Setelah pulang dari terapi bersama Kafka yang masih dalam cuti nge-trip, ia mengajakku untuk mampir ke apartement-nya. "Biar lo tahu kehidupan gue seperti apa diluar kantor dan travelling." Katanya. "Ya paling gitu-gitu aja kan? Emang apa istimewanya?" "Ck, sepele. Siapa bilang hidup cowok gak ada yang istimewa? Kalau cowok aja terlahir spesial. Kita kan telurnya dua." Spontan aku memukul tengkuknya, Kafka meringis. "Dasar m***m!" "Halaah m***m-m***m juga lo suka." Sahutnya sambil memencet tombol lift. Iyasih. Haduh, sadarkan Naya ya Allah. Apartement Kafka terbilang mewah. Unit-nya luas, dengan 4 kamar tersedia. Dua kamar tidur, dan satu kamar disulap Kafka menjadi ruang kerja dan satu lagi dijadikan ruang olahraga. "Kaf, bukannya ada fasilitas fitnes gitu di bawah?" Tanyaku, her

