Di dalam sebuah mobil mini berwarna putih tulang, Cleo sedang mengemudikan kendaraan sembari menelepon nomor Lexi. Di bagian belakang kursi, ada dua koper besar ditumpuk hingga membuat mobilnya terlihat penuh sesak. Malam ini Cleo berencana untuk tidur di rumah Lexi. Jujur, dia benar-benar khawatir dengan Lexi setelah melihat bercak darah di rumah Lexi. Akal sehat Cleo sanggup menerima semua yang dikatakan Lexi saat ini. Biasanya dia hanya mengira kalau Lexi sedang mengalami stres jika mulai berbicara yang aneh-aneh, tapi kali ini dia percaya seratus persen dengan semua cerita Lexi.
Sampai saat ini, Cleo masih bingung dengan semua yang terjadi tadi siang. Bagaimana mungkin seseorang bisa keluar dari rumah yang terkunci rapat tanpa meninggalkan kerusakan apa pun? Cleo rasa hal itu hanya terjadi dalam sebuah cerita di film Hollywood. Di mana seseorang mempunyai ilmu sihir yang bisa berteleportasi dari satu tempat ke tempat yang lain atau seorang vampire yang tiba-tiba berubah menjadi kelelawar dan keluar melalui lubang ventilasi. Mungkin saja pria itu salah satu dari dua makhluk yang dibayangkan Cleo. Dia tidak mau hal buruk menimpa sahabatnya.
Di sepanjang jalan, panggilan telepon Cleo sama sekali tidak diangkat oleh Lexi. "Apa dia sudah tidur?" Cleo melirik jam digital di dashboard mobilnya. Saat ini jarum jam menunjukkan pukul sebelas, tidak mungkin kalau Lexi sudah tidur. Biasanya Lexi baru sampai rumah pukul dua belas, jadi tidak mungkin kalau Lexi tertidur. Jari Cleo menekan tombol hijau di layar datar yang menempel di bagian dashboard untuk menghubungi Lexi sekali lagi. "Lexi ... angkat teleponku."
"Halo." Sebuah suara berat dari seorang pria menyeruak ke indra pendengaran Cleo.
Kaki Cleo langsung menginjak rem mobil hingga membuat beberapa kendaraan yang ada di belakang mobilnya pontang-panting untuk menghindari tabrakan. Cleo terkejut mendengar suara pria yang menjawab panggilannya.
"Halo." Sapaan pria dari seberang sana membuat Cleo tersadar lalu bunyi klakson mobil dari arah belakang membuat Cleo segera meminggirkan mobilnya.
"Halo," balas Cleo ragu-ragu. Saat ini dia sudah menepikan mobilnya di sisi jalan raya.
"Ya?"
"Apa benar ini nomor Lexi?" Cleo berusaha setenang mungkin walaupun benaknya sudah merasakan kekhawatiran yang besar.
"Hmm ... aku rasa iya."
"Maksudnya?"
"Aku sedikit lupa nama pemilik ponsel ini."
"Apa ponsel Lexi tejatuh di tengah jalan?"
"Tidak. Dia yang melemparkannya kepadaku."
"Kau siapa?"
"Aku rasa kau tidak perlu tahu siapa diriku."
Cleo terdiam sejenak untuk berpikir. Siapa pria ini? Dan kenapa pria ini tidak mau berterus terang?
"Aku tanya padamu sekali lagi, Tuan. Kau siapa?"
Terdengar suara kekehan dari seberang sana. "Aku sudah menjawab, kalau kau tidak perlu tahu siapa diriku?"
"Apa kau pria yang berada di rumah Lexi tadi pagi?"
"Kau punya hubungan apa dengan Lexi?"
Dari kata-kata yang ditangkap Cleo, dia cukup tahu siapa pria yang membawa ponsel Lexi. "Di mana Lexi?!" tanya Cleo dengan nada membentak.
"Hei, apa kau bisa bicara sopan sedikit?"
"Apa kau tuli?! Di mana Lexi?!"
"Dengar, aku sama sekali tidak melukainya. Kalau kau tidak percaya, silakan pergi saja ke rumahnya. Dia sama sekali tidak terluka!"
Tanpa memperpanjang pembicaraan yang semakin membuat Cleo khawatir, dia langsung mematikan panggilan dan segera memacu kendaraannya menuju rumah Lexi. Keresahan Cleo berada di puncak.
***
Lexi sedikit memicingkan matanya ketika perubahan cahaya menusuk retinanya. Pandangan yang semula gelap kini berubah menjadi terang. Matanya yang berkunang-kunang mencoba menangkap di mana keberadaannya.
Rumah?
Lexi menebarkan pandangan yang berputa-putar. Benar ... saat ini dia sedang berada di rumah. Bagaimana bisa? Belum sempat otaknya meneruskan pertanyaan-pertanyaan yang melayang-layang, dia merasakan perutnya seperti diaduk-aduk dan mendorong sesuatu ke tenggorokannya. Lexi merasakan mual yang luar biasa. Dengan langkah pontang-panting, Lexi langsung berlari ke kamar mandi dan ....
"HUEK!"
Ya ... Lexi memuntahkan seluruh isi perutnya, dia sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk muntah. Kenapa hari ini dia begitu sial?
***
Cleo langsung melompat keluar dari mobil ketika sudah tiba di rumah Lexi. Langkahnya sempat terhenti ketika melihat buket bunga aster tergelatak di bawah pintu depan rumah Lexi. Lagi, bunga ini lagi yang tergeletak di depan rumah Lexi.
"Pasti ini dari pria aneh itu," sungut Cleo sambil memungut bunga itu. "LEXI! LEXI!" Cleo berteriak sekencang-kencangnya. Tangannya menggebrak-gebrak pintu rumah Lexi. "Lexi apa kau di dalam?" Dia terus menggedor pintu rumah Lexi, persetan dengan pandangan orang yang menatap aneh ke arahnya. "Lexi buka pintunya!"
Kekhawatiran Cleo semakin memuncak ketika ia sama sekali tidak mendengar respons apa pun dari dalam rumah. Dia menarik-narik gagang pintu, mencoba membuka pintu rumah Lexi yang terkunci.
"Apa dia belum pulang? Oh, ya, Tuhan, apa yang sedang terjadi pada Lexi."
Sedangkan di dalam kamar mandi, Lexi mendengar teriakan Cleo. Tubuhnya begitu lemas hingga dia tidak bisa menjawab panggilan Cleo. Setelah hampir lima belas menit Lexi memuntahkan semua isi perutnya, keadaan Lexi sedikit membaik—hanya sedikit. Dia bangkit dan berusaha berjalan merambat dengan berpegangan pada tembok-tembok rumah. Walaupun tubuhnya lemas dan sulit berdiri, dia harus membukakan pintu untuk Cleo. Dia tidak mau membuat sahabatnya itu khawatir, apalagi dia tidak mempunyai ponsel untuk memberi kabar kepada Cleo.
Cleo langsung langsung memutar tubuh ketika mendengar suara pintu terbuka. Dia langsung memeluk tubuh Lexi tanpa melihat keadaan Lexi terlebih dahulu.
"Syukurlah ... syukurlah kau baik-baik saja Lexi."
Lexi menepuk-nepuk lengan Cleo, memberi isyarat kepada Cleo untuk melepaskan pelukannya. "Tolong lepaskan tanganmu."
Sontak Cleo merenggangkan pelukannya dan seketika itu matanya membelalak saat melihat wajah Lexi seperti mayat hidup. "Oh God! Apa yang terjadi denganmu, Lexi?" Cleo menyibak anak rambut Lexi dan membersihkan keringat dingin yang membasahi dahi Lexi. "Apa kau sakit?"
Lexi menggeleng pelan lalu perutnya seperti diaduk-aduk lagi. "Aku mau mun—" Ucapan Lexi terputus ketika rasa mual yang begitu kuat terdorong hingga ke kerongkongan Lexi langsung berlari ke kamar mandi untuk kembali memuntahkan isi perutnya.
"Apa yang terjadi denganmu Lexi?" Cleo memijat-mijat tengkuk Lexi, mencoba membantu sebisa mungkin.
Lexi tidak bisa menjawab apa-apa, dia hanya muntah, muntah, dan muntah. Hal ini benar-benar menyiksa.
"Akan aku buatkan sesuatu yang hangat."
Setengah jam berlalu dengan begitu dramatis. Lexi sama sekali tidak berhenti muntah-muntah, sedangkan Cleo terus meracau tak keruan karena panik melihat sahabatnya seperti orang yang sekarat. Dia berlari dari dapur ke kamar mandi untuk melihat keadaan Lexi sembari membuat minuman hangat untuk menetralisir mual-mual di perut Lexi.
Lexi terduduk lemas di kursi dapur, wajah yang semula memucat kini kembali sedikit merona.
"Apa kau sudah baikan?" Suara Cleo memecah kesunyian di dalam dapur minimalis itu. Interior putih berpadu hijau toska terlihat begitu lembut dan feminin, hingga siapa pun yang ada di sana pasti ingin berlama-lama.
"Terima kasih Clee," ucap Lexi dengan suara yang sedikit serak.
Cleo bangkit dari posisinya, dia meraih cangkir yang berada di genggaman Lexi lalu meletakkannya di atas meja pantry. "Aku papah kau ke kamar tidur."
Tanpa banyak berkelit, Lexi meraih tangan Cleo yang terulur kepadanya. Saat ini dia benar-benar membutuhkan bantuan seseorang untuk membawanya ke tempat tidur. Sendi-sendi lututnya terasa begitu lemas dan tubuhnya benar-benar nyeri.
Untuk malam ini, Cleo tidak akan membahas tentang pria misterius yang membawa ponsel Lexi. Dia juga tidak akan menanyakan tentang apa yang baru saja terjadi dengan diri Lexi. Malam ini dia akan membungkam mulutnya dan menahan semua keingintahuannya.