CHAPTER SEBELAS

2133 Words
            Malam minggu yang ramai di rumah haji Ardhana. Lala dan kawan-kawan sepakat berkumpul di rumah itu untuk menonton film bersama. Hanya Wina yang belum datang sedangkan si empunya rumah sedang pergi dengan sang istri.               "Kata Wina sih, itu laki lagi kuliah S2, terus nyambi jadi asisten dosen. Bokapnya pengusaha tekstil." terang Fabian pada yang lainnya.               "Terus lo gimana?" tanya Lala.               "Gue? Sarjana aja belum." jawabnya. "Kerjaan DJ." lanjutnya. "Bapak gue juga bukan pengusaha."               "Lo kalah jaaaauuhhhh." kata Made.               "Kalau lo serius sama Elisa. Lo harus berubah." kali ini Ilham memberi pendapat.              "Berubah jadi apa? Kalau bisa jadi Ultraman, gue udah berubah dari dulu. Itu cita-cita gue." jawab Fabian dengan polosnya.               "Ke warung padang gih, Fa. Beli otak." kata Lala sambil melempar bantal sofa yang tepat mengenai kepala laki-laki itu.               "Gini, Fa. Mulai sekarang, lo harus fokus sama skripsi lo. Terus berhenti jadi DJ. Dan tinggalin kebiasaan-kebiasaan jelek lo, kayak ngerokok, minum-minum, dan hal-hal lain yang nggak sesuai dengan kepribadian Elisa."               "Nggak jadi diri sendiri dong gue?" desah Fabian.               "Kalau lo mau jadi diri sendiri, cari perempuan yang mau nerima lo. Lo nggak bisa milih." kata Ilham, "lagipula, berubah buat yang lebih baik, kenapa nggak?" lanjutnya.               "Denger tuh kata laki gue." kata Lala.               "Ya ampun. Nyuruh gue berhenti ngerokok sama aja nyuruh gue nguras kolam renang." jawabnya "Susah." ia mengusap wajahnya kasar.               "Assalamualaikum." tiga pasang mata itu beralih pada sumber suara. Wina berjalan anggun diikuti Ibnu di sampingnya.               "Oh, ini baju hadiah dari Ibnu?" Kata Lala saat melihat Wina memakai hanbook, pakaian khas Korea.               Wina tersenyum. Ia dan Ibnu memang baru saja mendatangi festival budaya Korea di salah satu hotel dan Ibnu spesial membelikan pakaian itu untuk Wina. Gadis itu jelas senang bukan kepalang saat membuka hadiah yang dititipkan pada Wildan, adiknya. Sebuah hanbook dan selebaran mengenai festival budaya Korea itu. Sedetik kemudian, ia yakin kalau Ibnu adalah belahan jiwanya.              "Iya. Cantik ya gue." katanya sambil duduk di samping Made.               "Lain kali, jangan kasih hadiah gituan, Nu." kata Lala, "kasih oppa-oppa. Wina suka banget sama begituan." Selorohnya, membuat Ibnu hanya tertawa ringan.               "Susah kalau itu mah." jawabnya. "Emang dia maniak banget ya?" tanya Ibnu.              "Dia kalau udah nonton oppa-oppa, bisa nggak kedip. Ada hujan badai diluar juga nggak peduli. Dia pernah dua hari dua malam nggak tidur gara-gara maraton nonton drama Korea." jawab Lala yang langsung mendapat pelototan tajam dari Wina. "Dikamarnya, banyak poster oppa-oppa bertelanjang dada." lanjutnya.              "Gue bingung. Kok bisa ada cewek yang hobi nonton cowok yang lebih cantik dari mereka." kali ini Made bersuara.               "Lah... Biarin aja." Wina mulai sewot.               "Hobi kok nonton laki-laki muka plastik gitu. Menye-menye, nggak jantan." kata Made lagi dan kini sukses membuat ubun-ubun Wina terasa panas.               "Apalagi yang boyband tuh. Laki-laki tulang lunak." lanjut Made.              "HEH? laki-laki yang lo bilang muka plastik, menye-menye dan laki-laki tulang lunak itu ikut wajib militer ya. Emang elo, suruh ikut upacara sejam aja ngeluh. Malu tuh sama jakun." selorohnya dengan lantang. Sukses membuat semua terdiam.    ***                "Jadi, lo udah mulai cinta sama Ibnu?" tanya Lala sambil menatap ke cermin. Tangannya dengan lihai mengoleskan krim malam pada wajahnya yang sudah dibersihkan. Malam ini, mereka semua memang menginap di rumah Aris. Ia dan Wina sudah berada di kamar saat para lelaki masih sibuk mengobrol di ruang tamu.               Wina yang sedang menatap ponselnya mengangguk tanpa menoleh. "Dia kayaknya ngertiin gue banget, La." kata Wina. "Dia nggak menganggap gue aneh gara-gara gue maniak sama semua yang berbau Korea. Dia malah beliin gue hanbook dan ngajak gue ke festival budaya Korea. Beda banget sama pacar-pacar gue sebelumnya, yang bisa-bisanya cemburu sama aktor-aktor Korea." terang Wina sambil menatap Lala melalui pantulan cermin.               "Dia juga nggak posesif, pokoknya laki-laki idaman gue banget deh." Wina tersenyum lalu memeluk guling dengan gemas.               "Terus cewek yang dilihat Elisa siapa?" Lala menoleh dan bergerak mendekat hingga duduk diatas ranjang. Ia melihat Wina terdiam bingung.               "Gue belum tanya masalah itu." lirihnya.               "Jangan pernah kasih hati lo, buat orang yang belum bisa dipercaya." kata Lala sambil bersembunyi di balik selimut. Menutup pembicaraan dengan Wina yang kini terdiam.    ***                "Astagfirullah." Aris berseru saat masuk ke ruang tamu di mana tiga laki-laki menggelepar di sofa dengan pulasnya.               "Sejak kapan ini rumah jadi panti sosial." katanya lalu mendekat ke arah Fabian.               "Bangun... Udah jam berapa ini." teriaknya. Sebelah tangannya mengguncang-guncangkan lengan Fabian.               "Berisik, Loreng." keluh Fabian tanpa membuka mata.              Aris mengernyit lalu menatap bajunya. Memastikan bahwa motif baju yang ia pakai bukan loreng-loreng seperti kata Fabian.               "Banguuuuuuuun." kali ini Aris menarik kuping Fabian dengan keras. Membuat laki-laki itu langsung mendepak tangan Aris.               "Berisik bang..." kata-kata Fabian terhenti. Matanya mengerjap beberapa kali. Memastikan bahwa sosok yang ada di depannya bukan Loreng, melainkan Haji Ardhana yang sudah melotot tajam.               Ia langsung bangun lalu menatap Ilham dan Made yang sudah terduduk sambil menahan tawa.               "Hehehe... Pagi, Om." jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.               "SIANG!!! Udah hampir jam sembilan kamu bilang pagi." kata Aris. Bagi Fabian, jam sembilan itu masih pagi, siang itu jam dua belas. Fabian tidak menjawab, hanya mengucek-ngucek matanya yang terasa gatal.               "Kamu juga, Ham. Pasti tadi nggak sholat subuh kan?" kali ini mata Aris menatap Ilham yang tersenyum kecut.               "Maaf, Pa. Ilham kesiangan." lirihnya. Mata Aris beralih ke Made.               "Kamu juga, memangnya kamu nggak ke gereja?" mata Elangnya menatap Made yang tengah melirik jam tangannya.               "Libur dulu, Om." jawabnya.                "Astagfirullah. Sembahyang seminggu sekali aja malas."               "Masih pagi, Pa. Udah ngomel-ngomel aja." wajah Ayumi menyembul dari pintu dapur. "Sarapan yuk. Tante udah masak enak." katanya. Membuat ketiga laki-laki itu tersenyum lalu berdiri.               "Tante Ayumi, Made mau dong jadi anaknya tante." kata Made sambil berjalan ke arah dapur, diikuti oleh Fabian.               Aris dan Ilham masih diam di tempat. Aris menggeleng- gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua laki-laki itu, sementara Ilham mengulum senyum.    ***                    Elisa menatap dirinya di cermin. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, ia membuka jendela kamar dan berdiri di tepi balkon. Ia tersenyum melihat ayahnya duduk di gazebo sambil membaca koran dengan secangkir kopi di depannya.               Tiba-tiba saja ia merasa merindukan kampung halamannya. Dengan segudang peraturan dalam rumahnya, ia tak memungkiri bahwa tempat itu adalah tempat ternyaman buatnya.              Setelah menarik napas dalam-dalam, ia keluar dari kamarnya dan melihat ibunya dan mbok Asih sedang sibuk di dapur.               "Lagi apa, Buk?" tanyanya sambil mendekat ke arah Dewi dan duduk di sebelahnya.              "Lagi nggawe kue, ndhuk. Ibuk mau kedatangan tamu nanti siang." kata Dewi sambil mengaduk adonan di baskom.               Elisa tak bertanya lebih lanjut karena mengira bahwa tamu itu Alfian atau mungkin keluarganya. Ia mengambil satu baskom berisi adonan dan mulai membantu ibunya.               "Hubunganmu karo Alfian piye, ndhuk?" tanya Dewi.               "Baik, buk." jawabnya singkat.               "Ibuk harap kamu sreg sama dia. Ibu sama bapak jadi ndak khawatir. Wis jelas asal-usulnya."               Elisa hanya mengangguk sambil tersenyum, tak ingin membalas pernyataan ibunya. Kalaupun ia tak suka pada laki-laki itu, toh ia tak punya pilihan lain. Ia tak pernah ingin mengecewakan kedua orangtuanya, apalagi saat tahu bahwa yang dilakukan kedua orangtuanya demi kebaikannya.               "Oia, Ervan itu memang les setiap hari ya?" tanya Dewi pada Elisa.               "Maksudnya, buk?"               "Itu, guru lesnya Ervan kok datang setiap hari. Ini mereka lagi belajar di ruang tamu."               "Oh, biasanya sih seminggu tiga kali, buk. Cuma kalau Ervan ada PR yang kurang mengerti, biasanya manggil Fabian. Soalnya Fabian nggak cuma ngelesin Fisika, tapi mata pelajaran yang lain juga." jelasnya. Padahal, ada atau tidak ada jadwal les pun, Fabian kerap kali datang ke rumah itu. Baik melalui pintu depan ataupun pintu belakang.               "Wong'e apik yo, ndhuk."               "He?"               "Ibuk tadi sempat ngobrol-ngobrol sebentar. Anaknya lucu, udah gitu, ibuk salut, dia dari keluarga punya, tapi mau nyambi buat cari uang gitu."               Sekali lagi, Elisa hanya mengulas senyum tipis sambil mengangguk. Tak ingin berkomentar mengenai perbincangan ibunya dengan Fabian.               Meninggalkan dapur. Elisa menuju ruang tamu dan menemukan Fabian seorang diri, dengan buku-buku pelajaran Ervan yang terserak diatas meja.               "Ervan mana?" tanyanya sambil duduk di depan laki-laki itu.               "Lagi nerima telepon dari tante Widya di kamar." jawabnya. Matanya kembali meneliti buku pelajaran Ervan.               Elisa menatap Fabian baik-baik. Matanya meneliti dari atas sampai bawah. Ada perbedaan kali ini. Laki- laki itu terlihat lebih rapi dari biasanya. Rambutnya bahkan tersisir rapi, dan sekilas ia bisa mencium wangi cologne dari tubuh laki-laki itu.               "Kamu di rumah aja?" tanya Fabian. Ia menutup buku lalu menatap Elisa.               "Memangnya mau ke mana?"               "Ya pergi gitu. Sama supir baru kamu."               "Sudah aku bilang. Dia itu bukan supir."               "Terus siapa?" kali ini, Fabian menatap Elisa yang memutar bola matanya bingung.               "Teman." jawabnya.               "Aku cuma mau bilang. Aku bisa jamin kebahagiaan kamu meskipun kamu cinta banget sama dia."              Elisa urung membuka mulutnya saat mendengar suara.               "Assalamualaikum."               Kedua pasang mata itu menoleh pada pintu rumah yang sedikit terbuka. Elisa berdiri lalu mendelat ke arah pintu.               "Mbak Rara, kan, ya?" kata Elisa saat melihat siapa yang datang.               "Iya. Ajeng gimana kabarnya? Mbak Ayu sehat?"               "Alhamdulillah semua baik, mbak." jawab Elisa. "Oh, jadi mbak Rara toh, tamu yang ibuk bilang mau datang." Elisa melihat wanita di depannya tertawa ringan.               "Iya. Aku juga kaget. Tumben ibukmu ke Jakarta." jawabnya.               "Ayo masuk, mbak. Ibuk ada di dalam." kata Elisa sambil berbalik. Matanya menatap ke sofa dan menyadari bahwa Fabian sudah tidak ada di tempatnya.               "Dadi wong kok koyo siluman." lirihnya. Sambil terus berjalan sementara tamunya mengikuti dari belakang.     ***                Made manatap bangunan di depannya. Bangunan tempat ibadah yang terlihat ramai pasca adzan dzuhur berkumandang beberapa menit yang lalu.               Matanya masih menatap bangunan itu saat seorang gadis berjalan menghampirinya dan duduk di sebelahnya.               "Gue jadi keingetan omongan Om Aris." kata Made tanpa mengalihkan pandangan dari bangunan di depannya.               "Omongan yang mana?" tangan gadis itu terulur untuk mengambil botol minumannya dari tangan Made.               "Gue sembahyang seminggu sekali aja kadang malas. Apalagi kayak kalian yang sehari lima kali." katanya dengan nada lirih.               "Kesambet setan apaan lo?" sentak Wina yang langsung membuat Made menoleh.               "Gue serius."               "Duh. Klo ngomongin agama gini kan sensitif ya. Cari topik lain lah." Wina meneguk minumannya.               "Kalau gue jadi kalian. Gue nggak akan sanggup kali, ya?"               "Semua itu proses, Mad. Gue juga belum sempurna banget. Bisa lima waktu sehari aja udah alhamdulillah banget. Subuh kadang suka kesiangan, isya ketiduran."               "Elu mah ketahuan memang gampang banget dirayu setan. Gue ngomongin orang- orang kayak Elisa sama mas Ilham." Made menatap Wina yang mencibir saat mendengar dirinya diejek.               "Kalau gue ikut keyakinan kalian kira-kira gimana, Na?" tanya Made yang langsung membuat kedua mata Wina membulat.               "Mental lo terguncang banget ya abis diceramahin Om Aris?"    ***                Fabian mengintip ruang keluarga Elisa dari jendela luar. Matanya menangkap empat orang itu tengah berbincang-bincang. Teh dan kue buatan Dewi tersaji di atas meja. Tak lama, Elisa berdiri, setelah menunduk sedikit, gadis itu berjalan keluar dari ruang keluarga.               "Dia siapa?" Fabian muncul dari tikungan dan bertanya pada Elisa yang hendak menaiki tangga.             "Kamu ndak tahu siapa dia? Kamu punya televisi ndak di rumah." kata Elisa.               "Yailah tinggal jawab aja. Lagian penting banget apa itu orang."               "Dia teman kuliah mbakku dulu di Jogja. Pernah jadi reporter dan ngulas sanggar ibukku di rumah. Sejak di liput media, sanggar ibukku jadi ramai. Sekarang dia kerja di kementrian budaya dan pariwisata, beberapa bulan yang lalu beliau sama menteri pariwisata berkunjung ke rumahku dan meresmikan rumahku sebagai sanggar wisata dan bikin rumahku kebanjiran turis lokal maupun internasional." jelas Elisa. Fabian membulatkan mulutnya lalu mengangguk.               "Berarti..."               "Bian?" omongan Fabian terputus dan kedua pasang mata itu menoleh ke asal suara.               "Teh Rara." Fabian menggigit bibir bawahnya dan menunduk saat wanita itu mendekat. Sudah tidak ada waktu untuk melarikan diri, pikirnya.               "Kamu ngapain di sini?" Rara menatap Fabian yang kini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tadi teteh mampir ke rumah, kata Riri kamu ke kampus." lanjutnya.               "Lho, kalian..."               "Bian main, teh." Fabian memotong ucapan Elisa. "Elisa ini teman Fabian." jelasnya.               "Bohong, mbak. Aku ndak kenal sama dia. Dia ngajar les buat Ervan di sini." Elisa menyangkal dan langsung membuat Fabian melotot.               "Ngajar les?" kedua alis Rara hampir bertaut. "Kamu ngapain pakai ngajar les segala. Kuliah aja belum benar. Malah main-main." kata Rara sambil melotot tajam.               "Bian lagi ngurus skripsi, teh." Fabian memberi informasi.              "Ngurus skripsi dari dulu nggak selesai-selesai.  Teteh udah ngira ya, kalau kamu tinggal sama Riri pasti jadi begini." wanita itu berkacak pinggang. Elisa hanya menatap keduanya dengan bingung.               "Bian janji lulus tahun ini, teh."               "Dari tahun lalu juga bilangnya begitu." selak Rara galak.              "Teteh jangan galak-galak apa. Bian bilangin mami, nih." katanya dengan nada merajuk yang membuat Elisa mengulum tawa.              Sungguh, ini pemandangan langka buatnya. Di mana Fabian yang terkenal sok dan dominan kini merengek di hadapan seorang perempuan.               "Bilangin aja. Biar sekalian teteh ceritain kamu ngapain aja di Jakarta." jawab Rara tak kenal ampun.               "Ampun atuh, teh." kata Fabian dengan nada memelas.               "Kamu udah selesai kan ngajarnya? Pulang sekarang." kata Rara dengan nada tegas.               "Iya."               "Awas ya kalau mampir-mampir dulu."              "Iya." jawabnya pelan. "Ajeng, aku pulang dulu ya. Kamu jangan kangen." katanya sambil mencium punggung tangan Rara lalu berjalan menjauh.  To Be Continue LalunaKia  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD