"Aku pernah terluka karena sebuah penolakan. Sekarang, aku berharap aku akan sembuh dengan sebuah penerimaan darimu..."
-Naya-
***
Siang itu menjadi salah satu momen paling mencekam bagi hidup Naya yang tenang dan damai. Ketika seorang ibu dan anaknya tiba-tiba datang ke tempat kerja Naya dan mencarinya.
"Maaf, Bu. Anda mencari saya?"
"Kamu yang namanya Naya kan?!" bentak si ibu dengan mata melotot seram.
"Benar, Bu. Ada keperluan apa-"
Belum usai Naya menyelesaika ucapannya? si ibu sudah lebih dulu menampar Naya. Tak sampai di situ saja, wanita paruh baya itu menjambak rambut Naya dan memukulinya habis-habisan di depan umum secara mendadak. Wajar bila Naya tak mampu melawan atau menghindar, ia terlalu kaget sampai tak tahu harus berbuat apa.
"Nggak tahu malu! Dasar penipu! Balikin uang anak saya yang kamu kuras habis! Dasar perempuan nggak tahu diri! Cewek matre kamu! Tukang tipu! Nggak tahu diri!"
"Tapi Bu-"
"Nggak usah tapi-tapian. Kakak sepupumu sudah cerita semua kebohonganmu! Tampang pas-pasan kok mau dapat suami kaya raya! Tukang tipu! Mau dapat uang banyak ya kerja yang bener! Jangan nipu orang apalagi morotin!"
"Maaf Bu, saya nggak kenal-"
"Halah! Nggak usah banyak omong kamu! Balikin uang anak saya! Atau saya penjarakan kamu!"
Berkat informasi dari beberapa karyawan yang tergopoh melaporkan kejadian ricuh itu pada Adrian, ia langsung datang menghampiri dengan segera. Ia tak suka ada keributan di kantornya. Dengan jelas dua matanya melihat semua perlakuan kasar si ibu tak dikenal terhadap karyawannya. Jiwa kepemimpinannya tak tega membiarkan Naya diperlakukan seperti itu terlepas apapun yang sudah terjadi.
Adrian dan beberapa karyawan lain berusaha melerai.
"Permisi, Bu. Saya manajer di sini. Tolong jangan membuat suasana supermarket kami jadi kacau. Kita bisa bicarakan baik-baik di ruangan saya," tukas Adrian berusaha menyikapi dengan tenang dan bijak. Ia meminta si ibu dan anaknya serta Naya membicarakan semua masalah secara baik-baik di ruangannya saja.
Mulanya si ibu tak menggubris. Tapi anak perempuannya berbisik sesuatu. "Udah Mak, ikutin aja. Malu juga kalau kayak gini di depan banya orang. Ini kan area umum. Nanti kita malah bisa dituntut karena bikin keributan," kata sang anak yang kesulitan menenangkan ibunya.
Lalu mereka pun diajak ke ruangan Adrian. Ia meminta kronologi lengkap dari si ibu tersebut. Sementara Naya hanya bisa tertunduk tak berdaya setelah membaca pesan masuk di ponselnya.
"Nah, sekarang tolong Ibu jelaskan apa yang sebenarnya jadi masalah? Saya tidak akan memihak pada siapa pun. Jika memang benar karyawan saya melakukan kesalahan, saya sebagai pemimpin di sini akan dengan lapang hati meminta maaf. Namun, jika sebaliknya, maka kami berharap kesalahpamanan bisa diselesaikan baik-baik. Atau jika tidak, kami terpaksa menempuh jalur hukum."
Si ibu mulai sedikit melunak. "Anak laki-laki saya masuk rumah sakit gara-gara minum obat penenang kebanyakan. Untung kami menemukannya lebih cepat. Selama ini kami sudah mengira ada yang memanfaatkan Doni, anak saya. Sudah enam bulan terakhir dia sering bilang kirim uang buat calon istrinya. Ngakunya pramugari. Nggak tahunya cuma seorang penipu! Anak saya sudah keluar hampir tiga puluh juta! Belum hadiah-hadiah yang sering dikirim! Saya nggak terima, Mas! Itu uang hasil jerih payah dia loh, bukan uang yang dateng dari langit gitu aja! Bisa-bisanya ini si karyawan Mas, dia tega morotin anak saya!"
"Jadi, maksud Ibu, Naya membohongi putra Anda? Begitu? Maaf sebelumnya, apakah Ibu punya buktinya?"
"Benar! Jelas saya punya bukti, Mas! Saya sudah datangi perusahaan tempat Meta bekerja. Sepupunya Naya yang menjelaskan semua. Ternyata selama ini Naya menyalahgunakan foto-foto serta nama Meta. Si Naya mengaku-ngaku sebagai Meta untuk membodohi anak saya. Saya nggak terima, Mas! Anak saya itu orang baik, tapi bodohnya saja dia bisa kemakan rayuan palsu perempuan ini!"
Adrian mengangguk-angguk memikirkan sesuatu. Ia menatap sosok Naya yang tampak tak melakukan perlawanan atau membantah tudingan sama sekali. "Maaf sebelumnya, Ibu ada bukti kalau ucapan dari pihak Meta itu benar?" sekali lagi Adrian berusaha meyakinkan diri. Karena dilihat dari sudut pandang mana pun, ia yang sudah ahli dengan berbagai tipikal perempuan, masih merasa kalau Naya rasanya tidak termasuk perempuan macam itu. Walau ia sendiri belum mengenal gadis itu lebih dekat. Hanya firatasnya mengatakan demikian.
"Tentu ada, Mas! Ini nih, bukti transfer ke rekening atas nama Naya Aruma. Jelas kan? Waktu itu alasannya nitip uang di sepupunya. Ternyata dia sendiri yang pakai! Maling mana mau ngaku, Mas! Kalau ngaku penjara pasti penuh sesak!"
"Naya, bagaimana pembelaan kamu? Bisa kamu jelaskan? Benar yang dikatakan ibu ini?"
Pertanyaan Adrian tak mendapat jawaban apa-apa dari Naya. Gadis itu terdiam menahan tangis yang susah payah ia bendung di pelupuk mata.
Alhasil karena belum tahu cerita sebenarnya dari pihak Naya, Adrian memutuskan untuk mengganti rugi sementara. Agar tak ada lagi keributan di area kerja. Sebagai gantinya, masalah tak perlu diperpanjang ke jalur hukum. Ia merasa ada yang ganjal dengan pernyataan si ibu tadi. Usai si ibu dan anaknya pergi. Adrian duduk di dekat Naya.
"Saya mau dengar versi kamu. Bisa kamu jelaskan?"
Naya mengangkat muka dengan ragu-ragu. "Apa Pak Adrian akan percaya dengan apa yang saya katakan?"
"Tergantung kejujuranmu. Lagipula, saya sudah sering bertemu penipu selama perjalanan hidup saya. Bukan hal sulit untuk membedakan mana yang bohong dan mana yang tidak."
"Saya nggak pernah menipu siapa pun, Pak..." lirih Naya.
"Lalu kenapa kamu nggak menyangkal sedikit pun tadi? Harusnya kamu menjawab pertanyaan saya di depan mereka. Dengan kamu diam, artinya sama saja kamu membenarkan apa yang dikatakan ibu tadi."
"Saya punya alasan untuk itu."
"Bisa tolong jelaskan versi kamu, Naya?" pinta Adrian mengulangi.
Naya lagi-lagi terdiam sesaat. "Saya akan ganti uang Pak Adrian. Tiap habis gajian, akan saya cicil pelan-pelan. Saya harap Pak Adrian memahami kondisi saya. Nggak mungkin saya bisa ganti uang sebanyak itu secepatnya. Saya harap Pak Adrian bisa mengerti."
"Uang nggak jadi masalah buat saya. Tapi, nama baik perusahaan adalah tanggung jawab saya. Kamu tahu, perusahaan Rakabumi nggak akan mentolerir hal semacam ini. Mungkin sepele di mata umum, tapi kita punya standar kualifikasi, kebijakan, juga peraturan khusus. Karyawan nggak boleh ada yang punya kasus dengan poin-poin tertentu. Salah satunya terkait penipuan macam ini."
"Tolong jangan pecat saya, Pak..."
"Ceritakan semuanya. Akan saya pertimbangkan nanti."
Akhirnya, dengan perasaan gamang Naya pun menjelaskan duduk permasalahan sesungguhnya. Ia terpaksa diam atas semua tuduhan yang dilempar oleh ibu tadi. Meta mengiriminya pesan agar Naya bungkam dan mengakui apa yang seharusnya bukan kesalahannya. Ia juga menunjukkan pesan tersebut pada Adrian.
"Saya nggak punya pilihan lain, Pak. Sepupu saya, Meta yang memaksa saya untuk bungkam dan mengakui semua kesalahan yang bukan kesalahan saya."
"Kenapa kamu mau nurutin kata-kata dia? Bukannya dia sepupumu?"
"Orang tuanya sering membantu keluarga saya dulu, Pak. Saya juga dibiayai dan disekolahkan oleh mereka selama ini. Saya tinggal menumpang di rumah mereka."
"Di mana orang tuamu sekarang?"
Naya menggeleng tak tahu. Ia hanya ingat waktu kecil, kedua orang tuanya menitipkannya pada orang tua Meta. Setelah itu, tak ada kabar apapun lagi dari mereka.
"So, mereka minta balas budimu dengan cara begini? Apa itu pantas?" Adrian mulai kesal.
"Bukan Pak... Bude dan pakde nggak tahu soal ini."
"Lantas?"
"Saya nggak mau mereka terluka akibat ulah anak mereka sendiri. Pakde punya penyakit jantung. Kalau dengar kabar buruk bisa kambuh. Saya nggak mau nanti malah makin memperumit keadaan."
"Oh jadi kamu mau jadi pahlawan tanpa dianggap gitu? Dan mempertaruhkan nama baikmu sendiri. Ralat, termasuk nama baik perusahaan yang barusan jadi kena imbas kesalahpahaman."
Naya terdiam. Merasa bersalah tak mampu berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan Meta.
"Maafkan saya, Pak. Kalau memang sebegitu buruknya pengaruh ini pada perusahaan, saya ikhlas harus dikeluarkan. Tapi, saya minta tolong beri waktu satu bulan ini, Pak. Saya harus cari kejaan lagi." Naya mengharap penuh cemas.
Adrian menghela napas berat. Tak memahami sikap Naya macam ini. Ia masih bingung akan sesuatu. "Oke kita bahas itu nanti. Saya masih heran, intinya, Meta mengkambinghitamkan kamu. Masalahnya, kenapa rekening kamu yang ada di bukti transfer anaknya ibu tadi?"
"Saya juga nggak tahu sebelumnya. Meta cuma bilang dia nitip uang dulu ke saya. Katanya itu dari temennya yang bayar hutang ke dia. Saya nggak mengira kalau akhirnya malah jadi seperti ini."
"Kamu nggak curiga sama sekali? Memangnya dia nggak punya rekening pribadi?"
"Saya nggak pernah kepikiran sampai situ Pak. Kalau saya tanya kenapa nggak ke rekeningnya sendiri, jawabannya ya dia bilang rekeningnya lagi bermasalah. Setahu saya selama ini Meta baik sama saya... jadi saya nggak curiga sama sekali."
"Orang baik nggak akan mungkin ceburin saudara sendiri ke lubang buaya!"
Adrian menatap tegas. Geram dengan keterangan dari Naya. Ia merasa Naya terlalu mudah dibodohi, padahal ia kira gadis ini sangat tangguh dan cuek. Adrian hanya belum tahu, kalau kelemahan Naya adalah keluarganya sendiri. Ia tak sanggup kehilangan sosok orang tua lagi. Itu sebabnya dirinya mengalah.
"Hari ini kamu pulang dan istirahatlah di rumah."
"Saya diberhentikan mendadak, Pak?!" Naya panik.
"Kamu masih shock berat kan? Dengan keadaan begitu mana mungkin saya biarkan kamu tetap kerja hari ini. Yang ada satu kantor sibuk mewawancarai kamu nanti, malah pada nggak fokus sama kerjaan. Anggap aja kamu ambil cuti sehari ini."
"Terimakasih Pak..." tukas Naya. Ia hendak pamit undur diri. Namun, lengannya ditarik kembali oleh Adrian. Dirapikannya rambut Naya yang berantakan. Pria itu mengikat rapi rambut Naya. Jantung Naya serasa diketuk hebat. Debarannya makin kentara.
"Jangan pernah meremehkan penampilan," Adrian mengingatkan. "Cukup saya aja yang kamu kira tukang bubur."
Pipi Naya memerah menahan malu. "Maaf..." sesalnya pelan. Dalam hati ia bergumam sekaligus merutuki diri. Lalu berdoa dan berharap hidupnya akan kembali baik-baik saja setelah semua kesalahpahaman ini.
"Perasaanku kok jadi nggak enak ya... antara sedih campur seneng. Aku kenapa?" lirihnya bermonolog.
===== ♡ Special Love ♡=====