BAB 2. Patah Hatinya Seorang Reinhard.

1371 Words
Dua belas jam yang lalu, Suara langkah kaki berlari terdengar memenuhi lorong koridor ruangan. Nafas seorang pemuda juga tersengal dengan keringat memenuhi pelipis wajahnya. Hatinya sedang menahan rasa kegalauan yang luar biasa. Ia ingin meminta penjelasan, apa berita infotainment itu benar adanya, atau hanya settingan belaka. “Tuan! Tunggu, Tuan!” teriak seorang lainnya, yang ikut menyusul langkah kaki pria yang dipanggilnya dengan sebutan Tuan. “Tinggalkan aku, Shem! Pergilah! Jangan ikuti aku terus. Aku harus menanyakan berita siaran langsung tersebut!” bentak seorang pria muda bernama Reinhard Meshach. Seorang pewaris tunggal perusahaan The Central Tecnology Company. Bulan depan dirinya akan ditetapkan menjadi CEO setelah kematian papanya karena serangan jantung. Tugasnya selama ini selain mengemban tanggung jawab atas perusahaan almarhum papanya, ia juga dituntut untuk merahasiakan jati dirinya. Baru saja Reinhard akan memberikan kabar pengangkatannya kepada sang kekasih yang berprofesi sebagai seorang artis bernama Delilah. Dirinya sudah melihat konferensi pers yang digelar oleh Delilah dan seorang pria paruh baya bernama Felix Federov. “Saya harus mencegah Anda, Tuan. Maaf, saya tidak mengijinkan Anda untuk mempermalukan diri Anda sendiri. Biarkan saja, jika memang Nona Delilah mengumumkan akan menikahi pengusaha kilang minyak tersebut. Anda tidak boleh gegabah. Jika Anda ingin bertemu dengan Nona Delilah, saya akan mengatur tempat dan waktunya. Tapi tidak sekarang,” cegah Shem Harkin, seorang ajudan pribadi sekaligus bodyguard keluarga Meshach. Usia Shem kini sudah menginjak kepala empat. Ia sudah mengabdi dengan keluarga Meshach sejak dirinya berusia sembilan belas tahun. Itu artinya Shem telah mengenal Reinhard, saat Reinhard baru belajar berlari. “Pergilah, Shem, jangan coba-coba kau mencegah aku. Atau, aku akan menghabisimu!” Reinhard sudah kacau, rambutnya berantakan, keringat sudah membasahi tubuhnya, pakaiannya sudah tidak karu-karuan. Dirinya terlihat sangat frutasi, ditambah lagi Shem mencegahnya untuk menemui sang kekasih. Delilah masih kekasihnya Reinhard. Baru semalam mereka bertukar peluh satu sama lain dan saling melantunkan desahan kenikmatan satu sama lain. Tidak! Ini semua pasti hanya settingan belaka, ini tidak nyata. Reinhard terus saja berusaha menyangkal kenyataan yang dilihatnya pada televisi. “Tuan boleh menghabisi saya sekarang juga, tapi saya tetap melarang Anda untuk bertemu dengan Delilah!” tegas Shem. “Saya berjanji akan mempertemukan Anda dengannya. Tapi, sekarang tenangkan dulu diri Anda. Saya mohon, Tuan, jangan seperti ini. Anda adalah seorang CEO The Central Technology Company. Perusahaan teknologi terbesar di Eropa, dengan previlege tersebut Anda bisa melakukan apapun. Bisa melakukan apapun, Tuan Reinhard! Ingat itu! Saya tetap tidak mengijinkan Anda untuk bertemu dengan Nona Delilah. Ayo ... kita kembali ke mansion saja,” ucap Shem. Shem lalu berjalan mendekat kepada Reinhard yang terlihat sedang mencerna semua perkataan Shem. Dirinya baru berusia dua puluh satu tahun. Delilah memang cinta pertamanya. Mereka sudah memadu kasih sejak duduk di bangku senior high school hingga kuliah. Saat itu Delilah selalu saja bermimpi akan menjadi artis. Karena cintanya yang begitu besar, Reinhard membantu Delilah untuk menggapai cita-citanya. Walaupun keinginan Reinhard untuk menjadi pria pertama yang menjamah tubuh Delilah tidak terkabulkan. Tapi, Reinhard tidak merasa keberatan sedikit pun. Ia tetap mencintai Delilah. Setiap harinya cinta itu semakin bertumbuh dan mengakar di relung hati Reinhard. Hingga dirinya tidak sadar jika selama ini Delilah memang hanya memanfaatkan kekayaan Reinhard untuk memenuhi ambisi dan keinginannya. Kini Delilah bertemu dengan seorang pria yang dikiranya jauh lebih mapan dari Reinhard. Pria itu Felix, yang juga tergoda dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Delilah. Saat Felix meminta Delilah untuk menjadi kekasihnya, Delilah menolak mentah-mentah. Akhirnya Felix merasa sangat penasaran dengan Delilah, dan meminta Delilah menjadi istrinya. Tujuan Delilah terkabul. Ia akhirnya dilamar oleh Felix. Pengusaha kilang minyak terkaya di Rusia. Dirinya menjadi silau harta dan melupakan kekasihnya Reinhard. “Tugasmu sudah cukup, Reinhard. Kau sudah membawa aku ke puncak dan kini aku sudah menjadi seorang super star yang akan memetik buah manis dari semua perjuangan kita,” batin Delilah tersenyum di hadapan kilatan kamera para wartawan. “Apakah kau lelah, Sayang?” tanya Delilah sambil bergelanyut manja di lengan Felix. Wajah pria paruh bayah itu memandang sendu kepada Delilah. Ia lalu mengecup singkat bibir Delilah dengan lembut dan penuh kemesraan. Hingga beberapa wartawan terdengar menggoda pasangan Hot ini. “Aku memang tidak suka dengan sorotan kamera. Tapi, jika tidak konferensi pers seperti tadi. Aku takut, pria di luar sana masih mengharapkanmu.” Felix lalu mencubit pipi Delilah dengan gemas, wajah Delilah tersipu mendapatkan perlakuan semanis ini dari calon suaminya. “Ah, Sayang ... baiklah. Hati-hati di jalan. Minggu depan aku akan menyusul ke Moscow. I love You, Baby.” Delilah lalu memeluk tubuh gagah Felix dan melambaikan tangannya saat melihat Felix mulai menaiki anak tangga jet pribadi miliknya. Impiannya menjadi seorang istri bilyuner akhirnya tinggal menghitung hari. Saat pesawat jet yang ditumpangi oleh Felix telah menghilang dibalik awan, suara langkah kaki dari belakang terdengar di telinga Delilah. Ia hafal itu langkah kaki siapa. Ia lalu berbalik dan tersenyum. Benar, yang datang adalah Reinhard. Dari jauh sekitar dua puluh meter terlihat Shem sedang berdiri di samping mobil mewah yang mengantarkan Reinhard sampai di hadapan Delilah. “Hai, Reinhard,” sapa Delilah dengan senyuman lebar. Tidak terlihat wajah bersalah sama sekali di wajah cantik artis tersebut. Penguasaan dirinya luar biasa, itu juga diakui oleh Shem dalam hatinya. “Apa berita itu benar, Delilah?” tanya Reinhard tanpa basa-basi. Tidak ada ekspresi wajah terkejut sama sekali, Delilah terlihat begitu tenang dan begitu anggun. Ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Iya, semua itu benar. Aku akan menikah dengan calon suamiku yang pasti kau juga sudah tau siapa dia, bukan?” Reinhard mengepalkan kedua tangannya saat mendengar pengakuan Delilah dengan tenang. “Lalu, apa artinya tujuh tahun hidupmu bersamaku selama ini, Delilah?” suara Reinhard terdengar bergetar. Ia tidak bisa menerima pengakuan dan keputusan sepihak dari Delilah. “Kau tetap yang terbaik dalam hidupku, Reinhard. Tanpamu aku tidak mungkin berdiri sampai seperti sekarang ini. Untuk itu aku ingin berterima kasih kepadamu, Reinhard, sekaligus meminta maaf. Aku tidak membutuhkanmu lagi. Lagi pula, kita bersama juga saat kita masih remaja, aku menganggap kalau hubungan kita adalah cinta monyet belaka. I need a man not a boy like you,” ucap Delilah. Ia lalu melangkah dan masuk kedalam mobil Rolls Royce yang baru saja dihadiahi oleh Felix kepadanya beserta dua orang bodyguard khusus dari Rusia. Wajah Reinhard seketika pias karena terkejut dengan sikap wanita yang selama ini dikenalnya begitu mencintai dirinya. Ia lalu melangkah masuk kedalam mobil. “Antar aku kembali ke kantor, Shem.” “Baik, Tuan.” Shem lalu menyalahkan mesin mobil Aurus Senat buatan Rusia milik mendiang Tuan Reinhard Meshach Senior. “Simpan mobil ini atau kau bisa memilikinya, Shem. Hanya jangan pernah memakai mobil ini lagi di hadapanku,” desis Reinhard. Sesampainya di kantor, ia lalu mengambil beberapa botol minuman beralkohol dan menggunakan Lift khusus untuk naik di rooftop gedung. Meratapi kesedihannya sendiri, bersembunyi dari beberapa pasang mata yang mengenalinya. “Aku pasti akan membalasmu, Delilah. Ternyata selama ini kau hanya memanfaatkanku. Hahahaha! Bodohnya aku, bertahan selama tujuh tahun dan menjadi sapi perahmu. Kau memang sialan, Delilah!” Reinhard berbicara sendiri, meluapkan emosinya dan tak kuasa menahan air mata yang telah ditahannya beberapa jam yang lalu. Saat Reinhard sedang meneguk minuman keras, ia melihat seorang wanita dengan pakaian begitu seksi sedang menggigil di bawah tandon drum penampungan air. “Apa perempuan itu gila?! Sialan! Ini akan menjadi trending berita jika ada yang mati di lokasi gedung perusahaanku.” Reinhard lalu mendatang dan menarik wanita tersebut dengan kekuatan penuh. Hingga tubuh wanita itu terhentak dan ia terbangun dari tidurnya yang tampak sangat memprihatinkan. Ia memarahi wanita itu, tapi seketika mulut Reinhard bungkam saat melihat wajah sembab wanita asing itu. Wanita tersebut juga bergegas berdiri sambil menyilangkan tangannya di d**a dengan tubuh gemetar. “Ada apa, Tuan? Kenapa, Anda mengusir saya?” lirih wanita itu menatap Rei dengan wajah yang ketakutan. “Apa, Anda akan menolong saya?” tanyanya penuh harap. “Aku tidak sedang menolongmu! Aku sedang menolong reputasi dan perusahaanku sendiri!” jawab Reinhard. “Lalu mengapa harus membangunkan saya? Saya, bahkan tidak mengganggu Anda sama sekali,” ucap wanita tersebut. “Karena aku tidak ingin ada gelandangan mati di Gedung ini! Apa kau paham?!” bentak Rei. “Ternyata memang tidak ada satu pun yang perduli dengan kehidupanku.” Pecah sudah tangisan wanita itu, hingga membuat Reinhard melongo dan bingung harus berbuat apa. “Hei, diamlah!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD