Tiga Puluh Dua

1895 Words

Aku terbangun dengan perasaan bersyukur, tenggorokanku membaik. Suaraku keluar meski serak dan parau, dan bicara banyak membuat tenggorokanku semakin sakit. Aku memberitahu ayah dan berbicara pelan-pelan, ayah bilang jangan memaksakan. Kemarin seharian aku ditemani Kafka menjalani psikoterapi. Gak usah tanya kekonyolannya saat menemaniku. Dia menyuruhku menganggap api yang menjilat-jilat itu seperti gulali. See? Dimana korelasinya? Jawaban dia membuatku ingin pulang sendiri saja. Katanya kemarin, "Gulali kan manis Nay, jadi lo bayangin yang manis-manis bukan yang panas-panas. Karena yang 'panas' dan manis cukup gue aja, gulali jangan." Yang mau mengadopsi Kafka, aku persilakan. Saat melakukan sesi hipnoterapi dia bahkan meminta dokter Prisa untuk membuatku hanya melihat dia. Bayangka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD