Bab 8. Pikiran Buruk Bu Indri

1041 Words
Setelah sarapan, Batari berdandan sebaik mungkin karena hari ini dia akan diajak Tara untuk menemui rekan bisnis, lalu dilanjutkan makan siang ke rumah kakeknya. Gadis itu memilih pakaian yang sopan, gaun di bawah lutut dan berlengan tiga perempat. Warna bajunya biru tua yang merupakan warna favorit Kakek Pandu. Rambut panjang dia gerai dan memakai hiasan jepit mutiara. "Itu baju yang dibelikan oleh Tara kemarin?" Tiba-tiba saja Bu Indri masuk ke kamar. Batari lupa mengunci pintu kamarnya kembali setelah mengambil gunting dari ruang keluarga. Ibu tirinya mempunyai kebiasaan buruk yang suka keluar masuk kamar di seluruh rumah ini. "Iya, Bu," balas Batari sambil memoleskan make up ke wajahnya. "Baju itu akan bagus jika dipakai sama Utari," kata Bu Indri. "Belum tentu, Bu. Bagus di aku, belum tentu bagus di Utari," sanggah gadis itu dengan bibir tersenyum tipis ketika melihat Bu Indri dari cermin tampak cemberut. "Kamu dapat barang banyak dari Tara, kasih sebagian sama Utari. Dia kan saudara kamu juga." Mata Batari hanya melirik sejenak ke arah Bu Indri yang kini berdiri di sampingnya. Dia harus mengamankan semua barang pemberian Tara agar tidak diambil olehnya. "Minta saja sama Dewa. Dia pasti mau membelikan untuk Utari," ucap Batari masih asyik mempercantik wajahnya. "Mana bisa Dewa membelikan barang-barang branded untuk Utari dari ujung kaki sampai ke ujung kepala seperti kamu ini." Rasanya Batari ingin tertawa. Kemarin ibu tirinya memuji Dewa setinggi langit ketika meminta restu kepada Pak Rangga. Katanya laki-laki yang pantas untuk Utari adalah Dewa, sehingga papanya memberikan restu. Setelah selesai memakai make up, Batari mengeluarkan kotak perhiasan yang berisi satu set emas putih dengan batu permata berwarna biru. Barang mahal itu sempat ditolak oleh sang gadis karena harga perhiasan itu sekitar 300 juta. Mata Bu Utari terbelalak saat melihat kalung, anting, dan gelang yang sedang dipakai oleh Batari. Dia tahu itu sangat mahal karena barang hasil produksi salah satu brand perhiasan terkenal di dunia yang sering dilihatnya di majalah dan iklan di media sosial. "I-itu a-asli?" ucapan Bu Indri tergagap. "Asli, Bu. Masa ini emas imitasi. Belinya juga di outlet resminya," balas Batari tersenyum manis. Ketika Batari memasang jam tangan berharga ratusan juta di pergelangan tangan kiri, lagi-lagi Bu Indri mengomentari barang itu. Sejak melihat barang-barang yang dipakai oleh anak sambungnya, jantung dia dibuat sport terus. Benda yang dahulu hanya bisa dia lihat lewat media, kini terpampang jelas di depan matanya. "Jam itu asli juga?" "Ya, asli, dong, Bu! Masa Mas Tara memberikan aku barang palsu. Harga jam tangan ini seharga mobilnya Dewa, loh!" Batari sengaja memanasi ibu sambungnya yang sejak tadi matanya hijau melihat barang-barang mahal. Napas Bu Indri terasa berat dan sesak karena terus dikejutkan dengan barang-barang mewah yang dipakai oleh Batari, pemberian dari Tara. Terlintas dalam pikiran buruknya, kalau dia akan mengambil sebagian barang tadi. Dia sangat tertarik dengan satu set perhiasannya. "Kalau aku ambil perhiasan itu, lalu Utari bisa ambil baju, tas, dan jam tangannya. Batari tidak pantas menggunakan semua barang mewah itu," batin Bu Indri. *** Tara menjemput Batari di rumahnya. Pak Rangga memberi sedikit nasehat untuk keduanya. Setelah itu keduanya pergi untuk menemui rekan bisnis di sebuah restoran khas Indonesia. Sebelum pergi, Batari menyembunyikan semua barang-barang pemberian Tara di kotak laci meja rias lalu menguncinya. Dia juga tidak lupa mengunci pintu kamar, agar Bu Indri tidak bisa masuk dan mengambil barangnya. Ternyata ada gunanya juga Batari sering nonton film Hollywood dan drama Asia sejak masih zaman sekolah. Ternyata rekan bisnis Tara itu orang China dan Jepang. Sedikit banyak dia paham pembicaraan mereka. Batari baru tahu, ternyata Tara juga mempunyai usaha lain selain bekerja sebagai CEO perusahaan ADIWANGSA GRUP. Dia menanam modal saham di perusahaan kenalannya yang dia percaya. "Datanglah ke acara pesta besok malam. Di sana akan banyak tamu undangan yang hadir. Kamu bisa mengembangkan bisnis ke bidang lainnya. Saat ini bisnis di bidang kesehatan sedang bagus dan mendatangkan banyak keuntungan," ucap laki-laki berdarah Chinese. Mata laki-laki itu sering kedapatan melirik ke arah Batari yang duduk di samping Tara, sambil mencatat beberapa poin yang menurutnya penting. Dia sedang belajar untuk menjadi seorang pengusaha. Dengan cara terjun dan berinteraksi langsung seperti ini dia akan mendapatkan banyak ilmu. "Mister Jackson Lee, pintar sekali melihat peluang bisnis," balas Tara. "Aku justru menyarankan kamu untuk terjun di usaha bisnis kosmetik. Aku sudah merasakan sendiri bagaimana perkembangan pesat dalam bisnis ini," ucap Tuan Sakamoto Eiji. "Oh, itu nanti calon istriku yang akan menjalankan bisnis skincare. Sekarang dia sedang belajar bagaimana berbisnis dengan baik agar mendapatkan keuntungan," balas Tara. Mata Batari terbelalak karena sebelumnya tidak ada pembicaraan seperti ini. Tara hanya bilang akan memberi modal jika gadis itu ingin membuka suatu usaha. "Wah, ternyata kamu laki-laki hebat yang memikirkan pasanganmu!" puji Jackson Lee. "Aku yakin jika Nona Batari pasti akan bisa menjalankan bisnis ini. Dia sudah memiliki modal dasar sebagai seorang pengusaha dengan menjadi pasanganmu," lanjut Tuan Sakamoto Eiji tersenyum tipis. Tara juga menyadari kemampuan Batari ini ketika diajak berbicara tentang bisnis, perekonomian, dan pemasaran yang sedang terjadi di negeri ini. Walau gadis itu tidak mengenyam pendidikan di bangku kuliah, terapi wawasannya sangat luas. "Jika butuh bantuan, kamu hubungi aku saja," ucap Tuan Sakamoto Eiji yang juga mempunyai bisnis kosmetik di negaranya. Pertemuan itu berjalan sekitar tiga jam. Mereka sampai lupa waktu karena terlalu asyik ngobrol membahas bisnis dan perekonomian global. Tara dan kedua orang itu pernah kuliah di universitas yang sama ketika ada pertukaran mahasiswa ke Jepang. Sampai sekarang hubungan mereka masih terjalin dengan baik. Tara membawa Batari ke rumah Kakek Pandu ketika hari menjelang siang, sebelum waktu makan siang. Bangunan megah berlantai tiga itu membuat sang gadis terpesona sampai tidak berkedip. Dia seperti melihat rumah-rumah mewah milik pesepakbola dan artis-artis Hollywood. Tiba-tiba muncul rasa minder di dalam diri Batari. Dia takut Kakek Pandu tidak mau memberikan restu kepadanya karena dia termasuk golongan orang menengah ke bawah. Ketika turun dari mobil Batari melihat di taman depan rumah ada dua orang laki-laki sedang bermain catur. Tara menggandeng tangan gadis itu dan berjalan menuju ke orang yang sedang fokus pada pion-pion catur. "Selamat siang, Kek. Aku datang bersama Batari sesuai dengan janjiku kemarin," kata Tara. Jantung Batari mencelos ketika matanya beradu pandang dengan Kakek Pandu. Gadis itu juga merasa gugup sampai berkeringat dingin. "Oh, kamu wanita yang dipilih oleh Tama. Berapa dia bayar kamu?" tanya Kakek Pandu dengan tatapan menyelidik. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD