Bab 7. Penampilan Baru

1063 Words
Pak Rangga tidak menyangka kalau calon suami Batari adalah orang yang terkenal. Laki-laki tua itu tahu kepada Nusantara Putra Adiwangsa sebagai seorang pengusaha muda. Dia pernah beberapa kali bertemu saat masih menjadi polisi, perusahaan ADIWANGSA sering menggunakan jasa keamanan ketika mengadakan suatu acara. "Anda serius mau menikahi Batari?" tanya Pak Rangga seakan masih belum percaya. "Iya, Pak. Saya mau izin dan meminta restu kepada Bapak dan Ibu. Aku ingin menikahi Batari secepatnya, kalau bisa akhir bulan depan," jawab Tara dengan sopan. Bu Indri masih dalam keadaan shock sampai tidak bisa berkata-kata. Ternyata anak sambungnya akan dinikahi oleh orang paling kaya di kota ini. Sebelumnya Bu Indri mendukung Utari untuk menjalin hubungan dengan Dewa, karena keluarga itu termasuk golongan kaya. Dia tidak perduli jika Batari harus sakit hati karena pengkhianatan kekasih dan saudara tirinya, yang penting Utari bisa hidup senang dan berkecukupan. "Tahu begini, lebih baik Utari disuruh berpacaran dengan Pak Nusantara. Dia lebih kaya dari Dewa," batin Bu Indri. "Kekayaan keluarga Dewa, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Adiwangsa." "Papa mau 'kan memberikan doa dan restu untuk hubungan kita berdua?" Batari memelas dan memohon. Gadis itu ingin membuktikan kalau dia sudah move on dari Dewa dan sekarang sedang bahagia bersama Tara. Batari merasa bersyukur perpisahan dengan Dewa, jadi bisa menjalin hubungan dengan laki-laki yang keren di matanya dan bisa dibanggakan. "Demi kebahagiaan dan kebaikan kamu, Papa pasti akan selalu mendoakan dan memberikan restu," balas Pak Rangga dengan penuh haru. Kedua bola mata laki-laki paruh baya itu sampai berkaca-kaca. Kemarin dia sempat sedih ketika tahu kandasnya hubungan Batari dengan Dewa. Namun, sekarang dia bahagia mendapatkan calon menantu yang sangat hebat. "Rencananya besok aku akan membawa Batari untuk menemui kakek dan meminta restu kepadanya. Setelah itu aku ingin mengadakan pertemuan dua keluarga untuk membahas pernikahan kita," ucap Tara melirik sekilas kepada Batari. "Apa kakek Anda mau memberikan restu? Secara Batari kan dari keluarga miskin dan juga berpendidikan rendah," tanya Bu Indri secara tidak langsung merendahkan Batari di hadapan Tara. "Aku memilih Batari bukan dilihat dari lulusan akademiknya. Biar pun Batari lulusan SMA, tetapi dia bisa mengerjakan tugas yang aku berikan kepadanya. Dia tidak kalah pintar dengan karyawan kantor yang seorang sarjana," jawab Tara dengan nada dingin. Secara umum Tara sudah tahu dengan segala hal tentang keluarga Pak Rangga. Begitu Batari lolos penyisihan tiga besar. Dia mempekerjakan detektif untuk mencari tahu tentang keluarga dan kehidupan ketiga orang kandidat itu. Dia penasaran dengan kehidupan Batari jadi minta informasi dengan sangat detail. Tentang ibu dan saudara tirinya, mantan kekasih dan keluarganya, juga orang-orang yang jadi teman pergaulannya. Wajah Bu Indri berubah masam karena merasa kesal. Dia berharap Tara mau berpikir ulang untuk mempersunting Batari dan mau menukarnya dengan Utari. Wanita paruh baya itu ingin putri kandungnya yang menikah dengan sang miliuner. Walau sekarang ini belum muncul benih-benih cinta di dalam hati Batari, tetapi dia merasa senang ketika bersama dengan Tara. Laki-laki itu bisa menjaga dan membela dirinya di depan papa dan ibu tiri yang selalu saja merendahkannya. Senyum bahagia menghiasi wajah Pak Rangga. Dia tidak menyangka kalau orang sekaya dan seterkenal keluarga Adiwangsa mau menerima putrinya yang banyak kekurangan untuk dijadikan istri. Dengan ini dia yakin kehidupan Batari akan lebih baik. Setelah kepergian Tara, Bu Indri mengikuti ke mana Batari melangkah. Dia ingin tahu apa saja yang ada di dalam tas belanjaan yang tadi dibawanya. Barang belanjaan itu di simpan di kamar Batari dan dikunci. "Pasti tadi Tara belanja banyak. Habis berapa juta?" tanya Bu Indri. "Tidak tahu, Bu. Orang kaya itu kalau belanja tidak tanya harga. Jika suka langsung beli dan bayar pakai kartu," jawab Batari menahan kesal akan kekepoan ibu tirinya. "Ada apa ini, Bu?" Tiba-tiba saja Utari dan Dewa muncul di belakang mereka. Sejak mendapatkan restu dari orang tuanya, Dewa dan Utari sudah tidak merasa bersalah dan tidak malu ketika jalan berdua ke mana pun. Datang dan pergi ke rumah ini sesuka hati seperti ketika masih berpacaran dengan Batari, dulu. Dewa terpesona melihat kecantikan Batari yang wajahnya dipoles dengan make up dan rambutnya tergerai indah. Wangi parfum mahal tercium dari tubuhnya. "Aku tidak menyangka Batari bisa cantik dan wangi seperti ini," batin Dewa. Bukan hanya Dewa yang terperangah melihat perubahan penampilan Batari, Utari sampai tercengang dan mengucek matanya. Meski begitu, penampilan Batari sekarang jauh berbeda dari biasanya. Kini gadis itu menjelma layaknya nona muda dari keluarga konglomerat. "Kak, tahu tidak? Tadi, ada Nusantara, atasan kalian datang ke sini," ucap Bu Indri menyadarkan lamunan Utari dan Dewa. "Apa?" Mata Utari dan Dewa terbelalak dan mulut mengaga. Keduanya terkejut dengan informasi yang tidak pernah terlintas di pikiran mereka. Batari menahan tawanya ketika melihat ekspresi Utari dan Dewa yang terlihat lucu baginya. Ternyata mereka tidak kalah shock seperti Pak Rangga dan Bu Indri, tadi. "Mau apa dia ke sini?" tanya Utari penasaran. "Katanya dia calon suaminya Batari," jawab Bu Indri dengan mode emak-emak sedang bergosip seakan tidak percaya. "Apa?" Untuk kedua kalinya Utari dan Dewa terkejut dan saling melirik, lalu menatap kepada Batari. "Kenapa? Kalian pasti terkejut, 'kan?" Batari menyeringai puas sambil mengibaskan rambutnya. "Bukannya sudah aku bilang, kalau aku ini sudah move on dari kamu. Karena pengganti kamu adalah laki-laki hebat." Dewa terlihat cemburu. Dia mengira kalau Batari tidak akan mudah move on darinya. Ternyata sang mantan malah bisa mendapatkan laki-laki yang lebih segalanya dari dia. Muncul rasa iri dan benci di dalam hati Utari karena dia tidak menyangka kalau Batari bisa kenal dengan atasannya di kantor. Tara bukanlah orang yang mudah ditemui oleh sembarang orang. Karyawan yang ada di satu gedungnya saja belum tentu bisa bertemu, apalagi orang luar. "Bagaimana ceritanya kamu bisa kenal dengan Pak Nusantara?" tanya Utari kepada Batari. "Sudah takdir. Inilah cinta yang direstui oleh semesta!" jawab Batari dengan ceria dan tersenyum lebar. Utari berdecih. Sungguh dia ingin rasanya bertukar peran dengan Batari. Siapa yang tidak mau mempunyai pasangan yang kaya raya, miliki jabatan tinggi, berwajah tampan, dan memiliki tubuh atletis yang bikin kaum wanita ingin memeluk tubuhnya. "Sial, kenapa nasib Batari selalu saja mujur!" batin Utari mengumpat. "Aku harus bisa menggagalkan hubungan Batari dengan Pak Nusantara. Mereka itu tidak cocok!" lanjut wanita itu di dalam hatinya. "Apa yang membuat Pak Nusantara suka sama Batari? Tapi, sekarang Batari terlihat sangat cantik sekali. Aku rasanya menyesal sudah memutuskan dia karena berselingkuh dengan Utari," batin Dewa yang sejak tadi menatap ke arah Utari. Batari merasa pasangan pengkhianat itu sedang memikirkan sesuatu. Sekarang dia harus waspada, bisa saja mereka akan menyebarkan fitnah tentang dirinya lagi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD