BAB 15. Jangan Ikut Campur!

1016 Words
“Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membiayainya dengan uang yang halal. Tapi, kalau memang Tuhan berkehendak untuk mengambilnya dariku, maka aku bisa apa? Hidup dan matinya seseorang ada di tangan yang kuasa.” Kembali Agatha menjawab dengan tegas. Agata sudah tidak memperdulikan yang namanya privasi, itu sudah tidak ada di pikiran Agata. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah menyelamatkan mentalnya, selagi bisa. Ia sudah membuat rencana sematang mungkin dengan segala resiko yang ada. Bahkan Agata secara diam-diam, menghubungi marketing properti untuk menjual rumah peninggalan kedua orang tuanya. Bukankah mencari uang tidak selamanya harus bekerja dengan orang. Ada seribu satu macam cara untuk bertahan hidup di luar sana. Reinhard yang melihat keseriusan di wajah Agata, dan berpikir jika Agata mungkin saja bisa bertindak di luar akal sehatnya. Maka, dengan berat hati Reinhard akhirnya membuat syarat sebelum mentah-mentah menyetujui permintaan Agata. “Aku akan menyuruh Shem, untuk membuatkan surat perjanjian dan surat pernyataan tersebut. Asalkan kamu juga membuat surat pernyataan. Jika, kamu tetap akan menjalankan semua tugasmu.” “Termasuk ikut aku ke Rusia untuk membantuku menyelesaikan misi utama dari perkawinan kontrak ini. Tentu saja, berjanji untuk tetap melasanakan tugasmu sebagai istri yang baik di atas ranjang.” Agatha menahan senyumannya saat melihat Rei mulai melunak. “Aku tidak mau memiliki urusan dengamu di atas ranjang lagi,” tolak Agatha mentah-mentah. Pikirnya, enak saja Reinhard mau celup sana celup sini. Ia tidak mau menerima kalau dirinya dijadikan objek penghilang nafsu syahwat belaka. “Jika kamu menolaknya, maka jangan salahkan aku. Jika aku akan menyewa orang untuk mencelakai sahabatmu yang ada di kantor itu.” Ancaman Reinhard juga bukan main terdengar ngeri di telinga Agata, hingga membuatnya terkejut dan membulatkan matanya dengan sempurna. Begitu juga dengan Shem. Ia tidak menyangka jika tuan mudanya akan senekat itu. Rasanya ini bukanlah orang yang dikenalnya selama ini. “Tuan-“ ucapan Shem terpotong saat Reinhard mengangkat tangannya, tanda agar Shem menutup mulutnya. “Kamu memang pria b******k, Reinhard! Aku sangat membencimu. Bisa-bisanya kamu mengancam akan menyakiti sahabatku? Kamu memang jahat Reinhard! Kamu jahat!” teriak Agata sambil memukuli d**a Reinhard berkali-kali sangking kesalnya. Reinhard yang telah jengah dipukuli oleh Agata segara menahan kedua tangan Agata. Ia cengkeram kedua pergelangan tangan itu dengan sangat kuat. “Kamu memukuli ku, hanya karena aku mengancam akan menyakiti sahabatmu?” desis Reinhard terbakar api cemburu. “Apa kamu memang sangat menyayangi pria rendahan yang ada di kantor itu, hah?!” bentak Reinhard penuh emosi. “Iya! Aku memang sangat menyayangi dia, aku sangat menyayangi sahabatku! Apa aku salah?! Kamu keterlaluan Reinhard.” Agatha kembali berteriak dengan gusar dan air mata sudah jatuh luruh begitu saja. Seluruh pelayan dan penjaga yang ada di ruangan tersebut tertunduk. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat wajahnya kecuali Shem yang kini sedang menatap iba kepada Agata. “Wuah! Bukan main, pengakuanmu memang aku hargai, Agata. Tanpa ada rasa segan sedikit pun, kamu mengakui jika kamu menyayangi, pelayan rendahan itu. Ckckck, apa dia tau? Jika kamu juga ku bayar untuk menjadi istri kontrakku?” “Apa kamu bersekongkol dengannya? Minta buru-buru diceraikan agar bisa hidup dengannya, luar biasa sekali, Agata. Luar biasa.” Agata benar-benar tidak mengerti racauan Reinhard yang tidak jelas. “Kamu, memang w************n, Agata. Cuih! Sangat rendah!” hina Reinhard sambil memandang remeh wanita di hadapannya. “Lalu apa kata yang pantas, untuk laki-laki sepertimu, hah?!” balas Agata. “Aku akan membuat pernyataan sesuai dengan keinginanmu. Tapi ingat, ceraikan aku tepat pada waktunya, aku sangat lelah meladenimu setiap hari seperti ini,” ucap Agata sebelum ia mengunci bibirnya dengan rapat. “As You wish, Agata! Siapkan segalanya Shem.” Reinhard lalu berdiri dari sofa tersebut dan menatap tajam seluruh pelayannya. Ia mendengus kesal sebelum naik ke lantai dua beriringan dengan Shem. “Tuan.” Shem memanggil Rei dan kembali Rei mengangkat tangannya. Ia tidak ingin bicara apapun. Selain memerintahkan Shem untuk membuat surat sesuai dengan keinginan Agatha. “Jangan banyak protes kepadaku saat ini. Aku sedang tidak berselera meladeni sikap melankolismu. Buatkan saja perjanjian seperti yang diinginkan oleh wanita miskin itu,” desis Rei. Shem hanya bisa mendesah lemah dan mengusap wajahnya. Ia lalu duduk di meja kerja serta menyalahkan laptop dan segera menulis konsep surat perjanjian dan surat pernyataan. Setelahnya Shem langsung mencetak isi surat tersebut. Suara derik printer berbunyi patah-patah saat mencetak tiap kata dalam surat perjanjian dan pernyataan. Tidak ada yang berbicara semuanya hanya terdiam dan menatap printer yang berbunyi di tengah keheningan ruangan kerja Reinhard yang berada di lantai dua. Shem tidak tahan lagi terus dibungkam oleh Reinhard. Ia kembali membuka mulutnya dan berbicara. “Tuan, Anda, tidak serius kan? Dengan ancaman, Anda tadi, kepada Nyonya?” Reinhard mendengus mendengar pertanyaan Shem. “Kamu tidak perlu terlalu ikut campur urusan pribadiku, Shem. Aku tidak mengijinkannya untuk yang satu ini. Kamu persiapkan saja semua proyek kita di Rusia.” Reinhard lantas berdiri di balik jendela ruangan tersebut. Ia melihat Agata yang duduk tengah menunggu surat perjanjian tersebut siap, di ruang tengah lantai satu. “Sebenarnya ada apa, Tuan? Kenapa sikap Anda, tiba-tiba berubah dengan Nyonya. Apa, Tuan sudah tidak percaya lagi dengan saya? Hingga, Tuan, tidak mau menceritakan apa yang terjadi sebenarnya?” Shem masih berusaha mengorek informasi dari Reinhard. Ia yakin ada pemicu di balik sikap kejam yang di tunjukkan oleh Reinhard kepada Agata. “Sudahlah, aku malas membahasnya saat ini. Nanti, jika aku ingin bercerita pasti aku akan berbicara denganmu. Siapkan juga kamera cctv di kamar yang akan ditempati oleh Agata.” “Aku ingin melihat segala aktifitas yang dia lakukan.” Reinhard berucap sambil membakar rokok dan menyesapnya. Hatinya gelisah, tapi dia tidak tau apa dengan bercerita kepada Shem akan membuat dirinya menjadi lebih baik? Untuk saat ini, cukup dirinya saja yang tau penyebab kemarahannya kepada Agata. Keadaan tersebut juga tidak jauh berbeda dengan yang di rassakan oleh Agata. Hati Agata juga tidak kalah gelisah dan masih bertanya-tanya. Apa kesalahan yang sudah di perbuatnya hingga membuat Reinhard berubah seketika menjadi seorang monster. “Nyonya, apa, Anda baik-baik saja?” tanya Yona saat melihat Agata menyeka air matanya. Hati siapa yang tidak ikut trenyuh melihat nasib Agata di mansion itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD