Part 7

798 Words
Hana terus mencoba menghindari Zein namun semakin ia menjauh daddynya tersebut justru semakin berusaha mendekatinya. Sisi baik dari diri Hana menentang keras hubungannya dengan ayah tirinya itu namun sisi jahat dirinya juga sangat menikmati hubungan terlarangnya itu. Hana sadar bahwa ia sudah terperangkap dalam cinta ayah tirinya. Hana tidak menyetujui hubungannya tersebut namun ia juga tak menolak akan hubungan ini, dan ia merasa hanya cukup menjalaninya saja ke mana arus kehidupan akan membawa jalan cintanya itu. Sore hari Hana tengah duduk di sebuah cafe menunggu kedatangan Zein. "Hai sayang, sudah lama" Zein mengecup pipi Hana dan duduk di sampingnya. "Hm ya cukup lama" sahut Hana dengan kesal. "Maaf sudah membuatmu menunggu lama tadi..." ucap Zein terpotong. "Ya Hana tau, meeting-kan sama PT. Hutama Wijaya" ucap Hana dengan kesal. "Kok kamu tau" tanya Zein menatap wajah Hana yang ditekuk. "Tadi Hana telpon ke kantor dan sekretaris daddy bilang lagi meeting" ucap Hana ketus. "Oh jadi mulai posesif nih sama daddy ceritanya" ucap Zein, ia tersenyum senang saat mengetahui Hana mulai mencari tau apa saja yang ia lakukan. "Ih enggak, pede banget sih" ucap Hana kesal. Hana menatap kesal Zein yang tersenyum. "Apa senyum-senyum, seneng ya habis ketemuan sama bu Amanda yang centil itu" omel Hana. "Sudah deh gak usah cemburu, daddy dan bu Amanda cuma membahas bisnis kok dan lagi di sana ada banyak staff gak cuma berdua" ucap Hana. "Idihhh siapa yang cemburu" omel Hana. "Bener gak cemburu, nanti daddy jalan bareng bu Amanda kamunya malah baper lagi" ucap Zein menggoda Hana. "Apaan sih dad" omel Hana. "Gak usah cemburu daddy gak ada perasaan apa pun buat bu Amanda, cinta dan sayang daddy cuma buat kamu" ucap Zein, ia memeluk pinggang Hana dan mengecup pipinya. "Dad... ini tempat umum" omel Hana mengingatkan. "Sorry sayang, lupa" ucap Zein. "Hana gak suka ya dad" omel Hana. --- Seperti biasa Zein dan Hana hanya makan malam berdua tanpa ada Sandra, perempuan itu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan seperti biasa pula bak seorang istri, Hana menggantikan tugas-tugas ibunya untuk melayani sang daddy. "Daddy mau apa? ayam?" tanya Hana. "Iya boleh sayang, pakai telur dadar juga ya" ucap Zein. Keduanya makan sembari berbincang ringan. "Kapan libur semester" tanya Zein. "Masih lama dad, kenapa?" tanya Hana sembari menikmati makanannya. "Daddy mau mengajakmu liburan" ucap Zein. "Liburan dad?" tanya Hana. "Hm iya liburan, hanya kita berdua" bisik Zein sembari mengusap punggung tangan Hana. "Mami gak diajak" tanya Hana seraya menarik tangannya. "Hanya kita sayang, nanti kita atur waktu yang tepat" ucap Zein. Usai makan malam Zein mengikuti Hana ke kamarnya, ia berbaring di ranjang yang berukuran kingsize itu, Hana tentu saja merasa tak nyaman namun ia tak bisa berbuat apa-apa, ia tidak bisa terus menghindari daddynya tersebut. Hana keluar dari kamar mandi setelah membersihkan wajahnya, ia kemudian naik ke ranjangnya. "Sebaiknya daddy kembali ke kamar daddy saja" ucap Hana. "Kenapa? gak boleh ya daddy numpang tidur di kamar ini" ucap Zein. "Tentu saja gak boleh dad" ucap Hana. "Kenapa gak boleh? biasanya daddy sering menemani kamu di kamar ini" ucap Zein. "Dad..." "Sudahlah sebaiknya kita tidur" ucap Zein. "Daddy ih kalau dibilangin" omel Hana kesal. Zein mematikan lampu utama kamar putrinya dan menggantinya dengan lampu tidur yang hanya menyisakan sedikit pencahayaan. Ia melepas piamanya dan berbaring dengan bertelanjang d**a. "Daddy ngapain lepas baju begitu" tanya Hana, ia benar-benar merasa tak nyaman sekarang. "Biasanya juga daddy tidur tanpa baju" ucap Zein, ia segera berbaring dan memeluk Hana seolah tengah memeluk istrinya. "Dad please jangan..." tolak Hana. "Biarkan seperti ini" bisik Zein. Hana memejamkan matanya, di satu sisi ia begitu menikmati pelukan daddynya tersebut namun di sisi lain ia merasa tak nyaman dan merasa telah mengkhianati maminya. "Pintunya dad, Hana gak mau kalau dipergoki mami saat sedang seperti ini" ucap Hana, ia dipengaruhi sisi egoisnya. "Tenang sudah dikunci dan lagi pula mami kamu gak akan pulang malam ini" ucap Zein. "Lembur lagi?" tanya Hana. "Ke Semarang, sudahlah lupakan mami kamu untuk saat ini dan mari bersenang-senang" ucap Zein, ia pun mendaratkan bibirnya di bibir Hana. Hana menyambut ciuman itu dan membalasnya, keduanya saling memagut, sementara itu tangan Hana mulai bermain menjelajah area tubuh putri sambungnya tersebut. "Daddy jangan, kebiasaan banget sih tangannya" omel Hana saat tangan nakal Zein mulai menjelajah bagian-bagian sensitif dari tubuhnya. "Baiklah maafkan daddy sayang" ucap Zein, ia kembali melanjutkan ciumannya namun bukannya hanya sekedar ciuman, ia mencumbu Hana hingga api gairah mulai terbakar gadis cantik itu. Tanpa disadarinya satu persatu pakaian Hana mulai terlepas hingga meninggalkan cd-nya saja yang menempel di tubuhnya. "Daddy..." lenguh Hana tanpa sadar ketika ia merasa api gairah itu semakin membakarnya. Api gairah itu benar-benar membakar keduanya, percintaan terlarang itu pun terjadi. Keduanya melebur menjadi satu, lenguhan dan desahan terdengar saling bersahutan bergema di kamar Hana, dan beruntung kamar itu telah di desain kedap suara sehingga teriakan keduanya tak terdengar hingga keluar. Sebuah percintaan panas terjadi di malam itu, malam di mana Hana telah menyerahkan keperawanannya pada sang ayah sambung. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD