New Orleans, 2019.
"Lihat arah jam sembilan, dia hampir telanjang bulat. Kau tahu, melihat wanita setengah telanjang akan semakin menambah keingintahuanmu tentang apa yang tersembunyi di dalamnya." Pria berambut pirang bernama Attis sedang berbisik kepada teman lelakinya yang memiliki wajah garang. Mata hijau terangnya menatap penuh dengan gairah ke arah wanita yang hanya memakai celana dalam dengan penutup p******a di bagian ujungnya saja. Benar katanya, wanita itu hampir telanjang bulat. "Aku ingin sekali menikmati malam dengannya."
Jalanan New Orleans malam ini dipadati oleh para wanita yang bertelanjang d**a, beberapa gelintir orang memakai kostum layaknya dewa-dewi Yunani dan beberapa lagi memakai kostum badut sambil memainkan bola layaknya seorang badut di pesta ulang tahun anak-anak. Mereka semua berpesta dan berdansa di sisi jalanan ibu kota New Orleans. Klub-klub malam pun juga penuh dengan pengunjung yang sedang berpesta pora, menikmati minuman beralkohol dan pastinya ada yang bercinta di lantai dansa—tidak lagi di tempat sepi. Para wisatawan asing banyak yang berkunjung di sini ketika festival ini berlangsung. Mereka juga ingin memanjakan gairah mereka di festival ini. Festival yang digemari oleh penduduk lokal dan wisatawan asing, festival berbau hendonisme.
Ya... malam ini adalah malam terakhir festival mardi gras, festival di awal tahun untuk merayakan datangnya musim semi dan kesuburan. Kata mardi gras sendiri berasal dari bahasa Perancis yang memiliki arti Selasa gemuk, orang-orang zaman dahulu merayakannya dengan makan makanan berlemak hingga kenyang untuk menyambut datangnya musim semi dan kesuburan. Namun, seiring berjalannya waktu dan pemikiran manusia yang berkembang, orang-orang New Orleans menganggap pesta kesuburan adalah pesta kesuburan reproduksi manusia. Sehingga mardi gras di New Orleans sangat lekat dengan festival khusus dewasa, jadi mudah sekali ditemui wanita-wanita tanpa berbusana melakukan adegan hot dan juga berpesta seks di tempat umum.
Temannya itu hanya mendengkus menanggapi ucapannya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita. "Aku tidak mau mendengar erangan lagi malam ini," tegasnya dengan tatapan lurus bak seekor predator.
Attis menyenggol lengan Zenon—teman lelakinya—dengan kasar. "Ayolah, Bung. Malam ini adalah malam terkahir festival mardi gras, hari memperingati kesuburan. Kau tidak akan tahu keadaan reproduksimu kalau kau tidak pernah melakukannya."
"Aku sudah pernah melakukannya berabad-abad yang lalu, bahkan sebelum kau lahir."
Attis terkekeh lalu menyesap minuman berwarna cokelat yang mengandung alkohol itu. "Ah ... iya aku lupa, kalau kau makhluk abadi yang sama sekali tidak memiliki hawa nafsu." Dia menyenderkan lengannya ke sisi samping tubuh Zenon lalu mendekatkan mulutnya. "Apa kau sama sekali tidak merindukan sentuhan yang nikmat itu?"
Zenon tersenyum miring, menolehkan kepalanya untuk menatap Attis. Rambut hitam arang sebahunya melambai pelan ketika angin segar berembus. "Meskipun aku dikelilingi wanita tanpa berbusana dan menari striptis di hadapanku, aku tetap tidak akan tergoda. Hades dan Persofone terlalu berlebihan dalam memberi keistimewaan untuk kaumku," jawabnya sambil berdecih.
"Apa kau sama sekali tidak merasakan tegang?"
Zenon memutar bola matanya, jengah dengan pertanyaan yang sering dilontarkan Attis kepadanya. "Sudah berapa ratus kali kau menanyakan ini kepadaku?"
"Ya aku tahu, aku sudah cukup lama denganmu ... maksudku tidak begitu lama, tapi ... sungguh aku penasaran dengan semua itu. Bahkan dewa pun juga memiliki hawa nafsu. Ini sungguh tak adil."
"Menurutku itu adil karena Nymph yang aku jaga selama ini adalah seorang pria, bukan wanita."
Satu alis Attis terangkat ketika sebuah pemikiran m***m melintas di otaknya. "Aku berani jamin jika kau menjaga Nymph wanita, pasti Nymph itu akan melahapmu hidup-hidup di atas ranjang. Karena dilihat dari penampilanmu, kau seperti pria yang garang ketika di atas ranjang."
Attis menyerahkan gelas kosong kepada Zenon setelah menenggak isinya hingga habis. "Aku mau bersenang-senang dengannya malam ini sebelum aku meninggal di umur dua ratus tahun," ujarnya sambil mengedikkan dagunya. Dia ingin menghabiskan hidupnya dengan bersenang-senang sebelum umurnya menginjak 200 tahun. Karena seorang Nymph akan melemah dan menua ketika umur mereka mencapai 200 tahun kecuali Nymph keturunan dewa.
Zenon meletakkan gelas milik Attis dengan kasar dan diiringi embusan napas panjang. Nymph yang dia jaga kali ini adalah Nymph yang memiliki otak m***m. Selama berabad-abad, dia sama sekali tidak pernah menjaga Nymph yang memiliki otak seperti Attis. Nymph yang ia kenal adalah Nymph yang selalu setia dengan pasangannya, tidak bergonta-ganti seperti mengganti pakaian kesukaan. Andai saja Attis seorang Sirenes, Zenon akan membunuh Attis dengan mengeluarkan otak m***m dari tempurung kepalanya terlebih dahulu. Sialnya, dia tidak boleh bertukar posisi oleh Dye—pimpinan Shades Guardian, jadi mau tidak mau, betah tidak betah dia harus bersama Attis selama ratusan tahun. Iya... ratusan tahun bukan ribuan atau abad, waktu yang sedikit buatnya. Ah ... sepertinya dia harus menarik ucapannya, bersama Attis waktu akan terasa lebih lama.
Mata hitam legamnya terus tertuju kepada Attis yang sedang meluncurkan rayuan kepada seorang wanita. Dia terus memperhatikan Attis tanpa jeda dari mejanya yang terletak di halaman depan klub. Attis cukup lihai dalam merayu seorang wanita, jadi bisa dipastikan kalau malam ini dia akan mendengar erangan yang menjijikkan dari Attis dan pasangannya.
Sejenak memberi jeda untuk memperhatikan Attis, Zenon mulai menggulirkan bola matanya untuk memantau sekitar. Mata hitam legam yang memiliki kekuatan itu menangkap aura biru gelap dari beberapa gerombolan laki-laki yang berada tak jauh dari Attis. Tangannya mengepal, tulang rahang berbentuk persegi miliknya terlihat sedikit menonjol ketika melihat gerombolan itu. Dia merogoh kantong celana belakangnya untuk mengeluarkan uang ratusan dolar dan meletakkannya di atas meja.
"Bahkan saat mardi gras pun Sirenes tetap berburu. Sial!" gerutunya sambil berlalu meninggalkan mejanya.
Sebelum para Sirenes itu mendekati Attis, Zenon sudah ada di samping Attis bak kilatan cahaya. Attis sedikit berjingkat ketika pundaknya ditepuk keras oleh Zenon. "Z!" Mata Attis mendelik. "Jangan menggangguku!" gerutunya yang kesal dengan Zenon karena memutus obrolannya.
Zenon menoleh sekilas gerombolan Sirenes yang sudah mendekat ke arahnya lalu menatap tajam mata Attis. "Apa kau ingin menjadi bangkai di sini?"
Raut wajah Attis seketika itu pias, perlahan mata hijau terangnya melirik ke arah belakang Zenon. "Apa yang harus kita lakukan?”
Tanpa banyak bicara, Zenon langsung menarik lengan Attis untuk menjauh dari kerumunan. Zenon menoleh lagi untuk melihat posisi para Sirenes di tengah langkah cepatnya, sialnya selang beberapa detik dia menolehkan kepala, salah satu Sirenes itu sudah ada di hadapannya. Mulutnya mengumpat ketika melihat tubuh tinggi menjulang Sirenes menghalangi jalannya.
"Minggir atau kubunuh!" gertak Zenon. Sedangkan Attis hanya bersembunyi di balik punggung Zenon seperti anak kucing yang kelaparan.
Sirenes itu menyeringai lebar, mata birunya menatap teman-temannya yang berhasil mengepung Zenon dan Attis. "Serahkan Nymph itu atau aku cabut jantungmu!"
Zenon menebarkan pandangan untuk menghitung berapa Sirenes yang mengepungnya, lalu beralih kepada Attis yang seperti seorang pecundang. Attis adalah Nymph terlemah dan termesum yang pernah ia lindungi. Demi dewa Zeus, dia ingin sekali mengundurkan diri jadi Shades Guardian jika dia terus melindungi bocah pecundang ini!
"Kau tidak akan bisa." Setelah mengucapkan kata terakhirnya, Zenon mulai membuat kabut ilusi untuk melindungi tubuh Attis. "Apa kau siap untuk pergi ke apartemenmu, Nak?" tanya Zenon kepada Attis.
"Sial! Aku bukan anak kecil, Z! Aku tidak suka kalau kau menggunakan kekuatan teleportasimu. Aku akan mu—" Belum sempat Attis melanjutkan kicauannya, Zenon sudah menghilangkan tubuh Attis dari tempat itu.
Sirenes yang berada di belakang mereka mencoba meraih tangan Attis, tapi upayanya gagal, Attis sudah hilang ditelan kabut ilusi. Zenon memutar tubuhnya lalu dengan cepat tangannya meraih leher Sirenes yang berusaha memegang tangan Attis sebelum menghilang, dia mencengkeram leher Sirenes itu sambil mengeluarkan kabut ilusi untuk menutupi pertempuran kecil-kecilannya dari keramaian. Zlash ... tubuh Sirenes itu berubah menjadi abu, hancur tak bersisa.
"Guardian sialan!" pekik satu dari empat Sirenes yang sekarang sudah menjadi tiga. Sirenes itu melemparkan senjata semacam kipas yang memiliki mata tajam ke arah Zenon. Mata Zenon bisa menangkap gerakan cepat dari kipas yang mirip shuriken itu lalu tangannya yang gesit sudah menangkap senjata itu dan balik melemparkan senjata itu ke d**a pemiliknya.
Satu Sirenes hilang menjadi abu hingga menyisakan dua Sirenes dan ....
‘Dor!’
Selongsong peluru melesat tepat mengenai punggung Zenon hingga menembus ke tulangnya. Darah segar mulai merembes menembus jaket kulit hitamnya. Tanpa memedulikan peluru yang sudah menancap di tulang, tangannya langsung menembus d**a Sirenes yang ada di hadapannya. Meremas jantung Sirenes hingga menghilang menjadi abu. Dia memutar tubuh untuk melihat Sirenes pecundang yang mengandalkan sebuah pistol.
Zenon berdecih setelah melihat Sirenes itu. "Apa kau salah satu Sirenes pecundang yang hanya berpikir bahwa pistol bisa menyelesaikan segalanya?"
Sirenes itu tetap berdiri tanpa gentar dari posisinya. Jempolnya mulai menarik pelatuk pistol, bersiap untuk menembak d**a Zenon. "Aku akan menembakkan peluru ini tepat ke jantungmu."
"Apa Teles tidak pernah mengajarimu tentangku?"
‘Dor!’
Tubuh Zenon sempat terhuyung ketika tembakan Sirenes itu tepat mengenai jantungnya. Dia mulai merasakan sesak dan panas di dadanya, tenggorokannya tercekat hingga tidak bisa mengalirkan oksigen ke paru-parunya. Darah segar mulai mengalir menembus kaos hitam ketatnya. Wajahnya menegang ketika panas mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sirenes itu membuang pistolnya, lalu dengan sekejap mata, dia sudah mencengkeram leher Zenon. Seringaian licik terukir di bibir Sirenes. "Aku tidak pernah lupa bagaimana Teles melatihku." Tangan satunya mulai terulur, menyentuh d**a Zenon. Gerakan Sirenes itu berhenti ketika mendengar tawa dari Zenon. "Aku akan menghentikan tawamu itu, Guardian!"
Tangan Zenon dengan kuat mencengkeram pergelangan tangan Sirenes hingga tangan mereka saling tarik menarik ke arah yang berlawanan. "Aku rasa kau murid terbodoh yang dipunya Teles!"
Satu tangan Zenon yang bebas langsung menarik cengkeraman tangan Sirenes dari lehernya, memelintir tangan itu hingga membuat tubuh Sirenes berputar ke belakang. Mulut Sirenes mengerang dengan keras saat rasa nyeri mulai menjalar. Wajahnya yang putih itu langsung memerah ketika merasakan tekanan tangan Zenon yang begitu kuat. Dia sama sekali tidak bisa memberontak karena Zenon terlalu kuat.
"Aku makhluk abadi dan aku bisa menyembuhkan luka dengan cepat. Pelurumu tidak sanggup meremas jantungku hingga hancur!"
Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, Zenon langsung mengoyak punggung Sirenes hingga menembus jantung lalu meremasnya.
"Dan seperti inilah cara membunuhku!"
Tepat setelah mengucapkan kata terakhirnya, Sirenes itu hancur menjadi abu. Nasibnya sama seperti teman-temannya yang lain, tidak tersisa.