BAB 5. Nikahkan Aku Dengannya.

1099 Words
Masih belum habis rasa kagum melihat pemandangan kota Berlin dari atas langit, kini ia melihat sebuah istana nan megah luar biasa. “Tutup mulutmu itu. Nanti para serangga di taman bungaku bisa mati.” Agata sontak langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Sialan, laki-laki ini,” umpat Agata dalam hati. “Tuan, kita bisa naik Buggy Car, kenapa harus jalan kaki, Tuan?” bisik Shem yang menatap heran Reinhard. Tidak biasanya Tuan mudanya ini memilih berjalan kaki menuju ke Mansion Utama. Jaraknya lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Reinhard langsung melirik Shem, seolah memerintahkan Shem untuk menutup mulutnya. Tapi, Reinhard mengingat sesuatu. “Berhenti!” Agata langsung berhenti. “Aku lupa kalau kakimu lagi terluka. Shem, ambilkan Buggy Car. Antar kami ke mansion utama.” Shem lalu menunduk dan berjalan menuju ke tempat parkiran Buggy car yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia masih tidak tau siapa gadis cantik yang dibawa pulang oleh tuannya tersebut. Dari perawakannya, tampaknya gadis itu gadis baik-baik. Tapi dari pakaiannya, Shem merasa ragu, hanya saja gadis ini tampak tidak asing bagi Shem. “Naiklah! Besok pagi kita akan ke rumahmu.” Reinhard lalu menuntun Agata dan mereka menuju ke mansion utama. Sesampainya di dalam ruangan nan besar itu Agata terlihat sangat tercengang dengan gedung megah bak istana ini. Ia tidak ingin ditegur lagi saat membuka mulutnya, Agata mengantisipasi dengan menutup mulutnya sendiri menggunakan kedua telapak tangannya. “Bersihkan dirimu, dan ini adalah kamar utama. Kamarku dan kamarmu!” Gugup sudah Agata membayangkan akan satu kamar dengan Reinhard. Tapi, ia tidak berani berkomentar. “Apa aku tidak boleh tinggal di kamar pelayanmu saja?” tanya Agata mencoba untuk bernegoisasi. Shem cukup terkejut mendengar penolakan dari wanita yang pakaian seksi di hadapannya ini. Bagaimana mungkin ada wanita yang menolak tidur dengan tuannya. Ini adalah sejarah baru, atau kah Shem sedang bermimpi sekarang? Wajah bingung itu bukan hanya tampak di wajah Shem, tapi juga di wajah Reinhard. “Kurang ajar, bisa-bisanya kau menolak untuk tidur satu kamar denganku hah?! Masuk!” perintah Reinhard sambil mendorong tubuh Agata ke depan pintu kamar mereka. Agata lalu membuka kamar tersebut dan kamar itu terlihat sangat luas. Lega sudah hatinya, Ia berpikir dengan ruangan sebesar ini, dirinya bisa tidur di mana saja tanpa harus satu ranjang dengan Reinhard. “Bersihkan dirimu, setelahnya nanti akan ada pelayan yang akan membersihkan dan mengobati luka di kakimu.” Reinhard mendengus kesal memandang Agata juga Shem yang terlihat menahan tawa. “Baiklah, Tuan, terima kasih ya. Eh, Tuan.” Agata merasa ada yang ganjil. “Apa lagi?” Reinhard berbalik memandang ketus kepada Agata. “Siapa namamu?” Pecah sudah tawa Shem yang sempat ditahannya beberapa saat lalu. Ya Tuhan, Reinhard rasanya ingin menenggelamkan kepalanya sendiri mendengar pertanyaan Agata. Awalnya Reinhard berpikir jika Agata mungkin pura-pura tidak mengetahui siapa dirinya. Tapi sekarang, rasanya gadis ini sepertinya tidak sedang berpura-pura. “Nona, apa Anda benar-benar tidak tau siapa tuanku ini?” tanya Shem untuk menyelidiki Agata. Ia begitu penasaran dengan gadis cantik yang terlihat begitu polos ini. Agata menjawab dengan menggelengkan kepalanya, sambil tampak berpikir. Lalu wajahnya berubah sumringah. “Aku ingat sekarang! Aku ingat!” pekik Agata dengan bersemangat, Shem menganggukkan kepalanya dan Reinhard langsung memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Ia tersenyum bangga dan mengangkat sombong dagunya sambil melirik Agata. “Aku ingat, Tuan! Anda adalah Shem Harkin yang biasanya pesan kopi Americano setiap pagi kan? Tuan! Apa Anda lupa dengan saya? Saya adalah office girl Anda, Tuan.” Agatha bersemangat saat melihat ada seseorang yang dikenalnya. “Apa Anda benar-benar lupa?” ternyata Agata bukan mengingat siapa Reinhard, melainkan ia mengingat Shem yang merupakan salah satu bos yang setiap pagi dibuatkan kopi americano olehnya setiap masuk bekerja. Shem tercengang dan sudah melupakan pertanyaan awalnya kepada Agata. “Ya Tuhan! Kau! Kau! Agata bukan?!” tanya Shem juga tidak kalah semangat. Agata lalu mengangguk dengan cepat sambil sesekali terlihat sangat girang. “Bagaimana kau bisa ada di sini hah? Kenapa pakaianmu seperti ini?” Shem semakin penasaran dengan sebuah kebetulan yang aneh ini. “Tuan muda ini menyelamatkan saya, Tuan Shem. Saya tadinya lari dari rumah dan kehujanan di atap Gedung kantor karena dipaksa menikah dengan pria tua oleh keluarga saya.” Agatha bercerita. “Tapi, Tuan muda ini datang menyelamatkan saya untuk memaksa saya menikah dengannya,” lapor Agata berharap akan mendapatkan pertolongan dari Shem. “Apa?! Tuan?! Apa Anda sudah gila?” pekik Shem lalu menatap Reinhard dengan penuh pertanyaan. “Apa?! Kau berani mengatai aku gila? Dan kau! Masuk, lalu mandilah! Kurang ajar! Aku mau besok menikah dengannya, laksanakan perintahku, Shem.” Diam sudah semua orang yang ada di depan kamar utama tersebut. Reinhard lalu mendorong Agata dan ikut masuk kedalam kamar tersebut. Sebelum ia menutup pintu tersebut Reinhard kembali mengingatkan Shem. “Cari data dirinya, dan nikahkan aku dengannya besok. Tidak ada kesalahan apa pun, Shem!” titah Reinhard BRUK! Pintu tersebut tertutup, sebelum Shem mengatakan apa pun. Reinhard lalu berbalik dan menatap tajam kepada Agata. “Mandi cepat atau aku yang akan memandikanmu!” Agata berlari masuk menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia menahan perih di kakinya. Tapi ia juga menahan perih di relung hatinya. Mengapa nasibnya begitu aneh dan menyedihkan? Ibarat keluar dari mulut buaya malah masuk ke dalam kandang singa, yah walaupun singanya tampan tapi tetap saja dia adalah singa. Keesokan harinya tepat setelah pulang kantor Reinhard dan Agata akhirnya benar-benar dinikahkan oleh seorang Pastor dan Shem sebagai saksi pernikahan tersebut. Tidak lupa beberapa bodyguard juga turut menjadi saksi, serta dua puluh delapan pelayan yang tinggal di mansion tersebut. Mulai hari itu terhitung sudah hari pertama Agata menjadi Nyonya Meshach. “Saya harus mendengar nama Anda dari Pastor yang menikahkan kita. Ternyata, nama Anda Reinhard. Apa susahnya mengatakannya sejak awal.” Agata benar-benar heran. Tepat dihari pernikahannya, saat itu pula Ia mengetahui nama calon suaminya. Reinhard tidak menjawab apa pun. Ia hanya menatap ponselnya dan menunggu kabar dari Shem. Ada perintah lain yang diberikan oleh Reinhard kepada Shem. Lalu terdengar suara notifikasi dari ponsel Reinhard, ia menyeringai kejam saat membaca pesan singkat tersebut. “Agata, bersiaplah. Shem sudah membelikan semua pakaianmu, pakai pakaian yang terbaik. Aku akan membawamu pergi sebentar lagi, kau akan mendapatkan kembali hakmu dan mulai sekarang jangan panggil aku tuan lagi. Reinhard! Panggil aku Reinhard, apa kau paham?” Agata mengangguk dan segera membuka walk in closet. Ia terkejut melihat deretan pakaian wanita super mewah dengan berderet sepatu mewah dan sepatu. Tapi semua ini bukanlah gayanya. Ia tidak terbiasa menggunakan pakaian semahal ini dan sefeminin ini. Jika Talia melihat isi walk in closet ini, bisa dipastikan dia akan melompat kegirangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD