Sepuluh

1084 Words
Sepeninggalan Qiara, Natan masih mematung di tempatnya. Ia tak menyangka mendapatkan kata-kata itu dari bibir Qiara, wanita yang saat ini mengaduk-aduk hatinya. Wanita yang begitu berani, cuek, ketus, namun memiliki hati yang lembut. 'Ah, ada apa dengan ku? Kenapa aku tiba-tiba menjadi sebodoh ini? Benar kah aku sedang jatuh cinta? Ini kah yang di namakan cinta?' batin Natan. Melihat Natan yang masih mematung, Dirgo dan Rendra turun dari mobil dan menghampiri Natan. "Bro, dia sudah pergi dan berlalu, eaaa" ucap Dirgo sambil tertawa. "Sudah lah Tan, setidaknya dia sudah maafin kamu. Sampai kapan kamu akan berdiri di sini? Tidak ada gunanya juga bukan? Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum Qiara melihat kamu masih mematung di tempat seperti orang yang kehilangan arah" ucap Rendra. "Benar Tan, yang ada kamu malu sendiri kalau sampai malaikat itu masih melihat kamu di sini. Sebaiknya kita pergi, sebelum terlambat dan bendera perang di kibarkan kembali" ucap Dirgo menimpali. "Apaan sih kamu Go, orang lagi serius juga" protes Rendra. "Slow Ndra biar gak tegang, ya kan?" jawab Dirgo sambil terkekeh, sementara Rendra hanya bisa geleng kepala melihat sikap temannya itu. Dengan berat hati, Natan menuruti apa yang di katakan oleh kedua temannya itu. Ia melangkah menuju mobilnya bersama Dirgo dan Rendra, namun pandangannya tetap tertuju ke warung bakmie Qiara itu. "Aku yang nyetir ya Tan, aku ragu jalau kamu yang nyetir" ucap Dirgo. "Apaan sih kamu Go!" ucap Natan tak terima. "Benar Tan biarin aja, aku juga ragu kalau kamu yang nyetir. Yang ada mobil ini ikutan galau dan kita bisa terjun entah ke mana" ucap Rendra. "Yaudah terserah" jawab Natan pasrah. Ia lebih memilih memikirkan perasaannya yang campur aduk dari pada berdebat dengan kedua temannya itu. Dirgo melajukan mobilnya menuju Club yang biasa mereka kunjungi, namun sesekali ia memperhatikan Natan yang benar-benar kacau. Untuk pertama kalinya ia melihat Natan seperti saat ini, karena Natan yang ia kenal adalah pria yang tidak mau ambil pusing tentang wanita. Bagaimana tidak, bahkan di Club pun Natan menjadi idola semua wanita. Berbeda dengan Qiara, yang bahkan membuat Dirgo ikut penasaran. Tanpa menunggu lama, mereka tiba di Club karena Dirgo mengemudi dengan kecepatan tinggi. Kembali lagi ia melihat Natan yang duduk di sampingnya yang sedikit pun tak berniat turun dari mobil, bahkan seolah tak memiliki semangat hidup, membuat dirinya saling pandang dengan Rendra. "Tan, ayo turun" ajak Dirgo. "Kita sudah sampai?" tanya Natan. "Astaga Tan, kamu benar-benar ya. Stop deh Tan kayak orang gila begini, kamu benar-benar membuat kita bingung tau gak. Seorang Natan, idola setiap wanita, bisa menjadi gila seperti ini hanya karena satu wanita. Jujur itu sangat mustahil untuk ku, rasanya dunia seperti akan kiamat tau gak" ucap Dirgo. "Dia berbeda Go, sangat berbeda." jawab Natan sambil tersenyum, yang ada di kepalanya saat ini hanya Qiara. "Elah Tan, sebeda apa sih Tan dengan wanita lain? Cukup ya Tan, jangan buat aku penasaran pada wanita itu, yang ada nanti aku malah mencari tau. Dan kamu tau kan apa akibatnya?" ucap Dirgo. "Berani kau mendekati dia selangkah pun, aku akan memenggal kepala mu dan menggantungnya di jembatan" ancam Natan lalu turun dari mobil mendahului mereka. Seketika Dirgo dan Rendra bergidik ngeri, mereka sudah sering mendengar Natan bercanda dan melontarkan kata-kata yang mengerikan. Tapi kali ini, mereka benar-benar merasa kalau apa yang baru saja Natan lontarkan adalah kalimat serius. "Kok aku merasa ngeri ya saat Natan bicara seperti itu? Apa mungkin dia di guna- guna wanita tertutup itu?" tebak Dirgo. "Ya elah Dir, ngapain coba Natan di guna-guna? Kamu lihat sendiri kan kalau wanita itu cantik dan juga baik. Hanya saja, dia sangat dingin dan tidak takut apa pun. Dia juga sangat anggun dan baik, jadi tidak ada alasan untuknya mengguna-guna Natan. Lagi pula, asal kamu tau ya, yang namanya cinta Go, bisa mengubah segalanya. Sama hal nya dengan Natan, sepertinya dia sedang di landa asmara, makanya dia berubah drastis begini. Gak seperti kamu Go, pacaran hanya untuk main-main, makanya kamu tidak tau artinya cinta" jelas Rendra. "Helleh, Natan juga seperti itu kan Ndra. Banyak wanita yang menempel padanya, bisa di katakan kalau dia itu juga sama dengan ku, tidak pernah serius pada wanita." protes Dirgo. "Nah, justru itu Go. Dulu dia tidak begitu pada wanita, tapi setelah dia mengenal cinta, dia seolah terhipnotis. Inilah kekuatan cinta Go, suatu saat kamu pasti akan merasakannya" ucap Rendra, sementara Dirgo hanya cengengesan menanggapi. Yang biasanya sangat menikmati clubbing, kini Natan hanya memilih diam di tempat. Sesekali meneguk minuman yang ada di depannya, membuat Dirgo dan Rendra juga tak bersemangat. "Tan, apa-apaan sih kamu Tan? Kok jadi seperti orang bodoh begini?" tanya Dirgo. "Sudah aku bilang kalau dia jatuh cinta Go, jadi kamu harus terima dengan sikap dia yang seperti ini." ucap Rendra. "Sudahlah Tan, setidaknya kita nikmati malam ini. Apa kamu akan menghabiskan waktu mu dengan menjadi orang bodoh seperti ini? Ayolah Tan, kembali ke diri kamu yang dulu. Kalau pun harus memikirkan cinta mu, setidaknya pikirkan kembali setelah kita pergi dari sini" ucap Dirgo. "Dirgo ada benarnya juga Tan, kalau pun kau sedang kasmaran atau sedang galau, setidaknya kau juga harus melihat kamu yang sedsng duduk di sini bersama mu. Kau bertingkah seperti ini, membuat semangat kami juga ikut hilang. Kamu tidak perlu khawatir, kami akan membantu mu untuk menggapai cinta mu" ucap Rendra. "Benar gak Go?" lanjutnya pada Dirgo. "Iya Tan, tapi kamu jangan seperti ini. Mana Natan yang aku kenal, masa langsung melemah seperti ini hanya karena wanita? Yang benar saja Tan, sungguh tidak masuk akal, dan itu benar-benar bukan kamu" ucap Dirgo. "Entahlah Go, Ndra. Entah kenapa, hati ku berkata kalau dia berbeda. Entah kenapa, hati ku merasa ada sesuatu yang benar-benar berbeda saat bersamanya" jawab Natan, namun Dirgo dan Rendra tak menjawab, karena mereka juga belum pernah merasakan hal seperti yang di katakan oleh Natan. "Tapi yasudah, seperti apa yang kalian katakan. Malam ini, mari kita nikmati. Malam ini, mari kita hanya memikirkan persahabatan kita" lanjut Natan meski hatinya benar-benar sulit untuk mengatakannya. "Nah gitu dong, itu baru Natan yang kami kenal" ucap Dirgo sambil tersenyum. Tiba-tiba, ponsel Natan berdering. Seakan dunianya akan runtuh, Natan menatap nama yang ada di layar ponselnya dengan rasa takut. Natan: Hallo ma. Daniati: Cepat pulang nak, papa menunggu mu di rumah. Ada yang ingin papa bicarakan dengan mu. Natan: Baik ma. Natan memutuskan sambungan teleponnya, lalu menatap Dirgo dan Rendra bergantian. "Masalah baru stok lama Tan" goda Dirgo sambil terkekeh, membuat Rendra tertawa. Sementara Natan, hanya bisa menghela nafas dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD