Aku tak menyangka kalau pesanan itu adalah milik ketua OSIS ku sewaktu SMA dulu, dia seumuran denganku, namanya Revan. Dulu aku sangat menyukainya, aku tidak tau apakah itu cinta atau sekedar kagum, karena sekarang aku sudah tidak merasakan perasaan sehebat dulu. Namun sepertinya aku masih ada sedikit rasa.
"Qia?" aku mengangguk mengiyakan.
"Ini pesenannya" aku menyerahkan bakmie itu kepada Revan.
"Masuk dulu yuk, ada mami dan papi di dalam" katanya menawarkan.
"Ah tidak, warung lagi ramai. Aku harus segera pulang, jadi lain kali saja" kataku menolak.
"Baiklah, aku minta nomor ponsel mu supaya aku bisa menghubungimu. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu" tanpa fikir panjang aku segera memberikan kontak ku padanya karena aku ingin segera pergi dari sini, aku takut ibu dan ayah kewalahan di warung.
"Yasudah aku pergi dulu Revan, Assalamu'alaikum" kataku berpamitan.
"Wa'alaikumsalam" jawabnya.
Dengan tergesa-gesa aku kembali ke warung, ternyata benar saja ibu dan ayah sedang sibuk melayani pelanggan. Aku membantu ayah dan ibu melayani, ditambah lagi hujan sedang turun membuat warung semakin ramai. Banyak orang yang mampir dan membeli bakmie, apalagi dingin-dingin begini, sangat nikmat makan bakmie.
Aku membawa nampan berisi empat mangkok bakmie, dengan cepat aku berjalan ke meja yang kebetulan dekat dengan pintu. Saat aku akan meletakkan nampannya, tiba-tiba ada seseorang yang menabrakku.
Prang..
Nampan yang ku bawa jatuh dan mangkok bakmieku pecah. Tanpa merasa bersalah orang yang menabrakku berniat untuk pergi, dengan cepat aku menahannya.
"Kak, apa kakak tidak melihat aku sedang terjatuh? Itu semua karena kakak, bukannya minta maaf malah pergi gitu aja" kesalku.
"Aku hanya berjalan, bukan salahku jika kau terjatuh. Lagian kenapa kau memarahi pelanggan? Bukankah pelanggan itu adalah raja?" aku berdengus kesal, belum sempat aku menjawab.
"Maafkan anak saya ya mas, ayo silahkan duduk." Ayah kembali melihatku, "Qia, gak boleh gitu nak, ayo minta maaf" lanjut ayah.
"Loh, kok Qia yang minta maaf yah, kan dia yang menabrak Qia. Seharusnya dia yang minta maaf bukan Qia, kok ayah malah belain dia!" aku semakin kesal.
"Tuh dengar kan, kamu harusnya minta maaf" semua mata tertuju kepada kami. Akhirnya aku pergi meninggalkan mereka, entah apa yagg di katakan ayahku padanya aku tidak peduli.
Aku berlari menyusuri hujan. Aku duduk di sebuah tempat duduk yang tak jauh dari warung, aku menendang-nendang angin seperti orang gila.
'Dasar orang gila, jelas-jelas dia salah. Bukannya minta maaf eh malah nyolot' batinku.
'Astaghfirullahaladzim, kenapa aku jadi seperti ini. Ampuni hamba ya Allah' batinku. Hujan sudah reda, aku kembali ke warung setelah tersadar kalau aku sudah agak lama disana, pasti ayah dan ibu kewalahan. Saat aku berdiri dan akan berjalan, tiba-tiba ada motor lewat dan hampir menyerempetku. Aku sangat kaget dan aku kembali terduduk, kulihat motor itu berhenti dan memutar balik ke arahku.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya. Aku mengangkat wajahku dan melihat orang yang mengendarai motor itu.
"Kau?" kataku sedikit kesal. "Apa kau ingin membunuhku?" aku mengintrogasi.
"Hei, kau saja yang tidak melihat jalan. Untung saja tidak tertabrak, kalau tertabrak bagaimana? Aku bisa rugi, motor kesanyanganku bisa lecet" katanya tanpa dosa.
"Dasar gila. Aku berharap gak bakalan bertemu denganmu lagi" aku berniat untuk pergi namun dia menarik tanganku
"Hei, beraninya kau menyentuhku. Kau bukan suamiku jadi kau tak berhak menyetuhku, kita bukan mahram." kataku kesal.
"Maaf aku tidak sengaja, jangan marah-marah nanti cepat tua. Lagian kita bertemu dua kali tanpa sengaja, mungkin kita jodoh" katanya sembari tersenyum.
"Bodo amat" kataku lalu meninggalkannya.
"Namaku Natan, nama kamu siapa?" tanyanya setengah berteriak. Aku tidak menghiraukannya namun jelas aku mendengar namanya. Aku langsung memasuki warung dengan wajah cemberut,
"Nak, masuk gak ngucapin salam dulu, kamu masih marah nak?" tanya ayah yang duduk di sebelahku, ayah sudah sedikit santai karena semua pelanggan sudah selesai di layani.
"Maaf ayah, Qia kesal sama pria tadi" jawabku sedikit memanyunkan bibirku.
"Nak, harus banyak bersabar. Dia itu tamu kita, kita harus memberikan pelayanan yang baik. Meskipun dia salah, jangan terlalu mengharapkan permintaan maaf. Tidak ada salahnya jika kita yang meminta maaf, berarti hatimu lebih mulia dari orang yang bersalah kepadamu. Perbanyak ber-istighfar nak" kata ayah menenangkan.
"Tapi Qia kesal yah, tadi juga ketemu sama dia. Dia hampir saja menabrak Qia, bukannya minta maaf malah nyolot kayak tadi. Itu orang bener-bener nyebelin ayah, Qia harap gak ketemu lagi sama itu orang" aku berdengus kesal.
"Jangan begitu nak, nanti malah jodoh loh" ayah menggodaku.
"Ih ayah, amit-amit. Emang ayah mau punya mantu yang gak ada hati kayak dia? Gak ada sopan santunnya?" tanyaku.
"Kalau dia bisa membuatmu bahagia kedepannya, kenapa tidak?" ibu menghampiri kami.
"Memang ya ibu sama ayah sepaket, kalau soal menjodohkan aku selalu kompak." mereka tertawa bersamaan dan aku pun ikut tertawa.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Semua pelanggang sudah pulang. Aku dan ayah membersihkan warung sedangkan ibu mencuci mangkok dan gelas, itulah yang kami lakukan setiap hari. Setelah selesai, ibu mengambil uang dari laci kasir dan memasukkannya kedalam tas kecil miliknya. Sesampai di rumah kami mebersihkan diri dan menghitung penghasilan hari ini.
"Alhamdulillah, lumayan hari ini. lumayan lelahnya dan lumayan untungnya. Semoga tiap hari seperti ini" kataku sambil tersenyum.
"Ya, kita harus tetap bersyukur. Kalau tiap hari seperti ini, kita mungkin akan mencari pegawai satu atau dua orang. Apalagi kalau kamu pergi bersama temanmu, ibu dan ayah bisa kewalahan" kata ibu. Ayah hanya mengangguk mengiyakan.
"Yasudah, Qia tidur dulu ya yah, bu" kataku. Ibu dan ayah mengangguk, akupun segera beranjak menuju kamarku.
Aku duduk di tepi ranjangku, aku memikirkan perkataan ayah dan ibu. 'Bagaimana mungkin aku berjodoh dengan orang yang menyebalkan seperti dia. Semoga saja tidak, dan aku tidak bertemu lagi dengannya' batinku.
Aku kembali teringat akan pertemuanku dengan Revan, aku tak menyangka kalau dia tinggal disini. 'Bukankah dia tinggal di Semarang dan berkuliah disana? Lalu sejak kapan dia kembali ke jakarta?' lagi-lagi aku membatin. Semus yang ada di fikiranku seketika hilang saat aku mendengar bunyi ponselku, nomor baru.
?"Assalamu'alaikum. Ini siapa ya?" sapaku.
?"Wa'alaikumsalam. Ini aku Qia, Revan" jawabnya. "Besok aku mau ketemu sama kamu, ada yang mau aku omongin, bisa?" tanyanya.
?"Aku tanya ayah dan ibuku dulu ya, siapa tau besok aku ada kerjaan. Nanti aku kabarin"
?"Oke, aku tunggu. Yasudah ya, udah malam. Kamu istirahat, aku juga mau istirahat. Assalamu'alaikum"
?"Wa'alaikumsalam" aku menutup teleponnya.
Hatiku bercampur aduk antara senang dan takut. Aku senang bisa jalan dengannya, tapi aku takut ayah tidak mengizinkan. Di tambah lagi aku takut kalau dia sudah punya pacar atau istri. Aku segera menuruni anak tangga dan menghampiri ayah dan ibu yang masih di ruang tamu.
"Ayah, besok Qia mau pergi boleh?" tanyaku.
"Anak ayah mau kemana?" tanya ayah sambil mengelus kepalaku.
"Sama siapa? Pria atau wanita?" ibu menimpali.
"Sama teman sekolah dulu yah, dia ngajak Qia jalan-jalan. Dia pria ibu, tapi ibu jangan khawatir, Qia bisa jaga diri" jawabku menyakinkan.
"Ya, ibu tau itu. Ibu justru senang kau akan pergi dengan teman priamu, bukan hanya dengan Adel saja. Bisa-bisa nanti cabe makan cabe" goda ibu.
"Apaan sih bu, yaudah Qia mau tidur" aku meninggalkan ayah dan ibu yang geleng-geleng kepala sambil tersenyum.