"Yakin nggak butuh bantuan saya? Kakimu belum pulih." Tanya Juna, karena Maya berusaha turun sendiri, meski dia tahu kalau dia bakalan jalan dengan tertatih. Tapi untuk membiarkan tubuhnya kembali masuk dalam gendongan Juna, dia nggak akan biarkan hal itu terjadi lagi.
"Yakin... nggak mungkin saya biarkan Tuan gendong saya lagi." Sahut Maya pelan.
"Gendong kamu terus-terusan nggak masalah kok buat saya, ya... walaupun kamu agak, berat. Itung-itung sambil fitnes." Lalu Juna tertawa. Dan Maya memasang tampang masam.
"Saya memang gendut. Makasih atas bantuannya." Nada bicara Maya terdengar cukup jutek, namanya juga perempuan, kalau di singgung soal berat badan pastilah baper. Apalagi cowok yang ngatain.
"Jangan marah, cuma bercanda." Juna juga turun dari mobil, hendak mendampingi Maya yang berjalan melalui jalan samping menuju taman belakang.
"Junaaaaaaaaaaaaa !!" Bu Widia berteriak, melihat anak lajangnya. Kebetulan dia belum masuk ke dalam rumah, setelah mengantarkan Tari ke pintu utama.
"Bisa sendiri kan?" Tanya Juna sekali lagi sebelum dia meninggalkan Maya.
"Bisa kok." Maya berbalik, perlahan melangkah menginjak rerumputan. Meski masih terasa perih dan nyeri, dia nggak boleh manja. Apalagi manjanya ke calon laki orang. Nggak banget.
Juna melangkah ke pintu utama rumah dimana ibunya sedang berdiri disana. "Iya Bu."
"Kemana aja kamu hah?" Hentak Bu Widia.
"Nolongin Maya." Sahut Juna.
"Nolongin Maya tapi kamu tega ninggalin Tari?"
"Tari sehat walafiat, nggak perlu bantuan. Sedangkan Maya, di tapak kakinya nancap beling dan itu bisa infeksi kalau dibiarkan. Aku manusia Bu. Punya hati nurani,”Jelas Juna “. Dia merasa jawabannya itu sangat tepat dan benar.
"Kenapa nih? Ribut-ribut?" Wini keluar juga menuju teras, mendengar percakapan di san, ia pun penasaran dan terpancing untuk melihat.
"Kesal Ibu sama adikmu, dia ninggalin Tari demi nolongin si Maya." Sahut Bu Widia sambil melipat kedua lengannya di d**a.
"Ya nggak apa-apalah Bu, secara yang bohay lebih menarik. Ya kan Dek?" Wini cekikikan. Sementara Juna hanya mengangkat kedua bahunya saja, dan berlalu pergi, dia belum lupa kalau saat ini dia sedang bolos kerja.
"Kamu... bisa nggak sih berenti ngomong begitu, apalagi tadi di depan Tari. Ya ampun Win... mulut kamu tuh di saring dulu kalau mau ngomong." Bu Widia menggeram dengan anak sulungnya itu.
"Bu, kasihan aku kalau Juna jadi suaminya Tari, dia mesti kerja keras. Soalnya jajannya banyak banget. Tas branded, ini, itu. Nggak banget deh!”
"Ya nggak masalah, toh perusahaan Ayah nanti bakal turun ke dia juga, ke siapa lagi coba kalau bukan Juna?"
Bu Widia menganggap hal itu wajar. Tapi bagi Wini, Tari terlalu berlebihan.
"Serem dah kalau tiap ada produk baru dari barang branded mesti di beli." Ujar Wini lalu masuk ke dalam rumah. “Lagian ya Bu, Juna itu seleranya cewek sederhana, contohnya Lyra. Nah, sekarang si bohay. Coba deh ibu pikirin lagi." Wini berbalik sebelum dia melanjutkan langkah.
"Jadi maksud kamu, Juna kita nikahin sama Maya aja begitu? Jangan gila Win!!" Bu Widia memegang keningnya lalu berjalan cepat mendahului Wini. Masuk ke dalam kamar. Sejauh ini, memang tak ada yang mendukungnya soal perjodohan Juna-Tari. Dia yang berjuang sendiri.
Wini tak menjawab lagi, dari pada perdebatan ini semakin panjang. Apalagi si ibu udah megang-megang kepala. Bisa gawat kalau penyakitnya kambuh.
*
Juna sudah tiba di kantor, duduk di kursi kerjanya. Tapi dia sulit fokus pada kerjaannya. Masih memutar otak bagaimana caranya supaya pertunangan ini bisa batal. Dia melirik ke Aryo, sekretaris pribadinya yang telah memangku laptop duduk di atas sofa.
"Yo." Panggil Juna.
"Ya, kenapa bos?"
"Punya saran nggak biar perjodohan saya bisa batal?"
"Paling nggak bos harus punya pacar. Lah ini pacar aja nggak punya."
"Sial." Gerutu Juna.
Lalu dia mengambil ponselnya, ada satu orang yang cukup berpengalaman menurutnya. Mas Wira, lelaki itu dulu sempat beberapa kali hendak di jodohkan. Tapi selalu lolos, dengan alasan dia sudah punya calon istri.
"Mas Wira." Juna menyapa saat panggilan tersambung.
"Kenapa?" Sahut Wira.
Juna agak kaget sebenarnya karena Masnya ini lumayan cepat merespon panggilannya. Dulu, jangankan angkat telpon. Balas chat aja tidak. Juna mulai bisa berdamai dengan keadaan di mana Masnya ini adalah lelaki yang berhasil menikahi Lyra, sahabat sekaligus wanita pujaannya. Dan Juna saat ini sudah ikhlas, apalagi setelah bertemu Maya wanita yang berhasil mengalihkan pikirannya dari masa lalu.
"Mas tau kan minggu depan aku tunangan paksa?"
"Ya, terus kenapa?"
"Aku nggak mau Mas, ada saran nggak? Gimana biar Ibu berubah pikiran. Aku nggak suka Tari."
"Buntingin anak orang, pasti Ibu nggak bisa berkutik." Dengan santainya Wira menjawab, tegas tanpa tawa, itu artinya dia serius.
"Mas, aku nggak bercanda."
"Kamu pikir aku bercanda?" Tanya Wira dengan nada tinggi. "Maksudku, bilang aja kalau kamu udah hamilin perempuan, ngarang cerita. Pintar dikit lah. Udah gede kok nggak bisa mikir." Pedasnya omongan Wira. Nggak masalah bagi Juna, sudah biasa.
"Ah nggak bener sarannya. Ya udah deh. Bye." Juna memutus panggilan sepihak, kesal bukan main. Saran macam apa itu? Yang ada ibunya malah di rawat di rumah sakit jika dia menggunakan saran gila Wira.
Juna menyandarkan kepalanya di atas meja kerja. Bisa gila lama-lama kalau mikirin ini terus. Itu Tari bisa nggak sih di musnahkan saja?
*
Maya sudah berada di kamarnya, dia duduk bersandar di atas ranjang. Sambil memandangi kakinya, kaki yang sudah di obati oleh tuan muda. Ya meskipun bukan Juna langsung yang obatin, tapi kan semuanya karena dia.
"Nduk, ibu dengar kakimu luka? Sekarang gimana?" Ibunya Maya masuk tiba-tiba ke kamar.
"Udah di obati Bu." Sahut Maya.
"Nak, dengerin ya ibu bilang... kita tuh kudu sadar diri, dengan posisi kita. Kamu dekat-dekat dengan tuan muda, ibu nggak suka. Nanti orang-orang bisa pandang rendah ke kamu."
Ibunya berucap cukup lembut. Maya segera mengubah posisi duduknya menjadi tegak.
"Ya Allah Bu, Maya nggak ada apa-apa kok sama, tuan muda. Tadi kebetulan aja dia juga di dapur, terus nolongin Maya." Jelas Maya.
"Cara nolongnya, kamu di pegang-pegang sama dia, gitu kan?"
"Nggak ada pilihan lain Bu, Maya nggak bisa jalan." Maya pingin nangis rasanya, kalau ingat-ingat kejadian tadi. Bodoh, kenapa bisa nyenggol wadah itu sampai pecah, kalau itu nggak terjadi kan nggak panjang begini ceritanya.
"Bu... kuliah Maya kan mulainya tiga minggu lagi, kalau misalnya... Maya mulai ngekosnya minggu depan boleh nggak Bu?"
Maya minta izin, sebab dia sudah tidak nyaman lagi di rumah ini. Dia nggak boleh masuk terlalu jauh dalam kehidupan Juna. Dia sadar siapa dirinya.
"Kenapa kamu terburu-buru?”
"Nggak apa-apa sih Bu. Boleh nggak?"
"Ntar ibu pikir-pikir dulu, sebenarnya ibu sedih sih harus tinggal terpisah dari kamu. Tapi ibu juga mau supaya kuliahmu nggak terganggu, ehm... ibu hitung tabungan dulu ya udah cukup belum buat bayar kos."
"Maya punya sedikit kok Bu. Bisa bantu ibu juga, jadi setengah-setengah." Sahut Maya.
"Beneran?"
"Iya Bu... besok ya Maya cari kosannya bareng Mas Wanda. Soalnya Mas Wanda mau bantuin cari kok."
"Ibu jadi nggak enak sama Wanda. Dia memang baik banget."
"Dia nggak masalah kok Bu, nggak bisa bantu materi tapi bisa bantu jasa katanya. Hihi." Maya tertawa, ya dia cukup beruntung punya sepupu sebaik Wanda.
"Ya udah boleh. Ya, minggu depan to?"
"Iya Bu."