“Baiklah, bagus kalau kau tidak kenal dengan diriku. Aku akan memerintahkan managermu untuk memecatmu besok.” Reinhard mendadak mengancam Agatha yang memandangnya bingung.
“Apa, maksud Tuan? Memecatku? Kenapa harus memecatku?” tanya Agatha tiba-tiba panik.
“Yah, memecatmu. Kau tidak akan punya tempat tinggal dan kau tidak akan punya harapan apa pun untuk masa depanmu. Bagaimana jika begitu?” tanya Reinhard kepada Agatha.
“Jika begitu? Maksudnya? Apa kamu mengancam akan memecatku karena ingin aku setuju dengan ide balas dendammu itu?” Agatha menebak niatan pria asing yang mulai tidak disukainya ini karena mendadak mengancam dirinya.
“Hem, Apa kau mau balas dendam kepada keluargamu? Jika aku membuatmu tidak memiliki apa-apa?” Suara Reinhard kini sudah tidak terdengar ramah.
Reinhard lebih terdengar seperti sedang mengintimidasi. Agata yang awalnya mengira jika Reinhard sedang bercanda tiba-tiba terdiam saat melihat ekspresi wajah Reinhard dan bergidik ngeri.
“Ke-kenapa begitu, Tuan? Kenapa Anda memaksa saya untuk membalas dendam?” Agata masih bingung.
“Sebenarnya apa keinginan Anda dari saya, Tuan? Saya hanya seorang office girl yang tidak memiliki apa-apa. Lalu Anda ingin mengambil satu-satunya pekerjaan yang menjadi harapan saya untuk hidup?” tanya Agatha dengan suara yang bergetar sedih.
Mendengar pertanyaan itu Reinhard lalu tersenyum kejam. “Menikahlah denganku, aku akan membantumu untuk mengambil apa yang menjadi hak milikmu. Kau akan mendampingiku untuk berkunjung ke Rusia dan menghadiri acara pertunangan mantan kekasihku.” Reinhard mulai mengungkapkan keinginannya.
“Untuk di lingkungan negara ini, kau wajib untuk merahasiakan pernikahan ini. Sebagai imbalannya, kau akan kuberikan lima persen saham perusahaanku dan sebuah rumah mewah untuk tempatmu tinggal. Serta, uang tabungan untuk tujuh turunanmu pun tidak akan habis. Asalkan-” Reinhard menjeda ucapannya.
“Asalkan, kau bisa membantuku mendapatkan kembali kekasihku,” tegas Reinhard.
“Kenapa? Kenapa harus begitu?” Agata terkejut mendengar permintaan Reinhard yang sangat memaksanya.
“Karena aku tidak mau dilihat terpuruk oleh mantan kekasihku! Dan karena kau tidak mengenal siapa diriku. Itu membuat aku tidak akan kerepotan di kemudian harinya. Pikirkan baik-baik Agata.” Reinhard masih memberikan Agatha kesempatan untuk mempertimbangkan, walau itu hanya bas abasi saja.
“Ini adalah kesempatan sekali seumur hidupmu. Hanya sampai kekasihku kembali saja, lalu kita bercerai. Kau akan menjadi janda muda kaya. Tanpa harus menikah dengan kakek-kakek.” Reinhard menatap Agatha dengan remeh.
“Pilihannya hanya dua, menikah denganku dan mengambil semua keuntungan yang aku tawarkan, atau pergilah dari sini sekarang juga dan bersiaplah menerima surat pemecatanmu besok pagi. Aku tidak sedang main-main Agata,” ancam Reinhard.
Entah sebuah keberuntungan atau kesialan yang kini ada di hadapan Agata. Ia lari dari pernikahan yang dipaksakan oleh paman dan bibinya malam ini. Tapi, malah bertemu dengan pria asing dan dipaksa menikah dengannya.
Hanya baju di badannya saja yang tersisa, beserta tas kecil yang berisi dompet dan sedikit uang yang juga akan habis untuk makan selama dua hari. Itu pun jika Agata mengatur jadwal makannya sehari hanya sekali. Pikirannya bingung, tentu saja saat ini Agata tidak punya pilihan apa pun.
“Hanya sampai kekasih Anda kembali saja kan, Tuan?” tanya Agata memastikan.
“Iya, hanya sampai kekasihku kembali kepadaku. Tidak lebih, mungkin saja bisa kurang dari itu jika aku merasa sudah cukup. Setelahnya kau bebas, kau bisa memulai kehidupan barumu.” Reinhard merasa sudah di atas angin saat melihat wajah Agata yang tampak bingung dan ketakutan.
“Tapi, kita tidak akan melakukan itu bukan, Tuan?” tanya Agata ragu-ragu.
Wajahnya bersemu merah menahan malu. Ia tidak mau menyerahkan kesuciannya untuk pria yang tidak dicintainya. Untuk itu Agata benar-benar ingin memastikan jika dirinya tidak akan dijamah oleh pria ini.
Reinhard tau ke mana arah pembicaraan ini, tapi Reinhard memilih untuk pura-pura tidak tau, “Apa? Itu apa? Aku tidak paham maksudmu. Bicara yang jelas, sebelum aku yang berubah pikiran. Aku akan meninggalkanmu dan memecatmu sekaligus mengirimkan data dirimu untuk di blacklist di semua perusahaan.” Reinhard tidak akan melakukannya, tapi ia hanya ingin mengucapkannya saja.
“Itu, Tuan ... maksud saya. Kita tidak akan berhubungan suami istri bukan, Tuan?” Agata memekik dan berbicara sejelas-jelasnya walau harus menahan rasa malu yang luar biasa.
“Ha?! Apa kau ini bodoh!” Reinhard lalu menjentikan jari telunjuknya ke dahi Agata hingga membuat Agata mengadu perih.
“Namanya menikah tentu saja menjadi suami istri bukan? Lalu bagaimana mungkin seorang suami istri tidak melakukan hubungan suami istri! Bodoh!” sergah Reinhard berwajah tak ramah.
“Tapi, kita tidak saling cinta, Tuan. Bagaimana bisa kita melakukannya?” Agata secara halus menolak melakukan hal seperti itu dengan pria asing di hadapannya ini, walau wajah pria tersebut sangat tampan dan tak bercela tapi tetap saja, tidak semudah itu Agata mau menyerahkan dirinya.
“Aku tidak butuh cinta untuk melakukannya.” Terkejut sudah Agata untuk yang kesekian kali mendengar jawaban dari Reinhard.
“Sudah! Jangan banyak bertanya. Berikan jawabanmu, kau mau atau tidak. Aku ingin segera pulang sekarang.” paksa Reinhard kepada Agata, dengan berat hati akhirnya Agata menganggukkan kepalanya.
Wajah sedih Agata kembali meneteskan air mata, dengan cepat Agata langsung mengusapnya. Sebenarnya hati Reinhard juga tidak tega, tapi keinginannya lebih kuat dari pada rasa belas kasih di dalam hatinya.
“Bagus, sekarang kita akan menunggu jemputan.” Reinhard lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Shem. “Jemput aku dengan Helipad, bawa aku ke Mansion. Siapkan kamar utama!” perintah Reinhard terdengar seperti orang yang sangat berkuasa di telinga Agata.
Kini Agata tak bisa berkata apapun selain hanya menatap Reinhard yang sibuk dengan ponselnya. Reinhard seolah sejenak lupa dengan rasa sakitnya kepada Delilah. Ia sesekali tersenyum dan membayangkan akan memiliki teman untuk dikerjai atau tempat dirinya meluapkan segala kegundahan selain Shem.
Yah, walaupun hanya sebentar hari tapi rasanya waktu itu sudah cukup bagi Reinhard untuk melampiaskan rasa patah hatinya kepada wanita malang yang tidur di bawah tandon di atas atap gedung miliknya.
Betapa terkejutnya Shem saat tiba dan melihat ada wanita asing bersama-sama dengan tuannya malam itu. “Tuan, ini?”
Belum sempat Shem menyelesaikan pertanyaannya, Reinhard langsung memotong ucapan Shem. “Diamlah! Siapkan berkas untuk penikahan kami besok. Aku ingin menikah paling lambat dua hari lagi. Kau harus mengatur segalanya tanpa ada kesalahan apa pun.” Rein memerintah.
“Tidak perlu pesta, hanya pemberkatan dan tanda tangan surat negara saja. Agata, naiklah ke dalam helipad!” perintah Reinhard tidak bisa dibantah oleh kedua orang di hadapannya.
Sampailah helipad tersebut ke sebuah area lapang. Tampak sebuah Mansion yang sangat megah berada beberapa kilo meter dari lokasi pendataran. Entah seberapa luas lahan ini, Agata hanya memandang dengan terpukau.
Biasanya, ia hanya dapat melihat pemandangan ini di dalam film-film saja. Tapi malam ini Agata melihat tempat tinggal megah dan mewah ini dengan kedua belah matanya sendiri.
Masih belum habis rasa kagum melihat pemandangan kota Berlin dari atas langit, kini ia melihat sebuah istana nan megah luar biasa.