Dua Puluh Tiga

1192 Words

Faza membangunkanku, "maghrib Tante, kakek bilang buka dulu." Aku membuka mata, ya ampun aku ketiduran. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul enam kurang. Waktunya berbuka, aku gak batal kan ya? Cuma sedikit kok nangisnya. "Iya nanti Tante turun, Tante cuci muka dulu ya." "Tante nangis ya?" Duh anak kecil ini, aku menggeleng dan tersenyum. "Iya Tante nangis. Ayaahhh, Bundaaa tante Naya nangis." Astaga! Aku segera mencuci muka dan bercermin, mataku sembab. Sebanyak apa aku menangis? Ck! Keluargaku sudah lengkap duduk di bawah, dengan makanan dan minuman yang sudah tertata. Plus mas Prima yang menoleh saat melihatku turun. Aku tersenyum samar dan menghampirinya. Wajahnya kaku dan penuh tanda tanya, mungkin karena mataku dan teriakan Faza tadi. "Pacarnya udah dateng, kok masih ditangis

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD