CHAPTER SEPULUH

3232 Words
            Wina tidak tahu kalau bertandang ke rumah Elisa tak akan mudah kali ini. Jika biasanya ia hanya perlu melewati security dan sedikit berbasa-basi dengan Widya. Kali ini, ia menemukan dua wajah yang masih tampak segar tengah berbincang di ruang tamu. Tak cukup berbasa-basi sekadarnya. Orangtua Elisa menahannya hampir satu jam. Mengajaknya mengobrol. Menanyakan bagaimana persahabatannya dengan anak bungsunya, bagaimana sikap Elisa di kampus, dan bagaimana pergaulan Elisa selama di Jakarta.              Wina tersenyum kecut di akhir ceritanya. Berharap tak akan pertanyaan lanjutan setelah ini.              "Oh gitu. Tante tenang kalau begitu. Soalnya kamu tahu sendirikan pergaulan jaman sekarang, apalagi di Jakarta ini. Rentan banget." kata Dewi pada Wina yang kini mencoba tersenyum manis.              "Yo wis, kamu ke atas saja. Mungkin Ajeng sudah nunggu." kata Wijaya sambil melirik ke arah tangga.              "Saya permisi Om, Tante." Wina sedikit menunduk sebelum bergegas mendekati tangga.                  Langkah kaki membawanya ke kamar mewah dengan pintu berwarna putih lengkap dengan ukiran di setiap sisinya.              "Kamu tuh mampir ke mana dulu sih? Dari rumah Lala ke sini aja lama banget." kata Elisa saat melihat wajah Wina dibalik pintu.              "Dih, emak bapak lo tuh, ngintrogasi gue dulu di bawah." Wina melempar tasnya ke sofa dengan asal.              "Hah? Bapak ibukku ngomong apa sama kamu?" tanya Elisa dengan nada penasaran.              "Nanyain gue, gimana kehidupan lo di Jakarta. Intinya mastiin kalau pergaulan lo masih di jalan yang benar." jelasnya.              "Kamu ndak cerita yang macam- macam kan?"              "Yang macam-macam kayak apa? Kayak lo suka mengumpat kasar selama kenal Fabian? Atau lo pernah pergi ke bar sama gue? Atau lo yang terkenal lemah lembut bisa berubah jadi nenek lampir kalau lagi kesel?" Wina tertawa melihat wajah Elisa yang berubah pias.              "Tenang aja. Rahasia lo aman." kata Wina yang langsung membuat Elisa bernapas lega.              "Yo wis. Kamu cuci muka sama cuci kaki dulu baru tidur." Elisa sudah naik ke atas ranjang dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.              "Eh, eh, eh, jangan tidur dulu. Ada yang mau gue omongin." Wina menarik selimut Elisa dan membuat gadis itu mengernyit bingung.              "Ngomongin apa?" Elisa bangun dari posisinya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.              "Ibnu dan laki-laki yang tadi jalan sama lo."              "Oh." hanya kata itu yang keluar dari mulut Elisa.              "Lo yakin yang lo lihat itu Ibnu?"              "Iya yakin. Sama perempuan, putih, rambutnya panjang, cantik." jawab Elisa. Ia melihat air muka sahabatnya berubah muram.              "Mesra?"              "Nggak sih, cuma perempuannya aku lihat beberapa kali coba gandeng tangan Ibnu, tapi Ibnu nolak."              Wina berpikir keras. Ia memang belum mengenal Ibnu lebih dekat. Tapi ia tak memungkiri bahwa ia tertarik pada laki-laki itu. Intensitas pertemuan dan komunikasi mereka memang jarang, sedangkan dirinya terlalu gengsi untuk menghubungi laki-laki itu terlebih dulu.              "Kamu ndak coba tanya dia?"              "Nggak ah, gengsi gue."              "Uripmu kakehan gengsi." desis Elisa tajam.              "Bodo. Terus laki-laki yang tadi jemput lo itu siapa?"              "Mas alfian."              "Alfian? Dia siapa?"              "Dia anak temannya bapakku. Dikenalin ke aku."              "Dijodohin?"  Wina memperjelas.              "Sepertinya begitu."              Wina menghela napas kasar. Ternyata dugaan Fabian seratus persen benar.              "Terus lo mau?"              "Itu bukan pilihan, Na. Sama kayak kamu."              Wina mengangguk, "Iya sih, tapi kenapa tampangnya tua gitu sih? Umur berapa tuh laki?"              "Belum ada tiga puluh. Style nya aja yang mungkin bikin dia kelihatan tua. Maklum, asisten dosen."              "Asisten dosen?" Wina melihat sahabatnya mengangguk.              "Sambil kuliah S2."              "S2?" sekali lagi, Wina melihat sahabatnya mengangguk.              "Bapaknya pengusaha tekstil di Jogja. Sahabat baik bapakku waktu kuliah dulu." cerita Elisa. "Bapak ibukku kenalin sama orang yang tepat. Jelas asal usulnya. Dan pasti yang terbaik buat aku." lanjutnya.              "Lo mau nikah sama orang yang nggak lo cinta?"              "Pernikahan itu nggak cuma soal cinta. Masih banyak aspek yang harus dipertimbangkan." jawab Elisa dengan nada percaya diri.              "Iya... Iya... Cinta emang selalu bisa dikalahkan oleh faktor X." kata Wina sambil mengusapkan ujung ibu jari dan jari telunjuknya.              "Bukan masalah itu juga. Sudahlah, aku ngantuk. Kamu besok berangkat kuliah dari sini apa pulang dulu?" tanya Elisa sambil menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut.              "Dari sini aja. Besok gue minta mama kirim baju pake gojek." kata Wina sambil merebahkan tubuhnya di ranjang dan menatap langit-langit kamar.              "Wina, cuci muka, cuci tangan sama kaki dulu." kata Elisa.              "Gue belum mau tidur, El." jawab Wina dengan nada geram.              "Tapi kamu kan sering ketiduran. Udah sana ke kamar mandi dulu." Elisa mendorong pundak Wina yang langsung mendesis kesal.              Ibnu : Kamu nggak ada di rumah?              Wina mengerutkan dahi membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Perasaan kesal tiba-tiba merambat kala mengingat perkataan Elisa beberapa menit yang lalu.              Wina : Aku di rumah Elisa. Kenapa?              Dalam hati, Wina ingin sekali memberondong laki-laki itu dengan banyak pertanyaan. Ke mana saja dia? Kenapa beberapa hari tanpa kabar. Lalu siapa gadis yang dimaksud Elisa? Tapi ia terlalu gengsi sehingga memilih mengurungkan niatnya.              Ibnu : Aku di rumah kamu. Bawain martabak kesukaan kamu.              Wina secara tidak sadar menarik sedikit garis bibirnya.              Ibnu : Kamu mau pulang nggak? Biar aku jemput ke sana.              Wina : Nggak usah. Aku mau nginep.              Ibnu : Emang besok nggak kuliah?              Wina : Kuliah.              Ibnu : Padahal aku kangen, pengen ketemu kamu.              Ibnu : Yaudah, aku ada hadiah buat kamu, aku titip Wildan ya. Aku harap kamu suka.              Wina terdiam. Dibacanya lagi pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Ia tersenyum tanpa sadar dan merasakan bahwa hatinya menghangat.    ***                Matahari masih mengintip malu-malu saat Fabian sudah sibuk mencuci motornya. Bermodalkan selang dan sabun, ia asik membersihkan motornya yang sudah tak tersiram air sejak tiga bulan yang lalu kecuali air hujan.              "Mas Fabian, tumben pagi-pagi begini udah nyuci motor." Fabian menoleh ke asal suara dan melihat gadis berseragam SMA berjalan mendekatinya.              "Iya dong, masa yang punya doang yang ganteng, motornya juga harus ganteng." jawab laki-laki itu sambil tersenyum. "Mau berangkat sekolah?" tanyanya.              "Iya, mas. Anterin yuk." gadis itu tersenyum sambil memilin ujung rambutnya yang panjang.              "Ah, ogah ah. Gue males ribut sama pacar lo yang mukanya mirip preman itu." jawab Fabian.              "Iihh, dia itu bukan pacar aku, Mas."              "Bagus lah kalau begitu. Jangan mau sama dia. Mukanya seram." Fabian nggak mungkin lupa sama laki-laki yang melabraknya usai ia mengantar Dela, anaknya ibu kos yang hobi banget menggodanya. Laki-laki itu mungkin dua atau tiga tahun di bawahnya, dengan perawakan kasar dan rambut gondrong.             Sudah jadi rahasia umum kalau Dela naksir berat sama Fabian. Gadis itu bahkan pernah menggaransikan pembebasan biaya kontrakan selama satu tahun kalau Fabian mau jadi pacarnya. Kalau saja Fabian laki-laki matre, dia nggak bakal mikir dua kali buat menyetujui hal itu.              Dua pasang mata itu menoleh ke arah gerbang. Sebuah sedan berwarna putih muncul dan parkir tak jauh dari tempat Fabian dan Dela berdiri. Mata mereka masih terpaku saat melihat seorang gadis muda keluar dari mobil. Dengan dress selutut dan kacamata hitam, gadis itu naik ke tangga, melewati mereka berdua tanpa menoleh.              "Siapa tuh?" tanya Fabian saat menyadari sosok itu menghilang dari pandangannya.              "Pacarnya penghuni no. 4 kayaknya. Yang samping mas Loreng." jawab Dela.              "Oh, penghuni baru yang katanya pilot itu?" Fabian melihat gadis di depannya menggangguk lalu mendekatkan wajahnya.              "Tapi, mas. Kemarin ya, aku lihat, itu cewek cuma berdiri di depan kontrakan pacarnya berjam-jam. Nggak tahu kontrakannya kosong atau emang nggak dibukain pintu." jelas Dela. "Kasian banget mas." lanjutnya.              "Kenapa lo nggak suruh masuk ke kontrakan gue aja?"              "Ganjen lo mas. Suruh jadi pacar gue aja nggak mau."    ***                Fabian menghentikan motornya di depan pintu rumah Elisa tepat saat pintu besar berwarna cokelat itu terbuka dan memperlihatkan sosok Elisa dan Alfian.              "Ngapain kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Elisa tanpa basa-basi.              "Mau nitip modul buat Ervan. Dia hari ini udah balik kan?" jawab Fabian. "Kamu mau berangkat kuliah?" tanyanya.              "Iya, modulnya kamu titipin sama Mbok Asih atau Mbok Yum aja. Biar nanti ditaruh di kamar Ervan." jelas Elisa.              Fabian menatap Alfian yang berjalan menjauh untuk mengambil mobilnya.              "Aku antar aja." tawar Fabian pada Elisa yang langsung menggeleng.              "Aku ndak mau meregang nyawa sama kamu." kata Elisa tepat saat audi silver berhenti di depannya. Tanpa pamit, gadis itu berjalan dan masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Fabian sendirian.    ***                Suasana di dalam mobil itu hening. Hanya alunan musik yang diputar dengan sangat pelan yang mendominasi. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari jalanan padat, ke samping. Di mana seorang gadis yang sejak tadi hanya terdiam.              "Kamu kenapa? Ada masalah?" tanyanya. Ia melihat gadis di sebelahnya hanya terdiam, menatapnya tanpa menjawab.              Wina menatap Ibnu yang mengerutkan dahinya bingung. Setelah keterdiamannya, ia menggeleng pelan. Tak seharusnya ia mempersoalkan siapa gadis itu disaat mereka masih belum ada status yang jelas, maksudnya, mereka berdua hanya menjalani, disaat hati Wina mulai terbuka, ia tak yakin Ibnu sudah merasakan hal yang sama.              "Kemarin-kemarin kamu ke mana aja?" tanya Wina akhirnya.              "Aku kerja. Maaf jarang hubungin kamu." jawabnya singkat.              "Oh." hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.              "Hari ini aku libur, kamu selesai kelas jam berapa? Aku mau ajak kamu dinner." katanya saat mobil itu berhenti diparkiran fakultas ekonomi.              "Jam tiga udah selesai." jawabnya sambil melepas safety belt.              "Oh, yaudah nanti aku jemput ya." Wina mengangguk lalu menatap Ibnu sesaat hingga sebuah dering ponsel menyadarkannya. Ia melihat Ibnu hanya menatap ponselnya lalu mereject panggilan. Tatapannya kembali ke Wina yang masih ada di sampingnya.              "Kenapa nggak diangkat?" tanyanya.              "Nggak penting." jawabnya cepat sambil memasukkan benda pipih itu ke saku celananya. Wina tahu, ada yang disembunyikan laki-laki itu darinya. Matanya mengitari pandangan hingga terpaku pada mobil yang baru saja berhenti di depannya. Tak lama sosok Elisa terlihat turun dari mobil.              "Yaudah aku masuk dulu ya." kata Wina. Tangannya sudah siap membuka pintu saat lengannya di tahan oleh Ibnu.              "Ada yang ngeganjel di hati kamu ya?" tanyanya tepat sasaran. Wina terdiam lalu memutar bola matanya bingung. "Kenapa?" tanyanya lagi.              "Hhmm..." Wina berpikir sejenak. Mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Sebenarnya hubungan kita ini apa sih?" tanyanya dengan nada lirih. sekilas ia melihat punggung Elisa sudah menjauh sedangkan audi silver itu sudah melaju meninggalkan parkiran.              Bukannya kita udah janji mau jalanin dulu ya?" jawab Ibnu. "Anggap aja kita pacaran." lanjutnya. "Sambil saling mengenal."              "Tapi sikap kamu nggak seperti itu. Intensitas komunikasi kita jarang, apalagi ketemu. Kamu bisa berhari-hari nggak ada kabar. Darimana kita bisa coba saling mengenal." jawab Wina. Ia melihat Ibnu menghela napas lirih dan terdiam cukup lama.              "Memangnya kamu nggak bisa sekadar kirim pesan ke aku disela-sela kerjaan kamu?" tanya Wina lagi.              "Nggak bisa, Na." jawabnya. "Oke, aku janji akan mulai lebih baik setelah ini." Wina terkejut saat merasakan telapak tangan Ibnu mengusap pucuk kepalanya. Kontak fisik yang terasa intens itu tak urung membuat jantung Wina berdebar tak karuan.              Wina mengangguk pelan. "Yaudah aku masuk dulu." kata Wina akhirnya.    ***                Hari pertama mengajar Ervan setelah libur selama hampir dua minggu diisi oleh cerita dan curhatan anak laki-laki itu pada Fabian. Mereka tidak membuka buku kali ini. Hanya duduk di gazebo taman belakang dengan camilan yang berserakan di sekeliling mereka.              "Jadi, tante Widya pulang kapan?" tanya Fabian saat tahu Ervan kembali ke Jakarta seorang diri.               "Mungkin minggu depan. Lusa mama ada seminar di Singapur." jawab anak itu.              Fabian tengah memasukkan bolu gulung buatan Mbok Asih saat melihat Wijaya berjalan mendekat.              "Ervan, sudah jam sebelas. Ayo siap-siap sholat jum'at." kata pria itu sambil menatap Ervan yang langsung mengangguk.              "Siap, Pak lik." kata Ervan sambil berdiri lalu masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Wijaya dan Fabian yang kebingungan.              "Kamu ndak sholat Jum'at?" tanya laki-laki itu pada Fabian.              "Udah kemarin, Om." tanyanya sambil tersenyum lebar.              "Duh, kamu nih, bercanda aja." kata Wijaya. "Kamu kalau mau mandi, mandi dulu sana. Nanti kita ke masjid bareng-bareng." kata Wijaya pada Fabian yang mengangguk pelan.              "Duh, gue kapan ya terakhir sholat Jum'at." lirihnya saat melihat Wijaya sudah menjauh.    ***                Made berjalan cepat memasuki kantin dan berdiri di depan penjual minuman. Tangannya bergerak membuka pintu kulkas untuk mengambil sebotol air mineral dan meneguknya pelan. Setelah puas membasahi tenggorokannya, ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan memberikannya pada penjual.              "Dia bukannya kemarin yang nyanyi di depan itu ya?"              "Iya benar, ganteng ya."              "Pacarnya Elisa kayaknya, itu juni0r yang medok banget itu."              "Masa sih?"              Made menoleh ke dua orang senior yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Pandangannya lalu terlempar ke belakang dan terkejut melihat Fabian duduk di pojok kantin dengan santainya.              "Itu anak benar-benar kagak ada kerjaan apa ya?" lirih Made. Setelah mendapat kembalian untuk minumannya, ia mendekat ke meja yang ditempati Fabian.              "Nyari Elisa?" tanyanya tepat saat dirinya berhasil duduk di kursi tepat di depan Fabian yang tersenyum.              "Lo sendiri? Yang lain mana?"              "Masih di kelas. Bentar lagi juga nongol."              Fabian dan Made mengobrol ringan hingga mata keduanya menangkap satu sosok yang dikenalnya.              "Itu bukannya Ibnu?" kata Made.              "Iya tuh." jawab Fabian, "Woy, Nunu." teriak Fabian sambil melambaikan tangan pada Ibnu yang langsung menatapnya jengkel.              "Ibnu, Fa. Bukan Nunu."              "Sama aja. Buktinya dia nengok." jawabnya sambil menatap Ibnu yang mendekat hingga duduk di sampingnya.              "Sembarangan aja ganti-ganti nama orang." keluh laki-laki itu.              "Mau jemput Wina?" tanya Made.              "Iya, katanya kelar kelas jam tiga."              "Bentar lagi juga nongol." jawab Made. Belum juga bibirnya kering, suara melengking Lala sudah terdengar.              "Babang Somay... Dua piring ya, bang. Kayak biasa. Nggak pakai lama." teriaknya saat memasuki kantin.              "Siap neng Lala tersayang." jawab penjual somay. Lala berjalan lebih dulu sementara Wina dan Elisa mengekor di belakang.              "Eh, ada Ibnu. Ke mana aja? Dari kemarin Wina galau lho, nggak dikasih kabar." kata Lala pada Ibnu yang langsung mendapat cubitan keras di lengannya dari Wina. "Aaww... Sakit tahu, Na."              "Makanya punya mulut dikondisikan." desis Wina.              Ibnu tertawa kecil. "Kemarin lagi agak sibuk."              "Jangan keseringan sibuk. Nanti Wina nyangkut sama Made aja. Bahaya."              "Dih... Bisa stroke gue klo pacaran sama nenek lampir." kata Made sambil mengedikkan bahu.              "Lo udah pernah keselek sepatu belum, Mad?" tanya Wina sambil melotot, membuat yang lainnya tertawa.              "Neng Lala. Nih somaynya. Spesial dibuat pakai cinta." penjual somay menginterupsi pembicaraan mereka.              "Nggak usah ngomong cinta bang, kalau gue masih disuruh bayar." kata Lala sambil memberikan selembar uang dua puluh ribuan.              "Itu juga udah ditambahin somaynya satu biji, neng."              "Somay satu cuma nyelip di gigi, bang." jawab Lala. Membuat si penjual somay tertawa lalu berlalu dari hadapan mereka.              "Lo udah cek testpack, La?" tanya Fabian.              "Belum." jawabnya cepat. "Eh, nggak ada yang mau makan nih? Gue makan ya." lanjutnya.              "Dibilang lo hamil juga." kata Fabian.              "Duh, Lala nggak hamil aja nyusahinnya minta ampun, apalagi dia hamil." kata Made.              "Bodo amat." kata Lala.              "Eh, gue duluan ya. La, lo balik bareng siapa?" tanya Wina.              "Gue dijemput masnya. Paling bentar lagi." kata Lala dengan mulut yang terisi penuh.              "Tumben."              "Iya, gue udah kangen." jawabnya. Membuat yang lainnya mendecih bersamaan.              "Lo dijemput supir, El?" kali ini matanya menatap Elisa yang terdiam bingung. "Apa bareng Fabian?"              "Ndak. Aku nunggu jemputan."              "Supir kamu yang baru itu ya, Ajeng?" kata Fabian.              "Dia bukan supir." matanya menatap Fabian jengkel.              "Fa, nanti malam gue telepon ya. Ada yang mau gue omongin." kata Wina. Fabian mengangkat satu ibu jarinya dan melihat Wina dan Ibnu menjauh setelah berpamitan dengan yang lainnya. Mereka berempat mengobrol. Sesekali, Elisa terlihat menatap ponselnya dengan gelisah.              Made melirik jam tangannya. Jam empat lewat lima belas menit. "Gue balik deh. Nggak ada yang mau nebeng kan?" matanya menatap Lala dan Elisa yang langsung menggeleng. Laki-laki itu berdiri lalu menghilang dari pandangan.    ***              "Mas..." Made berteriak dan mendekat ke arah Ilham yang tengah berbicara dengan seseorang di parkiran fakultasnya.              "Nah, ini sahabat dekatnya Elisa, nih. Coba aja tanya dia." kata Ilham. "Elisa udah pulang kan, Mad? Tadi sih gue lihat dia naik taksi di depan." kata Ilham.              Made mengernyit bingung lalu menatap kedipan Ilham. "Oh iya. Kan kita keluar udah dari jam tiga. Udah pulang dia. Tinggal Lala yang ada di perpus."              "Tuh kan. Udah janjian belum kalau mau jemput Elisa?"              "Sudah. Memang sih, saya janji mau jemput jam tiga. Tapi tadi saya ada sedikit keperluan mendadak, jadi telat." jawab Alfian.              "Saya boleh pinjam ponsel. Ponsel saja ketinggalan di kampus karena buru-buru." kata Alfian lagi.              "Maaf nih, ponsel saya mati. Baterainya habis." jawab Made. Pandangan Alfian lalu beralih pada Ilham.              "Baterai saja juga habis. Tadi nggak sempat ngecharge di kantor."              "Duh, yasudah saya coba cari dulu ke dalam deh." kata Alfian yang langsung membuat Ilham dan Made saling pandang.              "Mending kamu samperin aja langsung ke rumahnya. Lagian kan Made udah mastiin kalau Elisa udah pulang." jelas Ilham.              "Iya, lagian Elisa itu suka nggak sabaran. Apalagi nggak dapat kabar kalau bakal telat jemput." kata Made seraya meyakinkan.              "Yasudah kalau begitu. Terima kasih. Saya permisi." Ragu, Alfian berjalan kembali menuju mobilnya.              "Parah lo, mas. Udah mulai ketularan liciknya Fabian." kata Made setelah melihat Alfian masuk ke dalam mobilnya.              "Lagian, siapa suruh dia nanya Elisa sama gue. Emang tampang gue masih ada tampang anak kuliahan apa." kata Ilham "Pas gue lihat ada motor Fabian di parkiran, gue kerjain aja sekalian." lanjutnya "Elisa belum pulang kan?"              "Belum, masih nungguin dikantin."              "Bagus, suruh balik aja sama Fabian." kata Ilham.    ***                Fabian menatap gadis di depannya, lalu ke helm yang sudah beberapa detik ia ulurkakan.              "Lama banget mikirnya. Keburu ujan nih. Udah mendung gini." kata sambil melirik langit yang mulai muram. Sepeninggal Lala dan Ilham, ia masih menemani Elisa menunggu jemputannya meskipun sudah tahu kalau laki-laki itu sudah diusir secara halus oleh Ilham dan Made. Dan sekarang, ia tengah membujuk Elisa agar mau diantarkan olehnya.              "Aku janji nggak bakal ngebut." katanya dengan nada meyakinkan. Elisa menatap wajah Fabian, perlahan tangannya terulur dan membuat helm itu berpindah tangan.              "Nah gitu dong." Fabian menyalakan motornya lalu mengisyaratkan Elisa agar naik.              Dan Fabian menepati janjinya kali ini. Ia tak mengebut, tak menyalip, dan tak melanggar lalu lintas.              "Duh, berasa lagi bawa barang antik." katanya sambil melirik spidometer yang tak pernah lewat dari angka dua puluh.              Baru setengah perjalanan, awan mulai menghitam. Elisa menatap langit dengan cemas. Dalam hati berdoa agar hujan tak turun sebelum ia sampai di rumah.              Tapi nyatanya keberuntungan tak berpihak padanya kali ini. Dalam perjalanan yang masih terbilang jauh, rintik hujan mulai turun. Tanpa aba-aba apapun, Fabian menaikkan angka di spidometer. Membuat Elisa tersentak dan secara refleks melingkarkan lengannya pada pinggang Fabian.              "Pelan-pelan." teriak Elisa.              "Buru-buru nyari tempat berteduh, Ajeng. Keburu hujannya makin deras." balas Fabian dengan nada tak kalah kencang. Motor itu masih melaju hingga berhenti di sebuah emperan ruko kosong yang bisa dijadikan tempat berteduh.              "Kamu ndak bawa jas hujan?" tanya Elisa sambil mengusap kemejanya yang sedikit basah.              "Nggak punya." Jawab Fabian sambil mengusap celananya.              "Sudah tahu di Indonesia cuma ada dua musim, kok yo bisa-bisanya kamu tuh ndak punya jas hujan."  Elisa melirik Fabian sinis. Fabian hanya menjawab dengan seulas senyum tipis.              Elisa menatap langit yang semakin gelap. Angin berembus kencang, membuat sekujur tubuhnya kedinginan. Tangannya bergerak untuk mengusap kedua lengannya yang telanjang hingga akhinya ia merasakan sebuah jaket di sampirkan ke punggungnya. Ia menoleh dan melihat Fabian tersenyum. Menampilkan dua lesung pipinya. Tubuh laki-laki itu hanya berbalut kaos hitam.              "Ndak usah. Aku ndak apa-apa." kata Elisa, berusaha melepaskan jaket itu namun tangan Fabian langsung menahannya.              "Nanti kamu sakit. Tenang aja, aku nggak panuan, kadasan, atau kurapan kok. Jaketnya juga baru aku cuci." jelas Fabian. Membuat Elisa tak enak hati. Sesungguhnya, ia tak pernah berpikir sampai ke sana.              Tubuh Fabian mundur, menyandar pada pintu ruko yang kosong. Sebelah tangannya merogoh saku dan mengeluarkan bungkus rokok. Matanya lalu beralih pada Elisa yang ada di depannya.              "Ajeng, aku boleh ngerokok nggak?" tanyanya.              "Ndak boleh." jawab gadis itu tanpa menoleh. Menurut, Fabian kembali memasukkan bungkus rokok itu ke saku celananya. Tak lama Elisa menoleh dan pandangan mereka bertemu. Elisa cukup kaget saat menyadari Fabian menuruti kata-katanya.              "Kamu ndak jadi ngerokok?" Fabian menggeleng.              "Lupa nggak bawa korek." jawabnya "aku mau nyalain pakai api apa? Api asmara?"    To Be Continue LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD