Ia terkejut melihat deretan pakaian wanita super mewah dengan berderet sepatu mewah dan sepatu. Tapi semua ini bukanlah gayanya. Ia tidak terbiasa menggunakan pakaian semahal ini dan sefeminin ini. Jika Talia melihat isi walk in closet ini, bisa dipastikan dia akan melompat kegirangan.
Agata lalu memilih celana jeans yang hanya ada dua potong dengan sebuah hoodie yang sebenarnya dibelikan Shem untuk dipakai di rumah untuk sehari-hari bukan untuk bepergian.
Lalu Agata juga mengambil sepatu sneakers dan memakainya, rasanya nyaman di kaki yang masih luka itu.
Agata lalu keluar dan melihat Reinhard sedang memakai kaos hitam, tanpa sengaja arah pandangan Agata tertuju di enam roti sobek milik Reinhard.
GLEK!
Susah payah Agata menelan ludahnya. Ia lalu memalingkan tubuhnya, tidak ingin melihat pemandangan yang membuat dadanya cukup berdebar saat itu.
“Ayo! Cepetan!” panggil Reinhard.
“I-iya, sebentar,” sahut Agatha terbata-bata.
Akhirnya pergilah mereka, menuju ke suatu tempat yang terlihat tidak asing bagi Agata. “Tuan, ini kan? Arah ke rumahku?” Agata heran, mengapa dirinya diajak ke sini.
“Iya, dan panggil aku, Reinhard.” Reinhard kembali mengingatkan Agata.
“Untuk apa kita ke sini, Reinhard?” Agata masih tidak mengerti dengan rencana Reinhard.
“Untuk membalaskan dendam, dan mengambil kembali hak milikmu. Bukankah itu satu-satunya peninggalan kedua orang tuamu?” Reinhard menunjuk rumah kecil dan sederhana berwarna putih kusam dari balik jendela kaca mobil yang ditumpanginya.
Agata juga melihat ada beberapa mobil polisi dan mobil milik Shem, serta beberapa kendaraan bodyguardnya Reinhard.
Agata lalu turun dari mobil tersebut, tanpa sadar tangannya menggandeng lengan Reinhard. Rasanya ada suatu desiran yang cukup mengganggu diri Reinhard, tapi ia tetap berusaha menguasai dirinya.
Reinhard lalu membuka pintu rumah tersebut, terlihat jika paman dan bibinya kini tengah di borgol, mereka menangis dan terlihat juga Talia sangat ketakutan sambil memeluk tubuh Nona, mama kandungnya.
“Agata, maafkan kami! Selamatkan kami, Agata. Maafkan kami karena hendak menjual keperawananmu kepada lelaki tua itu, tapi jangan buat tuan ini memenjarakan kami,” tangis Nona pecah memohon belas kasihan kepada Agata.
“Sertifikat rumah milik kedua orang tuamu digadaikan oleh mereka untuk berbelanja dan adik sepupumu itu memasang videomu saat mandi di website pornografi.” Reinhard tidak berbohong.
“Semua ini adalah hasil penyelidikan dari Shem. Dengan cara itu mereka menjualmu kepada pria tua tersebut.” Fakta yang baru saja didengar oleh Agata sungguh membuat Agata benar-benar sadar.
Ia kini semakin yakin jika ketiga orang yang dianggapnya sebagai keluarga ternyata adalah orang yang paling jahat yang pernah ditemuinya.
“Kalian memang pantas untuk masuk penjara.” Agata berkata dengan pelan sambil menahan air matanya.
Ia lalu mengambil sertifikat rumah milik orang tuanya dan menatap Reinhard dengan sendu sambil menahan tangisnya.
“Kita pulang Reinhard? Aku sudah mendapatkan kembali apa yang menjadi hak milikku.” Agata lalu menggandeng dan berjalan keluar dari rumah tersebut tanpa memperdulikan teriakan dan caci makian yang keluar dari mulut kotor ketiga orang yang katanya adalah ‘keluarga’ tersebut.
Hancur, tapi lega. Itu yang saat ini dirasakan oleh Agata. Ia tau jika kini, dirinya memang sebatang kara di dunia ini. Tidak berkeluarga, tapi Agata lega karena satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya akhirnya kembali menjadi miliknya.
Agata menatap Reinhard yang sedang mengendarai mobilnya, hatinya tersentuh dengan apa yang baru saja Reinhard lakukan untuknya.
Mungkin hal ini adalah hal yang kecil serta tidak terlalu bernilai bagi Reinhard. Tapi, apa yang Agata rasakan sungguh berbanding terbalik, semua ini adalah hal yang sangat besar bagi Agata.
“Kau, tidak perlu menatapku seperti itu. Aku tau, jika aku sangat tampan.” Reinhard menyeringai sambil melirik Agata.
Seketika itu juga Agata langsung membuang mukanya dan menatap lurus ke depan sambil menahan deru genderang yang bertalu di jantungnya.
“Kau ini, sangat gede rasa, Reinhard. Tapi, terima kasih untuk semua ini.” Reinhard kembali menoleh sejenak melihat wajah cantik Agata yang diterpa oleh sinar sang surya.
“Cantik,’ gumam Reinhard yang baru menyadari betapa cantiknya wanita asing yang kini menjadi istrinya itu.
Sesampainya di rumah keduanya turun dan kembali masuk ke dalam kamar utama mereka. Disana Agata menyimpan berkas sertifikat rumah ke dalam laci nakas di samping ranjang keduanya.
Terlihat Reinhard juga sedang bersiap-siap entah kemana. Ingin bertanya, tapi takut. Tapi, jika diam saja, Agata juga bingung harus berbuat apa dan melakukan aktifitas apa.
Jika hanya di rumah saja, bisa di pastikan Agata pasti akan bosan sekali. “Reinhard, apa kau akan pergi?” Akhirnya Agata memberanikan diri untuk bertanya kepada Reinhard.
“Iyah, aku akan ke kantor. Kenapa?” tanya Reinhard sambil mengambil dasi yang akan dipadu padankan dengan kemeja biru tua yang baru saja dikenakan olehnya.
“Bolehkah aku kembali bekerja di kantor? Bukankah, ini pernikahan rahasia? Jika aku bolos maka manager ku pasti akan mencari ku, Reinhard. Kumohon, ijinkan aku kembali bekerja yah.” Agata mengerjabkan matanya beberapa kali, berharap jika suaminya itu mengijinkannya untuk bekerja.
“Tentu saja kau boleh bekerja, aku hanya mengajukan cuti sementara untukmu. Jadi kau bebas untuk melakukan aktifitas mu seperti biasa,” jawab Reinhard acuh tak acuh.
Agata seketika melompat kegirangan, tanpa sadar Agata lalu masuk ke dalam walk in closet dan lupa menutup pintunya. Ia ingin mengganti pakaiannya dan berdiri memilih deratan pakaian rumah yang tergantung di hanger lemari.
Agata seketika panik melihat semua pakaian ini, ada yang berwarna merah tua, hitam, putih, cream dan macam-macam lainnya. “Ini bukan pakaian rumah biasa.” Agata sesekali menelan salivanya dengan susah payah.
“Apa ini? Kenapa Shem memberikan aku ini semua?” pekik Agata melihat deretan pakaian tersebut dengan wajahnya bersemu menahan malu.
Reinhard yang sejak tadi sebenarnya tidak tau apa yang dilakukan oleh Agata, langsung secara spontan menengok ke arah walk ini closet saat mendengar suara Agata yang tiba-tiba meninggi.
Matanya seketika membulat besar, dengan jantung yang juga tidak beraturan. Tubuh molek Agata terlihat begitu indah, yang hanya di balut dengan sepasang pakaian dalam berwarna hitam.
Jiwa kelaki-lakiannya meronta-ronta. Ia seketika melonggarkan ikatan dasi yang telah rapi. Kakinya melangkah mengikuti nalurinya yang tidak bisa dicegah lagi.
Ia lalu merengkuh pinggang Agata dari belakang, hingga sang empunya tubuh terjingkat karena kaget. “Rei-Reinhard, mau apa kamu?” tanya Agata secara spontan menutup bagian dadanya.
Mata Reinhard telah berkabut menatap pemandangan yang begitu indah di hadapannya ini. “Aku adalah suamimu dan kau adalah istriku. Aku juga sudah membantumu, kini aku meminta bayaran ku. Aku meminta hak ku atas dirimu, atas tubuh istri ku.”
GLEK!
Agata mati kutu, tak dapat berkutik sama sekali. Reinhard lalu menurunkan kedua tangan Agata yang menutupi sebagian tubuhnya. Semakin mendekat wajah Reinhard, semakin Agata mau pingsan dan tidak berani menatap wajah tampan pria asing yang kini menjadi suaminya.
Mata Agata tertutup rapat di kala ia merasakan hembusan aroma mint dari nafas sang suami yang kini telah menyentuh bibir lembut Agata.