Reinhard semakin emosi mendengar permintaan Agata. Ia meremas hancur bungkus rokoknya. “Selvi, masuklah ke kamarku. Aku membutuhkan ronde kedua denganmu.”
“Kamu, memang pria yang jahat, Reinhard,” ucap Agata, lalu Agata beranjak dari ranjang tersebut dan membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
Tangisannya bercampur dengan siraman air dari shower kamar mandi tersebut.
Kemejanya sudah rusak, roknya juga sudah rusak. Satu-satunya yang bisa menolongnya adalah Shem. Agata lalu menghubungi Shem dan meminta tolong agar Shem mengantarkan pakaian ke kantor Reinhard.
Saat dirinya keluar dari toilet dengan memakai, lagi-lagi Reinhard membuat Agata sakit bukan kepalang. Agata menatap betapa luar biasanya Reinhard ingin menghancurkan dirinya. Dengan menggunakan jubah mandinya, Agata lalu berjalan keluar tidak menghiraukan segala yang terjadi dihadapannya.
“Hentikan langkahmu!” perintah Reinhard, seketika membuat Agata berhenti dan berbalik.
“Hentikan pernikahan ini, Aku minta, ceraikan aku dengan segera, cukup sudah semuanya ini Reinhard,” pekik Agata tak kuat lagi menahan tangisnya.
Reinhard memandang tajam dan menahan emosinya yang sebentar lagi juga akan meledak. Melihatnya Agatha segera beranjak pergi dari tempat tersebut dengan tergesa. Ia keluar menunggu angkutan umum di halte dekat kantornya.
Agatha segera naik bis menuju ke arah rumah sakit San Fransisco, sampai di sana Agatha segera berjalan menuju ke kamar tempat adiknya dirawat. Agatha menatap sedih kepada Aron yang masih tidak sadarkan diri.
Segala alat bantu terpasang di tubuhnya. Jika saja bukan karena Aron, dia tidak akan mau menerima pernikahan ini. Lalu Agatha kembali berpikir, jika Rei benar-benar menceraikannya dan dia tidak bisa bekerja di mana pun. Lantas bagaimana dengan biaya pengobatan Aron.
Tangis Agatha kembali pecah saat memikirkan tekanan hidup yang tak berujung ini.”Oh Tuhan, hatiku sangat sakit. Apa yang harus aku lakukan jika sudah begini,” tangis Agatha sambil memukul mukul dadanya sendiri.
Agatha lalu mendekat ke arah ranjangnya Aron dan segera mencium kening adiknya. “Cepatlah sembuh adikku sayang, agar aku bisa bersandar di bahumu untuk mencurahkan segala keluh kesahku.”
Tangis Agatha dengan puas, sudah cukup lama ia berada di rumah sakit tersebut. Saat langit mulai gelap, Agatha kembali ke mansion milik Reinhard. Sepanjang jalan ia berpikir apa yang harus ia lakukan.
Apakah ia harus menjadi wanita yang egois karena masalah hati atau berusaha tegar saja demi Aron dan memilih untuk menyelesaikan masa kontrak pernikahannya sesuai perjanjian. Sungguh, Agatha masih sangat bimbang.
Ketegangan antara Agata dan Reinhard tak habis sampai di kantor saja. Agata yang sudah lebih dahulu pulang sampai di Mansion, telah mengeluarkan semua isi pakaiannya dari dalam kamar utama.
“Aku tidak mungkin akan diam saja diperlakukan seperti ini. Sekalipun aku hanya istri kontraknya. Tapi, aku tidak pernah menyetujui pernikahan ini. Bukannya aku selama ini justru dipaksa untuk menjadi istrinya. Betapa bodohnya aku selama ini terlarut dalam kesedihanku yang tak berarti apapun baginya.” Agata seolah tersadar akan posisinya.
“Cukup sudah segala sesuatunya, cukup. Jika memang dia tidak mau menceraikan aku secepat ini. Maka, aku akan segera menyelesaikan semua perjanjian ini dengan caraku sendiri. Pastinya, aku juga akan mempersiapkan segalanya.” Kembali Agata bermonolog dengan dirinya sendiri.
Beberapa pelayan di Mansion Utama melihat Agata mengemas barang-barangnya. Kepala Pelayan Rodriguez segera menghubungi Shem dan memberitahu apa yang dilihatnya.
“Tuan, Nyonya mengemas semua barang bawaannya, Tuan.” Shem melapor kepada Reinhard.
“Jangan biarkan dia keluar dari pintu depan mansion utama, Shem. Apapun caranya,” titah Reinhard kepada Shem.
Sepanjang perjalanan pikiran Reinhard sangat gusar, benci, ingin membuat Agata tersiksa. Tapi, tidak mau kehilangan. Dengan langkah seribu Reinhard berjalan dan membuka pintu depan mansion utama dengan kasar.
Ia melihat deretan dua puluh delapan pelayannya kini sedang berdiri di belakang Rodriguez kepala pelayan mansion utama yang ditugaskan untuk mencegah Agata beranjak dari istana emas itu.
“Apa yang kau lakukan!” Reinhard berteriak dengan penuh emosi.
Suasana hanya lenggang, Agata diam tidak menjawab apapun. Kepalanya yang tertunduk kini perlahan terangkat menatap wajah Reinhard, tanpa menunjukkan sedikitpun rasa takut.
Tatapan Agata juga tidak kalah tajam dengan tatapan mata Reinhard, yang seolah menunjukkan kilatan kematian.
“Aku, tau. Jika aku tidak mungkin bisa keluar dari istana ini sebelum waktunya, bukan? Kamu akan menghubungi bagian HRD dan memecatku, serta membuat surat black list hingga aku tidak akan memiliki kesempatan untuk bertahan hidup di luar sana lagi.”
“Baiklah. Baiklah, Reinhard. Aku menerima keadaan tersebut dengan lapang d**a. Tapi, mari kita buat surat perjanjian yang disaksikan oleh seluruh pelayan mu dan juga orang kepercayaanmu. Berjanjilah jika saatnya sudah tiba kamu akan menceraikan aku. Serta, aku juga menuntut untuk tidur terpisah darimu. Mulai malam ini,” tegas Agata.
Semua yang mendengar tuntutan Agata terkejut, dengan ekspresinya masing-masing. Tidak terkecuali Reinhard sendiri. Ia cukup terkejut dengan keberanian Agata.
Baru tadi siang Agata menangis dan terlihat lemah serta tak berdaya dihadapannya. Kini wanita itu telah berani mengajukan persyaratan dengan wajah yang menantang dan suara yang begitu tegas.
“Kalau, aku tidak mau?” ancam Reinhard.
“Maka, aku akan keluar dari sini, tanpa memperdulikan segala ancamanmu. Atau aku akan lenyap dari hadapanmu, dengan dan bagaimana pun caranya. Aku, tidak sudi untuk berbagi ranjang dengan suami yang tubuhnya dinikmati oleh banyak wanita.”
Walau suara itu terdengar tegas, tapi mata Agata tidak dapat menutup pancaran sakit hati yang dirasakannya. Ia benar-benar tidak sudi menjadi wanita yang hanya dianggap sebagai pemuas atau pelampiasan untuk membuang hajat saja.
“Apa, kamu tidak takut kelaparan di luar sana?!” ucap Reinhard sambil memicingkan matanya.
“Aku, sudah pernah kelaparan, tidak masalah,” jawab Agata tanpa menunjukkan ada rasa beban sedikitpun.
“Kamu tidak takut mati? Dilecehkan? Dirampok? Bahkan diculik dan dibunuh orang?” Kali ini Reinhard berusaha untuk lebih memberikan gambaran yang menakutkan bagi Agata.
“Lebih baik aku mati, dibunuh fisik ku seperti itu. Dari pada, lagi-lagi aku akan mati secara mental melihat kamu bersenang-senang dengan banyak wanita. Aku lelah, Reinhard. Sangat lelah, menghadapi kamu.” Agatha berkata dengan jujur.
“Apa kamu mau adikmu yang mati karena kekurangan biaya?” Kali ini pertanyaan Rei membuat Agatha spontan mengangkat wajahnya.
“Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membiayainya dengan uang yang halal. Tapi, kalau memang Tuhan berkehendak untuk mengambilnya dariku, maka aku bisa apa? Hidup dan matinya seseorang ada di tangan yang kuasa.” Kembali Agatha menjawab dengan tegas.