang-orang yang berolah raga. Tiba di taman keduanya berlari kecil mengelilingi taman membuat tubuhnya berkeringat. "Huhh... cape daddy" ucap Hana dengan nafas ngos-ngosan. "Ya udah istirahat dulu" ucap Zein dan keduanya pun duduk di salah satu bangku taman. "Dad... mami kapan balik sih" tanya Hana. "Gak tau tanya aja sendiri, daddy sudah cape ngurusin mami kamu" ucap Zein, terdengar sekali ada nada kesal saat Hana menanyakan maminya. "Mami kamu seperti gak menganggap daddy ada, pulang pergi sesuka hatinya semaunya sendiri" ucap Zein kesal. "Ya sudah nanti Hana coba bicara sama mami supaya mengurangi sedikit pekerjaannya" ucap Hana. "Daddy kasih kartu unlimitted kalau kamu berhasil membuat mami mengurangi waktu kerjanya" ucap Zein, karena ia tau betapa Sandra tidak bisa ditawar apabila sudah menyangkut soal pekerjaannya. "Beneran dad, janji ya" ucap Hana bersemangat, ia sudah terbayang-bayang akan berbelanja dengan kartu yang daddy-nya berikan. "Ya daddy janji" ucap Zein. Tengah asik beristirahat seseorang menyapa Zein. "Pak Zein" panggil seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahunan. Zein dan Hana menolehkan kepalanya saat mendengar panggilan itu. "Oh hai Bu Amanda" sahut Zein, ia pun berdiri dan menghampiri perempuan itu. "Sayang kenalkan ini bu Amanda beliau kenalan daddy, pemilik PT.Hutama Wijaya" ucap Zein pada Hana. "Hai bu Amanda, saya Hana" ucap Hana sembari menyalami Amanda, ia menatap Amanda dari atas sampai bawah dan melihat penampilan Amanda yang begitu seksi untuk ukuran olahraga di tempat umum seperti ini. "Istrimu?" tanya Amanda setelah menyalami Hana. "Bukan, dia anakku tepatnya anak istriku" sahut Zein. "Oh begitu" ucap Amanda mengerti. Zein dan Amanda mulai terlibat pembicaraan serius mengenai urusan pekerjaannya hingga melupakan keberadaan Hana dan nampak sekali kalau Amanda tertarik pada daddy-nya itu terbukti saat berbincang sesekali Amanda mengusap paha Zein. Merasa jengah dan merasa bosan maka Hana pun menjauh dari dua orang tersebut. "Dasar kegatelan... itu daddy gue udah punya istri masih aja lo rayu" omel Hana sembari berjalan entah ke mana. Sadar Hana tak ada didekatnya Zein pun menyudahi pembicaraannya dengan Amanda. "Bagaimana kalau nanti kita atur waktu untuk dinner bersama pak" ucap Amanda. "Oh iya boleh bu" sahut Zein asal, ia terus melongokkan kepalanya mencari-cari keberadaan Hana. "Saya pegang janjinya loh pak Zein" ucap Amanda. "Ya nanti kalau ada waktu bu, ya sudah saya duluan" ucap Zein. "Oh ya besok jangan lupa meeting sebelum jam makan siang pak" ucap Amanda mengingatkan. "Iya saya tau bu" ucap Zein sembari menjauh pergi meninggalkan Amanda. "Hhmm... pak Zein ini, semakin berumur semakin oke saja, semakin menggiurkan" gumam Amanda tersenyum. Zein sudah berkeliling mencari keberadaan Hana namun tak menemukannya, hingga ia terpikirkan untuk menghubungi handphone gadis itu. "Kamu dimana" tanya Zein begitu Hana menganggkat telponnya. "Masih di taman" sahut Hana dengan kesal. "Iya di mana Han" sahut Zein kesal. "Bubur ayam dekat parkiran" ucap Hana dan ia pun menutup telponnya. Dari kejauhan Zein dapat melihat Hana yang tengah duduk dengan santai sembari menikmati bubur ayam gerobakan, ia menghampirinya dan duduk disampingnya. "Enak banget ya kamu makan bubur ayam, sementara daddy cari kamu keliling taman" omel Zein. "Lagian daddy gak bisa lihat cewek montok sedikit langsung deh lupa sama anaknya, keasikan sendiri sih. Gimana udah kenyang ngobrol sama bu Amanda yang super seksi itu dad" ucap Hana kesal. "Ih ngomongnya kok gitu sih, tadi daddy ngobrolin soal pekerjaan sayang" ucap Zein. "Ya emang soal pekerjaan, tapi gak pake tangan seliweran ke mana-mana juga dad" ucap Hana. "Enggak, daddy gak macam-macam sama bu Amanda" ucap Zein. "Bukan daddy, tapi bu Amanda... kegatelan banget tuh orang pake acara elus-eluh daddy, lagian daddy nih diam aja" omel Hana. "Hana kasih tau mami baru tau rasa" omel Hana lagi. "Sana kasih tau aja, lagian mami kamu mana peduli. Daddy kawin lagi juga mami kamu gak bakalan peduli" ucap Zein. "Oh jadi daddy ada niat mau kawin lagi gitu" ucap Hana kesal. "Ya enggak juga Han" ucap Zein. "Ya sudahlah pesenin daddy juga mau buburnya Han, lapar nih" ucap Zein. "Pesen sendiri" ucap Hana yang masih kesal. "Ya elah masih marah aja" omel Zein sembari berdiri menghampiri gerobak bubur ayam itu. Keduanya baru saja memasuki rumah, seorang art menghampiri Hana. "Non tadi ada kurir kirim bunga" ucap art itu. "Oh iya terima kasih ya bi" ucap Hana sembari mengambil bucket bunga yang diletakkan di atas meja. "Wah cantik banget bunganya, eh ada kartu ucapannya juga" gumam Hana. "Dari siapa" Zein merebut kartu itu. "Daddy kembalikan" rengek Hana. "Daddy lihat dulu" ucap Zein. "Dion, siapa Dion" tanya Zein setelah membuka kartu itu. "Oh Dion... temen kuliah dad" ucap Hana. "Temen apa temen" ucap Zein dengan nada tak suka. "Temen dad, ya emang sih dia suka sama Hana, tapi Hana gak nanggepin" ucap Hana. "Bagus" ucap Zein dan entah kenapa ia begitu senang mendengar ucapan Hana yang tak menanggapi Dion. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD