Pujian Pembangkit Semangat
"Sofia luar biasa, dia calon penulis berbakat. Saya aja angkat tangan kalau masalah tulis menulis. Ini sastranya dalam, tetapi mudah dipahami. Dari opening-nya saja sudah menarik," ucap Alif. "Tidak semua orang bisa seperti Sofia, Bu. Coba dukung bakat dia dari sisi selain akademik," ungkap Alif.
Mata Alif memindai ke arah Sofia. "Pernah nulis di platform online? Semisal Dreame, Dik?" tanya Alif.
Sofia mengangguk. "Iya, pernah."
"Berapa pengikutnya?" tanya Alif lagi.
"Mm ... tiga jutaan orang, Pak."
"Masyaallah, ini kamu luar biasa!" seru Alif. "Coba diperdalam lagi bakatnya. Setiap anak spesial, coba fokus ke kelebihan. Jangan merasa seperti tidak berguna. Kamu bisa, Sayang!" ucap Alif.
UPS!
Alif membatin. Ah ... kata paling belakang barusan keceplosan. Dia hanya terbiasa mengajar anak-anak usia SD.
Mata Sofia hampir lompat. Ia mengerjap berkali-kali. Tetapi, disembunyikan sensasi kejut itu. Sayang? Aduh, kenapa jantungnya berdebar-debar, ya?
"Maaf, Pak Alif. Saya ada meeting mendadak di outlet daerah Kauman." Mia meletakkan sopan dua kertas di atas meja.
Wanita ayu itu berdiri sembari menjinjing tas merah. Berusaha menyembunyikan rasa kecewa.
"Dan ... kamu, mama nggak paham sama duniamu yang tidak wajar itu. Sukanya ngurung diri, ngumpulin buku. Mama nggak ngerti," ucap Mia kepada si anak disertai mimik kaku, genangan air mulai tampak di pelupuk matanya.
DEG!
Sofia merasa sangat sensitif. Kata-kata Mia yang tidak memahami dunianya tembus ke hati bak pedang menghunus tepat di tengah jantung.
Mia berpamitan kepada Alif. Pun, Alif izin pulang sekaligus. Seperti biasa, lelaki itu menghindari berdua-duaan.
**
Tekad Seorang Ibu
Tengah malam, entah mengapa hati Sofia sangat lelah. Padahal, bulan menyapa dengan indah. Bintang pun elok saling bergurau di atas langit. Mungkin terlalu banyak hal yang dipikirkan, tetapi belum terpecahkan.
Gadis berpiyama motif bunga sakura mendengar lamat-lamat isak tangis saat dirinya selesai dari toilet. Padahal, seluruh ruang di rumah gelap. Hanya ada beberapa lampu kuning ber-watt kecil di dinding. Ia hentikan langkah, berusaha mencari di mana sumber suara?
Ia melongok ke arah ruang tamu minimalis. Sinar lampu sepuluh watt menyala remang-remang di ruang itu.
"Mama?" Sofia bergumam sembari melihat punggung wanita berbaju putih.
Wanita berambut sebahu mirip ibunya bersandar di sofa seraya menutup wajah dengan bantal hias persegi empat.
CKLIK! Gadis manis menyalakan lampu utama.
"Mama, kenapa?" Seketika isak tangis si ibu berhenti.
Mia menoleh sedikit terkejut. Wanita itu segera mengelap cepat air matanya. "Kamu belum tidur?" tanya Mia salah tingkah, wajah kusut, serta matanya sembap.
Sebenarnya, Sofia agak takut mengajak bicara. Takut salah. Tetapi, naluri seorang anak ingin mendekati ibunya bila terlihat tidak baik-baik saja.
Sofia menghampiri lebih dekat tubuh sang ibu, lalu mengambil posisi di sebelahnya. Ia menjaga jarak, karena khawatir ibunya tidak nyaman.
"Ma, mama kenapa? Mama mau aku buatin teh hangat?" tanya Sofia sangat lembut, kasih sayang tersembul dari hati kecilnya.
Mia menggeleng cepat. Ia merasa kikuk di depan anaknya sendiri. Antara malu, butuh, dan tidak bisa didefinisikan. Jika pun malu, maka malu tanpa sebab.
Sofia merayapi wajah sang ibu. Rona Mia sedikit pucat. Tergambar berbagai masalah menggunung di sana. Mungkin, perkara bisnis, atau apa pun. Ia mengambil bantal hias kotak, lalu dipangkunya untuk sanggahan kedua tangan.
Mia menoleh ke arah Sofia. "Apa kamu bener-bener mau jadi penulis?" tanya Mia diikuti mata berkaca-kaca.
"Apa kamu beneran mau jadi sastrawan?" tanya Mia, tak disangka bulir-bulir mengalir tanpa permisi dari pelupuk matanya.
"Ma ...," gumam Sofia semacam merasa bersalah, ia menunduk.
Jarang Mia meneteskan air mata di depan anak. Tetapi, malam ini hatinya benar-benar resah. Khawatir akan masa depan si anak. Ia tidak mau Sofia hancur sebab ditelantarakan laki-laki miskin yang hanya ingin menumpang hidup dari harta perempuan.
Cukup, peristiwa Napoleon membuat Mia seolah-olah ditampar berkali-kali. Cukup, pengalaman hidupnya bersama Broto dijadikan pelajaran besar. Jangan terulang ke anaknya.
Ada rasa nyeri menyeruak ketika Sofia melihat aliran air mata Mia. Ia merasa menyakiti ibunya. Mungkin, Mia sedih karena Sofia mendapat nilai TPA buruk dalam les privat. Padahal, sudah membayar mahal Alif sebesar 600.000 per 90 menit. Juga, karena Sofia suka menulis, Mia tidak suka.
Sofia tersenyum. "Ndak kok, Ma. Aku ndak ingin jadi penulis atau sastrawan," jawab Sofia berusaha meyakinkan sang ibu.
Mia berdiri. "Jadi, ya, buktikan kalau kamu bisa menjalani seleksi, perkuliahan, koas, dan lain-lain ... di Fakultas Medis," ujar Mia dengan nafas memburu.
"Buktikan, Sofia. Buktikan kamu bisa jadi anak yang mengangkat derajat orang tua," ucap Mia dengan bibir bergetar, cairan bening menggenang di pelupuk matanya.
Hening kian menampakkan kesunyian, hanya suara hati yang bising di telinga Sofia. Ia menatap lurus. Kehampaan tampak di pelupuk mata. Ia bingung harus menanggapi kalimat si ibu.
Sofia berpikir, lebih baik kembali ke kamar mengerjakan soal-soal latihan. Esok merupakan hari khusus pre tes kimia.
Mia berlalu begitu saja meninggalkan anaknya yang masih termenung di atas sofa.
**
"Aduh! Oh, My God!" gerutu Sofia sambil melotot ke satu soal kimia tentang bilangan biloks.
"Ini gimana, sih. Jawabannya ndak ada di pilihan ganda! Huh!" seru Sofia sambil mengacak-acak rambutnya.
Hampir tiga puluh menit Sofia hanya berkutat di satu soal. Telah menghabiskan tujuh lembar coret-coretan kertas HVS. Dalam dadanya berkobar-kobar semangat bahwa dia harus bisa pintar di bidang akademik. Ia tak mau melihat Mia bersedih.
Dua alis Sofia menyatu, bibir mengerucut sambil mencoret-coret rumus di atas HVS demi mendapat jawaban. Peluh mengalir ke sekujur tubuh hingga membasahi punggung serta dahinya. Bersila di atas kasur berjam-jam seperti orang bertapa di gua.
...
Sepuluh menit berlalu. Jawaban belum juga ketemu. Mata Sofia sudah sangat berat dibuka. Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Akhirnya, Sofia memutuskan pindah ke soal lain. Bukannya tambah semangat, malah loyo.
"Ah, kayaknya aku ndak sanggup kayak gini terus. Soal-soalnya susah semuaaa!" keluh Sofia dalam hening. Kecuali, suara jangkrik.
Ia membanting punggung ke atas kasur. Sofia merebah sambil menghirup nafas serakus mungkin. Kemudian, melepas ringan udara melalui mulutnya.
"Dulu, ilmuwan kimia stress ndak, ya. Aku aja udah sesek duluan ngerjain tiga soal. Itu pun belum ketemu jawabannya," gerutu Sofia.
Sofia berpikir. Bila ia tidur, maka PR dari Alif tidak akan selesai. Jumlahnya fantastis, 50 soal. Ia bangkit dari merebah ke duduk. Kemudian, meregangkan otot-otot tangan serta kepalanya.
"Aku harus bisa bahagiain mama!" serunya sambil memaksa mata tetap terbuka.
Sofia menata kertas-kertas terseral di atas kasur, semacam memulai hal baru alias biar lebih fresh. Kemudian, ia membuka buku-buku paket kimia demi memahami rumus-rumus molekul, biloks, dan lain-lain.
...
Dua puluh menit berlalu. Ternyata, jawaban soal tetap tidak ada di pilihan ganda! Semakin beralih ke soal selanjutnya, maka tingkat kesulitan kian tinggi.
"Aaaaah! Susah banget, sih, soal-soalnya! Terus gimana nasibku besok. Malu sama Pak Alif!" Sofia bergumam dalam keadaan tengkurap di atas kasur.
Tiba-tiba. "Aaaaaaaaaaaah!" Sofia meremas rambutnya sangat kuat.
Nyeri seluruh kepala begitu membebani. Ia benar-benar tak tahan. Setiap kali berpikir demi memecahkan soal, Sofia terbayang masa kecilnya di danau bersama Mia. Disentak, diseret, sampai diceburkan ke danau gara-gara tidak bisa memecahkan soal pelajaran.
Ia berguling-guling di kasur sambil menahan sakit. Bulir-bulir bening membasahi pipinya. Isak tangis tercipta sangat pedih, karena menggambarkan suasana hatinya.
Tak lama kemudian, matanya terkatup erat. Ia sudah tak tahan menghadapi soal-soal yang lebih horor dari pada demit.