Gadis Kecil Tepi Danau

1059 Words
Sebelas Tahun Silam di Kota Hujan, Bogor. "Buka bajunya!" titah Mia kepada gadis kecil berusia tujuh tahun. Gadis berkulit kuning menggeleng pelan sembari menggigit bibir bawah. "Buka halaman aja salah! PR-mu itu halaman 25, Bodoh! Bukan halaman 40!" pekik Mia sambil meremas kasar lembaran halaman 40. Gadis itu mendongak dalam diam ke arah paras ibunya dengan sorot mata ketakutan. Lalu, ia lekas tersenyum, "Maafin, Sofia, ya, Maa. Ii-iya, aku cari dulu, tapi jangan buka baju, pleaseee!" pintanya. Sofia membalik mundur lembaran pelan-pelan, mencari halaman 25. Ketika membelai kertas, tangannya tak henti gemetar karena makian ibunya barusan. Tikar merah muda tergelar di atas rumput-rumput kecil yang tertanam subur pada tanah cokelat. Seluas mata memandang, memang menyejukkan pikiran. Mia sengaja menyempatkan waktu weekend bersama si anak. Wanita bertubuh sintal ingin si anak dapat berpikir sejernih air danau yang mana memantulkan panorama pohon-pohon menjulang di tepinya. Juga, pantulan lukisan langit biru seakan-akan berpindah ke perairan. Keinginan wajar, sebab hampir semua nilai-nilai mata pelajaran si anak di bawah rata-rata, terancam hampir tidak naik kelas. Hatinya super cemas. Pepohonan berbatang kecil mengelilingi ibu dan anak yang bernaung di bawahnya. Mereka bersila sembari menyerap sinar matahari yang hangatnya masih kalah oleh embun pagi. ... "Koe pikir semudah itu ngasih maaf? Buka bajumu, Sofia!" titahnya. Mia melempar piring putih di depannya. Apel-apel hijau berserak di atas rumput. Pisau terpental entah ke mana. Sofia tersentak seperti orang baru bangun tidur akibat mimpi buruk. Dihempasnya buku paket dari hadapan. Kemudian, kedua tangan mungil Sofia mendesak ke arah dadanya sendiri. Sofia menggeleng lagi. "Dingin, Ma ...." ucapnya lirih diikuti mata berkaca-kaca. "Buka!" bentak Mia sambil mendelik ke arah dua manik cokelat tak berdaya. Seluruh tubuh Sofia gemetar sebab terlalu takut. Terpaksa menuruti ibu, baju bergambar kelinci lolos dari badannya. Kini, hanya tinggal kaos singlet dan celana jeans. Ia merangkul kedua lengan sembari mengusap-usap agar sedikit tercipta hangat. Raut wajahnya sendu. "Bagus! Kalau sampai ada kesalahan lagi ... liat aja, hukumannya bisa lebih parah dari ini!" Mia mengancam, menunjuk mimik Sofia yang tengah memelas. Mia membuang nafas kasar sembari mengatur detak jantung. Jari lentiknya membuka lembaran halaman 25. "Satu keping uang lima puluh rupiah setara dengan?" tanyanya, nada suara mulai rendah, tetapi ekspresi datar menatap Sofia. Tiba-tiba kandung kemih Sofia bereaksi ingin buang air kecil, mungkin gugup. Ia tahan sambil mengamati empat pilihan ganda bergambar uang kertas dan uang logam di buku paket. Sofia menghadiahi senyuman walaupun hatinya getir. "Pasti jawabanku benar, Ma!" serunya dengan air muka berseri-seri. "Kan, aku anak Mama tersayang, aku berusaha bikin Mama senang!" “Kata Pak Ustad, menyenangkan hati orang tua dapat pahala!” celoteh Sofia bercerita tentang guru agamanya. "Jawabannya C, Maa!" seru Sofia ceria, tertera gambar tiga uang logam dua puluh lima rupiah. ... PLAK! Buku paket tebal mendarat tepat di batok kepala Sofia, hingga tubuh mungilnya terjungkal. Rasa nyeri menjalar ke semua tubuh Sofia, terutama kepala. Sensasi pusing timbul seolah-olah bintang-bintang mengitari kepalanya. Ia hanya memegang erat bagian yang sakit, tak peduli cairan merah menjalar bersamaan dengan aliran air mata. “Maa … Maa,” ucap Sofia selirih embusan angin. Rautnya mengiba. "Dasar! Nggak berguna! Harusnya mati aja koe dari dulu saat melahirkan, biar aku nggak susah payah bayar sekolah!" hardik Mia tanpa belas kasih. “Bayarin sekolah sebenernya tugas papamu!” DEG! Ucapan sang ibu membuat seluruh tubuh Sofia luruh seakan-akan tak dapat digerakkan. Muncul rasa nyeri di dalam sana, hati. PLAK! Mia memukul sangat keras di bagian yang sama. "Mamaa, ampun, sakit ...!" Sofia berteriak. Rasa memar kian terasa di bagian pelipisnya. "Buka singlet dan jeans-mu!" titah Mia sambil menjambak rambut Sofia, sekaligus membuka paksa pakaian anak malang itu. "Ampun, Maaa!" Udara masih lembab, kini anak manis hanya memakai celana dalam. Bak singa lapar, Mia menyeret tubuh Sofia ke arah danau yang terletak tidak jauh dari pandangan. Tak peduli sendi-sendi anaknya melemah. Gadis kecil menjerit diikuti isak tangis tak berdaya melawan kekuatan lebih besar. Terseok-seok kaki kecilnya mengikuti langkah Mia. … Sesampainya di tepi danau keberingasan justru tak terbendung. BYUR! Mia menceburkan Sofia. Tubuh anak itu terhuyung, ditambah hidung tersedak oleh air, tetapi sekuat tenaga berusaha berdiri mengatur keseimbangan. Tangisannya tak meluluhkan hati Mia. Beruntung, tinggi air hanya mencapai sebatas perut si anak. “Maaaa … Maaa, huaaaa!” jeritnya sambil melambaikan kedua tangan, semacam meminta pertolongan. “Jangan menepi! Di sana aja sampai pintar!” titah Mia. “Satu keping uang lima puluh rupiah setara dengan dua keping uang dua puluh lima rupiah. Gitu aja kamu nggak bisa mikir!” caci Mia. Beberapa orang di area piknik menyaksikan perbuatan kejam Mia, banyak yang memilih diam. Ada juga yang hanya geleng-geleng. Seorang bapak paruh baya menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh. Iras khawatir tergambar jelas. “Buuu … Ibuu! Ya, Allah. Kasian itu anaknya kedinginan ….” Si bapak beringsut ke tepi danau sambil melambaikan tangan. “Sini, Nak. Sini, Sayang. Kemari, Nak. Enggak apa-apa, sini!” seru laki-laki paruh baya. Mia bergeming sembari mengatur nafas. Menurutnya, itu hukuman yang pantas. Ada rasa puas menguasai dirinya. Bahkan, bisa dibilang sangat puas! Ia berharap Sofia memiliki dorongan belajar lebih setelah ini. Perlahan, Sofia berusaha meraih tangan si bapak. Tangis si nona kecil tidak sekencang sebelumnya, sebab tenaga teralihkan menahan dingin air. Suara gadis bertubuh ringkih tak kuat menjerit. Kabut tebal di sekeliling perairan menyebabkan suhu rendah. Sofia berkemih di sana. “Pakde, aku pipis …,” ucap nona kecil sambil mewek. “Ndak apa-apa, Nak! Sini, ndak bapak marahi kok,” jawab laki-laki berbaju cokelat. Tak lama kemudian, Sofia berhasil menepi ke darat. Si bapak memeluk erat Sofia sembari mengusap-usap punggungnya. Wanita berkerudung tosca seumuran laki-laki itu memberikan handuk putih seukuran orang dewasa. Mungkin, itu istri si bapak. Sofia merasa aman, meskipun sementara. Ketakutannya berkurang drastis. Andai saja, dua orang itu adalah orang tuanya, pastilah bahagia, begitu pikir Sofia. Ia menyaksikkan ibunya bergeming, tak berusaha menolong atau pun menenangkan. Hari ini merupakan hari terhancur sepanjang hidup Sofia. Tetapi aneh, gadis itu tidak sanggup membenci orang yang telah melahirkannya. … “Kalau sudah, mobil saya di sana, Pak!” titah Mia mulai bersuara. “Ini hukuman buat dia karena malas belajar! Nilainya jelek terus!” Mia mengentakkan kaki, lalu beranjak menuju parkiran. Selama hidup seatap bersama sang ibu, Sofia tumbuh dengan bentakan, cacian setiap hari. Sikap Sofia hanya diam, tersenyum, tanpa melawan dengan perkataan kasar. Tetapi, hatinya terus berkecamuk tanpa jeda, tanpa ada yang tahu kemelut diri si gadis kecil, selain Tuhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD