"beneran gak mau kamu"
Narendra mengekor kemana pun putri nya pergi, Celine berhenti mendadak ayah satu anak itu hampir saja menabrak celine jika ia tak reflek menghentikan langkah nya tersebut, bikin kaget saja ini anak, mungkin itu pikir bapak satu anak itu.
" Kenapa sih yah" Celine bertolak pingang lali ia melipat ke-dua tangan nya menuntut kejelasan dari ayah tunggal tersebut.
Lucu sekali anak gadis ku ini, auwh.
" Kamu gak pengen gitu beli aksesoris yang feminim coba deh" Narendra menggiring Celine ke sebuah toko baju dalam mall besar tersebut, banyak sekali pilihan-pilihan baju wanita lucu manis dan angun, warna pastel yang soft membuat kesan baju se-panjang lutut nampak cantik terpajang di etalase
Narendra menyenggol pelan, "hey..hey.. gimana? Gak mau beli satu, 12 biji juga di beliin"
" Buat apa, orang pakaian cewek semua" kata nya tak suka
" Lah... Kamu kan memang cewek sayang ku, masa di rumah pakaian nya isi nya kaos sama celana semua kan gak ada image feminim nya kamu ini, aku heran sama kamu, gak bisa kaya yang lain"
" Apa? Mau di tuker Anak nya, boleh kok, asal jangan nyesel aja"
Ya tuhan, kenapa anak ku begini aneh nya untung bibit ku unggulan, batin Narendra nelangsa.
" Ya udah pilih satu ya, pilih satu" rayu nya, Narendra mengambil sebuah baju perempuan dress biru dengan sepanjang lutut, nampak anggun jika membayangkan putri kecil nya memakai pakaian tersebut.
" Apaan nih" protes Celine.
" Udah sana-sana. Masuk ya, gih" ayah muda itu mendorong pelan bahu putri nya, menggiring ke salah satu tempat untuk berganti baju.
" Ayah tunggu di sini.. bay ..bay"
' srekk' kain tirai di tutup dari luar.
Di depan nya terdapat cermin besar, menampakkan siluet tubuh nya.
" Beneran make ini" racau nya tak yakin.. bergegas ia Menganti kaus hitam bergambar logo Slank dengan dress cantik tersebut.
" Ini beneran pantes ngak sih? Aku make kok aneh" kata nya seorang diri
' srekk' segera kain gorden nya terbuka dengan lebar.
Nampak kini sosok bapak satu anak itu heboh
" Tuh kan anak ayah cewek!!" Senang nya memutari tubuh gadis kecil nya tersebut.
Celine mendelik jengah, apa-apaan ini bapak-bapak, ngak ada akhlak.
Merasa dari semua sisi anak nya terlihat sangat berbeda, Narendra mengeluarkan sebuah ponsel
'ckrek..ckrek'
" Ayah... Malu" Celine menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
.
Apalagi ini cobaan ku ya tuhan, setelah aku pulang dari mall aku membawa berbagai macam pakaian, yah walaupun cuman 3 potong pakaian, sih.
Ku lihat ayah berwajah berseri setelah membeli beberapa barang tersebut, jadi ingin sekali protes tapi kasian juga.
Mobil kami telah berhenti di depan pelataran rumah kami dengan Deru suara mobil buntut, yah saat ini mobil nya memang tak terlalu bagus tapi aku yakin suatu saat akan bagus, kalau beli baru.
Aku sempat berteriak kaget, ayah menoel -noel diri ku, " jangan ngelamun apa" kata nya dengan senyum.
Pria yang menjadi ayah ku turun terlebih dulu dari kemudi mobil mengitari mobil nya membuka pintu mobil ku, " silakan princess" sanjung nya bak pelayan
Aku tersipu malu harus nya tapi jengkel juga, " apa-apaan ini, sejak kapan Putri bapak nya jadi pembantu" canda ku di selingi tawa, ku bawa kantung kresek warna pink ikut masuk rumah.
Rumah yang tak besar-besar amat tapi bisa terbilang cukup lah dan kebesaran untuk dua orang saja, kadang aku heran kenapa ayah tidak menikah, kata nya nunggu aku besar.
" Kita makan apa nih," ayah ku kaget, yah. Dia lupa porsi makan anak di usia pertumbuhan mungkin.
Aku sudah makan McD di mall tapi ingin lagi makan-makanan yang gurih, cemilan batagor enak kali ya.
" Tadi kan sudah"
" Tapi laper lagi, mau makan"
" Duh, ngak sekalian bilang nya, biar tadi bisa bungkus saja" dia kebingungan sendiri, padahal dia bisa menawarkan masakan nya.
" Kenapa gak masak aja sendiri yah" kata ku, " tapi bahan nya tinggal dikit, baru besok mau beli ke toserba di dekat rumah, kamu mau makan apa kalau gitu, liat-liat bahan nya ya"
Aku mengekor pada lelaki itu, dia membuka lemari pendingin nampak berpose berfikir, kira-kira apa yang ahrus dia masak, aku menunggu nya antusias
Memilih duduk tak jauh dari dapur, dari sini aku bisa melihat gerak-gerik dari lelaki yang telah membesar kan ku seorang diri itu. Kapan aku terakhir melihat dia tampak serius ya? Kenapa ayah ku keren kalau di dapur, sayang nya jomblo.
" Bagai mana kalau nasi goreng" tanya nya dari balik meja dapur, " terserah!! Yang penting enak, dan banyak" teriak ku semangat
Suara desingan api dengan wajan, suara pisau terhentak memotong daun bawang seperti suara paling menenangkan
Sosok ayah ku rasa nya mirip dengan Superman versi ku, hebat sekali memasak ngurus rumah, terimakasih ayah. Kata ku yang selama ini aku pendam dan berani aku ucapkan dalam batin ku ini.
" Tara!! sudah selesai" bahagia nya, membawa seporsi besar piring di atas nampan ia bahkan sempat-sempatnya berputar putar bagaikan pesawat tengah akan lending di bandara, " biasa saja yahh"
Piring itu sudah tersaji di atas meja makan beserta sang koki nya asik menyamankan duduk nya kini, " gak tau ya, ayah ini udah layak di juluki aktor Bollywood besar loh"
" Kenapa bisa begitu" ku ambil se-sendok nasi goreng buatan nya, rasa nya tak buruk enak-enak aja tapi rada asin ya. Pikir ku merasakan karya ayah ku ini dalam mulut ku.
" muka ayah kan genteng banget loh, ini. Kalau cosplay jadi anak SMP kayak kamu masih pantes loh" dengan PD ia memberikan senyum Pepsodent ala model promosi
" Masa bangkotan mau jadi anak SMP, balik Sma aja udah di usir kali" kata ku menghakiminya yang tengah asik berkhayal
" Masa sih? Pantes kok" entah kaca dari mana ia mengeluarkan sebuah kaca bulat, boleh matahin dari kaca bedak. Diri nya bercermin dari sana
" Ganteng kook" ia memeriksa pahatan Tuhan di wajah nya, sudut rahang yang tegas kulit mulus bersih, layak jadikan aktor kok ayah ku ini, makannya anak nya bukan prodak gagal, ha..ha.. apa-apaan otak ku ini
Manusia jadi prodak? Tapi kalau tampan dan cantik bisa menghasilkan uang kenapa tidak, aku setuju-setuju saja apalagi ayah ku ini masih cocok jadi aktor filem, mengantikan Dedi Herlino di kancah perfilman Indonesia.