Chapter 5

1246 Words
Cuppp Pria itu mengecup bibir gadis itu sekilas yang sedari tadi begitu menarik perhatiannya. “Tidurlah jika kau mengantuk, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai.” Lalu hening melanda keduanya. Masih terdengar isakkan kecil Skylar, namun mata gadis itu menyayu. Kemudian detik selanjutnya matanya mulai tertutup, terlelap akibat efek samping d**a bidang dan bahu kokoh Gabriel yang terlalu nyaman untuk disandarinya. Entahlah, gadis itu selalu ketiduran jika menemukan tempat nyaman, dan dirinya sendiripun tak tau penyebab pasti mengapa dirinya dapat tertidur dengan mudah dalam dekapan pria asing yang kini mulai mengemudikan lagi mobilnya tanpa gangguan darinya. Setidaknya pria itu sudah berjanji untuk tidak menculiknya, jadi saat ini biarkan dia tertidur untuk beberapa saat sebelum sampai ditempat yang pria itu tuju. - 10 menit berlalu, mobil sport mewah itu berhenti tepat didepan sebuah restoran bergaya klasik dan megah. Dilihat dari bangunanya pun dapat disimpulkan bahwa harga makanan yang ditawarkannya pasti tidak main – main. Gabriel terkekeh kecil ketika menyadari bahwa gadis kecil dipangkuannya kini telah terlelap dengan mudahnya setelah menangis, benar – benar jelmaan anak kecil sepertinya. Tangannya dengan nakal menepuk – nepuk b****g Skylar, membangunkan gadis itu dengan cara yang unik tentunya. “Bangun bocah.” Bisiknya dengan suara rendahnya tepat didekat telinga gadis itu, yang hanya dibalas lenguhan malas dari Skylar. “Cepat bangun, perutmu tidak lapar setelah menangis seperti bayi beberapa puluh menit lalu?” tanya Gabriel, namun tangannya tak mau berhenti. Tangan pria itu tetap bermain dibokong gadis itu, meremasnya gemas. Sepertinya mulai sekarang b****g gadis itu menjadi mainan favoritnya. Mungkin memang tak sebesar b****g jalang – jalang yang pernah ditidurinya, tapi ini terasa begitu seksi jika dipadankan dengan tubuh mungil gadis itu yang begitu sekal dan memiliki lekuk sempurna. Definisi dari imut dan seksi yang digabungkan menjadi satu. “Eung… om~ berhenti tangannya!” protes Skylar menyadari pria itu yang terus – terusan meremas dan sesekali menepuk gemas bokongnya. Gadis itu memukul pelan lengan Gabriel untuk membuatnya berhenti, dan berhasil. Pria itu mau menurutinya. “Ayo turun, aku tau kau akan kelaparan setelah asyik menangis hanya karena mendengar suaraku.” Ejek Gabriel yang membuat gadis itu mencebik kesal. “Dasar om jahat!” dengan wajah sok galaknya Skylar membuka pintu disampingnya, kemudian beranjak dari pangkuan Gabriel dengan menghentakkan kakinya kesal. Gadis itu mendongak menatap visual sebuah restoran yang terpampang didepan matanya, bibirnya terbuka sedikit untuk mengagumi gaya eksteriornya yang nampak begitu mewah. “Kenapa berdiri disini terus, ayo masuk.” Pria itu dengan seenak jidatnya melingkarkan tangannya dipinggang Skylar yang sama sekali tak disadari gadis itu karena masih terlalu asyik mengagumi restoran itu. Seumur – umur dirinya tak pernah mendatangi tempat seperti ini, maklum saja, hidup sederhana dan berkecukupan dengan ibunya saja sudah membuatnya bahagia, mana mungkin ia mau meminta ibunya untuk makan di restoran mewah seperti ini hanya karena ingin? Gabriel menarik mundur sebuah kursi, kemudian menyuruh Skylar mendudukinya. Pria itu kemudian duduk diseberang gadis itu, lagi – lagi tersenyum tipis mendapati gadis mungil itu yang masih asyik terpesona kali ini dengan gaya interior yang disajikan oleh restoran tersebut. Seorang pelayan menginterupsi kegiatan pengamatannya pada seluruh isi dan sudut restoran itu. Kini Skylar tersenyum kemudian menatap pelayan itu yang dengan sopan menyerahkan buku menu untuknya dan Gabriel. “Aku akan kembali memanggilmu jika aku sudah memilih menu.” Ucap Gabriel yang dibalas dengan kata ‘baik tuan’ dan anggukan hormat dari pelayan itu sebelum kembali pergi. “Pesan apapun yang kau mau.” Perintah pria itu yang diangguki Skylar. Hening beberapa saat. Nampak butiran – butiran keringat muncul didahi Skylar, gadis itu membuka mulutnya kecil dengan mata yang berkali – kali melotot terkejut. Puas membaca buku menu, Skylar meringis kemudian menatap kearah Gabriel yang nampaknya masih sibuk dengan ponselnya. “O-om…” panggil Skylar lirih, membuat Gabriel seketika mengalihkan perhatiannya dari ponselnya, kemudian mengernyit bingung melihat gadis didepannya itu yang kini terlihat gugup dan berkeringat dingin. “Ada apa?” tanyanya memastikan, gadis itu mengkode Gabriel untuk mendekat hingga membuat pria itu membungkukkan tubuhnya kearah Skylar yang ada diseberang mejanya. “Kita makan ditempat lain aja yuk? Disini mahal – mahal om, satu porsinya saja bisa buat bayar buku sekolah aku 1 semester lebih.” Keluh Skylar yang seketika menghasilkan kekehan Gabriel. Skylar melongo seketika melihat pria didepannya itu yang baru saja terkekeh geli melihatnya, menyadari bahwa pria yang difikirnya menakutkan dan m***m ini ternyata bisa juga terkekeh selain hanya menampilkan wajah datar dan dinginnya itu. Gabriel yang menyadari gadis itu melongo melihatnya segera berusaha menghentikan tawanya, berdehem gugup. “Tak apa, kau tak perlu khawatir dengan harganya. Itu sesuai dengan rasa yang diberikan, lagipula aku yang akan membayarnya, jadi pilih makanan yang kau mau dan tak perlu melihat harganya yang kau katakan bisa untuk membayar buku sekolahmu satu semester lebih itu.” Skylar kembali mencebikkan bibirnya, pria itu benar – benar senang sekali menggodanya. “Terserah om saja, aku tak tau menu apa yang harus kupilih. Namanya terlihat asing semua dimataku.” Ucap Skylar dengan polosnya, membuat Gabriel mengulum senyum gemasnya. Gadis itu benar – benar mulai mencairkan sifat datarnya hanya dengan tingkah polos seperti itu nampaknya. “Baiklah, akan kupilihkan. Apa kau memiliki alergi terhadap suatu bahan makanan?” “Eumm…” gadis itu nampak berfikir mengingat – ingat kembali makanan apa yang pernah membuatnya alergi. “Kerang, aku alergi kerang.” Jawabnya yang diangguki oleh Gabriel, lalu tangan pria itu terangkat, memanggil pelayan untuk memesan. Skylar diam, mengamati Gabriel yang menyebutkan beberapa menu yang dirinya sendiri tak tau makanan apa itu. Kalau dipikir – pikir, dia belum tau nama pria didepannya ini, tapi sekarang pria itu bahkan membawanya untuk makan begitu saja tanpa mengetahui nama masing – masing, bukankah itu aneh? “Kau melamun?” gadis itu terkesiap dari lamunannya mendengar suara Gabriel. “Enggak kok o-om” “Gabriel. Panggil saya dengan nama saya saja.” Skylar mengangguk – anggukkan kepalanya. Oh, jadi nama pria ini adalah Gabriel? Tapi memangnya sopan memanggil pria itu langsung dengan namanya saja? tanpa embel – embel apapun? “Om El, jadi-” “Om El? Seriously? Kau masih memanggilku om?” Gabriel menatap Skylar tak percaya bahkan hingga menggeleng – gelengkan kepalanya, jadi apa setua itu wajahnya dimata gadis didepannya itu? “Lalu bagaimana? Bukankah tidak sopan jika aku memanggil om dengan nama saja? itu terdengar bahwa aku begitu kurang ajar om~” rengek Skylar yang dibalas dengusan kesal oleh Gabriel. “Hehh, terserah. Terserah kau saja mau memanggilku apa.” Sewotnya yang dibalas dengan kikikan geli. “Om marah lagi?” Gabriel mendengus mengabaikan gadis itu yang terkikik geli karenanya. “Jadi om, kenapa mengajakku kesini?” tanya Skylar akhirnya terlontar setelah terhenti karena cerocosan protes Gabriel tadi. “Kenapa? Memang tidak boleh?” kini gadis itu mengerutkan hidungnya kesal. “Tentu saja tidak boleh dengan cara memaksaku didepan banyak orang seperti tadi, itu membuatku malu om!” Gabriel kembali memutar bola matanya malas. “Siapa suruh tak mau menuruti perkataanku.” “Ya mana mungkin aku mengikuti om begitu saja! bahkan kemarin terakhir kita bertemu sebelum aku keluar dari mobil om, om justru menciumku secara tiba – tiba seperti itu. Bagaimana mungkin aku tidak takut bertemu om lagi coba?!” protes Skylar yang hanya dibalas gedikkan bahu Gabriel. Lalu pembicaraan keduanya harus terhenti sementara karena pesanan mereka yang datang, Skylar balas menatap Gabriel dengan bibirnya yang mencebik, membuat Gabriel menahan kekehannya lagi. “Makanlah terlebih dahulu, marah – marahnya nanti saja. jika kau ingin aku menciummu lagi, tunggu setelah selesai makan.” To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD