“Ternyata memang tidak ada satu pun yang perduli dengan kehidupanku.” Pecah sudah tangisan wanita itu, hingga membuat Reinhard melongo dan bingung harus berbuat apa.
“Hei, diamlah!” bentak Rei.
Suara tangisan Agata begitu memekakan telinga Reinhard. Ia sendiri saat ini tidak dalam kondisi yang baik. “Diamlah!” bentak Reinhard lebih keras lagi.
hingga membuat Agata terjingkat dan menutup mulutnya sendiri. Sesekali bahunya masih bergetar. Ia menahan tangisnya di hadapan pria asing yang sangat tampan tapi penampilannya tidak kalah berantakan dengan dirinya.
“Maafkan saya, Tuan,” ucap Agata lalu terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Agata sama sekali tidak dapat menahan kesedihannya. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir membasahi wajah cantiknya.
Suara helaan nafas terdengar dari bibir Reinhard yang mulai menatap prihatin wanita di hadapannya itu. “Siapa namamu? Apa yang terjadi?” tanya Reinhard, ternyata dirinya bukanlah satu-satunya manusia yang sedang terpuruk di hari itu.
“Agata. Aku, aku dipaksa menikah dengan pria tua oleh paman dan bibiku. Sepupuku juga memaksaku menggunakan pakaian menjijikkan ini.” Suara Agatha terdengar tersengal.
“Jika aku pulang, mereka pasti akan memukuliku dan kembali memerintahkanku untuk menikah dengan pria tua itu. Lebih baik aku mati, daripada aku harus menikah dengan pria tua sepertinya.” Agata kembali terisak menahan rasa sesak di dadanya.
Reinhard tidak terlalu percaya dengan cerita Agata, modus seperti ini sering kali terjadi. Bisa saja perempuan ini sedang bersandiwari di depan Rei seperti Delilah yang selama ini menipunya.
Apa yang dilakukan oleh Delilah membuat Rei tidak percaya dengan semua wanita. Tapi, mau bagaimana lagi, ia masih cinta dengan Delilah dan masih menginginkan Delilah untuk kembali dengannya.
“Benarkah itu yang terjadi?” tanya Reinhard sambil memicingkan matanya.
Agata hanya mengangguk tanpa niat untuk menjawab sama sekali.
“Lalu ke mana kedua orang tuamu? Kenapa mereka membiarkan paman dan bibimu melakukan hal buruk kepadamu?” Reinhard melanjukan pertanyaannya.
“Kedua orang tuaku sudah meninggal, Tuan.” Tangis Agata semakin deras.
“Lebih baik aku menyusul kedua orang tuaku, daripada aku di sini hidup dengan penuh tekanan dan penderitaan.” Agata merasa sangat nelangsa saat ini.
“Lalu, kenapa kau tidak melompat saja dari Gedung? Kok malah berteduh di sini,” sindir Rei memicingkan matanya saat melihat Agatha.
Agatha terkejut mendengar ucapan kejam pria dihadapannya ini. “Kamu menyuruhku untuk mati?” tanya Agatha sambil mengerjabkan kedua matanya.
“Mau mati yah mati saja, tapi jangan di sini,” ucap Rei dengan tegas.
Bagi Agatha saat ini adalah saat yang paling terpuruk dalam kehidupannya. Hidup sebagai anak yatim piatu, disingkirkan dari rumahnya sendiri.
Agatha juga bekerja untuk keluarga yang tidak pernah memandang, menghargai, bahkan menyayanginya, dan kini ia dijual kepada pria asing yang usianya bahkan lebih tua dari paman dan bibinya.
“Tapi, apa yang aku ucapkan hanya bahasa kiasan. Aku tetap ingin melanjutkan hidup dengan baik. Aku hanya ingin disayangi, tidak lebih,” lirih Agatha mencurahkan isi hatinya kepada pria asing di depannya ini.
“Nasib kita sama,” gumam Reinhard.
Tanpa sadar Rei bersuara dan terdengar di telinga Agata. Sontak Agata langsung mendongakkan wajahnya dengan terkejut.
“Hah? Apa, Anda juga akan djodohkan dengan nenek-nenek, Tuan?” tanya Agata dengan polos dan memandang Reinhard dengan prihatin.
Pantas saja Reinhard terlihat kacau dan berbau alkohol, mungkin saja Reinhard juga sedang melampiaskan kesedihannya. Ternyata, bukan hanya dirinya yang merasa sedang terpuruk dan menderita, pikir Agata.
“Apa kau gila hah?! Mana ada yang berani menjodohkan aku dengan nenek-nenek. Bisa kupecahkan kepalanya saat ini juga!” sangkal Reinhard.
Reinhard tidak habis pikir dengan prasangka bodoh gadis di hadapannya itu. Tapi seketika Reinhard merasa terhibur dengan kepolosan Agata, hingga membuat Reinhard langsung terbahak-bahak.
“Kasihan, dia juga stres. Bahkan dia sudah mulai gila.” Agata membatin sambil menatap Reinhard dengan prihatin, tapi tidak berani berkata-kata apa pun.
Tiba-tiba saja terlintas sebuah ide di pikiran Reinhard. Ia langsung terdiam dan memandang Agata dengan seksama, dikeluarkannya sapu tangan dari kantong saku kemejanya.
“Pakai ini, bersihkan make up menormu itu. Kau sudah seperti badut,” olok Reinhard.
Agata lalu mengambil sapu tangan tersebut. “Iya, kamu benar. Aku juga merasa seperti badut tadi,” ucap Agata sambil menyeka wajahnya dengan perlahan.
“Sudah jangan banyak ngomong. Ambil air mineral di sana, di tempat aku duduk tadi,” ucap Reinhard sambil menunjuk sebuah kursi kayu panjang yang sengaja dipasangnya untuk duduk, dikala dirinya ingin menyendiri.
“Baik, Tuan. Terima kasih banyak,” ucap Agata lalu berjalan dengan tertatih.
Ia tidak sadar jika ada bekas telapak kakinya tercetak di lantai setiap kali Agata melangkah. Reinhard memperhatikan jejak kaki tersebut. Ia lalu berjongkok dan mencolek bekas jejak kaki tersebut.
“Darah? Agata! Kau berdarah, bodoh!” dengus Rein merasa kalau Agatha tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
Agata langsung menoleh bingung melihat Reinhard yang tengah berlari dan langsung membopong tubuh Agata.
“Eh ... Tuan, saya bisa jalan sendiri, Tuan.” Agata berusaha menolak saat Reinhard menggendongnya.
“Diamlah! Kakimu berdarah, Bodoh!” bentak Reinhard.
Bungkam sudah mulut Agata saat itu. Reinhard lalu mendudukan Agata dan mengambil air mineral yang sempat dibawanya.
Ia juga membasahi sapu tangan, agar Agata dapat membersihkan wajahnya. Betapa panglingnya Reinhard saat melihat wajah cantik Agata yang masih terlihat sembab.
Reinhard lalu menghela nafas dan ingin menyampaikan ide gilanya. “Apa kau mau membalas semua perbuatan keluargamu kepadamu?” tanya Reinhard dengan serius.
Agata bingung. Ia ingin tapi ia masih tidak tega. Bagaimanapun mereka adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya.
“Aku tidak tega, lagi pula aku berpikir untuk mencari tempat tinggal sendiri. Mungkin memulai hidup baru akan lebih baik, aku juga memiliki pekerjaaan di gedung ini.” Agatha mulai bercerita.
“Walau pun tidak banyak gajinya untuk kami satu keluarga, tapi jika untuk diriku sendiri rasanya sudah lebih dari cukup,” terang Agata.
Tidak, tidak! bukan itu rencana Reinhard. Jika Agata menolak, maka ide untuk membuat Delilah cemburu juga akan gagal. “Kau bekerja di mana?” tanya Reinhard.
“Saya adalah cleaning service, Tuan. Apa Tuan juga bekerja di sini?” Agata tidak tau dirinya sedang berbicara dengan siapa saat ini.
“Kau tidak mengenal siapa aku?” tanya Reinhard heran, bagaimana mungkin ada pegawai di gedung ini yang tidak mengenalnya.
“Apa saya harus mengenal, Anda? Hahaha! Tuan ini aneh-aneh saja.” Agata terkikik dengan mendengar pertanyaan Reinhard.
“Baiklah, bagus kalau kau tidak kenal dengan diriku. Aku akan memerintahkan managermu untuk memecatmu besok.” Reinhard mendadak mengancam Agatha yang memandangnya bingung.
“Apa, maksud Tuan? Memecatku? Kenapa harus memecatku?”