Part 5

1039 Words
Malam hari Hana menemani Zein bersantai di sebuah cafe, bersama teman-teman Hana yang juga membawa istri dan anak-anaknya yang masih kecil. "Jadi Hana ini putri sambung istri lo Zein?" tanya Irawan sahabat Zein. "Hm benar" ucap Zein sembari menyesap kopinya. "Lalu lo sendiri kapan mau punya anak, kita-kita udah punya dua lo Zein" canda Randi. "Kami malah udah mau empat" ucap Anita istri Aryo sahabat Zein yang tengah mengandung. "Nah lo doang nih Zein" ucap Randi. "Hhh... gue gak tau kapan, belum dikasih kepercayaan aja sama Tuhan" ucap Zein. "Lo dan istri udah periksa apa belum" tanya Irawan dan Zein hanya tersenyum saja. "Hana kalau punya adik lagi mau gak, kasian daddy kamu belum punya keturunan" ucap Randi. "Ah itu terserah daddy dan mami saja mas, bukan urusan saya" ucap Hana pada sahabat Zein. "Tuh Zein, Hana oke-oke aja kalau dikasih adik" ucap Aryo. "Masalahnya salah satu dari kami bermasalah" ucap Zein pelan namun masih bisa didengar Hana dan sahabatnya. "Oh maaf kalau begitu Zein" ucap Irawan. "Iya gapapa" ucap Zein. "Istri lo bermasalah" tanya Aryo. "Begitulah" ucap Zein. "Kenapa lo gak menikah lagi saja untuk mendapatkan keturunan" ucap Randi. "Sembarangan banget sih kalau ngomong" omel istri Randi. "Gak semudah itu bro" ucap Zein. "Sudahlah kok jadi membahas gue sih" ucap Zein. "Eh ini kok lo malah ngajak Hana anak sambung lo, kok gak ngajak emaknya, apa jangan-jangan kalian ini..." Irawan memicingkan matanya menatap Zein dan Hana curiga. "Apaan sih lo jangan ngaco deh" omel Zein saat paham dengan pikiran buruk sahabatnya itu. "Ya kali aja lo dan anak Hana ada main dibelakang istri lo, dukung kok kita" canda Irawan tertawa. "Pah sembarangan banget kalau ngomong" omel istri Irawan. "Tau nih, ya gak lah mas" sahut Hana. "Mami kamu ke mana memangnya Han" tanya istri Irawan. "Mami ke luar kota, sudah beberapa hari ini" ucap Hana. "Oh begitu" ucap istri Irawan mengerti. --- Baru saja tiba di rumah Zein langsung masuk ruang kerjanya, melihat sang daddy ke ruang kerjanya Hana pun segera menyusul. "Dad" panggil Hana. "Ah Hana kebetulan, bisa buatkan daddy kopi sayang" ucap Zein. "Sebentar Hana buatkan" ucap Hana dan ia pun segera berlalu ke dapur. Tak lama gadis cantik itu kembali dengan dua buah cangkir yang berisi kopi untuknya dan sang daddy. "Ini kopinya dad" ucap Hana sembari meletakkan nampan di atas meja. "Terima kasih sayang" ucap Zein. "Daddy lagi banyak kerjaan ya" tanya Hana. "Persiapan buat meeting besok Han" ucap Zein. "Meeting dengan PT. Hutama Wijaya" sambung Zein. "Meeting dengan bu Amanda tadi?" tanya Hana memastikan. "Hm iya benar" ucap Zein sembari meletakkan cangkir kopinya. "Awas ya dad jangan tergoda dengan tuh perempuan" ucap Hana tak suka. "Kenapa sih dari tadi kayaknya kamu gak suka banget sama bu Amanda, dia baik kok sayang" ucap Zein. "Iya baik, kalau ada maunya... dia itu suka sama daddy, daddy gak sadar apa" omel Hana. "Kamu nih bisa aja" ucap Zein tertawa. "Ih dikasih tau juga" omel Hana. "Emang kenapa kalau dia suka sama daddy, itu hak dia dan daddy gak bisa melarang" ucap Zein. "Iiih daddy nyebelin banget sih, ya Hana gak suka aja dia kecentilan gitu sama daddy" ucap Hana kesal. Zein tersenyum mendengar ucapan Hana dan ia pun mendekati putri sambungnya tersebut. "Kenapa gak suka hm" tanya Zein. "Ya gak suka aja" ucap Hana salah tingkah. "Gak suka pasti ada alasannya dong" ucap Zein dan membuat Hana semakin salah tingkah. "Sudah ah Hana mau ke kamar aja" ucap Hana, ia berdiri dari duduknya. "Kok ke kamar sih, temenin daddy dong di sini" ucap Zein, ia menarik lengan Hana dan memeluknya dari belakang. "Dad" ucap Hana gugup, entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup sangat kencang ketika dipeluk sang daddy seperti ini. "Biarkan seperti ini Han" ucap Zein, entah mendapat keberanian dari mana Zein memeluk Hana sedemikian eratnya, dan ia pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Hana. Zein memutar tubuh Hana keduanya saling tatap dalam diam, kemudian Zein menurunkan wajahnya sementara itu Hana tanpa diminta menutup matanya menunggu bibir Zein yang akan mendarat di bibirnya. Sebuah ciuman yang sangat lembut Zein berikan pada Hana, merasa Zein Hana mulai merespon ciumannya maka Zein pun dengan berani menggerakkan bibirnya melumat bibir itu dan memasukkan lidahnya ke dalam sana. Ia pun menurunkan ciumannya ke rahang Hana hingga mencecap lehernya. "Daddy... sudah..." ucap Hana saat menyadari apa yang ia lakukan, ia mendorong pelan d**a Zein. "Ya Tuhan" ucap Hana pelan. "Gak seharusnya kita seperti ini dad, ini salah" ucap Hana menyesali apa yang sudah dilakukannya. "Han daddy..." ucap Zein. "Ini sudah yang kedua kalinya dad, sepertinya daddy sangat merindukan mami hingga berbuat seperti ini pada Hana" ucap Zein. "Gak seharusnya kita seperti ini dad ini salah, dan sebaiknya kita menjauh dulu agar tak terjadi lagi hal seperti ini" ucap Hana. "Enggak Han kamu salah dan daddy gak mau kita berjauhan" ucap Zein. "Jujur akhir-akhir ini daddy merasakan perasaan yang lain sama kamu, perasaan yang seharusnya gak daddy rasakan" ucap Zein pelan. "Maksud daddy" tanya Hana tak mengerti. "Daddy sayang sama kamu Han, sayang yang daddy maksud sayang antara laki-laki dan perempuan, daddy merasakan perasaan cinta buat kamu" ucap Zein menyatakan perasaannya. "Enggak dad ini salah, ini gak boleh. Daddy adalah daddy Hana, gak pantas rasanya kalau daddy mengungkapkan perasaan seperti itu pada Hana" ucap Hana. "Hana ini anak daddy dan perasaan daddy itu gak pantas, buang jauh-jauh perasaan daddy itu" sambung Hana lagi. "Apanya yang salah Han ini gak salah, kamu hanya anak sambung daddy dan gak ada larangan untuk kita berhubungan, sah-sah saja kalau kita menjalin hubungan" ucap Zein. "Tetap aja dad ini salah" ucap Hana. "Jujur ya dad, Hana pun mulai merasakan hal yang sama tapi, Hana akan coba buang jauh perasaan itu" ucap Hana yang juga mengakui perasaannya. "Kita sudah mengetahui perasaan masing-masing sayang, jadi apa salahnya kalau kita coba jalani bersama" ucap Zein. "Enggak dad ini salah" ucap Hana, ia berbalik meninggalkan Zein namun lelaki itu berhasil menahannya dengan mmemelunya dari belakang. "Mari kita mulai hubungan ini, daddy mencintai kamu sayang" bisik Zein sembari mengecup leher Hana. "Enggak dad ini gak boleh dan Hana gak mau jadi perusak, Hana gak mau jadi duri dalam pernikahan daddy dan mami" ucap Hana sembari menitikkan air matanya. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD