“Makanlah terlebih dahulu, marah – marahnya nanti saja. jika kau ingin aku menciummu lagi, tunggu setelah selesai makan.” “Ck, m***m!” decak Skylar lalu dengan ganas mengiris daging yang ada didepannya menggunakan pisau, lalu menyuapkan kemulutnya dengan brutal pula. Hening, hanya suara alat makan yang berdenting kecil sesekali yang terdengar diantara keduanya. Lalu beberapa menit kemudian, keduanya selesai. Skylar menatap Gabriel dengan senyum puasnya, jangan lupakan tangan kanannya yang mengelus – elus perutnya yang terasa puas memakan semua makanan mahal yang tersaji untuknya diatas meja makan tadi. “Ada apa dengan senyum lebarmu itu?” tanya Gabriel yang membuat Skylar tersenyum makin lebar. “Terimakasih untuk makanannya om, aku benar – benar terharu dan bahagia bisa mencicipi makan

