Hari yang ditunggu-tunggu oleh Batari akhirnya tiba. Kemarin dia mendapat pesan lewat email yang memintanya untuk datang ke Restoran Anugerah saat jam makan siang. Minggu kemarin gadis itu sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan sudah di setujui kemarin.
Dengan berdandan pakaian rapi, wangi, dan sedikit polesan riasan pada wajah, Batari siap untuk menemui calon suaminya. Dia merasa gugup karena akan pergi berkencan dengan seorang laki-laki yang memiliki pengaruh dalam dunia bisnis.
Begitu Batari masuk ke restoran, seorang pelayan menunjukkan ruang privasi yang sudah di pesan oleh Panji atas permintaan Tara. Gadis itu tidak henti-hentinya terpesona melihat keindahan dekorasi ruangan itu. Pandangan yang disuguhkan pun begitu indah. Tempat yang sangat cocok untuk tempat berkencan.
"Batari?"
"Iya!"
Batari yang sedang memandang ke arah jendela menikmati pemandangan di luar dibuat kaget oleh panggilan seseorang dari belakang. Dia pun menoleh ingin melihat siapa yang sudah memanggil dirinya.
Mata Batari melebar dan mulut terbuka saat melihat ada Tara—CEO ADIWANGSA GRUP—berdiri di sana. Penampilan laki-laki itu begitu tampan dengan pakaian layaknya eksekutif muda. Wangi parfum yang menenangkan dan menyenangkan tercium oleh hidung gadis itu, semakin membuat dia terpesona pada sosok pria yang terkenal cuek dan dingin.
"A-anda Pak Nusantara?"
Sebuah pertanyaan bodoh. Karena sudah jelas itu adalah laki-laki yang belakangan ini fotonya terus ditatap oleh Batari dan tersimpan di galeri gawainya.
"I-ya. Salam kenal."
Tara tidak menyangka kalau Batari tidak mengenali dirinya karena berpenampilan formal seperti ini. Lalu, dia pun duduk di tempat yang sudah di sediakan. Pria itu diam sejenak melihat Batari yang sejak tadi terus menatap ke arahnya.
"Kenapa?"
"Tampan sekali."
Batari tersentak karena baru saja sadar dengan perbuatannya yang tidak sopan. Dia pun menundukkan kepala karena malu.
Muka Tara terasa panas karena mendengar pujian dari Batari. Dia merasa senang karena gadis yang akan menjadi istrinya mengakui salah satu kelebihan yang dulu dia banggakan.
"Kita makan siang sambil ngobrol untuk saling mengenal satu sama lain. Karena kita belum saling mengenal sebelumnya," kata Tara.
"Setuju. Tapi, bicara harus sejujurnya. Jangan ada yang ditutup-tutupi atau berbohong, dengan begini kita akan dengan cepat saling mengenal," balas Batari.
"Aku panggil apa sama Pak Nusantara, biar enak?" tanya Batari.
"Panggil saja aku Tara. Kakekku dan beberapa orang terdekat memanggil aku seperti itu," jawab Tara. "Lalu, aku panggil kamu dengan sebutan apa?"
"Panggil saja Batari. Semua orang memanggilku seperti itu."
Ketika mereka makan, keduanya membicarakan makanan, cemilan, dan minuman favorit dan yang tidak disukai. Kegiatan harian mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali.
Keduanya mulai terasa nyaman dan banyak membicarakan kenangan-kenangan sewaktu kecil dan remaja. Sesekali terlontar ucapan lucu dari mulut Batari dan membuat Tara tertawa terkekeh.
"Melihat kamu tertawa seperti ini mengingatkan aku kepada seseorang. Namanya juga Tara. Dia itu office boy di kantor perusahaan ADIWANGSA. Apa kamu mengenalnya? Dia itu orang yang baik."
Tara mengedipkan kedua matanya karena sampai sekarang Batari belum juga menyadari orang yang sedang dibicarakan itu adalah dirinya. Padahal cuma penampilan saja yang berbeda. Tara biasanya berpenampilan rapi dan klimis ketika bekerja. Selebihnya ketika jalan-jalan atau olahraga dia akan berpenampilan biasa saja.
"O-office boy?" kata Tara mengulang dan Batari mengangguk.
"Oh, Tuhan! Ternyata Batari punya ingatan yang buruk akan wajah seseorang," batin Tara merintih.
"Aku ini CEO, bukan OB!" lanjut laki-laki itu di dalam hati.
"Dia itu orang yang sangat baik. Pertahankan karyawan seperti itu di perusahaan, ya?"
Tara mengangguk. Setidaknya Batari menilai dirinya sebagai orang yang baik.
Setelah selesai makan, Batari diajak pergi berbelanja oleh Tara ke butik langganannya. Dia memberikan beberapa potong pakaian, sepatu, tas, dan peralatan make up. Dia ingin Batari menjadi perempuan cantik yang berpenampilan menarik ketika dikenalkan kepada kakeknya nanti.
"Tara, aku mohon jangan beli banyak-banyak bajunya. Dua setel baju sudah cukup bagiku," kata Batari dengan perasaan tidak enak karena sejak tadi dia disuruh mencoba beberapa pakaian dan meminta pelayan butik untuk membungkusnya.
"Kamu itu calon istri seorang CEO. Harus bisa berdandan dan berpenampilan menarik agar tidak ada yang menghina kamu," balas Tara tidak mau dibantah.
"Selain itu, dengan berpenampilan menarik akan membuat orang melihat dirimu pantas untuk menjadi seorang istri yang mempunyai pengaruh," lanjut laki-laki berkacamata bening dan tipis itu.
Akhirnya Batari diam dan menurut dengan ada apa yang diperintahkan oleh Tara. Sampai dia tidak sadar sudah puluhan paper bag terpajang di dekat kasih.
Sebelum pulang ke rumah, Batari dibawa ke salon kecantikan. Dia mendapatkan semua perawatan kulit dan tubuhnya selama hampir dua jam. Hasilnya sangat memuaskan, sampai Tara tidak mengenali Batari untuk sesaat. Dengan menggunakan make up, wajah gadis itu menjadi terasa asing.
"Sekarang kamu kelihatan sangat cantik dan cocok untuk jadi istri para pengusaha," ucap Tara tersenyum lebar.
Pipi Batari merah merona mendapat pujian dari Tara. Selama ini meski dia bekerja jadi SPG kosmetik, tetapi tidak pernah memakai skincare lengkap seperti di salon ini. Tadi, Tara juga sudah membelikan peralatan make up yang komplit untuk digunakan kedepannya oleh gadis itu.
Tara mengantarkan Batari pulang ke rumah. Dia juga membawakan tas belanjaan yang sangat banyak di tangan kanan dan kirinya.
"Ba-Batari?" Bu Indri tergagap ketika melihat penampilan Batari yang sangat cantik. Artis-artis yang sering dia lihat di TV saja kalah kecantikannya oleh anak sambungnya itu.
"Siapa yang datang, Ma?" Tiba-tiba Pak Rangga datang ke ruangan depan. Dia terkejut melihat penampilan Batari. Terlebih lagi ada seorang laki-laki yang datang bersama dengannya.
"Batari, siapa pria ini?" tanya Pak Rangga sambil mengarahkan pandangannya kepada Tara.
"Kenalkan, Pah. Ini Tara, calon suami aku," jawab Batari dengan tersenyum lebar.
"Apa?" Bukan hanya Pak Rangga yang terkejut, tetapi Bu Indri juga sampai shock mendengar ucapan Batari.
***
Sementara itu di belahan dunia lain, Raya sedang memimpin sebuah rapat. Dia memegang salah satu anak perusahaan milik keluarga Adiwangsa.
"Aku ingin proyek ini berjalan sukses, apa pun yang terjadi, jangan sampai gagal!" ucap Raya sebelum menutup rapat dengan beberapa karyawannya.
"Tuan Raya, barusan aku menerima pesan penting dari Indonesia," kata Marco ketika semua orang sudah keluar ruangan dan menyisakan mereka berdua.
"Apa pesannya?" tanya Raya.
"Katanya Tara mencari calon istri lewat surat kabar," jawab Marco.
"Apa?" Raya yang sedang membaca pesan masuk lewat gawainya langsung menoleh kepada asisten yang merangkap menjadi sekretaris.
"Tara sudah melakukan interview kepada beberapa orang gadis cantik. Katanya sudah ada kandidat kuat yang akan menjadi istrinya," jelas Marco.
Raya terlihat berpikir. Selama ini dia sering waswas kalau Tara menikah dan semua harta kekayaan keluarga Adiwangsa akan jatuh ke tangannya.
"Aku tidak menyangka kalau Tara akan melakukan hal ini. Sungguh benar-benar diluar perkiraan ku," ucap Raya geram.
Selama ini Raya bekerja keras mengembangkan perusahaan cabang luar negeri. Dia hanya mendapatkan uang gaji pokok dan tunjangan dari perusahaan. Ingin membeli saham, tidak diizinkan oleh Kakek Pandu. Sudah mencoba beberapa kali membeli saham di perusahaan lain, hasilnya sangat mengecewakan. Bukannya mendapat untung, malah buntung.
"Cari tahu siapa wanita yang dipilih oleh Tara!" titah Raya kepada Marco.
"Baik, Tuan."
Raya pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan gusar. Dia tidak menyangka kalau Tara sudah melangkah ke tahap ini. Dia yakin, kalau pernikahan ini hanya sandiwara belaka untuk mengamankan semua aset kekayaan keluarga Adiwangsa.
"Kita lihat, apakah kamu menggunakan cara licik untuk menguasai harta kekayaan kakek? Aku harus bisa menggagalkan pernikahan mereka," batin Raya.
"Sepertinya aku harus pulang ke Indonesia. Tapi, alasan apa yang harus aku gunakan agar bisa pulang ke Indonesia?" ucap Raya bermonolog.
***