“Di mana, Shem membawamu, Agatha,” gumam Rei langsung menghubungi Shem.
“Di mana?” tanya Rei dengan suara yang sangat mengintimidasi.
“Di kantor, saya baru saja mengantar Nyonya,” jawab Shem juga tidak kalah dingin.
“Kenapa dia ke kantor dalam keadaan seperti itu?!” amuk Rei.
“Tanyakan sendiri, Tuan. Yang jelas, kali ini Anda sangat keterlalun, Tuan. Apa Anda tau? Jika istri adalah cerminan dari suami. Jika ada seorang p*****r yang merendahkan istrimu, maka p*****r itu pun sedang merendahkan Anda. Ingat itu baik-baik Tuan, belajarlah dewasa,” tegas Shem lalu mematikan ponselnya.
Rein langsung tercekat dan merasa tenggorokannya kering. Ucapan Shem seolah langsung menampar Rein dengan telak. Shem memang kerap kali menasehati dirinya, tapi untuk memarahi baru kali ini Shem berani memarahinya dengan tegas dan lantang.
Reinhard segera bersiap dan menuju ke kantor, sesampainya di kantor ia melihat Shem sudah menunggunya di pintu loby. Rei yang memiliki gengsi paling tinggi serta arogan, berjalan begitu saja melewati Shem.
Shem hanya mengikutinya dari belakang dan segera masuk ke dalam lift. Ada sesuatu yang hendak ditanyakan oleh Rei tapi pertanyaan itu kembali ditelannya kembali. Ia segera mengurungkan niatnya.
Memilih untuk bungkam dan masuk ke dalam kantor Rei justru membahas masalah pekerjaan tanpa mau menyinggung masalah Agatha dengan Shem.
“Bagaimana dengan berkasnya Federov Company?” tanya Rei kepada Shem seolah semua sedang baik-baik saja.
Shem juga tetap memasang wajah dingin, ia melangkah maju dengan membawa berkas di tangannya.
“Tuan, ini semua berkas kerjasama dengan Federov Company. Pesanan mereka sebanyak seratus ribu pipa stainless 304 Tuan. Sesuai dengan komposisi delapan belas per delapan industri kita.”
“Selama ini mereka selalu mendapatkan barang tiruan dari Amerika, kandungan kromium delapan belas persen dan nikel delapan persen hanya di atas kertas belaka. Stainless yang di gunakan ternyata tidak semuanya, di dalamnya besi daur ulang dan hanya dilapisi stainless dari luar.”
“Akibatnya, belum pada usia masa pemakainya pipa perusahaan mereka sudah berkarat.” Shem menerangkan detail pesanan dari calon suami sang mantan kekasih tuannya, Delilah.
“Pastikan Kromium berfungsi dengan baik Shem, untuk menyatukan oksigen di permukaan pipa dan melindungi bahan dari proses oksidasi. Jika komposisinya ada yang kurang kita tidak juga tidak dapat mencegah terjadinya karatan.”
“Kita akan bekerjasama dengan mereka. Aku, sudah tidak sabar melihat wajah Delilah. Kini hanya perusahaan kita satu-satunya yang memproduksi bahan pipa stainless terbaik di dunia, bukan? Kualitas kita tidak akan pernah bisa di kalahkan oleh para peniru Industri lainnya.” Reinhard semakin bersemangat untuk membalaskan dendamnya kepada Delilah yang telah mencampakkannya begitu saja.
“Baiklah, Tuan, saya akan kirimkan email balasannya dan akan memastikan keberangkatan Tuan dan Nyonya tepat pada waktunya.” Reinhard lantas menganggukkan kepalanya dan kembali menatap layar komputer.
Ia ingin membuka rekaman cctv yang ada di dalam kamar utama miliknya dengan Agata. Semalam tidak sempat, Reinhard menuntaskan emosi dan hasratnya dengan menggauli Katrina bahkan semalam ia berencana menggauli dua wanita sekaligus.
Saat Reinhard mengklik kursor pada rekaman itu, seketika Reinhard tertegun melihat Agata menangis dan berbicara sendiri di dalam walk in closet hingga tertidur sampai pagi hari.
Hati Reinhard seketika gelisah. Ia lalu melangkah keluar dari ruangannya dan turun ke lantai dua belas. Tujuannya adalah dapur kantor tempat istrinya bekerja.
Bergegas Reinhard berjalan ke belakang melewati sebuah lorong dan menunggu dengan tidak sabar pintu ruangannya terbuka untuk bertemu Agata. Ketika pintu ruangan terbuka terbuka, dan kakinya hendak melangkah masuk tanpa sengaja lagi-lagi Reinhard melihat Agata bersama Markus.
Agata menangis dalam pelukan Markus, terlihat bagaimana tangan Markus melingkar pada tubuh Agata. Geram, Emosi, itulah yang dirasakan oleh Reinhard.
Hingga kedua tangannya terkepal dengan keras, kakinya juga mematung di depan ruangan tersebut. Sampai akhirnya pintu itu tertutup kembali, Reinhard mengusap wajahnya dengan kasar.
“s**t! Sialan! Ada apa dengan para wanita jaman sekarang. Hahaha! Mereka sangatlah murahan. Kurang ajar! Bisa-bisanya dia bermain di belakangku.” Berkali-kali Reinhard meninju tembok luar ruangan tersebut dengan tangan kosong hingga mengakibatkan tangannya berdarah.
Reinhard berjalan dengan terburu-buru kembali menuju kedalam ruangannya dengan langkah dengan begitu lebar, dengan nafas yang memburu, wajah yang memerah, tangan juga masih terkepal kuat. Siapapun yang bertemu dengan Reinhard pasti tau jika CEO mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja.
“Shem, kau panggil Agatha sekarang menuju ke kantorku. Ke ruanganku! Sekarang juga!” perintah Reinhard lebih terdengar seperti bentakan sangking gusarnya dia.
“Baik, Tuan.” Shem menghela nafas panjang sambil menggeleng lemah.
Ada apa lagi dengan tuannya ini. Ia lalu bergegas turun ke bawah, untuk segera membawa Agata bertemu dengan tuannya yang sedang gusar.
“Kau, masuk ke dalam ruanganku saat ini juga!” perintah Reinhard kepada Selvi sang sekretaris.
“Tu-tuan memanggil saya?” tanya Selvi menahan gugup melihat Reinhard begitu gusar.
Dua bundel uang pecahan lima puluh Euro dilempar ke lantai tepat di bawah kaki Selvi. “Tu-tuan apa ini?” tanya Selvi ketakutan.
“Bisakah kau menjadi jalang untukku saat ini dan di saat aku membutuhkan mu?” desis Reinhard begitu mengintimidasi Selvi.
Rasa takut yang tadi menyeruak di dalam diri Selvi kini berubah kegirangan. Bukan main, sangking senangnya Selvi menepuk-nepuk wajahnya untuk menyadarkan dirinya kalau-kalau kini dirinya tengah berminpi atau berkhayal.
“Tuan, saya sudah bersama dengan Nyonya sekarang.” Shem melapor melalui ponsel genggamnya.
“Saatnya membuat kau semakin sakit hati w************n!” desis Reinhard lalu segera menarik Selvi untuk berlutut di hadapannya dan melakukan permintaan nakalnya.
Bukan untuk kesenangan tapi untuk melihat reaksi istrinya. Untuk urusan kesenangan biarlah nanti saat di rumah saja. Disini Reinhard lagi tidak dalam mood yang baik.
“Suruh dia langsung masuk, dan kau tunggu di luar Shem!”
“Baik, Tuan. Nyonya, masuklah, Tuan sudah menunggu Anda di dalam,” ucap Shem.
“Reinhard? Ada perlu apa dia denganku?” sungguh Agata memiliki firasat yang kurang baik saat ini.
“Saya juga tidak tau, Nyonya.” Agata lalu mengangguk dan membuka pintu. Betapa terkejutnya Agata saat melihat pemandangan menjijikkan yang ada di hadapannya.
Tangisnya kembali luruh membasahi wajahnya, “Apa kau memanggilku, untuk melihat semua ini, Reinhard?” suara Agata bergetar menatap wajah Reinhard yang memerah dengan smirk kejamnya.
“Aku ingin mengajakmu bergabung dengan kami,” desis Reinhard.