Bab. 4 - Mendadak Viral

2425 Words
Aku ingin lekas terlelap dalam tidurku Agar aku bisa berhenti meratap tentangmu -Adrian- *** Di perkembangan zaman sekarang ini, di dunia yang serba maju dan serba instan, katanya, sosial media adalah sarana paling memudahkan sekaligus mencekam. Ya, jika kita tidak pandai-pandai menjaga diri, atau sialnya bila kena masalah yang berdampak dan terabadikan dalam jejak digital, maka bisa dipastikan ada dua pilihan. Lolos dari hujatan publik atau viral menjadi musuh publik. Ini jika kesialan bertandang. Seperti yang tengah dirasakan Naya sekarang. Baru saja dua hari lalu kejadian memalukan ia alami. Sampai harus mengambil cuti dadakan sementara waktu guna meredam suasana. Tapi, nyatanya berita malah melebar luas melalui alat komunikasi serba canggih. Dari mulai selebgram lokal sampai konten kreator daerah, tak henti membahas permasalahan yang tengah dialami Naya. Ia berharap tak sampai masuk berita harian akhirnya. Gadis itu masih duduk terpekur di atas kasur, melamunkan kebimbangan yang belum ada hentinya. Sampai temannya menghubungi, ia masih belum menyadari bahwa dirinya sudah jadi artis dadakan yang dihujat masyarakat alias netizen sok tahu saat ini. "Halo, Nay! Kamu sudah lihat i********: sama Youtube belum?!" "Belum sempet buka sosmed dari kemarin ku bisukan semua. Pusing kena pertanyaan terus dari temen-temen kerjaan." Naya menghela napas sebentar, lalu melanjutkan. "Kenapa memangnya? Mas Dika Bj kesayanganmu sudah upload Mama Lela lagi?" balasnya setengah menebak-nebak. Biasanya, Siti selalu heboh tiap kali selebgram kesukaannya itu mengunggah konten cerita tentang janda yang ditinggal suami gara-gara tikungan pelakor. Siti suka nangis tak jelas sekaligus tertawa sendiri tiap kali menonton konten tersebut. Katanya sih komedi masa kini yang pemainnya cogan tapi tetap pada kodratnya, alias tidak perlu dandan menor walau berperan jadi ibu-ibu satu anak sekali pun. "Bukan! Seriusan kamu belum tahu?!" "Belum. Ada apaan sih? Kok kayaknya suaramu panik banget, Sit." "Ya iyalah panik. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa loh." "Alasannya? Kalau soal masalah kemarin, memang masih agak stres sih. Tapi masih bisa ku handle." "Aduh, Nay! Lebih gawat! Sepupumu tega banget sih sama kamu! Itu coba kamu cek i********: dia. Ternyata dia posting feed dengan caption yang bener-bener menjatuhkan nama baikmu! Aku nggak terima dengan fitnah yang makin merajalela ini, Nay! Kamu harus bertindak tegas! Enak aja, dia yang berulah kok dia yang playing victim, bertindak seolah-seolah sebagai korban! Najis mugholadoh!" celoteh Siti panjang lebar memaki Meta, sepupu Naya. Jelas saja Naya makin bingung tak memahami maksud laporan dari kawan baiknya barusan. Ia memang sudah menceritakan segala kebenarannya pada Siti. Bagaimanapun juga, Siti adalah sahabat baiknya, tempat curhat kedua Naya kala sedang dilanda dilema. Yang pertama tetap tempat curhat terbaik adalah Yang Maha Kuasa. Tanpa pikir panjang, Naya segera mencari icon i********: di ponselnya dan mengecek postingan Meta. Betapa terkejut dirinya setelah mendapati fakta yang ada. Permintaan pesan dan pertemanan makin membeludak tanpa bisa dihentikan. Ia yang selalu memasang mode bisukan notifikasi jadi kaget waktu membuka i********: pribadi miliknya. Beberapa pesan ia buka. Beberapa komentar di postingan randomnya juga sempat ia tengok. 'Hei, kamu kan sepupu Meta, pramugari cantik yang lagi viral! Tega-teganya kamu memakai nama dia buat keuntunganmu sendiri! Sudah ditolong kok gak tau malu! Jadi cewek tuh punya harga diri dan urat malu dong! Malu-maluin orang Malang aja kamu!' 'Owalah rek! Ingat hukum karma berlaku! Apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai! Biasanya penipu hidupnya selalu gak barokah!' 'Tampang pas-pasan kok ngaku-ngaku jadi pramugari buat nipu cowok-cowok kaya. Idih! 'Jijik banget gue sama tingkah lo! Tenggelam ke laot aja sonoh!' 'Urat malunya udah putus ya mbak?!' Kepala Naya hampir pecah rasanya kalau diteruskan mengulik komentar-komentar dan pesan-pesan yang ia terima dari orang-orang tak dikenal. Seakan mereka tahu apa yang terjadi sesungguhnya dan menghakimi tanpa tedeng aling-aling. Manusia memang sering lucu, merasa dirinya paling benar dibanding manusia lain. Padahal, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tangan Naya gemetaran hebat. Jantungnya terasa seperti diremas-remas sesuatu. Nyeri tapi tak bisa dihalau lagi. "Halo, Nay! Nay! Kamu baik-baik saja kan?! Aku masih jalan menuju rumahmu nih! Jangan melakukan hal aneh-aneh ya!" teriak Siti cemas. Ia bicara sejak tadi tapi tak ada sahutan. Beberapa saat berlalu. Pintu digedor dari luar. Rupanya Siti sudah tiba di tempat tujuan. Naya langsung membukakan pintu dengan wajah kusut seperti orang linglung. "Nay! Sadar!" Siti menepuk pipi sahabatnya. "Nggak bisa dibiarkan lagi, Sit. Aku harus bersihkan namaku. Aku nggak mau jadi viral karena hal buruk kayak gini! Bukan salahku soal penipuan itu!" "Iya aku tahu kamu nggak mungkin sejahat itu. Di mana bude dan pakdemu? Mereka sudah tahu belum?" Naya menggeleng. "Aku nggak yakin. Bude dan pakde sedang ikut pengajian di rumah pak RT. Aku harus gimana?" "Tenang dulu. Kita pikirkan bareng-bareng." "Aku harus cari Meta sekarang, Sit! Kalau postingannya nggak segera di take down, aku yang terus kena serangan masyarakat luas. Memang dia nggak nyebut namaku di sana, tapi teman-temannya yang tahu pasti juga menyebarluaskan identitasku. Lihat aja di Youtube fotoku kesebar juga, walaupun diblur, tetep aja aku yang kena! Mereka bahkan mulai cari tahu di mana rumah dan tempat kerjaku segala!" "Ini namanya pencemaran nama baik! Apa kita lapor ke polisi saja?" Lagi-lagi Naya menggeleng. "Nggak. Aku nggak percaya hukum di negara ini akan memihakku. Karena aku bahkan nggak punya bukti apa-apa sekarang. Meta juga dihubungi nggak bisa." "Aku tahu di mana dia sekarang! Ayo kita samperin!" "Kamu tahu dari mana?" "Sejam lalu dia bikin story di Ig. Dan ngetag lokasi juga. Ayo, Nay!" Sementara itu, di salah satu club malang ternama, Adrian sedang duduk seorang diri. Ragil bersama pacarnya asik berjoget di depan sana. Sejak tadi Adrian enggan dihampiri para wanita cantik nan seksi. Seolah matanya jenuh menatap paha mulus dan belahan d**a yang mubadzir diumbar ke mana-mana. Menjemukan dan memuakkan bagi dirinya yang sudah keseringan menatap tubuh-tubuh molek. Mungkin efek sedang patah hati makanya mood pun jadi tak karuan rasanya. Seseorang mendatangi Adrian dan duduk bergelayut manja di lengannya. "Kamu kenapa sih? Nggak asik banget malem ini. Kita udah lama loh nggak nongkrong bareng, Beib," tukas Yunita berusaha menghibur mantan pacarnya. "Lagi males aja. Tolong jangan dipaksa ya? Kamu kan tahu gimana mood-ku kalau lagi begini." "Iya sih. Tapi seenggaknya jangan bengong aja dong. Btw, temenku yang tadi kukenalin ke kamu, dia minta nomormu loh. Boleh kukasih nggak nih?" Adrian mesem. "Kamu yakin nggak akan cemburu?" "Duh, Yunita mah anti sama cemburu-cemburuan. Apalagi yang dicemburuin mantan. Nggak level ya." "Itu yang kusuka dari kamu. Fleksibel." "Jadi gimana? Boleh? Buat temen jalan sesekali kan nggak masalah. Ditambah, dia salah satu pramugari idola di i********: loh. Banyak cowok ngincer pengen jadi pacarnya. Tapi dia itu pemilih banget katanya." "Oh ya? Yun, bukannya kamu tahu banget ya gimana seleraku kalau milih cewek. Tampang itu nomor dua. Nomor satu attitude-nya." "Yes, I know, Beib. Setahuku sih, orangnya lumayan baik. Daripada kamu merana terus. Nggak baik loh menyengsarakan hati sendiri. Dulu kan kamu yang sering bilang gitu ke aku, Beib." "Sekarang udah males main-main, Yun. Pengen serius tapi yang mau diseriusin malah diembat orang. Hukum alam kali ya," curhat Adrian spontan. Yunita terkekeh geli mendengarnya. "Aduh, Beib. Kamu itu nggak cocok pasang tampang galau. Udah ah, aku mau ajip-ajip lagi. Selamat merenungi nasib, Beib!" ia pun berlalu kembali ke teman-temannya yang sibuk berhaha-hihi sambil berjoget ria. Hanya helaan napas pendek yang mampu Adrian lakukan. Ia berdiri ingin pulang saja. Tapi dua matanya malah menemukan sosok tak asing tengah berdiri celingak-celinguk di antara orang-orang lain. "Wow, nggak nyangka itu cewek bisa juga main ke tempat kayak gini," gumamnya tak percaya. Diam-diam Adrian mengikuti sosok tersebut. "Itu dia, si Meta di sana, Nay!" Siti menunjuk ke satu arah. Terlihat jelas Meta sedang minum-minum dan berjoget dengan teman-temannya. Sebentar Naya membenarkan tudung hodie jaketnya. Karena sesak, ia sudah melepas masker sejak beberapa saat lalu. Atas saran dari Siti, Naya terpaksa menyembunyikan muka agar tak kena sasaran makian orang-orang saat di perjalanan tadi. Padahal, tidak semua orang tahu wajah Naya. Siti bilang ini hanya untuk mengantisipasi keadaan darurat bila sampai ada kejadian tak diinginkan. Naya menghampiri Meta dan menarik lengannya. Meta menepis dengan wajah sok dan tanpa dosa sedikit pun. Ia meletakkan minuman di sembarangan meja. "Kamu ngapain ke sini, Naya sayang?" tanyanya. "Aku perlu bicara sama kamu, Meta!" "Yaudah ngomong aja. Silahkan." "Di sini terlalu berisik. Ayo kita bicara di luar!" teriak Naya kepayahan dengan suara musik yang terus menggema. Tanpa pikir panjang, Naya dan Siti menarik lengan Meta bersamaan. Teman-teman Meta tak peduli, mereka tahu masalah yang terjadi dan dibiarkan saja. Naya mengajak Meta ke luar dari club. Mereka berada di area parkiran sepeda motor depan club sekarang. "Kenapa sih?" Meta sok tak tahu menahu. "Aku mau kamu hapus postingan yang udah kamu unggah. Dua hari aku sibukin diri nggak buka sosmed, kok bisa-bisanya kamu nebar fitnah kayak gitu di mana-mana. Aku kaget tahu!" "Oh soal itu. Sorry deh. Habisnya gimana lagi, banyak temen-temen angkatanku yang mikir aku beneran nipu orang. Makanya aku harus klarifikasi kayak gitu. Kalau nggak, bisa bahaya buat kerjaan dan namaku." "Gila ya kamu! Udah salah kok mengkambinghitamkan sepupu sendir!" Siti menunjuk muka Meta dengan telunjuknya. Kesal bukan main. "Sit, biar aku aja yang selesaikan ini sama Meta. Kamu tolong diam dulu ya," pinta Naya tak mau ada keributan karenanya. Siti pun menyingkir menuju sepeda motor miliknya, tak seberapa jauh dari Naya dan Meta berdiri. "Nggak usah cemas gitu dong, Nay. Kan aku nggak up namamu." "Nggak kamu up tapi sebagian orang pasti bisa nebak. Dan ujungnya dari satu mulut ke mulut lain kesebar juga identitasku. Kok kamu gitu banget sih sama aku, Met? Salahku apa sama kamu? Bukannya selama ini kita baik-baik saja?" "Ya maaf deh, Nay. Aku akan hapus." Meta langsung merogoh tas selempang mininya dan mengambil ponsel. Lalu mengarsipkan postingan yang ia buat. "Nah, udah kelar kan masalahnya?" katanya enteng. Mengahpus jejak digital tak semudah menghapus tulisan di papan tulis. Pastinya masih tersisa dampaknya untuk Naya. "Kamu harus buat klarifikasi juga, Met. Aku nggak peduli ya orang mau bilang apa. Tapi, aku juga punya kehidupan pribadi yang harus kujaga. Temen-temen baikku, kerjaanku, bahkan orang tuamu yang sudah kuanggap orang tuaku sendiri. Kamu tolong jangan egois dong, Met. Aku udah ikutin maumu kemarin. Kenapa sekarang malah makin runyam gini?" "Oke-oke. Kamu mau aku buat klarifikasi gimana? Jangan menjatuhkanku ya." Naya menggeram dalam batin. Meta memang selalu begini. Maunya menang sendiri. Maunya enak sendiri. Tak peduli perasaan orang di sekitarnya bagaimana. "Itu urusanmu. Intinya, tolong bersihkan namaku dari tuduhan ini." "Aku dapat apa?" "Astaghfirullah. Seenggaknya pikirin gimana pakde sama bude kalau denger masalah ini, Met. Aku malu juga." "Akan kupikirkan dulu ya. Yaudah mending kamu pulang gih. Nanti kena timpuk orang loh, Nay. Lagian, tempat kayak gini kurang cocok sama cewek setipe kamu. Bye." Meta pun berlalu masuk kembali. Meninggalkan Naya yang mengurut kepala. Lengan Meta terasa ditangkup oleh seseorang dari balik tembok yang hendak ia lewati. Pria itu mendorong tubuh Meta sampai membentur tembok. "Eh, kamu." "Kamu mau nomorku kan? Mau jalan denganku juga?" Meta tersenyum kesenangan. Mendapatkan mangsa semenawan dan sekaya Adrian adalah babak terbaik dalam hidupnya. Mungkin, ia akan rela resign dari tingkah konyol penipuannya bila berhasil menggaet si pria tampan nan mapan ini. "Kamu nggak keberatan?" tanyanya. Adrian melempar senyum andalannya. Senyum yang banyak orang mengatakan adalah senyum menikam. Ketika guratan bibir dan tatapan mata bak panah Arjuna itu menembus ke dalam hati seseorang, sudah bisa dipastikan tujuannya akan terjerat dengan perlahan tapi pasti. "Kamu mau jadi pacarku?" tanya Adrian to the point. "Dengan senang hati." Meta makin sumringah. "Tapi aku punya standar dan syarat khusus. Bisa?" "Anything for you..." "Akan kupertimbangkan kamu jadi pacarku. Tapi syaratnya harus kamu lakukan." "Apa syaratnya? Selama aku bisa dekat sama kamu, apapun akan kulakukan." "Hmm. Buat klarifikasi yang masuk akal." Seketika bola mata Meta yang bersinar-sinar berubah meredup. "Maksudnya? Klarifikasi tentang apa?" tanyanya mengalihkan pandangan. "Sepupu kamu itu karyawan saya. Perusahaan bisa kena imbas dari masalah yang kamu timbulkan. Jadi, kamu harus bertanggung jawab atas hal itu." "Oh jadi maksud kamu, aku harus buat klarifikasi tentang Naya supaya perusahaanmu nggak kena dampak omongan orang ya? Eh si Naya kan kerja di situ, kok bisa sih mereka nerima dan mempertahankan orang kayak gitu? Bla bla bla. Itu yang kamu cemaskan? Bukan masalah besar kok buatku. Tenang aja, aku pasti akan bikin klarifikasi. Tapi, boleh kan aku save nomormu? Kapan-kapan kita jalan?" "Baguslah kalau begitu." Adrian merebut ponsel di tangan Meta dan langsung mengetikkan nomor ponselnya, lalu menyimpan dengan namanya. "Selamat bersenang-senang," ujarnya lalu pergi menuju area parkir mobil. "Yes! Dapat sasaran empuk! Buat klarifikasi dulu ah, biar makin meyakinkan!" gumam Meta bahagia. Tanpa curiga Adrian akan bertindak lebih jauh lagi. Sampai di dalam mobil, Adrian mengirim video dan foto unggahan Meta yang sempat di screenshoot sebelum dihapus pada Abrar. Tak lama panggilan telepon masuk dari karibnya pun berdering nyaring. "Halo, Bro! Kenapa lagi lo?" "Biasalah, cobaan hidup." "Hobi banget lo melibatkan diri dengan masalah cewek. Kapan pensiun jadi player?" "Bahas itu ntaran aja. Gue lagi pengen serius. Lo tolong bantu cari tahu. Soalnya gue juga khawatir nama perusahaan kebawa-bawa. Tahu sendiri kan jari netizen plus enam dua tuh sadis. Mau sekolah, rumah, tempat kerja, bisa jadi kena sasaran semua." "Kronologinya lo jelasin dulu." Adrian pun membeberkan fakta yang ada. Abrar menyimak dengan seksama sampai usai. "Jadi gitu ceritanya. Kasihan kan si Naya. Nggak tega gue." "Hilih lo mah biasa modus. Pertama nggak tega, ujungnya lo php-in juga. Kalau soal perusahaan mah nggak perlu lo jadiin alasan buat modus kali." "Sebagai cowok yang mensyukuri kehadiran kaum hawa, gue hanya berusaha bersikap gentleman, Bro." "Basi lo. Yaudah ntar gue urus. Urusan sama netizen bukan hal mudah sih, Bro." "Makanya gue perlu bantuan lo." "Siplah ntar gue kabarin lagi solusinya gimana." "Thanks." "Salam buat calon php-an lo itu. Siapa namanya, Naya ya?" "Berisik lo. Sana balik kelon sama Disya." "Sialan lo." "Btw, thanks banget loh ya." "It's ok. No problem." Panggilan pun diakhiri. Adrian mengurut kening sejenak. Ada pesan masuk dari seseorang. Jantungnya terasa lesu tak berdaya. 'Kamu datang kan di acara nikahanku nanti?' ===== ♡ Special Love ♡ ===== Note : Aku buat cerita menurut imajinasiku sendiri ya. Jadi jangan mikir masa lagi pendemi boleh ajip2?? ahaha kan setting waktu dan latar sesuai imajinasiku. Anggaplah dalam cerita tidak ada virus coronce gitu gais. #ditimpukmasal Terimakasih buat yg selalu setia ngikutin ceritaku. Oh ya, buat grup pembaca aku belum buat karena satu dan lain hal. Intinya, ku save dlu yg mau ikutan join. Bisa dm Instagramku. Sehat selalu dan tetap semangat ya gais!! =====================
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD