File - 10

1278 Words
"Hei, lepaskan aku! Aku bukan penjahat!" Wajah Lexi begitu pucat pasi ketika melihat hal aneh tersaji di depan matanya sekali lagi. Sulur-sulur itu terus merambat, saling menyulam hingga membentuk sebuah ikatan yang kuat di kedua tangan dan kaki pria misterius itu. Sebuah erangan kesakitan terlontar dari mulut pria misterius itu. "Hei! Aku bilang lepaskan!" Mulut Lexi tak menjawab apa pun, untuk beberapa menit dia hanya melongo tak percaya. Rasa takut, cemas, dan bingung campur aduk di dalam otaknya. "Apa kau tuli?!" Pria itu berteriak sekali lagi ke arah Lexi. Dengan gerakan patah-patah, Lexi menoleh ke belakang untuk melihat kepada siapa pria itu berbicara. "Aku berbicara denganmu! Argh ...!" Persendian tangan dan kaki Zenon terasa terbakar ketika sulur-sulur tanaman yang diciptakan Lexi mulai menarik kedua anggota tubuhnya. Nymph ini tidak main-main dengan dirinya. Kepala Lexi terus menggeleng-geleng, dia tidak tahu apa yang dimaksud pria itu. Kenapa pria itu memintanya untuk melepaskan sulur-sulur itu? Bukan dia yang melakukannya, bahkan dia sendiri juga tidak tahu bagaimana sulur-sulur itu bisa keluar dari bawah tanah? Seluruh pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. "Argh!" Mulut Zenon terus meracau kesakitan. Dia bisa saja berteleportasi, tapi dia tidak ingin menakuti Nymph yang baru saja menyadari kekuatannya. Lexi langsung lari pontang-panting meninggalkan pria misterius itu. Dia tidak peduli dengan sulur-sulur—yang dia sendiri tidak tahu dari mana datangnya—dan masa bodoh dengan erangan kesakitan yang memintanya untuk melepaskan sulur-sulur itu. Melepaskan seperti apa? Otak Lexi serasa pecah! "Sial!" pekik Zenon ketika melihat Lexi sudah berlari meninggalkannya. Setelah Lexi menghilang dari pandangan, dia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam untuk keluar dari ikatan yang bisa memisahkan anggota tubuhnya. Dalam hitungan detik, Zenon sudah bisa membebaskan diri. Sekarang dia berdiri di hadapan sulur-sulur yang mulai merambat masuk ke tanah ketika si pemilik kekuatan itu pergi. Dia memijat persendian tangan yang terasa nyeri. Belum selesai merasakan sakit di bagian leher, sekarang ditambah dengan rasa nyeri di persendian tangan dan kaki. "Nymph yang menarik," gumamnya dengan sebuah seringaian. "Aku mau lihat seberapa jauh kekuatan yang baru ia sadari." Dalam lari kencangnya, mulut Lexi komat-kamit membaca sebuah doa yang tertulis di dalam kitab. Hanya itu jalan satu-satunya untuk meminta pertolongan karena dia tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Dia yakin kalau manusia normal tidak akan bisa membantunya. Satu lagi fakta yang lebih menyakitkan daripada itu, dia pasti akan disebut gila. Dari atas atap sebuah pertokoan bergaya kontemporer, Zenon melihat Lexi berlari kencang sambil sesekali melihat ke belakang. Dia yakin kalau Nymph itu sedang memastikan kehadirannya. Zenon tersenyum miring sambil bersedekap, dia sedang memikirkan sesuatu untuk menguji kekuatan yang baru disadari Nymph itu. Harus diakui kalau Zenon kagum dengan keberanian Lexi, wanita itu berusaha memancingnya, walaupun pada akhirnya Lexi melarikan diri. Nymph yang ia lindungi sekarang lebih baik daripada Nymph berotak m***m bernama Attis. Langkah lebar Lexi terhenti tepat di ujung jalan raya yang begitu ramai oleh lalu lalang kendaraan. Dia membungkukkan badan karena merasakan kelelahan yang luar biasa. Seumur hidup dia tidak pernah berlari sejauh ini, bahkan setiap ada pelajaran olahraga di sekolah, dia selalu menghindar dengan bebagai macam alasan. Sebuah senyum miring tersungging di bibir Zenon saat melihat Lexi memilih tempat yang tepat untuk kabur. Nymph itu memiliki kepintaran dari kedua orang tuanya. Beberapa detik kemudian senyum Zenon memudar ketika melihat dua Sirenes berada tak jauh dari Lexi. Zenon mendengkus kesal sebelum melakukan teleportasi untuk menghampiri Lexi. Setelah menetralisir d**a yang kekurangan oksigen, Lexi merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Dia harus menghubungi Cleo untuk memberi tahu semua yang terjadi. Lexi rasa menghubungi pihak berwajib tidak akan bisa melindunginya dari pria misterius itu. "Sebaiknya kau pulang ke rumah, Nona." Tubuh Lexi berjingkat ketika mendengar suara berat yang sama seperti suara di gang sempit itu tadi. Lexi langsung memutar tubuh dan melemparkan ponselnya ke arah pria misterius itu. Persetan dengan nasib ponselnya yang akan rusak. Tubuh Zenon terhuyung ketika sebuah benda kotak berukuran 5,1 inchi itu mendarat tepat di dahinya. "Ah! Kau!" Mulut Lexi menganga karena terkejut oleh dua hal. Pertama, dia yakin sekali kalau pria ini tidak akan mungkin bebas dari sulur-sulur itu, tapi kenapa pria ini ada di hadapannya? Kedua, dahi pria ini mengeluarkan darah karena lemparannya tadi. "M-m-m ...." Ya Tuhan, Lexi benar-benar tidak bisa berucap. Dia ingin sekali meminta maaf atas kesalahannya. Tapi, tiba-tiba kesadarannya muncul, untuk apa dia meminta maaf? Bukankah hal itu setimpal dengan apa yang dilakukan pria ini. Dengan tegopoh-gopoh, Lexi merogoh kantong bagian dalam jaketnya, dia mengambil pisau lipat yang telah ia siapkan dari tadi. "J-j-jangan mendekat!" Lexi mengacungkan pisau lipatnya. Zenon mendengkus kesal sembari mengelap dahinya yang basah karena darah. "Kau salah sasaran, Nona." "Apa maksudmu?" Lexi berusaha untuk tidak terlihat takut. "Lihat arah jam tiga," jawab Zenon sambil bertolak pinggang. Lexi menoleh. Dia melihat dua orang pria berambut pirang dan memakai baju biker sedang berjalan menuju arahnya. "Mereka yang seharusnya kau ancam dengan pisau lipat itu." Lexi memandang Zenon dan dua pria itu secara bergantian. Menurut Lexi, bukan hanya dua pria itu saja yang berbahaya, tapi pria yang ada di hadapannya saat ini juga berbahaya. Mereka sebelas dua belas, tidak ada bedanya. Lexi menelan ludah dengan susah payah, dia bingung apa yang harus dilakukan. Kakinya mulai melangkah ke samping, mengambil kuda-kuda untuk segera melarikan diri. "Kau tidak perlu lari." "Kau kira aku aku akan menuruti perintahmu?! Aku tidak bodoh!" Zenon terkekeh melihat Lexi yang memberanikan diri, meskipun sedang ketakutan setengah mati. Zenon langsung mengeluarkan kabut ilusi hingga menyelubungi dirinya dan Lexi. "A-apa ini?" Lexi mengibaskan tangannya berkali-kali untuk menghalau kabut berwarna abu-abu yang hampir menghalangi pandangannya. Tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang kedua pergelangan tangannya. "LEPASKAN!" Gerakan Lexi yang memberontak sama sekali tidak mempengaruhi tubuh Zenon, dia tetap berdiri di samping Lexi sambil memegangi kedua tangan Lexi. "Aku tahu kau ketakutan, Nona. Tapi percayalah, aku bukan orang yang harus kau takuti. Aku bukan orang yang jahat." "LEPASKAN!" "Kalau kau manusia biasa, kau tidak akan bisa melihat kabut yang aku buat." Tanpa memedulikan ucapan Zenon, Lexi langsung menginjak kaki Zenon dengan sepatu boot-nya. Zenon hanya mengerang lirih, kaki Lexi begitu ringan hingga dia tidak merasakan sakit sedikit pun. Erangan itu menujukkan betapa takjubnya ia dengan keberanian wanita yang ada di hadapannya ini. Dia memutar tubuh Lexi untuk memunggunginya, lalu mendekap tubuh Lexi dari belakang. Harum aroma mawar menyeruak memasuki lubang hidung Zenon, rambut ombre bergelombang itu menyentuh kulit wajahnya dengan lembut hingga untuk beberapa waktu yang singkat dia terbuai dengan sensasi yang ditimbulkan dari tubuh Lexi. Zenon menggeram pelan saat merasakan hal yang aneh mulai bergejolak. Selama berabad-abad dia belum pernah menghirup tubuh beraroma mawar yang memabukkan. Buaian Zenon memudar ketika sebuah siku memukul ulu hatinya. "Aku tidak akan menyerah!” Setelah memejamkan mata dalam-dalam, Zenon mendekatkan mulutnya ke telinga putih bersih milik Lexi. Jujur, dia ingin sekali menggigit telinga itu, ah ... ada apa dengan dirinya? "Aku akan meminjam pisau lipatmu," bisik Zenon dengan lembut. Lexi merasakan tengkuknya merinding ketika udara hangat dari hidung pria ini menyentuh pori-pori kulitnya. Embusan itu membuat tangan Lexi melemah hingga pisau yang ia genggam erat bisa dengan mudah diambil oleh pria misterius itu. Pria ini benar-benar berbahaya dan dia harus jauh-jauh dari pria ini. "Apa kau siap pulang ke rumahmu?" Lexi menatap wajah pria itu dengan penuh tanya. "Aku akan mengantarmu pulang." Zenon menutup kedua mata Lexi dengan telapak tangannya yang besar, lalu menggunakan kekuatan teleportasi untuk membawa Lexi kembali ke rumahnya. Zenon merasakan kekosongan ketika tubuh Lexi sudah tidak ada di dalam dekapan. Tangan "Kau bawa pergi ke mana Nymph itu." Kali ini sepenuhnya kesadaran Zenon kembali. Dia tidak mau terhanyut oleh sesuatu yang tidak begitu penting. Zenon memutar tubuh untuk menghadap ke arah Sirenes. "Kau salah bertanya, Bung," jawab Zenon dengan senyuman miring. "Kabut ilusimu sanggup menghalangi pandangan kami," ucap salah satu Sirenes dengan mata yang melotot. "Itulah kegunaan Shades Guardian. Mengelabui dan membunuh Sirenes." Zenon langsung melemparkan pisau lipat yang ada di genggamannya. Untuk sesaat, dia melupakan tentang sensasi hebat yang ia rasakan tadi. Dia sepenuhnya masih belum paham perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD