Tiga Kata Bukan Untuk Sofia

1028 Words
"Pak, boleh tau? Sudah berapa anak yang lolos seleksi SBMPTN melalui tangan Pak Alif?" tanya Mia diiringi wajah berseri-seri. Alif hanya tersenyum santai. "Denger-denger ada yang tembus kedokteran, kebidanan, pelayaran, akutansi. Yang lebih dahsyat mereka masuk ke universitas ternama, seperti UI, UGM, IPB, ITB, UNAIR, dan lain-lain," ungkap Mia disertai rasa bangga bergelora. Lagi-lagi Alif tersenyum. Sementara, hati Sofia membenarkan apa yang disampaikan si ibu sembari mengunyah biskuit choco chips berbentuk bundar. "Pak Alif memang hebat banget. Saya salut, Pak. Ada orang secerdas seperti njenengan. Sudahlah cerdas, rendah hati pula. Insyaallah, bapak akan dapat pasangan sepadan. Yaa, cantik, cerdas, salehah," tambah Mia. Tiba-tiba, UHUK! UHUK! UHUK! Sofia tersedak, repih-repih biskuit salah masuk. Bukan ke jalur makanan, melainkan jalan pernapasan. Tubuhnya sedikit condong ke depan sambil menangkupkan tangan ke mulut. Mia gegas menuangkan teh dari cerek ke mangkuk kecil bertelinga satu. Sementara, Alif menyumbangkan gestur tubuh khawatir serta memberi selembar sapu tangan untuk si gadis. "Sofia, kamu kenapa? Ini minum dulu," tawar Mia lembut sembari mengulurkan secangkir teh hangat. Gadis berbaju hijau menggamit telinga cangkir, kemudian disesapnya teh tersebut. Tenggorokannya terasa lebih lapang. Ah, lega! "Makasih, Ma," ujar Sofia sembari mengelap mulut dengan sapu tangan. Alif bergeming. Hanya tersenyum tipis melihat peristiwa barusan. Sofia terbatuk-batuk karena terkejut dengan tiga kata, yaitu cantik, cerdas, salehah. Ia memandangi paras wanita yang berjasa melahirkan dirinya tengah bersanding di sebelah kanan Sofia. Tiga kata semua tersemat untuk sang ibu. Kemudian, pandangan si gadis berpindah ke arah Alif. Tiga kata itu juga cocok untuk laki-laki di depannya. Cerdas, saleh, dan tampan. Atau jangan-jangan ... mereka saling suka? Sekarang lagi musim lelaki muda jatuh hati dengan wanita lebih tua. Hatinya bergemuruh bak langit mendung yang akan menumpahkan air hujan. Ayah tiri masa depan? Sofia membatin. Tiga kata tersebut tidak satu pun termasuk kategori dirinya. Ah, sudahlah. Alif menyambung obrolan setelah reda dari iklan batuk-batuk. "Masyaallah, Bu. Masalah jumlah saya nggak ngitung. Lima tahun lamanya saya mengabdi di LBB Tunas Ilmu," ucapnya. "Banyak hal yang sudah saya lewati. Jadi, yaa, agak lupa berapa anak, Bu." Alif tertawa kecil. Aura rendah hati tersembul dari lisan lelaki itu. "Bisa aja Pak Alif. Kecerdasan, kepiawaian mengatur antara job serta pesantren, apa lagi rajin solat dan hafiz ... bagi saya luar biasa," ungkap Mia. "Masyaallah, Bu. Semua itu dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tanpa izin-Nya manusia nggak berarti apa-apa. Maka dari itu, semua kelebihan sebisa mungkin, sekuat tenaga digunakan untuk ibadah supaya hidup kita berkah," ujar Alif. "Mengajar ibadah, mengurus pesantren ibadah, silah ukhuwah antara guru dengan wali murid seperti ini juga ibadah," lanjutnya. Mia manggut-manggut. Darahnya seakan-akan berdesir menimbulkan hangat ke seluruh tubuh. Perkataan Alif menghunjam kuat di bilik jiwanya. Ia berpikir, sering meninggalkan salat. Pun, tak pernah memantau ibadah putrinya. Tiga puluh menit lebih berlalu. Mereka berhasil mengadakan pertemuan evaluasi akhir pekan tentang perkembangan les privat yang telah berjalan selama dua bulan. Taman belakang rumah berisi barisan bunga-bunga mawar warna-warni. Ada merah, hitam, serta putih menambah asri hamparan rumput hijau. Mereka duduk melingkar di kursi empuk beratap langit. Mega merah di ufuk barat menghilang. Kini, terganti oleh pendar cahaya bulan purnama seolah-olah hangatnya menerobos masuk ke relung-relung jiwa. Ya, hangat. Setidaknya Sofia merasakan sikap sang ibu berbeda. Ia diperlakukan sangat lembut di depan guru. Tak peduli sebuah pencitraan atau apa. Terpenting Sofia disayang. Ingin sekali ia berterima kasih kepada repih-repih biskuit cokelat barusan, sebab jasa mereka membuat Mia menawarkan teh hangat untuk Sofia. Sofia membetulkan posisi duduk sembari menyimak obrolan dua orang dewasa. Persis obat nyamuk. Momen seperti ini sangat menenangkan, karena tidak berhadapan dengan mata pelajaran. Malam-malam lainnya selalu diisi puluhan lembaran tugas latihan dari Alif. Dikerjakan dari pagi ke pagi lagi pun tak selesai. Otak Sofia terlalu lambat mencerna. Terkadang, ia asal isi saja. Terpenting ada jawabannya. "Oh, ya. Bagaimana perkembangan Sofia, Pak Alif?" tanya Mia benar-benar ingin tahu. DEG! ... Alif tertawa kecil. "Saya bukan pesimis, tapi Sofia masih belum menunjukkan kesiapan untuk empat bulan ke depan," ucap Alif tenang. Mia gusar, tubuhnya dicondongkan ke depan. "Maksudnya, Pak?" tanya Mia tak terima. Belum dijawab Alif. Mia menoleh ke wajah Sofia. "Kamu nggak sungguh-sungguh belajar, ya?" Mata Mia melotot. "Gimana mau dapat jodoh yang bener-bener oke kalau kamu tidak punya kelebihan sama sekali," ujar Mia penuh penekanan. Rahangnya menguat. "Mana ada laki-laki yang tertarik sama kamu!" hardiknya. Sofia tergugu. Ia tak berani menatap siapa pun. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Was-was menyusup dalam hati sebab khawatir kepalanya nyeri tiba-tiba ketika mendengar makian Mia. Alif mengulas senyum. "Bu, maaf. Sofia jangan dimarahi. Kalau saya lihat dia luar biasa kok," ujar Alif dengan nada tanpa beban. DEG! Mia terdiam seraya menatap aneh sang guru. Sofia membatin. Luar biasa? Apa benar dia bisa menjadi orang luar biasa? Sofia memindai mata ke arah Alif. Debar-debar halus mengisi relung-relung jiwanya. Tak nyana, perasaan was-was serta takut perlahan memudar. Akhirnya, Sofia angkat bicara. "Pak Alif bilang saya apa tadi? Luar biasa?" Mata Sofia berkaca-kaca. "Kk-kenapa, Pak? Serius, Pak?" "Loh, serius. Ini coba lihat." Alif mengulur dua kertas. Alif memandang Mia serta Sofia bergantian. Rasa bangga kian melebar dalam benaknya. Ya, bangga memiliki murid seperti Sofia. Menurut lelaki berjambang tipis itu Sofia memiliki bakat yang membuatnya berdecak kagum. Kertas pertama berada di tangan kanan sang guru, sementara yang lain sebelah kiri. Lelaki heroik itu mengangkat kedua kertas secara bersamaan. "Ini hasil Sofia mengerjakan 200 soal Tes Potensi Akademik, lihat nilainya. Yang benar cuma 10 soal, Bu," ucap Alif percaya diri sembari menyerahkan kertas dari tangan kirinya. Mia berpikir sambil menyimak. "Sementara kertas ini, berisi sepuluh paragraf deskripsi tentang keindahan pantai. Coba Bu Mia baca dulu," pinta Alif disertai binar mata kagum yang tak dapat disembunyikan. Mia mengambil kertas dari tangan Alif. Biji matanya bergerak perlahan ke kiri dan ke kanan. Ia berusaha memahami isi kedua kertas tersebut. Mia mengulum senyum sinis. "Benar cuma 10 soal? Gimana bisa lolos kalau begini caranya." Mia mencebik ke anaknya. Mata Mia beralih ke kertas berisi tulisan deskripsi keindahan pantai. "Saya nggak ngerti ada orang bisa merangkai kata seperti ini akan jadi apa ke depannya?" Wanita itu tertawa mengejek. "Asma Nadia seorang penulis sukses, Ma," seloroh Sofia. "Mustahil! Kamu mau jadi kayak Asma Nadia. Berapa, sih, gaji penulis ...." Mia mencibir. Kalau sukses, ya, banyak, Ma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD