Part 8

788 Words
Hana terbangun saat matahari sudah mengintip dari celah dinding kamarnya. Dari balik selimutnya perempuan itu terisak begitu mengingat apa yang sudah terjadi antara dirinya dan sang ayah sambung kemarin malam. Hana benar-benar menyesali apa yang sudah terjadi, namun apa nasi sudah menjadi bubur keperawanannya telah terenggut dan tak bisa dikembalikan lagi. Hana benar-benar merasa bersalah pada maminya, ia merasa seperti seorang penghianat. Hana menatap disampingnya tak ada daddynya di sana, namun ia melihat ada beberapa tangkai bunga mawar tepat di sampingnya. Hana mengambil beberapa tangkai bunga mawar itu dan menciumnya. "Pasti kerjaan daddy nih, ya Tuhan ampuni aku dadmn daddy" gumam Hana seraya mengusap matanya yang basah, ia membenarkan letak selimut yang membungkus tubuh telanjangnya. "Selamat pagi" ucap Zein yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya, ia masuk kamar Hana dan membawa nampan yang berisi s**u dan terlihat sekali raut bahagia di wajahnya. "Pagi dad" sahut Hana canggung. "Suka bunganya sayang" tanya Zein, ia meletakkan nampan itu di atas nakas dan duduk di tepi ranjang. Pria itu seolah tak menyesal dengan apa yang sudah terjadi di antara mereka kemarin malam. "Dad... harusnya..." ucap Hana. "Daddy mencintaimu Han... daddy ingin memilikimu seutuhnya" ucap Zein. "Tapi ini salah dad, tidak seharusnya kita seperti ini, bagaimana kalau mami tau? bagaimana kalau orang-orang tau? mereka tidak akan bisa menerima kita dad. Ini terlalu tabu untuk, dan tidak seharusnya dad..." ucap Hana. "Peduli apa dengan orang-orang, jangan dengarkan mereka. Yang penting adalah cinta yang kita miliki" ucap Zein seraya menggenggam jemari Hana. "Cinta? cinta kita salah waktu dan salah menempatkannya dad, ini salah" ucap Hana. "Sudahlah jangan pikirkan apa pun lagi. Daddy mencintaimu" ucap Zein. Pria itu menarik Hana dan membawa ke dalam pelukannya. "Sayang daddy... terima kasih untuk yang semalam, daddy gak menyangka akan menjadi yang pertama" ucap Zein dan seketika membuat wajah Hana berubah suram. "Hana jahat ya dad, Hana jahat sama mami... Hana tega sama mami" ucap Hana tertunduk. "Enggak, kamu gak jahat sayang. Kamu jangan merasa bersalah seperti ini. Sudahlah jangan lagi pikirkan mami kamu, kamu hanya perlu memikirkan daddy" ucap Zein. "Tapi dad..." "Ssttt daddy gak mau mendengar apapun lagi dari mulutmu, kecuali mendengar kalimat cinta untuk daddy, oke sayang" ucap Zein. "Ya sudah ayo sana mandi" ucap Hana. --- Zein dan Sandra makan malam di kediaman Hartono dan Monica -orang tua Zein-, usai makan malam ke empatnya duduk bersama di ruang keluarga. "Hana gak ikut" tanya Monica, mamanya Zein. "Dia banyak tugas mam" sahut Sandra. "Oh begitu, lalu kamu sendiri Sandra apa sudah ada tanda-tanda kehamilan? mama gak sabar ingin menimanh cucu" ucap Monica yang tak mengetahui bahwa Sandra sang menantu mempunyai masalah pada rahimnya. "Kalian sudah sangat lama menikah masa iya Sandra belum hamil juga, mama juga inginlah gendong cucu seperti teman-teman mama" ucap Monica lagi. "Benar yang dibilang mamamu, dan Zein usiamu hampir berkepala empat kapan lagi mau memberikan kami keturunan, hanya kamu yang kami harapkan untuk memberikan kami keturunan" ucap Hartono -papanya Zein-. "Sabar ya mam pap" ucap Zein. "Dari dulu kami sudah bersabar" ucap Monica. "Kalian sehatkan gak ada masalahkan pada diri kalian" ucap Monica dan keduanya hanya terdiam. "Mama sabar saja, doakan saja semoga secepatnya" ucap Zein. "Dari dulu mama sudah bersabar Zein" omel Monica. "Kalau kamu tidak memiliki keturunan lalu pada siapa kamu akan mewariskan harga dan perusahaanmu Zein?" ucap Hartono. "Benar yang papamu katakan, siapa nanti yang akan mengurus perusahaan kalian" ucap Monica menimpali. Sandra dan Zein sudah berada di rumahnya tepatnya berada di kamar mereka, ia benar-benar sangat marah pada suaminya. "Selalu begini selalu itu yang dibahas, cucu cucu cucu aku tuh bosan" ucap Sandra marah. "Kita ini menikah sudah sangat lama jadi wajar kalau mereka menanyakan cucu dari kita" ucap Zein. "Bagaimana mau memberi mereka cucu, aku saja gak bisa hamil, aku mandul puas kamu" teriak Sandra. "Kenapa sih setiap pulang dari rumah mama kita selalu ribut selalu bertengkar, mending kamu gak usah lagi ke rumah mama" ucap Zein berteriak. "Kenapa gak jujur aja, kenapa gak kamu bilang yang sebenarnya ke orang tua kamu kalau kita gak akan pernah bisa punya anak karena aku mandul" teriak Sandra. "Dan membuat mamaku kaget kemudian sakit, itu yang kamu mau?" geram Zein. "Lalu mau bagaimana? kalau terus seperti ini aku lelah, aku lelah menghadapi sikap orang tuamu" geram Hana. "Kamu pikir aku gak cape menjawab pertanyaan mereka dan bohong terus menerus" geram Zein, ia keluar dengan membanting pintu kamarnya dan menuju kamar Hana. Sandra mendesah kesal seraya menatap pintu yang dibanting keras, ia tak peduli pada Zein yang entah berada di mana sekarang. Ia terlalu lelah menghadapi sikap mertuanya yang selalu membahas masalah cucu ketika mereka bertemu. "Bagaimana mungkin mereka meminta cucu dariku sementara aku sendiri sudah di vonis mandul, gak akan pernah bisa punya anak" gumam Sandra. "Mimpi saja mereka memiliki cucu dari aku dan Zein" gumam Sandra lagi. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD