Dua Hari Setelah Kejadian Kejam di Danau, Sebelas Tahun Silam, 1999
"Mau apa lagi kamu ke sini? Hah!" Mia membentak seorang laki-laki berpakaian lusuh, dialah Broto, mantan suami.
"Aku cuma mau bertemu anakku. Mana Sofia?" tanya Broto tenang bak genangan air.
"Kamu nggak pantes jadi orang tuanya Sofia, Mas!" hardik Mia melengking, serta penuh kebencian kepada lelaki tampan.
"Apa kamu pikir sudah pantas jadi seorang ibu, Mia? Anakmu bisa tekanan mental dimarah-marah terus ...," ungkap Broto, masih dalam intonasi rendah.
Pintu berbahan jati menjadi saksi. Gadis kecil menempelkan telinganya di sana. Berusaha menyerap apa pun perkataan yang masuk dari balik pintu kamar bercat merah muda.
Awalnya, lamat-lamat terdengar, meskipun tidak semua dia tahu. Lalu, perlahan menghilang bak ditelan bumi. Mungkin, dua orang dewasa itu sengaja menjauhi kamar anak semata wayangnya.
"Nona Cantik ...," ucap wanita muda berusia 20 tahun menepuk bahu si nona. "Minum obat dulu, yuk!" bujuk Inayah, asisten rumah tangga.
Sofia mengangguk. “Mbak Inayah, kenapa mama dan papa berteriak setiap hari?” tanya gadis kecil diikuti mimik tak berdosa.
Inayah tersenyum sambil merengkuh bahu Sofia. “Mereka lagi ada masalah, Non. Nanti kalau masalah reda, pasti nggak gitu lagi. Udah, yuk, lekas istirahat!" ajak wanita berdaster dengan lembut.
Sofia mengangguk. Semenjak kejadian dua hari lalu, nona kecil izin absen sekolah karena demam tinggi. Kata dokter, tekanan batin dapat menyebabkan daya tahan tubuh lemah. Dokter membaca dari gestur tubuh serta air muka anak bahwa jiwa Sofia butuh pertolongan.
Mia hanya bercerita kepada dokter, bahwa dirinya memarahi anak karena berenang terlalu lama di danau. Sungguh, Mia tak memiliki belas kasih, karena sempat-sempatnya mencari kesalahan anak tak berdosa.
“Sabar, ya, Sayang. Doakan mamamu supaya hatinya dibuka biar nggak teriak-teriak lagi,” ucap Inayah sembari mengusap lembut rambut Sofia.
Hati Sofia menghangat dalam pelukan Inayah. Satu-satunya tempat pelarian ketika ibunya mengamuk.
**
Setelah Tertipu Dua Puluh Juta Rupiah, 2010
"Kerjaan apa yang bayarannya besar untuk lulusan SMA? Sepuluh juta gitu." Sofia terkekeh, bermonolog sambil mengetuk-ngetukkan bolpoin ke pelipisnya.
Ia membuang nafas pelan. "Penjaga outlet minuman pinggir jalan ... atau pengantar makanan di restoran?" Sofia berpikir keras, sesekali memutar bola mata.
Semenjak satu jam lalu, Sofia masih terpaku di depan tumpukan koran-koran edisi terbaru. Kolom-kolom job vacancy dilingkari bila ada kemungkinan ikut, disilang bila tak relevan sama sekali. Bisa saja, ia menjadi pegawai Mia, tetapi rasanya tidak mungkin. Bukankah Outlet kosmetik butuh penampilan menarik.
Dalam waktu sangat dekat ini, Sofia mengharuskan dirinya mendapat pekerjaan. Pasalnya ia harus membayar cicilan iPhone milik Baron sebesar satu juta perbulan selama sembilan belas bulan. Bagi pengangguran seperti Sofia jumlah tersebut sangat banyak.
Sofia ingin mendapat pekerjaan yang tidak terlalu banyak melibatkan hubungan sosial, tidak juga mengutamakan penampilan fisik, apa lagi pengalaman. Syaratnya, mayoritas pekerjaan mensyaratkan itu semua. Astaga!
Pandangan si gadis berpindah dari koran ke sebuah lukisan bergambar bunga layu yang bertengger di tembok bercat kuning emas. Terlukis dedaunan menguning disertai bintik-bintik cokelat, dan akarnya mencuat sepanjang bagian atas pot.
"Aku kayak bunga itu. Payah dalam semua hal. Asmara ditipu, pendidikan kacau, mukaku juga ... ah, sudahlah." Sofia menghela nafas kasar sambil memerosotkan punggung dari sandaran sofa.
Filosofi versi Sofi, yaitu daun menguning pertanda terlalu banyak air. Sama seperti dirinya, terlampau hal-hal negatif terserap ke otak. Pun, akar mencuat artinya tanaman membutuhkan pot lebih besar, butuh penanaman kembali. Persis seperti hidup Sofia, butuh kehidupan baru. Misal sebuah pernikahan. Seorang istri dari suami baik, bukan lagi seorang anak dari ibu ditaktor.
"Gimana mau dapat pacar, wong anak laki-laki di sekolah aja ilfeel deketin aku ...." Tatapan Sofia datar sambil mencoret-coret koran ke arah tak beraturan.
"Ketipu! Kirain bakal dapet suami yang wajahnya kayak orang Turki. Ealaaah! Malah dapet orang Turki kecemplung got. Item kayak areng. Sudah begitu jahat pula ... Siiib, nasib!" Sofia terus bermonolog, bibirnya komat-kamit seperti mbah dukun.
Hari ketiga sejak ketahuan menjalin hubungan dengan Baron, Sofia tidak berani menyapa ibunya. Pun, Mia akhir-akhir ini sibuk meeting di luar bersama rekan-rekan bisnis. Jadi, jarang terlihat di rumah.
Sofia sudah biasa diurus oleh Inayah, asisten rumah tangga, yang setia menemani selama 11 tahun. Ia masih berpikir keras. Bagaimana cara mendapat uang. Ibunya tidak ada tanda-tanda ingin membantu. Sisi lain, Sky Park Store sudah memberi kelonggaran bulan ini, boleh telat seminggu. Itu artinya sisa waktu Sofia adalah lima hari lagi.
TOK! TOK! TOK!
"Assalamualaikum," sapa seorang laki-laki muda.
Drama monolognya buyar. "Siapa, sih, lagi pusing gini malah bertamu." Sofia berdecak kesal.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Sofia.
Sofia beringsut menuju ke pintu utama. "Cari siapa, Pak?" tanya Sofia berusaha ramah sambil mengamati sekilas sosok asing di depannya.
"Bik, Bu Mianya ada?" tanya lelaki berkemeja rapi sambil membawa tas jinjing.
"Bik? Aku dipanggil Bibik,” gerutu Sofia pelan sekali. Orang itu tidak dengar.
Sofia melirik jam bulat yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi mama pulang, Pak. Silakan masuk," ujarnya sembari mundur beberapa langkah, beri jalan untuk tamu itu.
Sofia membatin. Mungkin, rekan bisnis mama atau orang mau melamar jadi pegawai mama.
Kata Inayah, majikannya pulang kira-kira pukul 20.00. Sekitar 15 menit lagi datang. Hal tak biasa, berangkat pagi, pulang malam. Maklum, 50 outlet di kota-kota besar tengah banjir orderan, sehingga butuh waktu lebih untuk menata. Biasanya, sebelum magrib sudah di rumah.
Belum duduk si tamu, dia berkata, "Maaf, sebentar. Tadi panggil bu Mia siapa? Mama?" tanya lelaki berkulit putih kemerahan.
Sofia memberi anggukan kecil. "Kenapa, ya, Pak?"
"Subhanallah, maaf, saya kira ART rumah ini. Maaf, ya, Dik!" Air muka lelaki berusia dua puluh lima merasa tidak enak.
"Oke, ndak apa-apa. Silakan duduk, Pak. Saya sudah biasa dianggap sesuatu sama orang-orang. Dianggap pemulung pernah, pengemis. Apa lagi, ya.Banyak deh, pokoknya pada nggak percaya kalau saya anaknya bu Mia, hehehe." Sofia menertawakan kisahnya sendiri. Ya, merasa lucu saja.
Jelas saja tidak dikira remaja delapan belas tahun. Sofia mengenakan daster batik sobek di bagian lengan, rambut panjang acak-acakan seperti dipaksa dikumpulkan di ujung kepala. Belum lagi wajah kusam si gadis, karena jarang mandi. Tidak terawat sekaligus berjerawat. Penampilan membuat dia tampak 30 tahun lebih tua dari usia asli.
Si tamu merasa matanya terganggu dengan penampilan perempuan muda di depannya. Tetapi, ia memilih diam. Sempat bertanya-tanya, mengapa anak dan ibu jauh berbeda. Ia berpikir, gadis ini mungkin mengalami hal-hal pedih, sampai lalai merawat diri.