Dan disinilah Skylar berada, duduk santai menunggu bus tiba dihalte dekat sekolahnya. Sesekali gadis itu mengangguk – anggukkan kepalanya dan bersenandung kecil mengikuti lagu yang didengarnya melalui headset berwarna baby pink yang disambungkannya pada handphone-nya, mengabaikan beberapa pasang mata yang melirik tertarik kearahnya.
Sosok pemuda dengan tatapan tajam mengintai gadis manis itu dari kejauhan, kemudian mendecih kesal ketika sosok gadis yang menjadi fokus utamanya itu kini terlihat benar – benar acuh pada orang – orang disekitarnya yang melirik berkali – kali kearahnya, menikmati kecantikannya. Maka tanpa membuang waktu lagi, pria itu beranjak keluar dari mobil sport-nya. Berjalan dengan angkuh menyeberangi jalan raya dari tempat awalnya berada, menuju ke halte seberang sana.
Beberapa orang menengok kearahnya, sebagian berdecak kagum dan iri melihat betapa tampan pria itu. Dari sisi manapun ketampanannya benar – benar tak dapat dibantah lagi. Dan jangan lupakan tentang mobil super mewahnya yang ia parkir sembarang dipinggir jalan, membuatnya semakin mencolok.
Masih tanpa mengeluarkan suara, pria itu yang tak lain adalah Gabriel menatap Skylar yang masih belum menyadari keberadaannya, kemudian memutar bola matanya malas. Tangan kekarnya meraih lengan Skylar, membuat gadis itu tertarik kearahnya dan berdiri secara paksa. Awalnya gadis itu terlihat begitu kesal dan nyaris mengumpati orang yang menarik lengannya seenak jidat, namun ketika melihat sosok itu yang berdiri menjulang dihadapannya, matanya membulat terkejut.
“O-om?!” pekiknya terkejut, membuat beberapa orang disekitarnya yang sejak awal sudah merasa penasaran semakin dibuat penasaran dan melihat kearah mereka dengan tatapan ingin tau. Gabriel menatap tajam kesekitarnya, seolah mengatakan ‘hentikan rasa penasaran kalian dan alihkan tatapan kalian dari gadisku atau kalian akan berakhir dineraka!’ membuat manusia – manusia yang berada di halte tersebut berhenti melihat kearah mereka dengan bergidik ngeri.
“Apa yang om lakukan disini?” cicit gadis itu, masih tak berani menatap pria yang telah merebut ciuman pertamanya kemarin. Sial sekali, inginnya tak perlu bertemu lagi dengan om – om m***m didepannya ini selama sisa umurnya, namun yang terjadi justru pria itu muncul secara tiba – tiba dihadapannya tanpa ada suatu pertanda apapun.
“Ikut aku.” Titah Gabriel tanpa ingin dibantah, pria itu menarik lengan Skylar secara tiba – tiba, membuat gadis itu spontan mengikutinya. Namun baru 2 langkah, Skylar sadar bahwa om – om didepannya ini adalah mahluk berbahaya yang pernah menerkamnya kemarin, maka dengan seluruh keberanian yang dikumpulkannya gadis itu menghentikan langkahnya dan memberontak dari cekalan Gabriel.
“Gak mau om! Aku mau pulang, gak mau ikut om lagi!” okay, untuk kedua kalinya Gabriel memutar bola matanya malas. Tangannya menyilang bersidekap didepan d**a bidangnya yang terbalut kemeja.
“Aku akan mengantarkanmu.” Skylar cemberut mendengarnya, menggelengkan kepala, masih kekeuh tak mau mengikuti Gabriel. Pria itu menghela nafasnya, ia benar – benar harus bersabar menghadapi gadis labil yang sialnya justru menarik perhatiannya ini. Seumur – umur ia tak pernah mendengar penolakan dari orang lain, maka berbeda ketika dirinya harus berhadapan dengan Skylar. Bocah itu tipe bocah pembangkang ketika bersamanya.
“Tidak! Om m***m, aku tak mau om mengantarkanku lagi lalu berakhir dengan aku yang dengan mudah om cium seenaknya secara paksa padahal kita sama sekali tak saling mengenal!” tolak Skylar, kemudian membalik tubuhnya, berjalan untuk kembali menunggu bus di halte.
“Berhenti disitu dan turuti perkataanku atau aku akan mencium bibirmu lagi disini, didepan mata semua orang yang ada disini.” Desis Gabriel penuh ancaman seketika menghentikan langkah Skylar. Gadis itu ragu untuk mempercayai ancaman dari pria dewasa yang sama sekali tak dikenalinya itu, tapi mendengar dari nada bicaranya, pria itu pasti tidak main – main. Maka berakhirlah dengan dirinya yang tak bergerak seincipun dari tempatnya berdiri sekarang, masih membelakangi Gabriel tentunya.
“Masuk ke mobilku.” Titah Gabriel, namun Skylar lagi – lagi hanya diam ditempatnya, bahkan sama sekali tak menolehkan kepalanya kearah Gabriel yang berbicara dibelakangnya. Hening beberapa detik, Gabriel mendecak kesal ketika Skylar tak mengindahkan perintahnya lagi.
“Dasar bocah keras kepala.” Tanpa banyak bicara lagi, Gabriel mengangkat tubuh Skylar, menaruhnya dibahu kokohnya membuat gadis itu memekik terkejut seketika kala kepalanya terasa berputar, terbalik.
“Om! Turunin aku!!!” pekik Skylar dengan kedua tangan mungilnya yang memukuli punggung lebar Gabriel. Namun lagi – lagi Gabriel tak mau mendengarnya. Gadis itu harus menahan malu ketika menyadari Gabriel melakukannya didepan umum, banyak orang yang berlalu – lalang sore itu, tentu saja melihat kearahnya penasaran karena berada digendongan pria menyebalkan ini.
“Om m***m turunin aku! Aku gak mau ikut sama om!” Gabriel masih begitu tenang, matanya fokus melihat kiri maupun kananya. Menyeberangi jalan raya tanpa merasa terganggu dengan gerutuan dan pekikan gadis mungil digendongannya itu.
Brukk
Kembali dengan tingkah seenaknya, Gabriel menurunkan Skylar diatas kursi penumpang disamping kursi kemudi dimobilnya kemudian berjalan memutar untuk duduk dibalik kemudi, mengabaikan protesan Skylar yang cukup memekakkan telinga.
“Om, mau kemana sih?” tanya Skylar untuk kesekian kalinya yang telah diabaikan Gabriel, pria itu benar – benar irit cenderung pelit bicara sepertinya.
“Om!” dengan kekesalannya yang membumbung tinggi, Skylar menggeplak salah satu tangan Gabriel yang digunakan untuk menyetir, membuat mobil yang dikemudikannya oleng.
Cittttttt
Pria itu melotot terkejut, lalu Skylar? Gadis itu ikut shock karena untuk kedua kalinya semobil bersama pria asing disampingnya itu kepalanya nyaris menubruk dashboard.
“Kamu gila ya!” bentak Gabriel pada Skylar yang kini mencebik takut. Gadis itu meremas kedua tangannya diatas rok sekolahnya, benar – benar takut dan gugup melihat ekspresi menakutkan pria disampingnya itu.
“M-maaf… hab-is om ditanya diem terus.” Cicit Skylar begitu lirih nyaris tak terdengar. Tanpa diduga, gadis itu meneteskan air matanya, bahunya naik turun terisak kecil.
“Hiks… hikss” untuk kesekian kalinya Gabriel memutar bola matanya. Pria itu heran, kenapa gadis kecil ini begitu mudah menangis sih? Bukankah orang suruhannya kemarin mengatakan bahwa Skylar telah berusia 18 tahun?
“Berhenti menangis, kenapa kau mudah sekali menangis sih?” Skylar menengok kearah Gabriel dengan mencebikkan bibirnya, serta jangan lupakan matanya yang juga berkaca – kaca.
“Om jahat, galak, menakutkan, mesum.” Mendengar jawaban Skylar membuat Gabriel reflek mendengus kesal. Sialan sekali nasibnya. Sudah dikatai om – om, ditambah jahat, galak, menakutkan hingga m***m pula. Skylar pun yang mendengar dengusan kasar pria asing itu membuatnya menangis sedikit lebih kencang, berfikir bahwa pria itu marah padanya.
“Huaaa… om marah lagi, kenapa Sky salah terus sih!” tangis gadis itu yang mengakibatkan Gabriel mengusak rambutnya frustasi. Seumur – umur dia tak pernah sudi berurusan dengan wanita selain para jalang yang hanya digunakannya untuk memuaskan nafsunya, lalu kini? Mengapa pula ia susah – susah membuang waktunya untuk mendekati bocah cengeng ini? Gabriel benar – benar tak habis pikir pada dirinya sendiri.
Skylar masih belum berhenti dari isak tangisnya dan itu semakin membuat Gabriel semakin frustasi tentu saja, karena dia tak pernah memiliki pengalaman menenangkan wanita ketika menangis dalam hidupnya. Maka dengan segenap pertimbangan dan pikiran yang matang, Gabriel memutuskan untuk membuka safety belt yang melingkari tubuh Skylar, lalu tanpa rasa kesulitan pria itu mengangkat tubuh mungil Skylar dari kursi yang didudukinya untuk berpindah diatas pangkuannya, menyebabkan pekikan kecil karena gadis itu yang terkejut.
“Diamlah, aku hanya terkejut, tak bermaksud membentakmu.” Ucap pria itu dengan tangan lebarnya yang bergerak menangkup salah satu pipi Skylar. Gadis itu terdiam seketika, blank. Terkejut dengan segala perilaku pria yang memangkunya saat ini. Selalu terkesan mengejutkan dan tiba – tiba.
“Diam dipangkuanku dan biarkan aku menyetir dengan tenang okay? Aku berjanji tidak akan menculikmu ataupun membuatmu terluka.” Bisik Gabriel kemudian tersenyum tipis, sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat karena melihat wajah blank Skylar yang begitu menggemaskan.
Cuppp
Pria itu mengecup bibir gadis itu sekilas yang sedari tadi begitu menarik perhatiannya.
“Tidurlah jika kau mengantuk, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai.”
To Be Continued