"Jatuh cinta bagiku adalah hal klasik. Tidak bisa dihindari atau dipaksakan. Namun, saat kutahu cinta itu tak terbalas, hal itu menjadi benalu dalam batinku sendiri."
-Adrian-
***
Senin pagi, tempat Naya bekerja mengadakan meeting dadakan. Ada atasan baru yang diperkenalkan. Ia shock ketika Adrian memperkenalkan diri. Pria itu sempat bertemu pandang dengan Naya. Tapi Naya langsung menunduk malu.
"Aduh! Kenapa harus itu orang sih yang jadi SM di sini?! Argh! Nasibku terancam punah kayaknya di sinil!"
Ia merutuk kesialan, khawatir akan dipecat gara-gara sikapnya kemarin. Apa yang ia harapkan tak sesuai kenyataan. Drama hidupnya agaknya baru saja dimulai. Namun, usai acara perkenalan diri dan meeting selesai, Adrian malah mengerlingkan mata ke arah Naya. Gadis itu menganggapnya sebagai ancaman besar. "Mencurigakan banget itu senyumnya. Jangan-jangan dia mau balas dendam gara-gara masalah topi kemarin?" gumamnya menimbang gundah.
"Cakep ya SM baru kita! Lihat deh senyumnya, bikin meleleh hati!"
"Aku sudah cari tahu loh. Dengar-dengar SM kita lagi kosong, alias jomblo gitu."
"Masa? Wah, sayang banget kalau cogan mapan paket lengkap macam itu dianggurin. Bisa mubadzir ntar."
"Tapi, menurut informasi yang kuterima, si bos baru kita ini playboy akut."
"Ehm, wajar sih. Namanya juga cowok cakep, karir bagus, ya kan?"
"Susah dong diseriusin?"
"Haduh, zaman sekarang mah yang penting sama-sama suka, sama-sama mau, sama-sama dapat untung, gaet aja, ya kan?"
"Terus mau kalau habis manis sepah dibuang? Ntar udah bosen ditinggalin baru mewek?"
"Yang penting kan bisa dipamerin di sosmed. Pacar atau mantan sekece itu mah kayaknya nggak bakal merugikan deh."
"Iya juga ya, lumayan buat pencitraan. Kayak cerita-cerita di novel online tuh. Kejebak cinta CEO tampan. atau Terpaksa Menyukai Bosku Sendiri. Aduh, judulnya dah cocok jadi ftv kayaknya."
"Ha ha ha. Bisa aja kamu."
Para karyawan kasak-kusuk membicarakan Adrian. Sesekali suara tawa mereka menjeda obrolan tak jelas. Hanya Naya yang dilanda kecemasan menggunung. Bibirnya komat-kamit tak karuan, melantunkan doa supaya ia tak sampai dipecat seperti dalam sinetron yang sering ditonton budenya di rumah. Bagaimanapun juga, ia sadar sikapnya kemarin kurang sopan. Ia tak mau diberhentikan dari pekerjaan hanya karena alasan macam itu, cari kerjaan sekarang makin sulit. Mau makan apa dia nanti? Menumpang di tempat budenya saja sudah cukup sulit, apalagi kalau sampai harus jadi pengangguran dadakan? Bisa-bisa makin membebani nantinya. Setidaknya itulah yang ia khawatirkan.
Sangking khusyuk dalam lamunan, Naya sampai tak sadar menubruk seseorang yang berjalan berlawanan ke arahnya. Danu geleng kepala, menepuk jidat gadis itu dengan telapak tangannya. "Mikirin apa sih? Sampai nggak fokus jalan gitu," ujarnya.
"Dan, ada info loker nggak?" seru Naya spontan. Ia harus punya cadangan sebelum kemungkinan terburuk menimpa dirinya.
"Buat apaan? Kamu mau resign?"
"Nggak sih. Buat jaga-jaga aja, siapa tahu ada PHK dadakan."
"Lhah? Perasaan perusahaan lagi baik-baik aja dah." Danu garuk kepala.
"Ish, udahalah, ada nggak?"
"Belom ada sih."
"Nanti kalau ada kabarin ya?"
"Ckck, jangan bilang kamu mau berhenti kerja dan cari kerjaan baru, karena nggak tahan kena omelan Pak Joko tiap hari ya?" sindir Danu sambil menahan kekehan tawa.
Tanpa menggubris lagi, Naya berlalu mengekori teman-temannya yang sudah lebih dulu berjalan menuju divisi masing-masing. Bibir ranumnya terus menggerutu sekaligus harap-harap cemas. Ketika tubuhnya baru saja hendak menginjak tangga menuju ruangan di lantai dua, seseorang mendadak menarik kerah bajunya dari belakang sampai hampir terjungkal. Dengan wajah bersungut kesal, Naya memutar bahu, memastikan ulah siapa yang berani menambah emosi jiwanya barusan. Kalau saja matanya tak cepat mendeteksi keberadaan Pak Joko, mungkin mulutnya yang sensi akan melempar omelan sarkartis tanpa bisa dibendung. Untung saja semua mampu ia tahan. Alhasil, ia hanya bisa berpura-pura menebar senyum semanis mungkin.
"Eh, Pak Joko. Ada apa, Pak?" tanyanya was-was. Bertemu orang satu ini baginya sama saja bertemu sebuah masalah. Ujung-ujungnya pasti hanya kena semprotan kata-kata soal pekerjaan. Atau paling banter ya disuruh membenahi pekerjaan yang belum benar. Memang terdengar sepele, hanya cara bicaranya saja kurang menyenangkan mungkin, ditambah raut wajah seram Pak Joko yang kata para karyawan mirip sekali dengan tokoh Datuk Maringgih. Bedanya, Pak Joko tidak bertampang m***m dan doyan daun muda tentunya.
"Kamu bikin masalah terus ya, Nay! Baru hari pertama Pak Adrian masuk, beliau sudah mengeluhkan kamu tahu?!"
"Hah? Kok saya? Memangnya saya salah apa Pak?" tanya Naya pasang wajah polos tanpa dosa. Dalam hati ia sudah beristighfar sembari merutuki sikap pengaduan bos barunya itu.
Pak Joko tak menjawab dengan jelas. Ia hanya menghela napas kemudian menyuruh Naya melanjutkan pekerjaan. Sementara dirinya harus menerima panggilan telepon entah dari siapa. Naya merasa terselamatkan kali ini. Setidaknya, telinganya aman dari rentetan ceramah panjang atasannya itu. Ia mengelus d**a lega, dan berlalu cepat meninggalkan Pak Joko.
"Tukang ngadu banget sih jadi orang!" gerutunya sebal.
Naya berusaha melenyapkan sengketa hatinya. Ia harus kembali berkutat dan fokus pada pekerjaan bila tak mau dapat cecaran panjang dari Pak Joko lagi seperti tempo lalu. Belakangan pikirannya memang sedang agak kacau. Ia baru ditipu oleh teman karibnya sendiri. Membeli ponsel mahal dengan jumlah harga lumayan tinggi dengan cara kredit mengatasnamakan dirinya. Bodohnya Naya tak menaruh curiga sama sekali sebelumnya. Dengan embel-embel janji manis dan rayuan bahwa uang akan dibayar tiap bulan, nyatanya malah ia yang harus menelan pahit janji palsu tersebut. Gadis itu hanya bisa menghela napas panjang. Entah di mana Reka kini berada. Sudah sebulan menghilang tiada kabar. Usai ketahuan mencuri ponsel milik teman satu shiftnya, gadis itu berhenti kerja mendadak tanpa pamit baik-baik. Nomor ponsel tidak lagi bisa dihubungi. Tempat kosnya juga sudah kosong tak tampak batang hidung dari penghuninya. Belakangan terdengar kabar, kalau Reka terjerat banyak hutang karena ikut judi online. Entah desas-desus itu benar atau tidak, Naya pun kurang yakin. Pasalnya, temannya itu terlalu pandai bermain lidah dan bermanis kata, sampai banyak orang tak menaruh curiga sedikit pun padanya.
Sangking asik melamun, Naya terkejut ketika teman di sebelahnya mengatakan Naya dapat telepon dari member service di lantai dasar. Karena ada paket miliknya datang. Terlalu bersemangat ia sampai berlarian di sepanjang koridor divisi. Dan tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Kalau jalan fokus ke depan dong, bukan fokus ke hati."
"Maaf... maaf. Saya nggak sengaja."
"Eh, gue kayak pernah lihat muka lo deh. Tapi di mana ya?"
"Apa sih orang ini aneh banget. Bahasanya aja kayak bukan bahasa orang sini," guman Naya pada diri sendiri.
"Oh iya gue inget. Lo yang kemaren ngira bos gue tukang bubur kan? Bos gue cerita ke gue. Lo kerja di sini?"
"Nggak. Saya konser di sini! Ya iyalah kerja, masa main monopoli sih?!"
"Dih, jutek amat jadi cewek. Ntar cowok pada kabur loh. Mau jadi jones seumur hidup?"
"Idih. Dari mana situ tahu saya jones? Lagian Anda ini siapa sih? Ada perlu apa juga di sini?"
"Kan udah gue bilang, yang kemaren itu bos gue. Gue kerja sama dia. Asisten pribadi gitu ceritanya."
"Oh gitu. Pantesan baru lihat. Ternyata orang baru."
"Nggak juga. Gue udah lama kerja di sini, mungkin lo aja yang nggak tahu. Karena gue kan SPY."
Naya berdecak tak percaya. Dari tampang slengekan Ragil, jelas saja Naya sulit mempercayai kalau pria itu benar-benar bekerja di sini. Ia menebak mungkin Ragil hanya teman iseng bos barunya. "Terserah deh, mau spy kek mau popay kek, saya nggak ada urusan. Permisi saya mau lewat," katanya sembari melewati Ragil begitu saja.
"Wah, dasar cewek bar-bar. Kok kayak nggak ada takut-takutnya ya sama gue? Eh, emangnya gue siapa?" Ragil garuk kepala tak jelas. Ia melanjutkan langkah menuju ruangan Adrian.
Sementara itu, di ruangan kerja Adrian melamun sembari memandangi ponselnya. Jelas terlihat video undangan pernikahan yang tertera nama seseorang. Berkali-kali pria itu menghela napas pendek, seakan menyemburkan keputusasaan yang hakiki. Ingin menangis tak bisa, sebab jiwanya terlalu egois pada harga diri seorang lelaki yang sok tegar. Ingin ikhlas menerima pun belum kuasa hatinya. Entah dilema seperti apa yang ia rasakan kini, hanya ada kebimbangan dan kegelisahan dari raut muka patah hatinya.
Selagi Adrian asik menyelami kemeranaan batin yang gamang, Ragil masuk setelah ketukan pintu beberapa kali tak digubris sama sekali oleh bosnya.
"Itu muka apa lap dapur, Bos? Lecek amat dilihatnya," sindir Ragil.
"Gue lagi merenungi nasib."
"Hadeh. Masih mikirin soal Ayu? Udahlah Bos, hidup harus realistis. Jangan stuck di satu tempat yang nggak bisa dipertahanin lagi. Nunggu cewek yang nggak ada rasa sama kita itu ibarat kita menyelam sendirian ke dalam laut tanpa pakai alat bantu apapun. Makin diselami makin bikin nyesek, Bos."
"Perasaan tuh bukan mobil yang bisa direm atau dijalanin sesuka hati, Gil. Gak bisa kita bawa ke bengkel buat dibenerin, gak bisa juga kita musiumin di gudang parkiran biar nggak ngeganggu perjalanan kita. Gue nggak bisa ngatur hati gue. Sekalinya sakit ya sakit banget."
"Kayaknya lo kurang cocok jadi cogan galau, Bos. Gimana kalau ntar malem kita ke club? Si Yunita tadi telepon gue, katanya baru landing semalem dan nginep di Aston. Katanya dia kangen sama lo, Bos.'
Informasi menarik dari Ragil tak dihiraukan oleh Adrian. Lagi-lagi matanya menatap layar ponsel dengan gemuruh tertahan dalam dadanya. Meski di luar tampak biasa-biasa saja, jauh di lubuk jiwanya terjadi gempa hebat yang hampir meluluhlantakkan dermaga penantiannya. Semua terasa sia-sia belaka baginya. Mencintai tanpa bisa memiliki, sama halnya seperti berjalan di gurun pasir yang gersang di musim kemarau. Dahaga menanti hujan turun atau sekadar menemukan oasis yang jernih untuk melegakan kehausannya. Adrian merana dalam angannya yang kecewa.
"Gue pengen dateng. Tapi, bingung mau bawa gandengan siapa?"
"Maksudnya? Bos mau dateng ke nikahan gebetan yang nggak pernah kesampaian gitu? Apa nggak salah denger nih gue, Bos?"
"Bisa nggak sih, lo jangan nyiram garem di atas luka hati gue!" protes Adrian sok melankolis.
"Lhah, biasanya juga si Bos yang demen nyebar garem di hati banyak cewek."
"Mulai lagi lu nyindir gue. Bantuin gue cari solusi. Biar gue nggak kelihatan cengeng banget gara-gara ditinggal nikah sama doi!" kesal Adrian.
"Gampang. Kan banyak mantan Bos yang pasti siap sedia nemenin jadi tamu undangan."
"Nggak. Gue mau yang bener-bener kelihatan real sebagai cewek gue. Kalau perlu yang kelihatan cocok alias meyakinkan buat jadi calon istri gue. Lo tahu sendiri kan, Ayu tahu mantan-mantan gue semua cuma main-main dan iseng doang. Malah lebih hafal dia daripada gue."
"Hmm, kalau gitu ini namanya kasus serius, Bos! Di mana nyari cewek yang sekiranya nggak mencurigakan buat dijadiin gandengan nyata?" Ragil tampak berpikir serius.
"Ya itu tugas lo. Gue nggak mau tahu."
"Sadis amat. Job ekstra ini mah. Gaji gue lo tambahin kan, Bos? Lemburan pribadi gitu."
"Matre amat lu jadi temen."
"Eits, soal tugas menugas kagak ada harga temen, Bos. Segalanya butuh uang." Ragil memainkan jemarinya.
"Lo atur aja deh."
Sejenak Ragil menimbang sesuatu. Seakan terngiang pada kejadian beberapa saat lalu. "Kayaknya gue punya kandidat yang lumayan cocok..."
===== ♡ Special Love ♡ =====