BAB 11. Aku Tidak Akan Menurut

825 Words
“Aku juga akan membayar tubuhmu yang sudah aku tiduri itu dengan harga sepadan! Sekarang turuti perintah Katrina!” desis Rein kepada Agatha. Mata Agatha yang sendu dan sudah sembab hanya menatap Rein, tatapan itu sungguh membuat hati Rein ngilu luar biasa. “Aku, tidak akan menuruti kemauan Katrina dan tubuhku tidak diperjual belikan.” Agatha menjawab dengan suara yang gemetar. Ia mengumpulkan keberaniannya, walau kedua matanya terus basah akibat air mata yang berjatuhan silih berganti. Mendengar jawaban Agatha yang berani Rein tenggorokkan Rein langsung tercekat. Tapi tidak dengan Katrina, wanita penghibur yang ngelunjak ini mendadak tersinggung. Ia tersinggu saat Agatha mengatakan jika tubuhnya tidak diperjual belikan. Spontan saja, Katrina langsung menjambak rambut Agatha dan menampar pipi mulusnya Agatha. “Sialan! Kau pikir kau lebih berharga dariu, Hah?! Kau pikir kau ini layak untuk membanggakan harga dirimu! Kau juga sama! Kau hanyalah w************n yang melebarkan kedua kakimu hanya untuk mendapatkan uang!” teriak Katrina membabi buta. Tamparan yang datang silih berganti itu membuat pipi mulus Agatha merah. Sebenarnya ingin Rein menahan tangan Katrina bahkan menghempaskan tubuh Katrina untuk menjauh dari Agatha. Tapi, ia tidak ingin jika Agatha berpikir kalau dirinya membela Agatha. Untuk saja ada Shem yang datang dari depan. Ia berlari dan mencengkeram tangan Katrina yang masih tidak berhenti menampar Agatha tiada henti. “Hentikan!” teriak Shem membentak Katrina. Mendengar suaranya Shem yang menggelegar, Katrina terjingkat dan segera memeluk Rein saat itu. “Rei, lihat tanganku sampai merah dicengkeram oleh anak buahmu,” rengek Katrina dengan wajah meweknya. Terdengar isakan tangis Katrina juga walau tiada air mata yang jatuh sama sekali, tapi suara itu benar-benar seperti wanita yang sedang menangis kesakitan. Sedangkan Agatha yang pipinya sudah lebam merah akibat tamparan bertubi-tubi hanya bisa tersengal sesekali sambil menundukkan kepalanya. Shem menatap tajam Katrina juga Rei bergantian. Ia mendengus kesal sekaligus kecewa dengan Rei, tapi dirinya tidak akan menasehati atau memarahi Rei di depan Agatha, apalagi di depan Katrina wanita jalang itu. “Mari, Nyonya. Ikut saya,” ucap Shem sambil menuntun Agatha yang menahan air matanya. Mata Rei hanya mengikuti setiap langkah kaki Agatha yang lemah. Sampai bayangannya menghilang dari balik pintu keluar mansion megah tersebut. Saat itulah Rei menghela nafas kasar dan segera menghempaskan tubuh Katrina dengan kasar, hingga Katrina terjatuh di atas lantai marmer mansion mewah itu. “Auch! Ada apa Rei?! Kenapa kamu justru mendorongku?! Bukankah, aku sudah membuat istrimu itu sakit hati. Itu kan yang kamu mau, kamu minta aku untuk ngerjain istri miskinmu itu dan sudah aku lakukan,” protes Katrina. Dengan langkah yang dingin serta mengintimidasi. Rei lalu memegang tangan Katrina yang digunakan untuk menampar tadi. Ia pelintir tangan itu sampai Katrina mendelik lalu meringis karena menahan sakit. “Aku suruh kamu membuatnya jengkel dengan menggandeng tanganku dan bergelanyut manja. Bukan dengan menamparnya dan melakukan tindakan butral seperti tadi! Apalagi sampai kau suruh dia untuk memanggilmu sebagai Nyonya Mesach?!” “Apa, kau sudah mau mencari mati?!” desis Rei dengan kejam. “Kau sudah kelewatan Katrina. Aku akan menghancurkan karirmu dan juga akan aku hancurkan seluruh usahamu! Siapa pun yang berani melayangkan tangannya ke tubuh istriku, dia tidak akan lolos dariku. Kau sudah salah mengintepretasikan perintahku, improsisasimu berlebihan!” Rei kembali menghempaskan tangan wanita di hadapannya itu dengan amarah yang membumbung tinggi. Ia langsung berdiri sambil mendengus. Sejenak dilihatnya sarapan yang sudah disiapkan oleh Agatha sepenuh hati. Ia merasa sangat bersalah saat itu. Rei langsung mengusap wajahnya dan segera beranjak dari ruang makan. Baru melangkah, kakinya langsung dipeluk oleh Katrina yang menangis memohon ampun kepadanya. “Maafkan aku, Rei! Maafkan aku yang telah berbuat salah kepada Agatha. Aku akan meminta maaf kepadanya setelah ini. Aku berjanji, aku akan berlutut dan meminta maaf kepadanya,” tangis Katrina pecah. “Tidak ada gunanya. Jangan pernah kau menampakkan bayanganmu di sekitarku apalagi di sekitar Agatha. Kalau aku tau kau mencoba mendekatinya walau dengan tujuan baik, aku akan menjebloskanmu ke penjara,” ancam Rei. “Sekarang lepaskan kakiku!” titah Rei tegas. Katrina tidak ada pilihan ia segera melepaskan kakinya Rei. “Tolong Rei, jangan hancurkan karir dan usahaku. Kumohon, jangan Rei. Aku juga butuh hidup, kumohon!” teriak Katrina saat melihat punggung Rei menjauh dari pandangannya. Tidak lama kemudian datang dua orang bodyguardnya Rei yang mendekati Katrina. “Nona, silahkan keluar, kami akan mengantarkan Anda sampai di apartement Anda dengan selamat,” ucap salah satunya. Katrina masih panik karena diabaikan oleh Reinhard. Tapi ia tidak ingin membuat Reinhard semakin marah. Akhirnya ia usap wajahnya dengan kasar dan segera berjalan menuju ke sebuah mobil mewah yang biasa digunakan untuk menjemput para wanitanya Rein. Sedangkan Rei langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membahasi kepalanya dengann guyuran air dari shower. Ia menggeleng dan meninju tembok, hatinya sakit, ia tidak suka melihat sorot mata Agatha yang memancarkan kekecewaan dan kesakitan yang luar biasa. “Ini semua gara-gara ulahmu sendiri! Siapa suruh, kau bermesraan dengan teman OB mu itu!” amuk Rei, bermonolog dengan dirinya sendiri. “Di mana, Shem membawamu, Agatha,”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD