"Ma, kenapa?" tanya Sofia heran, lalu memungut ponsel yang dijatuhkan barusan.
Mia bergeming.
"Ma, maaf dan makasih banyak. Aku janji ndak ngulangi." Ragu-ragu Sofia merengkuh tubuh ibunya, didekapnya erat.
Mia menggeliat tak nyaman dengan pelukan itu. Tanpa disuruh, Sofia melepas kedua tangannya. Ada yang aneh semacam merasa ditolak. Gadis itu menggigit kuku-kuku hitamnya karena salah tingkah. Sofia, kapan terakhir potong kuku? Astaga.
"Apa yang mama lakukan untukmu hari ini harus dibayar dengan hal besar. Kamu harus masuk kategori lima besar seleksi tes kedokteran UNAIR ...," jelas Mia sembari menatap lekat manik Sofia. "Inget! Yang tes se-Indonesia," tambah Mia sambil memutar tubuh, berniat keluar kamar.
DEG!
Lima besar? Batin Sofia.
Apa lagi ini? Sofia terperanjat. Mengapa hidupnya selalu dipenuhi drama kejutan tak disangka, sih? Ada saja hal yang membuat jantungnya seolah-olah bengkak, berdegup-degup karena terlalu kaget.
Lolos saja sepertinya mustahil, ini malah ditarget lima besar? Akademik bukan dunianya. Anggap saja tuntutan Mia kali ini merupakan hukuman atas perbuatan bohong ingin bertemu Clara di Kafe Robusta, padahal ketemuan sama Baron. Tetapi, bukankah hukuman yang diberikan Mia terlalu dahsyat?
Ah, lagi-lagi. Maksud Mia adalah memotivasi si anak agar sungguh-sungguh belajar meniti hidup lebih baik. But, apakah tidak ada motivasi lain? Apakah motivasi harus menenggelamkan mental si anak?
"Ma!" Sofia meraih lembut tangan Mia dari belakang, berusaha menghalangi ibunya keluar kamar.
Mia membalikkan badan. "Apa?" Mata Mia memerah. Juga, kelopak indah wanita itu lebih basah dari sebelumnya.
"Mustahil aku bisa melakukannya!" seru Sofia sembari bergelayut di tangan kiri Mia.
Mia menarik kasar tangannya. "Lepas!" bentaknya.
PLAK! Satu tamparan mendarat di pipi Sofia. Ia terhuyung. Rasa panas menjalar hampir ke seluruh wajah. Mendadak nyeri kepala belakang muncul tak tertahankan.
Terbayang masa kecil di tepi danau bak gulungan pita dalam kaset yang berputar kembali. Ia tak kuat berdiri. Sofia terduduk sejenak berharap nyeri mereda.
"Ah!" Sofia merintih sambil meremas-remas rambutnya.
Mia tak peduli, tak paham apa yang terjadi dengan si anak. "Kalau gagal lima besar, jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini lagi," ungkap Mia dengan rahang menguat, suara penuh penekanan.
Kalimat yang baru saja Sofia dengar berhasil menggerus segala asa yang masih ingin ditata. Jiwa gadis berpiyama merah terasa lepas dari raga.
Ia kian menganggap dirinya tak berharga sama sekali atau tak memiliki kelebihan apa pun. Satu-satunya orang yang menjadi tumpuan mengusir tanpa ampun.
Mia merasa harus bersikap lebih keras. Bertahun-tahun disekolahkan, tetapi penerimaan rapot selalu memalukan. Jelas, mengiris hatinya sebagai seorang ibu.
Berkali-kali, wanita itu mencarikan sekolah pengganti yang mau menerima kapasitas otak anaknya. Kerap si anak berganti-ganti bangku sekolah karena tidak mampu mencapai target standar sekolah tersebut. Kata orang-orang, sih, sekolah buangan, diisi anak-anak nakal serta malas belajar.
Dorongan belajar Sofia memang lemah. Pun, ia sangat menyadari. Kepanikan berlebih membuat gadis muda tidak fokus menyerap ilmu-ilmu di sekolah.
Sekalinya ia ingin sungguh-sungguh belajar, sekelebat muncul rekaman diri di danau saat berusia tujuh tahun. Berefek serangan nyeri hebat di kepala. Tetapi, setiap ia cerita kepada si ibu hanya makian yang didapat.
"Ya, udah, Ma. Aku pergi aja dari rumah," ucapnya lirih sambil cemberut.
Perkataan Sofia barusan semakin membuat Mia berang. "Inayah!"
Inayah sedari tadi membisu, berusaha mendekati sang majikan. "Iya, Bu."
"Bakar semua isinya!" titah Mia menunjuk lemari cokelat dua deret milik Sofia. Berisi novel-novel favorit.
Inayah meringis. "Tapi, Bu ...."
"Bakar! Sampai jadi abu!" pekik Mia.
"Gara-gara bacaan-bacaan itu, kamu males sekolah!" hardik Mia.
Sofia masih membeku, tidak menunjukkan reaksi apa pun, selain mengalir deras air mata yang menganak sungai. Bagaimana bisa tempat hiburan ketika pikirannya diterjang gundah gulana akan dilenyapkan? Novel-novel itu merupakan dunia kecilnya.
Inayah terpaksa menurut apa perintah sang majikan. "Baik, Bu."
Inayah gegas menuju ke gudang untuk mengumpulkan kardus-kardus berukuran sedang. Tak lama kemudian, ia meringkas buku-buku itu ke dalam kardus.
Wadi, sopir pribadi Mia, juga turut membantu mengangkat kardus-kardus ke pekarangan belakang rumah.
Tak berhenti sampai di situ, Mia juga memberi hukuman lain. Menyita ponsel Sofia selama dua bulan, serta tidak boleh keluar rumah sama sekali selama pelaksanaan les privat berlangsung.
**
Pekarangan Belakang Rumah
"Pak Wadi, please, jangan bakar buku-buku saya," pinta Sofia sambil memasang raut iba.
"Maaf, Non. Ini perintah ibu Mia. Saya takut dipecat. Nanti beli lagi bisa, Non ...." Wadi, pria kebapakan, baru kali ini menolak permintaan Sofia.
Wadi mempercepat langkah karena Mia melotot ke arahnya. Selama bekerja di beberapa tempat hanya Mia yang memberi gaji lebih besar.
Mia berkacak pinggang. "Bakar di sebelah sana, Pak!" titah Mia kepada Wadi sambil menunjuk pojok pekarangan.
Hunian Mia memang perumahan, tetapi belum terlalu padat. Bisa dibilang perumahan dari lahan baru. Antara rumah satu dengan lainnya saling berjauhan. Jadi, asapnya tidak toksik ke hidung orang lain. Menurut Mia tidak apa-apa hanya sekadar bakaran kertas. Lagi pula tidak setiap hari.
Sofia bersila di atas rumput sambil menatap nanar buku-bukunya yang disobek-sobek oleh Wadi. Alasan dirusak supaya lebih cepat hangus. Ia berpikir harus mengadakan acara perpisahan dengan buku-buku kesayangan.
Pribadi Introvert Juga Bisa Sukses
Istri Tak Dianggap
Perjalanan Cinta Jena
Air Mata Liana
My Tutor Please Love Me
Cinta Merah Jambu
Love In Singapore
Liana dan Liani
Dua Belas Bulan Mencari Cinta
Suluh Di d**a Marina
Sofia mengeja dalam hati judul beberapa novel kesayangan. Ia terpaksa rela melepas mereka semua.
Mia maju ke kumpulan buku yang akan dibakar. Dia menyalakan suluh dari alat pemantik api. Kemudian, perlahan mendekatkan ke kertas-kertas tersebut. Awalnya api kecil, beberapa menit kemudian semakin membesar.
Dua puluh menit kemudian, api berukuran setinggi betis orang dewasa. Kobaran si jago merah melahap semua lembaran-lembaran milik Sofia.
Hati Sofia dongkol. Percuma menangis sebab buku-buku berharga itu tak bisa kembali. Gadis itu memilih meninggalkan pekarangan belakang.
"Rumah ini bagus, tapi kayak neraka." Pandangan Sofia mengitari hampir semua sudut-sudut rumah.
Wajah Sofia sangat layu. Ia sama sekali tak memiliki semangat hidup. Ia bingung mengapa Tuhan belum menolongnya. Mengapa ia harus hidup bersama ibu sekejam Mia. Seolah-olah tanpa kasih sayang sama sekali.
Akhirnya, gadis itu telentang di keramik ruang tengah. Cukup begitu saja badan terasa sejuk. Tidak perlu mandi.
"Andai ... tiba-tiba dateng laki-laki ganteng turun dari langit. Terus, dia nolongin bebanku. Nikah ama dia, bahagia ama dia ...." Sofia tersenyum kecut. "Mana ada, ya? Cuma di drama korea doang ...," gerutunya.