Kemunafikan, yaitu mengatasnamakan nilai-nilai Islami untuk memanipulasi orang lain (Sofia).
Kafe Robusta seberang jalan rumah tiga hari lalu
Suasana lengang meluaskan pandangan diikuti alunan musik jazz, memanjakan saraf pendengaran. Sofia mulai mencari tempat di mana lelaki berkemeja kotak-kotak berada. Tak lama kemudian, pandangan Sofia terpusat pada punggung lelaki berpawakan ringkih serta jangkung sibuk memainkan ponsel di pojok ruangan. Perasaan Sofia tiba-tiba tidak enak. Berkali-kali ia membandingkan antara foto dengan lelaki itu.
"Dari belakang aja udah ndak sama. Tapi, siapa lagi di sini yang pakek baju kotak-kotak selain dia?" Sofia bergumam.
Sofia benar-benar tidak mengerti. Rasa penasaran membuatnya dekati lelaki bertopi lusuh seperti milik tukang bangunan.
"Mas ... Napoleon," sapa Sofia hati-hati dari arah belakang.
Lelaki itu menoleh, tersenyum. "Sampean Ukhti Sofia, ya?" tanya Baron ramah di antara kerutan halus sekitar mata.
Sofia memberi anggukan kecil. “Ii-iya, saya.”
“Kenalkan nama asli saya Baron,” ucapnya.
Sofia terhenyak, rasanya campur aduk. Perlahan, ia mengambil posisi di kursi kosong, sebuah meja kecil memisahkannya dengan Baron. Katanya, masih 25 tahun, tetapi sepertinya jauh di atas angka 25? Tetap ditahan hanya sebatas di pikiran tentang perbedaan fisik mencolok antara foto dengan aslinya.
"Salam kenal Mas Baron," ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Salam kenal juga. Boleh saya panggil dik?" tanya Baron.
"Monggo, Mas."
...
"Ya, beginilah saya apa adanya, Dik. Tetapi, jujur saya sangat tulus tertarik sama sampean," ungkap Baron to the point sambil menatap lekat mata Sofia.
Sofia tersipu, suara Baron sama lembutnya seperti di telepon. Bukan masalah, bentuk fisik yang jauh berbeda di foto. Mungkin, dia kurang percaya diri menunjukkan rupa asli, termasuk usianya.
"Biarlah saya sederhana seperti ini. Yang penting saya selalu berusaha mengaitkan diri sama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Banyak orang mengincar dunia, tetapi hati selalu resah," ungkap Baron berusaha meyakinkan.
Sofia mengangguk, sesekali melempar senyum tipis ke arah Baron. Lalu, ia menunduk lagi seraya memandangi kopi yang sudah dipesan sebelumnya. Mereka larut dalam obrolan bak merpati putih yang bertemu di atas pohon.
Tengah perbincangan, Baron membahas tentang iPhone yang dipesan atas nama Sofia beberapa hari lalu. Baron berterima kasih telah dibantu memesan barang impiannya. Setiap bulan ia berjanji akan menyicil rutin uang ke rekening Sofia.
"Dik, lain kali boleh dipesankan sepeda motor?” tanya Baron.
Sofia mengerutkan dahi. "Buat apa, Mas Baron?" tanyanya.
"Eh, gini. Sebenarnya saya nggak enak mau ngomong. Sepeda motor saya hancur ditabrak truk. Pagi tadi baru dikabari saudara saya. Yaa, sepeda saya, kan, dipinjam," jelas Baron, matanya berkaca-kaca.
"Ya, Allah. Lalu, yang ngendarai selamat, Mas?"
"Alhamdulillah, selamat, Dik. Boleh saya minta pesankan sepeda motor baru. Karena, yaa, tau sendiri kalau saya yang pesan tokonya nggak percaya. Bukan orang berpunya, Dik."
Hening, Sofia berpikir sebentar.
"Alhamdulillah kalau saudaranya selamat," ucap Sofia lega. "Tapi, masalah motor baru ... gimana kalau iPhone-nya diselesaikan dulu?"
"Ah, masa enggak bisa, Dik? Saya butuh banget, loh, Dik. Jarak dari rumah ke warkop lumayan jauh," pinta Baron. "Insyaallah, nanti kebaikan Dik Sofia diganti berlipat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala."
...
"Gimana, Dik?" Binar matanya penuh harap.
Sofia masih diam.
"Kan, saya janji transfer uang tiap bulan. Apa Adik tidak percaya?"
Baron menelisik wajah Sofia.
Sofia tersenyum, merasa iba. "Oh, bukan begitu, Mas. Saya yakin Mas Baron orang baik."
Baron melempar tersenyum lega.
"Boleh saya pikir dulu, Mas?" tanya Sofia.
"Monggo, Adik Sofia Sayang," ucap Baron selembut embusan bayu.
Dada Sofia berdesir bak pasir tertiup angin, setelah mendengar kata sayang. Seumur hidup Baron merupakan orang pertama yang mengutarakan tepat di depannya.
**
Sepulangnya dari Garden Party Bunga Kertas
"Ke mana, ya, kok ndak bisa dihubungi?" Sofia bergumam diikuti perasaan gusar.
“Apa dia marah karena kemarin aku ndak bisa bantu ngereditin sepeda motor?” Sofia menerka-nerka.
"Kamu kenapa kok mondar-mandir?" tanya Mia baru pulang dari garden party.
Sofia tersentak. "Eh, enggak apa-apa, Ma."
Mia mencurigai gestur Sofia yang tidak biasa. Tetapi, wanita ayu itu memilih diam sementara. Ia membawa rasa penasarannya ke kamar mandi. Sekadar cuci muka agar debu-debu dari luar tak mengotori kulit mulusnya.
Sedangkan, Sofia menatap kosong ke arah perapian tua tanpa nyala di tengah ruangan. Pikiran berkelana ke mana-mana, ia bingung mengapa semua akun sosial media Baron lenyap selama tiga hari belakangan? Padahal, besok jatuh tempo pembayaran kredit ponsel yang kedua. f*******:-nya tidak ditemukan, w******p centang satu ditambah tak muncul foto profil. Ditelepon nomor biasa, pun, tidak aktif. Artinya, Sofia diblokir?
Bulan lalu, Baron sudah membayar satu juta rupiah. Please, masih sembilan belas kali cicilan. Siapa yang mau membayarkan sisanya? Sofia baru saja lulus, belum memegang pekerjaan. Minta pada mama tidak mungkin. Tidak mungkin juga, kan, Baron berniat jahat.
...
"Jujur, ada apa?" tanya Mia membuyarkan lamunan Sofia.
Sofia membisu.
"Jawab!" bentak Mia dengan mata mendelik.
"Ma ...," ucapnya lirih, tertunduk sambil memilin ujung kaos.
"Jawab, Sofia!" bentak Mia.
Sofia mengangkat dagu. “Ii-iya, Ma. Sofia cerita ….” Kelopak matanya dipenuhi cairan bening yang hampir tumpah.
Mau tak mau, Sofia membuka mulut meskipun berat, terbata-bata. Toh, siapa lagi yang menjadi tumpuannya di saat seperti ini. Perlahan, ia beberkan semua kisah tentang hubungannya dengan Baron selama sebulan. Kata demi kata, ia rangkai diselimuti penyesalan penuh.
Rasa takut menjalari seluruh tubuh Sofia. Tubuhnya gemetar bersamaan kelembapan di area telapak tangan, dingin. Selama ia bercerita, sang ibu hanya menyimak seraya mengatur nafas naik-turun karena menahan mulut agar tidak buru-buru memaki.
…
“Kamu itu ditipu!” Mia menoyor kepala Sofia dengan jari telunjuknya, sangat keras.
"Sekarang, ya, kamu yang bayar cicilannya selama sembilan belas bulan!" seru Mia bersidekap.
Sofia berlutut memeluk kaki sang ibu, bulir-bulir bening tumpah ruah membanjiri pipi. "Maa, please, bantu aku. Aku ndak mau masuk penjara, Maaa."
…
…
…
"Aa-aaku ndak punya uang buat bayar ...," ungkap Sofia di antara isak tangis.
Mia bergeming, air mukanya sangat kecewa. Susah payah cari uang sebagai single parent untuk membiayai anak, malah dibalas peristiwa seperti ini. Bagi Mia uang 19 juta gampang dicari, tetapi kepercayaan sulit diberi. Ia merasa ditipu oleh darah dagingnya sendiri atas ketertutupan atau sikap tidak jujur Sofia. Terpukul, sang anak belum bisa membawa kebanggaan di hati.
"Sudah sabar selama ini mama membersamaimu. Lalu, kamu rusak lagi dengan hal bodoh macam ini. Hah!" teriak Mia diikuti nafas memburu.
“Kapan, sih, kamu bisa ngurus hidupmu? Hah!”
“Aku malu belasan tahun memiliki anak sepertimu!”
Sofia menangis tersedu-sedu, celana Mia dibasahi oleh air mata. Tiba-tiba nyeri maha dahsyat tercipta di palung hati gadis itu. Sang ibu mengatakan, malu memiliki anak seperti dirinya. Sofia kian merasa menjadi orang tak berguna. Apa harusnya dia tak dilahirkan saja, bila orang tuanya selalu merasa malu? Apa memang dulu dia benar-benar tak diinginkan lahir ke bumi? Apa Tuhan sudi memungut anak tak berguna seperti dia? Apakah ada lelaki yang bertekuk lutut tulus mencintainya, sementara dia merasa tak memiliki alasan untuk dicintai?
"Kamu harus membayar perbuatanmu!" seru Mia sembari melepas paksa kakinya dari pelukan Sofia.
“Maaa!” pekik Sofia sambil melepas kepergian Mia dari hadapannya.