Cahaya temaram dan keheningan. Hanya ada cahaya dari arah dapur dan luar rumah. Adzan sudah berkumandang. Hawa dingin menyergap kuat tubuhnya, seperti menusuk sampai tulang-tulang. Perlahan pintu utama di tutup oleh tangan lentik berhiaskan cat kuku warna merah darah. Setelah memutar kunci dua kali, pintu telah dipastikan terkunci rapat, Salsa berbalik badan dan mengencangkan pegangan tas nya. "Laper, ya, Sayang? Mau makan apa, hm?" Salsa berucap lirih sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit. Kekasih hatinya melarang dirinya untuk menggunakan alat pengencang tubuh seperti korset. Salsa pun menurut saja, karena sebenarnya perutnya kadang-kadang sakit dan nyeri. Setelah kejadian di hotel, Salsa dan Novan berusaha keras mencari jalan keluar dengan sembunyi-sembunyi. Untung saja m

