Gerah!
"Haus, mau ambil air minum dulu, ah!" Sofia protes dengan mata terpejam, tetapi pikirannya terjaga.
Bangun tidur seluruh badan Sofia terasa lengket serta berkeringat. Beberapa bagian gatal-gatal. Ia menggeliat di atas kasur sambil menggaruk-garuk leher, perut, rambut, serta bagian lain.
Musim kemarau bulan ini terasa sekali panasnya. Meskipun masih pagi suasana membuat orang mudah berkeringat. Sofia sengaja mematikan AC dini hari tadi, karena tidak enak juga full AC 24 jam. Kadang kulit butuh udara alami.
Hari ini jam delapan merupakan tatap muka pertama kali kegiatan belajar mengajar bersama guru les. Sofia meraih cepat ponsel dari bawah bantal karena ingin mengecek waktu.
Ah, ternyata masih jam tujuh. Sofia beusaha bangkit menuju duduk. Cairan putih mengering di ujung bibirnya. Pantas saja ia merasa ada yang mengganjal. Tetapi, Sofia tak peduli.
Tak butuh waktu lama, Sofia beringsut keluar kamar menuju ke dapur dengan langkah malas. Bosan berada di kamar, ia rindu suasana dapur. Area belakang memiliki desain saling berdekatan antara dapur, meja makan, serta kamar mandi untuk mempermudah gerak.
Ketika adrenalin terpacu untuk segera membasahi kerongkongannya yang sangat kering. Sofia mempercepat langkah terlihat buru-buru sebab tak sabar menuju ke kulkas. Tiba-tiba ....
BUGH! Secara bersamaan ....
"Aduh!" seru Sofia. Dahinya terantuk tulang selangka, dua tulang menonjol bawah leher milik orang itu.
"Innalillahi!" seru lawan tumbukannya.
Sofia terpental karena menabrak tubuh besar seseorang. Tepat saat Sofia melewati ujung ruang tengah akan belok ke dapur. Dari arah berlawanan muncul si tubuh besar yang juga melangkah terburu-buru. Tembok belokan menghalangi pandangan, sehingga bila tidak hati-hati bisa saling bertumbukan.
Orang itu juga sama terkejutnya, tetapi ia hanya mundur dua langkah. Sedikit terhuyung.
...
Tangan berotot berwarna putih kemerahan mengulur ke arah Sofia. "Maaf, nggak tau, Sof? Mari, saya bantu," ucapnya sembari mengusap area tulang leher. Lumayan nyeri sedikit karena terbentur batok kepala Sofia.
Sofia mendongak ke arahnya. "Ndak apa-apa, Pak Alif," ucap Sofia meringis sambil mengelus-elus jidat.
Alif menarik tangannya, tak jadi membantu Sofia berdiri. "Oh, bisa beneran?" Ia memastikan. Mimiknya menunjukkan rasa bersalah.
Sofia berusaha berdiri sekuat tenaga, sensasi pusing lumayan terasa. "Ii-ni, tadi ss-saya ... kulkas ... ke sana, haus ...." Jari-jari tangan Sofia bergerak ke kanan ke kiri tanpa arah. Ia hanya berusaha menjelaskan dengan gerak, tetapi masih oleng.
Sofia masih meringis karena merasa sangat pusing. Alif membalik badan. Lelaki itu melangkah cepat ke arah meja makan tepat di belakangnya.
"Duduk dulu, sini!" titah Alif sambil menarik kursi.
Sofia menuruti. Gadis itu mendekat ke kursi. Duduk, lalu memijat-mijat pelan dahinya.
Alif gegas menuju ke kulkas. Tangan kekarnya mengambil botol beling berisi air, lalu menuang ke dalam gelas. Tergopoh-gopoh mendekati tubuh Sofia yang tengah lemas.
"Minum dulu,” tawar Alif sambil meletakkan gelas di meja.
Sofia hanya mengangguk, kata terima kasih entah kenapa tercekat sebatas tenggorokan. Ia menegak segelas air dalam dua helaan nafas, hingga habis. Kemudian, gadis berbusana lengan terbuka tergugu.
"Gimana, Sofia? Udah mendingan?" tanya Alif. Tergambar khawatir pada irasnya.
Lagi-lagi, Sofia hanya menghadiahi anggukan kecil. Tersenyum renyah, berharap orang di sampingnya segera pergi. Ia merasa tak nyaman entah kenapa. Lumayan, nyeri sudah berkurang dan hati pun mulai tenang.
Alif memulai obrolan. "Tadi itu ... saya ke dapur mau ambil bolpoin ketinggalan. Kan, sebelumnya saya izin Bu Mia ke kamar mandi. Maaf, ya?" Alif refleks ingin mengusap punggung Sofia, tetapi ditahannya.
Sofia mengangguk. "Ndak apa-apa, Pak," ucap Sofia takzim sembari tersenyum kecil. "Saya juga maaf."
Murni Alif melakukan itu karena kemanusiaan sebagai guru yang melindungi murid. Lagi pula, ia ingin sekali segera beralih ke ruang tamu. Terganggu penglihatan sebab dua pundak mungil dan berisi kuning langsat milik gadis muda tersuguh tepat di depan mata.
Baru saja Alif tak sengaja sekilas melihat dua daging paha serta b****g padat mengisi celana pendek si gadis muda. Astagfirullah! Godaan iman.
Alif membatin. Ia Beristigfar terus sambil berusaha mengarahkan biji matanya ke tempat lain. Kehidupan pesantren membuat lelaki beralis tebal tak terbiasa melihat secara langsung perempuan berpakaian terbuka. Apa lagi dia anak Kyai sekaligus seorang Hafiz.
"Oke! Kalau gitu saya tunggu di ruang tengah, ya. Lesnya akan segera di mulai." Alif mengajak sembari tersenyum tipis.
Alis Sofia bertautan. "Loh, katanya jam delapan, Pak?"
"Kata Bu Mia, maju jadi jam tujuh. Enggak apa-apa, ya," jawab Alif tenang.
"Baik, Pak."
Setelah Alif berlalu hati Sofia kian resah. Ia berpikir, telah melakukan kesalahan. Bukan, bukan masalah tabrakan barusan. Gadis bertubuh seksi merasa telah tinggalkan sebuah jejak bad branding di hadapan sang guru. Ah, sejak kapan ia memikirkan branding?
Jelas saja jejak ingatan yang tak terlupakan. Rambut lebat tak teratur karena jarang disisir menimbulkan kesan gimbal. Ditambah bekas-bekas jerawat, jerawat bernanah, disertai kemerahan akibat iritasi kulit menutupi kulit kuning langsat pada wajahnya. Sehingga sangat kusam. Kilau paras Sofia bukan karena glowing melainkan produksi minyak berlebih.
"Mungkin, Pak Alif jijik liat aku. Makanya, dia kayak pengen cepet-cepet pergi," gumam Sofia seraya terkekeh.
"Ah, aku udah biasa diginiin. Emang aku jelek. Wajar aja nggak ada yang betah dekat-dekat," lanjut Sofia sembari tersenyum miring memaklumi keadaan dirinya.
Area dapur langsung berbatasan dengan taman belakang. Teras belakang rumah diisi alat penggantung berukuran sedang. Tanpa berpikir lama-lama, Sofia menuju ke sana. Ia mengambil handuk putih di penggantungan.
**
Segar!
Ya, namanya saja baru mandi. Cermin lonjong terletak di salah satu sisi pintu lemari memantulkan tubuh sintal si gadis yang temgah terbebat handuk putih tanpa lengan.
Sofia mengernyitkan dahi sambil bergantian menempelkan dua hunger yang diisi blus warna putih dan tosca ke badan. Mana yang cocok? Oh, please, Sofia ... ingin belajar atau ngedate.
Lima belas menit kemudian tidak ada hasil, kecuali hampir satu lemari pakaian bertaburan di atas kasur. Sofia menghirup nafas serakus mungkin. Sebingung itu dia memilih pakaian.
Ia membatin. Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa sibuk memilih pakaian. Biasanya juga bodo amat sama penampilan.
"Sofiaaa!" teriak Mia dari ruang tengah. "Udah ditunggu!"
Sofia segera menuju ke kenop pintu kamar. "Iya, Maaa!" Ia melongok melalui pintu kamar.
"Ini, Ma! Lagi milih baju!" teriak Sofia berbalik badan menuju depan lemari.
Putus asa, gadis remaja itu asal comot saja. Ia memilih kaos putih berbahan katun lembut model girly banget. Serta, celana pendek hitam berbahan spandeks ketat sepaha. Setelan tersebut tidak pernah dipakai sama sekali selama dua tahun. Tak lupa, ia keringkan rambut lurus kecokelatan dengan hair dryer.
Ia membatin. Tinggal ngilangin wajah berjerawat dan kusam saja. Tapi, tidak bisa instan. Tidak masalah. Begini mending dari pada tadi pas bangun tidur persis kuntilanak. Sofia cekikian sendiri.
Sesampainya di ruang tengah. Areanya lapang serta aroma wangi menguar akibar pengharum ruangan berbau lemon. Tempat kondusif untuk menuntut ilmu. Sofia melihat Alif sedikit membuang wajah setelah sebentar bersirobok dengan kedua maniknya. Tidak tahu alasannya apa.
Meja kayu luas setinggi perut Sofia tersuguh membentuk posisi duduk ideal atau tidak membungkuk. Mia menyiapkan karpet harum. Lesehan lebih nyaman. Sofia, Mia, serta Alif masih berdiri, mengobrol ringan.
"Bu Mia, saya ada permintaan boleh?" tanya Alif sopan.
"Silakan, Pak Alif."
"Biar suasana belajar lebih nyaman, alangkah lebih baik Bu Mia menemani kami ... supaya, tidak jadi fitnah berduaan," pinta Alif dengan rendah hati.
"Ah, saya percaya kok sama Pak Alif," sanggah Mia.
"Iya, Bu. Selain itu, ini ajaran agama. Selama proses belajar mengajar antara laki-laki dan perempuan dewasa tidak diperkenankan berduaan. Maaf, Bu. Bila permintaan saya berlebihan," ucap lelaki berkemeja putih dan lengan panjang digulung setengah.
"Oh, tentu, Pak. Bisa banget," ucap Mia.
"Tapi, lain waktu kalau saya pas ada meeting pagi. Gimana, Pak?" tanya Mia.
"Bisa digantiin Mbak Inayah, Bu. Yang penting nggak berduaan," jawab Alif.
"Oh, baik, Pak. Ada lagi, Pak?" tanya Mia.
Alif tersenyum. "Selama belajar saya minta Dik Sofia memakai pakaian tertutup," pintanya.
Sofia menarik senyum yang terbit sejak tadi. Susah payah dandan karena hal tabu baginya. Sekarang malah disuruh ganti. Oh, mungkin tadi Alif memalingkan wajah karena kurang nyaman dengan pakaian terbukanya.
"Gampang kalau itu," ujar Mia. Mata Mia beralih ke arah Sofia. "Sof, coba ganti baju yang berlengan. Terus, itu ... pakai celana panjang!" titah Mia lembut.
Sofia mengangguk sembari tersenyum. "Iya, Ma," timpal Sofia sambil beringsut menuju ke kamar.
Ternyata, tidak semua lelaki suka perempuan terbuka, ya. Sebenarnya Sofia merasa dongkol harus berganti pakaian. Kenapa dia dongkol, harusnya, kan, cuek aja? Toh, biasanya kemana-mana mengenakan pakaian buluk tak apa-apa. Kali ini semacam ingin dihargai usahanya. Ingin dipuji.